NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dua Ikrar

Cinta Dalam Dua Ikrar

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Pelakor jahat / Pihak Ketiga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:315.6k
Nilai: 5
Nama Author: viaeonni

⛔: Ini hanya fiksi, jika terdapat kesamaan nama, tempat atau kejadian, itu hanyalah kejadian yang tidak disengaja.

Wilona percaya ia memiliki segalanya—cinta, rumah tangga yang hangat, dan suami yang setia. Tapi semua runtuh saat seorang wanita datang membawa kenyataan pahit: ia bukan satu-satunya istri. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu telah memberinya sesuatu yang tak bisa Wilona berikan—seorang anak.

Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, Wilona harus memilih: terpuruk dalam luka, atau berdiri dan merebut kembali hidupnya.


"Ketika cinta tak cukup untuk setia… akan kau pilih bertahan atau pergi?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viaeonni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Aroma kopi dari dapur menyatu dengan suasana pagi yang tenang. Tapi yang membuat pagi ini terasa begitu istimewa bukan sekadar kopi, melainkan satu notifikasi DM yang muncul semalam.

Wajah Wilona tampak cerah, bibirnya terus menyunggingkan senyum sejak membuka mata. Ia memandangi layar ponselnya sambil menghela napas lega. Emberly, sosok wanita karismatik sekaligus anak pemilik perusahaan fashion ternama, akhirnya membalas pesannya. Dan yang lebih menyenangkan, Emberly ternyata masih mengingatnya dan menyambut niatnya dengan baik.

Wilona membaca ulang pesan itu sambil duduk di kursi makan. Entah sudah beberapa kali wanita itu tersenyum, rasanya tak bosan.

"Hai Wilona, tentu aku masih ingat kamu! Rancanganmu waktu itu luar biasa. Senang tahu kamu tertarik untuk bergabung. Untuk pembicaraan lebih lanjut, sebaiknya kita ketemu langsung. Bagaimana kalau siang ini, kamu datang ke perusahaan? soalnya, kalau besok ada urusan lain."

Matanya membulat pelan, lalu mengerjap beberapa kali. "Ya Tuhan, ini beneran?" bisiknya, setengah tak percaya. Lalu wanita itu mengetik pesan balasan, dan setuju untuk langsung datang ke perusahaan itu, tanpa niat menunda lagi. Lebih cepat lebih baik, begitulah pikirnya.

Senyumnya makin lebar. Rasanya seperti pintu baru terbuka lebar untuknya. Ia melirik ke arah dinding tempat berbagai sketsa desainnya tertempel rapi. Semuanya hasil kerja keras dan impiannya selama ini.

"Ini dia," gumam Wilona pelan, menyentuh satu sketsa gaun pesta berwarna merah marun. "Ini awal dari perjalanan yang aku pilih sendiri. Tanpa embel-embel nama siapa-siapa. Hanya aku, Wilona."

Siang ini, tampak Wilona sudah sangat siap untuk mendatangi perusahaan, yang mungkin akan menjadi awal baru dalam perjalanan karirnya.

Ia tampak memperhatikan lagi penampilannya di depan cermin. Outfit yang dipakai Wilona tampak simpel, dengan memakai one set casual dengan atasan vest tanpa lengan dan celana kulot, tak lupa hells lima senti kesayangannya.

"Tuhan, aku mohon... Semoga hari ini berjalan lancar dan aku diterima bekerja disana," harapnya dengan menangkup tangannya didepan dada.

Setelah memastikan semua yang dibutuhkan sudah masuk ke dalam tote bag, sketchbook, MacBook, dan ponsel. Wilona segera berangkat menggunakan taksi online yang sudah ia pesan sejak tadi. Dalam hati, ia mulai mempertimbangkan untuk membeli mobil sendiri, tak perlu mewah, asal cukup nyaman dan terjangkau, demi menunjang aktivitas kerjanya kelak.

Di sepanjang perjalanan, Wilona tampak gelisah. Tangannya terus memainkan resleting tas, sesekali menarik napas panjang. Bahkan sang sopir sempat menoleh melalui kaca spion dan, dengan ramah, menyodorkan selembar tisu.

"Maaf, Mbak... Tapi sepertinya Mbak tegang banget. Semoga lancar ya tujuannya," ucap sopir itu.

Wilona tersenyum kecil, berterima kasih pelan, lalu mengangguk. "Iya, terima kasih, Pak."

Sesampainya di depan gedung perusahaan, ia turun dan berdiri di pinggir trotoar. Matanya menatap ke arah gedung tinggi menjulang yang berdiri megah di hadapannya. Dulu tempat ini belum sebesar ini, dan kini tampilannya jauh lebih modern, elegan, dan profesional.

Langkah Wilona tertahan. Ia menelan ludah pelan.

