Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak, Kepergian Kinasih, dan Rahasia Buah Cinta
Sentuhan lembut itu, ditambah dengan pemandangan tubuh indah Kinasih yang terlihat makin menggoda dalam balutan merah maroon yang sangat disukainya itu, langsung membangkitkan gairah yang sempat terpendam di dalam diri Kenan. Darahnya berdesir kencang, matanya menyala terang menatap lekat tubuh istrinya itu, dan tangannya tanpa sadar langsung melingkar erat memegang pinggang Kinasih seolah tak ingin melepaskannya lagi.
“Ya Tuhan… Sayangku… kau terlihat begitu indah… begitu menggoda… sampai-sampai Mas lupa cara bernapas melihatmu begini…” gumam Kenan dengan suara yang sudah berubah parau, napasnya memburu, menatap wajah Kinasih dengan pandangan penuh cinta sekaligus keinginan yang meluap tak terbendung.
Keduanya duduk berdampingan di atas sofa empuk itu, tubuh mereka masih terasa hangat karena pelukan barusan. Kenan berusaha keras membuat wajahnya terlihat cerah, tersenyum lebar seolah hatinya sedang penuh kebahagiaan, padahal jauh di dalam dadanya, ia sedang menangis tersedu-sedu, rasanya ingin merobek dadanya sendiri karena rasa sakit yang teramat dalam. Ia menatap wajah istrinya itu dengan pandangan yang sangat lembut, seolah ingin menghafal setiap lekuk wajah itu untuk dibawa sampai ke liang kubur nanti.
Dengan suara yang berusaha tetap tenang dan lembut, Kenan pun membuka percakapannya:
“Sayang… tahukah kamu? Hari ini tanggal yang sangat penting buat kita. Hari ini genap tepat satu tahun sejak kita mengikat janji pernikahan secara sirri. Satu tahun yang indah, satu tahun yang takkan pernah Mas lupakan selamanya.”
Kinasih tertegun sejenak, matanya sedikit melebar mendengarnya. Ia memang sadar waktunya sudah tiba, tapi mendengarnya diucapkan secara langsung membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat. Namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja, mengangguk pelan sambil memaksakan senyum tipis terukir di bibirnya.
“Iya… Mas benar… satu tahun yang penuh kebahagiaan buat Kinasih juga,” jawabnya lirih, suaranya sudah mulai bergetar pelan.
Kenan menarik napas panjang, lalu membuka tas kecil yang ada di sampingnya. Ia mengeluarkan sebuah buku tabungan tebal beserta sebuah kartu ATM, lalu meletakkannya di telapak tangan Kinasih dengan gerakan yang sangat hati-hati.
“Ini semua milikmu, Sayang. Seluruh tabungan yang Mas kumpulkan selama ini, cukup untuk menutupi semua kebutuhan hidupmu, biaya ibumu, sampai kamu benar-benar bisa berdiri sendiri sebagai dokter. Anggap ini sebagai bukti rasa terima kasih Mas, dan sebagai jaminan agar kamu hidup nyaman selamanya.”
Menyentuh benda itu, mendengar kata-kata itu, rasa sesak yang selama ini ia tahan sekuat tenaga akhirnya mulai merembes keluar. Dada Kinasih terasa dihimpit benda berat yang tak terlihat, napasnya mulai tersengal, matanya langsung berkaca-kaca menahan air mata yang ingin meledak.
Kenan menatap wajah istrinya itu semakin dalam, matanya sendiri sudah berkabut oleh air mata yang tak tertahan lagi. Ia menggenggam tangan Kinasih erat-erat, lalu mengucapkan kalimat yang paling menyiksa hatinya, diucapkan perlahan namun jelas dan tegas:
“Kinasih… mulai hari ini… aku ceraikan kamu dengan talak satu…”
Begitu kalimat itu selesai terucap, seolah ada suara petir yang memecah keheningan malam itu. Seluruh kekuatan yang tersisa di tubuh Kinasih langsung hilang seketika. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah, lalu menangis sejadi-jadinya, tangisan yang terasa memilukan, meledak bersama rasa sakit, kecewa, dan kehilangan yang menghancurkan seluruh jiwanya.
