Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tiga Jalan Kekuatan
Tiga hari sebelum Turnamen Internal dimulai, area latihan belakang asrama tampak sepi. Kebanyakan siswa sibuk berlatih teknik andalan mereka atau bermeditasi untuk memuncakkan kondisi Qi. Namun, di sudut terpencil dekat hutan bambu kecil, tiga sosok sedang berkumpul.
Lin Fan duduk bersila di atas batu datar, matanya tertutup. Di hadapannya, Bao Da dan Zhang Wei berdiri dengan postur tegang, menunggu instruksi.
"Kalian berdua punya potensi," kata Lin Fan tanpa membuka mata. "Tapi kalian membuang-buangnya dengan teknik standar akademi."
Bao Da menggaruk kepalanya yang botak. "Maksudmu? Teknik Tinju Batu Granit yang diajarkan Instruktur Yan itu bagus lho. Tinjuku jadi keras banget!"
"Keras, tapi kaku," balas Lin Fan tajam. Ia membuka matanya, menatap Bao Data dengan serius.
"Kau mengandalkan kekerasan otot murni. Itu membuat sendi-sendimu rentan retak jika bertemu lawan yang menggunakan teknik getaran atau aliran lunak. Kau seperti palu besi: kuat menghancurkan, tapi mudah patah jika dipukul di titik lemahnya."
Zhang Wei menyilangkan tangan. "Dan aku? Teknik pedangku cepat dan presisi. Apa salahnya?"
"Cepat, tapi dangkal," kata Lin Fan.
"Kau menyerang permukaan. Kau tidak pernah benar-benar 'memotong' niat lawan. Pedangmu hanya alat potong daging, bukan pemutus nyawa."
Bao Da dan Zhang Wei saling pandang, lalu menunduk. Mereka tahu Lin Fan benar. Selama latihan sparring ringan kemarin, mereka sering kali kalah strategi meskipun kekuatan fisik mereka lebih besar.
"Aku akan mengajarkan kalian sesuatu," lanjut Lin Fan. "Bukan teknik rahasia terlarang. Tapi prinsip dasar yang dilupakan oleh guru-guru kalian karena terlalu fokus pada bentuk luar."
Ia berdiri, debu beterbangan dari jubahnya.
"Bao Da, kau tipe Tank. Kekuatanmu ada di pertahanan dan daya ledak. Tapi kau lupa bahwa tanah yang paling keras pun bisa hancur jika digetarkan dari dalam."
Lin Fan melangkah mendekati Bao Da.
"Aku akan mengajarimu Teknik Gema Bumi (Earth Echo Technique). Ini bukan tentang memukul lebih keras. Ini tentang menemukan frekuensi resonansi tubuh lawan dan mengirimkannya melalui tinjumu."
Ia menunjukkan gerakan sederhana: bukan pukulan lurus, tapi dorongan telapak tangan yang disertai getaran halus di pergelangan tangan.
"Coba pukul batu itu," tunjuk Lin Fan pada batu granit besar di samping.
Bao Da mengangguk, mengumpulkan Qi, dan memukul batu itu sekuat tenaga. DUG! Batu itu retak sedikit.
"Sekarang, lakukan seperti yang kutunjukkan. Jangan gunakan otot bahu. Gunakan pinggang, dan getarkan Qi-mu saat menyentuh permukaan," perintah Lin Fan.
Bao Da mencoba lagi. Kali ini, pukulannya terlihat lebih lembut, tidak ada suara ledakan keras. Hanya suara "thom" tumpul.
Tapi...
KRAAAK!
Batu granit itu tidak sekadar retak. Ia hancur berkeping-keping dari dalam, seolah-olah strukturnya telah dihancurkan oleh gempa mikro.
Bao Da melongo, menatap tangannya sendiri. "Apa... apa ini? Aku hampir tidak mengeluarkan tenaga!"
"Itu efisiensi," kata Lin Fan.
"Dengan teknik ini, kau bisa meruntuhkan pertahanan musuh yang jauh lebih kuat darimu tanpa perlu menghabiskan seluruh energimu. Kau menjadi benteng yang tidak hanya tahan banting, tapi juga mematikan bagi siapa pun yang menyentuhnya."
Bao Da tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. "Gila! Ini keren banget! Terima kasih, Lin Fan!"
Lin Fan kemudian menoleh pada Zhang Wei.
"Zhang Wei, kau tipe Assassin. Kecepatan adalah senjata utamamu. Tapi kecepatan tanpa ketajaman jiwa hanyalah angin lalu."
Lin Fan mengambil sebatang ranting bambu dari tanah. Ia melemparkannya ke udara.
"Tangkap itu dengan pedangmu. Tapi jangan potong batangnya. Potong bayangannya di tanah."