"Wow... Bahkan gedungnya sekarang jauh lebih besar dan megah dibanding terakhir kali aku ke sini," gumamnya lirih, setengah kagum, setengah gugup.

Telapak tangannya sedikit berkeringat saat ia meraih pegangan pintu lobi. Tapi ini bukan saatnya ragu. Ia datang bukan hanya untuk mengingat masa lalu tapi untuk memulai kembali, dari titik yang jauh lebih kuat.

Dengan menarik napas dalam, Wilona melangkah pelan memasuki lobi yang luas dan modern. Suasana dalam ruangan terasa profesional namun hangat, dipenuhi karyawan berlalu-lalang dengan rapi dan cekatan. Sepatu hak lima senti yang ia kenakan terdengar pelan menyentuh lantai marmer mengkilap.

Ia berhenti di depan meja resepsionis, mencoba menyembunyikan kegugupan yang terasa mulai merayap.

"Permisi, Mbak…" sapanya pelan, dengan senyum kecil yang ia paksakan tetap tenang. "Maaf, saya ingin bertemu dengan Nona Emberly. Apa beliau sedang ada di tempat?"

Resepsionis yang berdiri di balik meja menatap Wilona sejenak, lalu tersenyum ramah.

"Apa anda sudah membuat janji temu dengan Nona Ember?" tanya resepsionis dengan nada sopan, namun tetap profesional.

Wilona mengangguk pelan. "Iya, tadi malam kami sempat berkomunikasi lewat DM. Beliau bilang saya bisa datang hari ini…"

Resepsionis tersenyum, lalu memeriksa sesuatu di layar komputernya. Tak lama, ia kembali menatap Wilona. "Apa anda yang bernama, Wilona?"

"Benar itu saya," jawab Wilona dengan gugup.

"Mohon maaf sebelumnya, Mbak Wilona. Nona Emberly tidak bisa menemui secara langsung hari ini, karena ada urusan mendadak. Tapi beliau sudah berpesan, jika ada yang bernama Wilona datang, agar langsung diarahkan untuk bertemu dengan asisten Nyonya Besar."

Wilona sempat tertegun, namun segera mengangguk mengerti. "Baik, kalau begitu… apa Mbak bisa mengarahkan saya bertemu dengan asisten Nyonya Besar." Wilona juga mengenal siapa Nyonya Besar itu. Beliau ada istri pemilik perusahaan ini, sekaligus orang yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perusahaan.

"Tentu. Silakan ikuti saya," jawab resepsionis dengan ramah, lalu berbalik dan mulai melangkah.

Wilona mengikuti di belakangnya, langkahnya sedikit ragu namun pasti. Suasana kantor yang elegan dan profesional membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Bagaimana tidak? Yang akan ia temui bukanlah Emberly, sosok yang kenal dengannya melainkan seseorang yang sama sekali asing, asisten dari Nyonya Besar, pemilik utama perusahaan ini.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

"Aku bisa. Ini langkah pertama menuju hidup baruku," batinnya.

BERSAMBUNG....

1
Maria Magdalena
apa labar dgb klrg somplak alias klrg danu
Maria Magdalena
semoga maknya Aryan tahu suaminya selingkuh nggak bunuh diri 😁😁😁
Ira Nadira
thorrr you oke kan??? ceritanya kok gantung?!
Ira Nadira
salah paham lagi😔😔
Ony Syahroni
bagus ceritanya thor,lanjut
𝗔𝗧𝘂𝗮 𝗞𝗼𝗲𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮
𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈... 𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒊 𝒄𝒐𝒗𝒆𝒓 𝒅𝒆𝒑𝒂𝒏 𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒆𝒏𝒅... 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒔𝒊𝒉 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒏𝒊? 𝑺𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏... 𝑷𝒂𝒅𝒂𝒉𝒂𝒍 𝒔𝒆𝒓𝒖... 😄😄😄
Aghitsna Agis
thor ini ada kelanjuranda nga kejudulain
Aghitsna Agis
kon fr marlina dr farah mungkin kan dr marlina lg dipenjara
Maria Magdalena: authornya sedikit typo
total 1 replies
Aghitsna Agis
kalau desain bisa kerjakan firumah wilona kecuali terjun menjahit jgn dampai ujjbg2nya jenyesal
Aghitsna Agis
alasan itu suntik untuk menyembuhkan
Aghitsna Agis
kapan ya lita tauhu suaminya srlingkuh
Hera sasuwe
👍
MamDeyh
Ini beneran END/Cry/.. Masih gantung ceritanya
Maria Magdalena: ceritanya gantung
total 1 replies
Linda Liddia
Udah lama banget gak up
MamDeyh
Kok END kak?
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rismawati Damhoeri
nasehatin Celina pinterr, tpi kamusendiri Wilona....?
Rismawati Damhoeri
gayaa lah kamu Wilona, nasehatin Celina, suami pertamamu jadi ambil pelakor..
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!