SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 KEMAMPUAN GHOIB MAS ANTO
Singkat waktu, 1 minggu pun terlewati...
Dan selama 1 minggu itu...
Pak Diki dan Bu Fitri tetap sibuk mengurus 4 cabang warung makan pesugihan milik mereka...
Dan Gendis, tetap menjalani hari-harinya lebih banyak bersama Salsa daripada bersama kedua orang tuanya sendiri...
Untuk Gendis, tak ada rasa yang benar-benar nyaman baginya di rumah, meskipun memang ia tetap tinggal bersama kedua orang tuanya itu. Akan tetapi, semakin hari, semakin terasa jauh hubungan batin antara Gendis dan orang tuanya.
Gendis merasa...
Dirinya memang hanya dijadikan "wadah" bersemayam nya sosok makhluk ghoib pesugihan orang tuanya itu...
Dan Gendis, dengan hatinya juga bisa merasakan, nurani kedua orang tuanya semakin buta dan gelap...
.....
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🚗🚗🚗🚗🚗🚗🚗
Mas Anto kini sedang dalam perjalanan menuju rumah baru keluarga adiknya itu...
Akan tetapi, dirinya tampak sendirian mengendarai mobil miliknya...
Mas Anto tak mengajak sang istri dan juga tiga orang anaknya. Hal itu disebabkan karena sang istri yang masih sibuk bekerja dan belum diperbolehkan mengambil cuti oleh atasannya. Sedangkan ketiga anaknya juga sedang sibuk bersekolah dan kuliah. Sehingga Mas Anto memutuskan untuk datang sendirian ke Cirebon, ke rumah baru milik keluarga adiknya itu.
Pada awalnya, semua kondisi perjalanan tampak normal dan biasa saja bagi Mas Anto. Akan tetapi, mulai terjadi beberapa keanehan ketika mobilnya mulai memasuki jalan raya utama daerah Cirebon.
Entah karena sebuah kebetulan atau apa...
Tiga kali ban mobil belakangnya itu kempes secara tiba-tiba...
Mau tak mau, Mas Anto pun sampai tiga kali mencari bengkel di pinggir jalan untuk memeriksa kondisi ban mobilnya itu. Tapi anehnya, tiga kali itu pula, tukang bengkel pinggir jalan yang berbeda tak menemukan adanya sebuah paku atau benda apapun yang membuat ban mobil belakang Mas Anto itu kempes.
Tapi, Mas Anto pun tak ingin berprasangka buruk apapun...
"Ah, mungkin emang lagi kempes aja kali ban mobilku..." itulah ucapnya.
Akhirnya dia tetap melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan raya utama daerah Cirebon itu yang ramai dengan beragam kendaraan. Mencoba untuk tetap berpikir positif setelah tiga kali ban belakangnya kempes secara tiba-tiba.
Akan tetapi, keanehan berikutnya pun kembali terjadi...
Saat mobilnya sedang melaju cukup kencang karena kondisi jalan yang agak lengang.
Secara tiba-tiba...
Sebuah cabang pohon agak besar di sisi kiri jalan, patah...
GRASAKKK!!! GUBRAAAKKK!!!
"ASTAGHFIRULLOH!!!" Teriak Mas Anto dibelakang kemudi.
CIIIIIIITTTTTTT!!!!
Suara rem mobilnya yang mendadak terdengar keras...
Sontak, beberapa kendaraan di belakang Mas Anto pun sama-sama mengerem mendadak. Dan menjadi macet lah jalanan itu.
Mas Anto langsung keluar dari dalam mobil, memeriksa bagian depan mobilnya, apakah sampai menabrak cabang pohon yang kini menghalangi jalan itu.
Untungnya, mobilnya itu tak sampai menabrak cabang pohon tersebut. Dan juga kendaraan-kendaraan di belakangnya juga tak ada yang sampai saling bertabrakan.
Alhasil, perjalanan Mas Anto harus tertunda beberapa lama, karena banyak warga sekitar yang dibantu juga oleh beberapa pengendara harus menyingkirkan cabang pohon tersebut.
"Ya Alloh... Ada apa ini sebenarnya?" gumam Mas Anto sendirian sambil menunggu di dalam mobilnya, sampai jalanan itu kembali lancar.
Dan ketika jalanan itu benar-benar sudah bisa dilewati dengan aman, seluruh kendaraan termasuk Mas Anto di dalam mobilnya, kembali melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dan karena hal aneh barusan, Mas Anto sampai membaca beberapa kalimat do'a, dan juga beberapa rapalan tertentu yang dia bisa.
Karena, ternyata...
Mas Anto pun bukan sosok yang "kosong" atau "polos" seperti kebanyakan orang...
Mas Anto ini adalah alumni salah satu pondok pesantren yang cukup terkenal di daerahnya...
Sehingga sedikit banyak, dirinya memiliki "bekal" spiritual yang dibawa dari masa pendidikannya dahulu di pondok pesantren itu...
.....
.....
.....
Sebelum mobilnya memasuki salah satu cabang jalan yang akan menuntunnya menuju rumah keluarga Gendis, Mas Anto menelepon sebentar ke Bu Fitri. Ia mengabarkan bahwa sedikit lagi akan sampai.
Dan kembali merasa aneh dirinya...
Saat dikabarkan bahwa Gendis sedang kurang sehat, dan justru adiknya itu bersama sang suami meninggalkan Gendis sendirian di rumah.
"Ya Alloh... Kok bisa-bisanya Gendis ditinggal sendirian di rumah? Mana lagi sakit tuh anak!" gumam Mas Anto ketika sudah selesai menelepon Bu Fitri.
Karena mendapat kabar bahwa Gendis sedang kurang sehat, Mas Anto akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa jenis buah-buahan di penjual buah pinggir jalan.
Mas Anto merasa kasihan dengan Gendis. Dia berharap dengan beberapa jenis buah yang dibeli olehnya itu, akan membuat kondisi kesehatan Gendis sedikit lebih baik.
Singkat cerita, sampailah mobil Mas Anto di depan gerbang rumah baru keluarga Gendis.
Akan tetapi, alih-alih ia langsung turun dari mobil untuk membuka gerbang yang ternyata tak dikunci itu, Mas Anto malah diam sejenak dibelakang kemudi.
Di pandangan ke dua matanya, terdapat sebuah keanehan dari tampilan luar rumah baru keluarga adiknya itu...
Secara sekilas Mas Anto bisa melihat ada sebuah aura gelap yang menyelimuti rumah di depannya ini...
Padahal kondisi siang ini sangat cerah, langit di atas sana tampak biru bersih, tak ada awan mendung atau pertanda akan hujan sedikitpun.
Tapi...
"Ya Alloh, kenapa rumahnya terasa gelap begini?" gumam Mas Anto yang masih diam dibelakang kemudi, memperhatikan rumah di depannya itu.
Mas Anto menarik napas dalam-dalam, kemudian mengucap kalimat basmallah serta beberapa do'a lainnya.
Mas Anto pun turun dari mobilnya, berjalan mendekati gerbang untuk segera membukanya.
Dan...
Entah keanehan apalagi yang terjadi...
Saat tangan kanan Mas Anto memegang gagang pintu gerbang itu...
Tiba-tiba...
"Ssssssssssshhhhhhhhhhh..."
Tangan Mas Anto mengeluarkan asap berwarna abu-abu yang tipis...
"Astaghfirulloh... Astaghfirulloh... Ya Alloh..." ucap Mas Anto spontan, sambil melepas tangan kanannya itu.
Tapi anehnya, tangan Mas Anto tak merasakan panas sama sekali. Justru asap berwarna abu-abu itu muncul seketika tanpa sebab yang masuk nalar dan logika.
Namun, karema niat hatinya yang tulus ingin bersilaturrahmi, akhirnya Mas Anto mencoba mengacuhkan semua keanehan yang sudah terjadi. Tetap dirinya tak ingin terburu-buru berprasangka yang aneh-aneh.
Dengan segera Mas Anto membuka gerbang rumah baru Gendis. Dan memarkirkan mobilnya tepat di garasi samping dekat dengan pintu depan.
Ia keluar dari mobil, berjalan ke bagasi belakang, membawa beberapa kantong buah dan juga oleh-oleh buat Gendis.
Ia langsung berjalan ke arah pintu depan...
Lalu, ditekanlah bel pintunya...
"TIIING TOOONG..."
Mas Anto menunggu beberapa saat, berharap Gendis segera membukakan pintu untuknya.
.....
.....
.....
"TIIING TOOONG..."
Gendis terbangun dari tidurnya di kamar lantai dua, saat beberapa kali terdengar suara bel pintu rumahnya ditekan oleh seseorang.
Dengan tubuh yang menggigil demam, ia bergumam, "Siapa yang dateng?"
Gendis berpikir tak mungkin itu adalah orang tuanya, karena sudah dipastikan mereka akan langsung membuka pintu tanpa menekan bel.
Mau tak mau, dengan langkah yang gontai, tubuh yang menggigil demam, Gendis harus turun ke lantai bawah.
Dengan sangat hati-hati dan perlahan, Gendis menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"TIIING TOOONG..." kembali terdengar suara bel pintu ditekan oleh seseorang.
"I-iyaaa... Sebentaaar... Hummm... Hummm... Hummm..." Gendis mencoba menyahut bel itu dengan suaranya yang menggigil merasakan demam di tubuhnya.
Dan saat gendis membukakan pintu...
.....
.....
.....
" CEKLEK... KRIEEETTT..."
Suara pintu yang terbuka di depan Mas Anto...
"Assalamu'alaikum... Gen---"
Belum selesai Mas Anto menyapa Gendis yang membukakan pintu...
Ia langsung terdiam, langsung berubah senyuman di wajah Mas Anto menjadi tatapan serius dan tajam...
Mas Anto memang melihat Gendis berdiri di depannya itu, dengan wajahnya yang pucat, dahinya yang berkeringat, tangan kirinya yang memegang tongkat, dan mengenakan selimut tipis...
Tapi...
Sekilas mata Mas Anto menangkap sesuatu yang lain...
Mas Anto melihat, namun dengan cepat menghilang...
DUA BUAH TANGAN PUCAT PASI BERKUKU HITAM TAJAM DI KE DUA PUNDAK GENDIS...
😆😆 lanjut kak👍👍👍