Tanpa mampu berkata apa pun lagi, Kinasih langsung bangkit berdiri dengan langkah terhuyung, lalu berlari masuk ke dalam kamar. Ia membanting pintu dengan suara keras, lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tempat mereka berbagi cinta dan kenangan selama enam bulan terakhir. Di sana, ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, menangis sepuas hatinya, suara isaknya yang terputus-putus terdengar memilukan, menyayat hati, seolah seluruh dunianya baru saja runtuh dan hancur tak bersisa.
Sementara itu, Kenan masih duduk terpaku di sofa itu. Air matanya akhirnya tumpah deras juga, ia memukul dadanya sendiri dengan keras, terisak pelan sambil membisikkan nama Kinasih berulang kali dalam hati, ia juga hancur, ia juga kehilangan separuh jiwanya sendiri, tapi ia tak punya pilihan lain selain melepaskan demi keselamatan wanita yang paling dicintainya itu.
Kenan masih terdiam terpaku di ruang tengah sampai suara tangis Kinasih mereda menjadi isak pelan saja. Ia pun akhirnya bangkit dengan langkah terasa berat dan kaku, melangkah menuju kamar tamu yang sudah lama tak pernah ia gunakan.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu, semua pengekangan yang ia tahan selama ini meledak begitu saja. Dengan amarah dan rasa sakit yang meluap, ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga lalu memukul dinding apartemen itu berulang kali, keras, tanpa peduli rasa sakitnya sendiri, seolah ingin melampiaskan segala kepedihan yang menghancurkan hatinya. Darah mulai menetes membasahi permukaan dinding putih itu, jari-jarinya terasa luka dan bengkak, tapi rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka di hatinya yang terasa jauh lebih parah.
Hingga akhirnya tenaganya habis, Kenan terhuyung lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kamar tamu itu. Ia menutup wajahnya dengan lengan, mencoba memejamkan mata dan memaksakan dirinya tidur, berharap semuanya hanyalah mimpi buruk, berharap ia bisa melupakan segalanya, meski ia tahu betul hal itu takkan pernah mungkin terjadi.
Sementara itu, di kamar utama, tangis Kinasih perlahan mulai berhenti. Dadanya masih terasa sesak dan napasnya tersengal, tapi ia sadar ia harus menguatkan dirinya. Dengan tangan gemetar, ia bangkit dari atas ranjang, lalu mengganti pakaiannya, melepaskan gaun merah maroon kesukaan Kenan itu dan mengenakan pakaian santai yang biasa ia pakai. Satu per satu ia melipat semua pakaian dan barang-barang miliknya yang ada di sana, memasukkannya ke dalam tas besar dengan linangan air mata yang tak henti mengalir membasahi pipinya.
Saat tangannya meraba dasar tasnya, ia merasakan benda kecil yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia mengeluarkannya, sebuah hasil tes kehamilan beserta selembar surat dari dokter kandungan yang menyatakan bahwa dirinya mengandung buah cinta mereka.
Jantungnya terasa dicabut lagi saat membaca tulisan itu. Ia sudah berencana akan memberitahukan kabar bahagia ini hari ini juga, ingin menjadikannya hadiah terindah untuk Kenan. Namun semuanya terlambat, kata talak sudah terucap, ikatan mereka sudah putus, dan ia tak sanggup lagi mengatakannya setelah mendengar kalimat yang menghancurkan hatinya itu.
Kinasih memeluk surat itu erat di dadanya, meneteskan air mata yang semakin deras. Ia tahu, sekarang ia harus memikul segalanya sendirian. Perlahan, ia meletakkan surat itu di atas meja rias, tempat yang sering mereka gunakan bersama, seolah ingin memberi kesempatan jika suatu saat nanti Kenan mengetahuinya.
Tanpa menoleh lagi, ia mengangkat tasnya, melangkah keluar dari kamar itu, melewati ruang tengah yang masih terasa hangat dengan kenangan mereka, lalu membuka pintu apartemen dan melangkah pergi—meninggalkan segalanya, kembali ke kostan kecilnya dengan membawa rahasia besar di dalam rahimnya dan luka yang takkan pernah sembuh.
POV Kenan
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan yang lebih hancur dari hari-hari sebelumnya. Seolah ada beban seberat gunung yang menindih dadaku, membuatku sulit bernapas. Dengan langkah gontai dan hati yang berdebar tak menentu, aku melangkah menuju kamar utama, tempat yang selama satu tahun ini menjadi surga dunia untukku dan Kinasih.
Begitu membuka pintu, seketika aku disambut oleh keheningan yang menyayat dan udara yang terasa dingin menusuk tulang. Tidak ada lagi senyumnya, tidak ada lagi suara lembutnya yang memanggil namaku, tidak ada lagi kehangatan tubuhnya yang biasa menyambutku setiap pagi. Namun di telingaku, seolah masih terngiang jelas tawa renyahnya, candaan manja yang selalu membuatku lupa segala lelah, dan bisikan cinta yang terucap tepat sebelum kalimat perpisahan itu harus aku ucapkan.
Aku melangkah perlahan, lalu duduk di tepi ranjang yang kini terasa kosong dan sunyi. Tanganku terulur, mengelus lembut seprai yang masih menyimpan bekas lekuk tubuhnya, dan seketika mataku terbayang dengan jelas, momen-momen indah saat kami berdua memadu kasih, menyatu dalam keintiman, berbagi segala rasa sayang dan gairah di tempat ini. Rasanya baru kemarin malam kami masih saling melebur menjadi satu, dan kini semuanya hanya tinggal kenangan yang menyiksa.
Di sudut tempat tidur, mataku menangkap selembar kain yang tergantung rapi, gaun merah maroon kesukaanku yang semalam baru saja ia kenakan, terlihat begitu memikat dan membakar semangatku.
Aku meraihnya dengan tangan gemetar, lalu menarik kain itu ke dalam pelukanku seerat mungkin, seolah ingin memeluk Kinasih kembali. Aku menempelkan wajahku di sana, menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh dan parfum kesayangannya yang masih melekat kuat. Di situlah air mataku akhirnya tumpah deras, aku menangis sesenggukan, membenci diriku sendiri yang harus melepaskan wanita sebaik dia.
Setelah cukup lama meluapkan kesedihan, aku berjalan tertatih menuju meja rias yang sering ia gunakan untuk bersolek. Di atasnya tergeletak selembar kertas berisi tulisan tangannya, kata-kata terakhir yang penuh ketabahan namun terasa menusuk hatiku. Namun saat tanganku hendak meraihnya, mataku tertuju pada selembar surat lain yang terlipat rapi di sampingnya, lengkap dengan kop surat rumah sakit dan nama dokter kandungan.
Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Dengan tangan gemetar hebat, aku membuka lipatan itu dan membaca setiap kata yang tertulis di sana perlahan-lahan. Semakin aku baca, semakin pucat wajahku, semakin sesak dadaku, dan rasanya seluruh dunianya runtuh seketika. Tertulis jelas, Kinasih sedang mengandung, mengandung darah dagingku sendiri, buah cinta kami yang selama ini tumbuh di dalam rahimnya.
Rasa syok, penyesalan, rasa bersalah, dan kesedihan meledak menjadi satu badai yang menghancurkan seluruh pertahananku. Aku berteriak sekuat tenaga, suara itu menggema memenuhi seluruh ruangan, memecah keheningan pagi itu. Tanpa sadar, aku mengepalkan tanganku sekuat tenaga lalu menghantamkannya ke cermin meja rias di hadapanku.
“BRAK!!!”
Kaca itu langsung pecah berantakan, serpihannya tajam menusuk dan melukai telapak serta jari-jariku, membuat darah segar segera mengalir deras membasahi pecahan kaca dan permukaan meja. Namun aku sama sekali tak merasakan sakit sedikit pun, rasa luka di hatiku jauh lebih tajam, jauh lebih menyiksa, dan takkan bisa sembuh selamanya. Aku memegang surat itu erat di dadaku, menangis tergugu sambil berteriak menyalahkan diriku sendiri.
“Aku bodoh! Aku ini laki-laki paling hina di dunia ini! Aku menceraikan istriku, aku meninggalkan anakku sendiri… Bagaimana aku bisa melakukan hal sekejam ini pada wanita yang paling kucintai? Maafkan Mas, Kinasih… Maafkan Mas…!”