Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Sebulan kemudian.
Seluruh proses pengalihan hak rumah akhirnya selesai. Kini, secara hukum rumah itu telah resmi menjadi milik Laras. Evan sendiri tampak sangat bahagia melihat semua berjalan sesuai rencananya.
"Mulai sekarang rumah ini benar-benar milikmu," ucap Evan sambil menyerahkan sertifikat yang telah berganti nama.
Laras menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Tuan." Suaranya terdengar lembut, tetapi di dalam hati ia tersenyum getir.
'Rumah ini memang milikku sejak awal. Kamu hanya mengembalikan apa yang dulu kamu rampas dariku. Sayangnya ... kamu bahkan tidak menyadari itu.'
Evan memandang Laras dengan penuh harapan.
"Aku ingin semuanya dimulai dari awal. Kita juga harus segera menentukan tanggal pernikahan."
Mendengar kalimat itu, dada Laras kembali terasa sesak. Namun, ia tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya.
"Semuanya terserah Tuan saja."
Evan menggeleng pelan. "Bukan begitu. Aku ingin kamu juga ikut menentukan. Ini pernikahan kita."
Tanpa menunggu jawaban, Evan kembali berkata antusias, "Besok aku ingin mengajakmu ke butik pengantin. Kita lihat gaun dan jas sekalian. Kalau ada yang kamu suka, langsung saja kita pesan."
Laras hanya mengangguk pelan.
"Baik, Tuan."
Keesokan harinya.
Sebuah mobil berhenti di depan butik pengantin mewah. Evan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Laras.
"Ayo..."
Hari itu, wajah Evan dipenuhi senyum. Sesekali ia menunjuk berbagai gaun yang dipajang di etalase.
"Menurutmu yang itu bagaimana? Atau yang ini lebih cantik? Kamu pasti akan terlihat sangat indah memakainya."
Laras hanya tersenyum kecil sambil mengangguk seperlunya.
"Semuanya bagus, Tuan."
Bagi Evan, senyum itu adalah tanda kebahagiaan.
Namun, tidak ada seorang pun yang tahu. Setiap kali melihat pria itu tersenyum, hati Laras justru dipenuhi kebencian yang semakin sulit disembunyikan.
'Cepatlah...' batinnya.
'Aku sudah lelah berpura-pura. Aku sudah tidak tahan melihatmu tersenyum seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Sebentar lagi ... aku ingin melihatmu jatuh. Aku ingin melihatmu kehilangan semua yang pernah kamu rebut dariku.'
Laras menarik napas panjang, lalu kembali memasang senyum manis saat Evan memanggil namanya.
"Kenapa diam saja?"
"Tidak apa-apa."
"Saya hanya sedang membayangkan ... bagaimana nanti hari pernikahannya."
Evan tertawa kecil. "Aku juga, aku yakin itu akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup kita."
Laras menundukkan wajah agar Evan tidak melihat sorot matanya yang berubah dingin.
'Bukan, Evan ... hari itu bukan akan menjadi awal kebahagiaanmu. Melainkan awal dari kehancuran yang selama ini sudah kusiapkan untukmu'
Malam mulai menyelimuti langit ketika mobil yang dikendarai Evan perlahan memasuki halaman rumah.
Hari itu, Evan tampak jauh lebih ceria dari biasanya. Sejak mengajak Laras memilih gaun pengantin, bayangannya tentang kehidupan baru semakin terasa nyata. Sesekali ia melirik ke arah wanita yang duduk di kursi penumpang.
"Terima kasih sudah mau menemaniku hari ini."
Laras menoleh dan tersenyum lembut.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Tuan. Semua yang Tuan lakukan untuk saya terlalu banyak."
Evan terkekeh pelan.
"Sudah kubilang, jangan panggil aku Tuan terus. Sebentar lagi kita akan menikah. Panggil saja Evan."
Laras menggeleng malu.
"Saya belum terbiasa. Tapi nanti juga terbiasa."
Evan tertawa kecil. "Pelan-pelan saja."
Laras ikut tersenyum. Namun, di balik senyum yang terlihat tulus itu, tersimpan kebencian yang begitu pekat.