Zhang Wei mengerutkan kening. "Itu mustahil. Bayangan bukan benda fisik."
"Bagi mata biasa, ya. Tapi bagi pedang yang dipimpin oleh niat, bayangan adalah proyeksi keberadaan," kata Lin Fan misterius.
"Aku akan mengajarimu Teknik Pedang Niat Hampa (Void Intent Sword). Jangan lihat objeknya. Rasakan ruang di sekitarnya. Pedangmu harus mengalir seperti air, mengisi kekosongan, dan memotong di tempat di mana lawan berniat untuk bergerak, bukan di tempat dia berada."
Lin Fan mendemonstrasikannya. Dengan gerakan pergelangan tangan yang hampir tak terlihat, ia menebas udara. Ranting bambu yang jatuh tiba-tiba terbelah dua tepat di tengah, meski bilah pedang Lin Fan tidak pernah menyentuhnya secara langsung—ia memotong arus udara yang menahan ranting itu.
Zhang Wei tertegun. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakang. Itu bukan sihir. Itu adalah pemahaman mendalam tentang ruang dan waktu yang disederhanakan menjadi satu tebasan.
"Ini... ini tingkat Master," bisik Zhang Wei. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Lin Fan tersenyum tipis, menyembunyikan identitas masa lalunya.
"Aku banyak membaca. Dan aku punya intuisi yang baik. Sekarang, coba rasakan aliran udara di sekitar ranting berikutnya."
Selama empat jam berikutnya, Lin Fan membimbing mereka berdua. Ia tidak memberikan teknik dewa yang rumit, karena tubuh mereka belum siap. Ia memberikan prinsip yang memperbaiki fondasi mereka.
Bao Da belajar bagaimana membuat tinjunya bergetar untuk merusak struktur internal.
Zhang Wei belajar bagaimana membaca niat lawan melalui gangguan udara.
Saat matahari mulai tenggelam, keduanya kelelahan namun bersemangat. Aura mereka berubah. Bao Da terasa lebih stabil, seperti gunung karang. Zhang Wei terasa lebih tajam, seperti pisau bedah.
"Ingat," kata Lin Fan sebelum mereka berpisah.
"Di turnamen nanti, jangan pamerkan teknik ini sepenuhnya. Gunakan hanya saat terdesak. Biarkan lawan meremehkan kalian sampai detik terakhir."
Bao Da menepuk dada Lin Fan. "Jangan khawatir, Boss! Rahasia kita aman bersama kami. Kami satu tim!"
Zhang Wei mengangguk hormat, ekspresinya lebih hangat dari biasanya.
"Terima kasih, Lin Fan. Kau tidak hanya menyelamatkan nyawaku di hutan, tapi juga memberiku jalan baru. Aku berutang padamu."
"Membayar utang bisa dilakukan nanti," canda Lin Fan.
"Sekarang, beli aku makan malam. Aku lapar setelah mengajar dua kepala batu seperti kalian."
Mereka tertawa, ketegangan pra-turnamen sedikit mencair.
Namun, di balik pepohonan bambu, sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan.
Li Tianhao berdiri di sana, wajahnya gelap. Ia telah melihat sebagian dari sesi latihan itu. Ia melihat Bao Da menghancurkan batu granit dengan satu pukulan yang tampak lemah. Ia melihat Zhang Wei membelah ranting tanpa menyentuhnya.
"Teknik aneh..." geram Li Tianhao. "Dia mengajarkan mereka trik kotor. Tapi tidak masalah. Di arena, aturan hanya berlaku untuk yang lemah. Aku akan menghancurkan mereka semua sekaligus."
Ia berbalik pergi, jubahnya berkibar marah. Ia memutuskan untuk tidak menunggu undian acak. Ia akan memastikan bahwa jika Lin Fan masuk ke babak utama, lawannya akan sudah "dipersiapkan" khusus oleh orang-orangnya di departemen administrasi.
Sementara itu, Lin Fan pulang ke kamarnya. Ia merasa puas. Dengan Bao Da dan Zhang Wei yang semakin kuat, ia memiliki sayap kiri dan kanan yang bisa diandalkan. Tapi ia tahu, beban terberat tetap ada di pundaknya.
Ia duduk di kasurnya, mengambil sisa Batu Spirit Menengah yang ia miliki.
Malam ini, aku harus mencapai Puncak Tingkat 4, pikirnya. Agar saat turnamen dimulai, aku sudah siap menghadapi Level 5 bahkan Level 6.
Ia menutup matanya, memasuki keadaan hampa. Di dalam kesunyian jiwanya, suara Naga Chaos bergema pelan, seolah-olah menyambut tantangan baru yang akan datang.
Turnamen Internal bukan sekadar ujian. Itu adalah panggung pembuktian. Dan Lin Fan berencana untuk mencuri pertunjukan.