'Tersenyumlah sepuasmu, Evan. Karena setelah malam ini ... mungkin kamu tidak akan bisa tersenyum lagi.'
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Begitu Evan turun dan berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu Laras, ia langsung menghentikan langkahnya.
Seorang pria berjas hitam berdiri di depan teras. Di tangannya terdapat sebuah map tebal.
"Itu ... Pak Ardi?" Gumam Evan pelan.
Pria itu adalah pengacara pribadinya. Wajah sang pengacara terlihat jauh dari kata tenang.
Begitu melihat Evan, ia langsung menghampiri.
"Pak Evan."
"Ada apa malam-malam begini?"
"Kita harus bicara." Nada suaranya terdengar serius.
Senyum di wajah Evan perlahan menghilang.
"Ada masalah?"
Pengacara itu melirik sekilas ke arah Laras sebelum kembali menatap Evan.
"Masalah besar. Lebih baik kita bicara sekarang."
Laras berdiri tidak jauh dari mereka sambil menggendong Aurora yang masih tertidur di dalam gendongan bayi. Ia tidak berniat ikut campur. Namun, telinganya menangkap setiap kata yang keluar.
Pengacara membuka map yang dibawanya.
"Beberapa jam yang lalu kami menerima salinan gugatan baru. Penggugatnya adalah Tuan Baskara."
Mendengar nama itu, Evan langsung mengembuskan napas kasar.
"Apa lagi maunya orang tua itu?" Pengacara menatapnya serius.
"Kali ini bukan soal perusahaan. Bukan juga soal perceraian."
"Lalu?"
Pengacara menarik napas panjang.
"Ini tentang Amelia."
Seketika, wajah Evan berubah pucat. Pupil matanya membesar. Napasnya tercekat seolah udara di sekitarnya mendadak menghilang.
"Mustahil..." Gumamnya lirih.
Nama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam akhirnya kembali muncul. Dari kejauhan, Laras memperhatikan perubahan ekspresi Evan.
Tatapannya berubah tajam.
'Jadi ... kamu masih ingat nama itu. Kamu masih takut.'
Pengacara kembali membuka dokumen.
"Tuan Baskara meminta penyelidikan dibuka kembali. Katanya ada dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan hilangnya Amelia. Bukan hanya itu, mereka juga menuduh ada penggelapan aset perusahaan Hartono. Tidak menutup kemungkinan kedua perkara ini akan diproses bersamaan."
Evan mengepalkan kedua tangannya.
"Kurang ajar! Mereka sengaja ingin menghancurkanku."
Pengacara mengangguk pelan. "Situasinya cukup berbahaya. Kalau penyidik menemukan bukti baru, status hukum Anda bisa berubah."
Laras tetap berdiri diam. Meski wajahnya tampak tenang, di dalam dadanya ada kepuasan yang perlahan tumbuh. Inilah yang selama ini ia tunggu.
Pengacara melanjutkan, "Dan ada satu hal lagi."
Evan mengangkat wajahnya. "Apa?"
"Kuasa hukum keluarga Baskara berencana menggunakan perkara ini untuk mempertanyakan kelayakan Anda sebagai wali Aurora. Kalau mereka berhasil membuktikan bahwa Anda terlibat tindak pidana, mereka akan meminta pengadilan mencabut hak asuh Aurora."
Evan langsung membentak. "Tidak! Tidak akan kubiarkan siapa pun mengambil Aurora dariku! Tidak Carolin! Tidak juga keluarga Baskara!"
Pengacara menggeleng pelan.
"Pak Evan, masalahnya bukan hanya keluarga Baskara. Kalau perkara Amelia benar-benar dibuka kembali, kita harus siap menghadapi semua kemungkinan."
Evan mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Urat di lehernya mulai terlihat.
"Siapkan semua pengacara terbaik. Aku tidak akan kalah. Aku tidak akan masuk penjara. Aku juga tidak akan kehilangan Aurora."
Di balik tubuh Evan yang tampak tegar. Laras menundukkan wajahnya agar tidak ada yang melihat senyum tipis di sudut bibirnya.
'Mulailah merasa takut, Evan. Karena ini baru permulaan. Sebentar lagi, semua dosa yang selama ini kamu sembunyikan akan datang menagih satu per satu.'
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing