NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Lavender dan Rahasia di Balik Celemek

Sepotong tempe berbalut bumbu karamel di dalam mulut Lyana mendadak terasa seperti serbuk gergaji. Ia berhenti mengunyah. Matanya terpaku pada layar ponsel yang retak, membaca ulang dua baris kalimat dari surel tersebut. Kata 'pemutusan' dan 'evaluasi' berkedip-kedip di kepalanya, mengejek rasa lega yang baru saja ia cecap beberapa menit lalu.

Di sebelahnya, ibunya sedang tertawa kecil mendengar Rumi bercerita tentang insiden kucing kampus yang gemar mencuri ikan lele di kantin. Suara tawa ibunya terdengar renyah, hangat, dan begitu lepas. Lyana melirik dari sudut matanya, menatap profil samping wajah wanita paruh baya itu. Kerutan di ujung mata ibunya baru saja mengendur, bahunya yang tegang sejak dari kampung kini sudah turun dengan santai.

Lyana tidak mungkin merusak ketenangan itu sekarang. Tidak di sini. Tidak setelah ibunya menempuh perjalanan bus subuh buta hanya demi memastikan dirinya baik-baik saja.

Dengan gerakan cepat, Lyana menekan tombol daya ponselnya, membiarkan layarnya menggelap. Ia menjejalkan benda persegi itu ke dalam saku kemejanya sebelum Rumi menyadari perubahan raut wajahnya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, menelan paksa makanannya hingga tenggorokannya terasa perih.

"Ibu habis ini istirahat di kosan Lyana aja, ya? Biar Lyana pesenin ojek," ujarnya, berusaha keras menjaga intonasi suaranya tetap ringan dan wajar.

Ibunya menoleh, membersihkan sisa bumbu di sudut bibirnya dengan tisu. "Loh, kamu nggak ada kelas hari ini, Nduk?"

"Ada, nanti agak siangan. Ibu tidur aja dulu, pasti capek banget mabuk darat di bis tadi."

Rumi langsung bangkit berdiri, menyampirkan jaket almamaternya. "Biar saya yang antar Ibu sampai kosan, Lyan. Kasihan kalau harus nunggu ojek di pinggir jalan."

"Nggak usah, Mas," tolak Lyana halus namun tegas, tangannya menahan lengan Rumi sebelum laki-laki itu melangkah lebih jauh. "Kamu juga butuh istirahat. Semalaman kamu belum tidur ngurusin bukti sama Dito. Biar Ibu naik ojek langgananku aja, udah biasa kok."

Meski tampak enggan, Rumi akhirnya mengangguk. Setelah memastikan ibunya naik ke atas sadel motor ojek daring yang perlahan membelah jalan raya depan kampus, Lyana mengembuskan napas panjang. Udara di paru-parunya terasa berat. Kakinya mendadak lemas, seolah kehilangan pijakan gravitasinya.

Ia berbalik, berniat melangkah menuju sekretariat BEM untuk menyendiri. Namun, ia hampir menabrak dada Rumi. Laki-laki itu belum pergi. Rumi berdiri bersedekap, menatap Lyana dengan alis bertaut tajam. Tidak ada lagi sisa tawa ramah di wajahnya. Mata gelapnya menelisik Lyana dengan presisi yang tajam.

"Email dari siapa?" tanya Rumi tanpa basa-basi.

Lyana tertegun. Ia memalingkan wajah, pura-pura merapikan letak tas selempangnya. "Cuma... tugas revisi dari dosen."

"Bohong," potong Rumi cepat, suaranya pelan tapi menekan. Ia melangkah maju, memangkas sisa jarak di antara mereka. "Tanganmu gemetar waktu nutup kotak bekal tadi. Muka kamu pucat pasi kayak orang kurang darah. Kalau itu cuma tugas dosen, kamu bakal langsung ngomel soal deadline atau buka laptop. Bukan diam ketakutan. Ada apa, Lyan?"

Pertahanan Lyana yang ia bangun susah payah di depan ibunya seketika runtuh oleh sebaris kalimat itu. Tanpa banyak bicara, jari-jarinya yang sedingin es merogoh saku kemeja. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya pada Rumi.

Mata Rumi bergerak cepat membaca surel dari Yayasan Lentera Bangsa tersebut. Rahangnya perlahan mengeras, gigi-giginya bergemeretak menahan marah.

"Sialan," umpat Rumi tertahan. "Satria bener-bener licik. Dia ngirim berkas fisiknya pakai kurir instan kilat tadi malam, sebelum sidang dimulai pagi ini."

"Mereka panggil aku besok pagi jam sembilan di kantor cabang yayasan," suara Lyana nyaris berupa bisikan, terbawa oleh semilir angin yang menggugurkan daun mahoni. "Mas, birokrasi yayasan itu buta dan kaku. Mereka nggak peduli urusan intrik politik BEM. Begitu ada dokumen fisik yang nunjukin indikasi korupsi, apalagi pakai stempel basah BEM, mereka bakal langsung ketok palu buat proses pemutusan sepihak."

"Kita punya bukti, Lyan," Rumi menyerahkan ponsel itu kembali, suaranya sarat akan keyakinan yang keras kepala. "Kita bawa surat pernyataan dari Pak Haris. Kita bawa flashdisk Dito. Kita bawa stempel aslinya."

"Ini nggak segampang ngurus proposal ke meja dekanat, Mas." Lyana menunduk, menatap ujung sepatunya yang kotor oleh cipratan lumpur. Ada rasa putus asa yang mulai merayap naik ke ulu hatinya. "Yayasan Lentera Bangsa itu sangat prosedural. Wawancara evaluasi ini sering kali cuma sekadar formalitas sebelum mereka mencabut SK. Mereka nggak suka sama penerima beasiswa yang bikin masalah, apalagi sampai menyangkut uang."

Rumi menyentuh kedua bahu Lyana. Sentuhannya kokoh dan hangat, bertindak sebagai jangkar di tengah badai kepanikan yang nyaris menenggelamkan gadis itu.

"Kalau gitu, kita susun laporan bantahannya hari ini juga," ucap Rumi mantap. "Kita jahit semua bukti, dari log printer sampai rekaman suara Satria, sampai mereka nggak punya celah sedikit pun buat ngebantah. Aku bakal temenin kamu ke sana besok. Kita nggak bakal kalah gara-gara selembar kertas yang dicetak diam-diam."

Keesokan paginya, ruang tunggu kantor cabang Yayasan Lentera Bangsa terasa seperti kulkas raksasa.

Aroma pengharum ruangan beraroma lavender pekat menyengat indra penciuman, justru membuat perut Lyana makin melilit. Ia duduk kaku di sofa kulit berwarna hitam, meremas ujung map ordner birunya hingga buku-buku jarinya memutih. Di sebelahnya, Rumi duduk menemaninya, membaca ulang draf surat keterangan Dekanat yang sudah dibubuhi tanda tangan dan stempel basah Pak Haris sore kemarin.

Detak jam dinding antik di atas meja resepsionis terdengar begitu keras, memecah keheningan ruangan yang mencekam. Tik. Tok. Tik. Tok.

"Lyana Ayunindya?"

Seorang staf wanita berkacamata bingkai tipis keluar dari balik pintu kaca buram, memanggil namanya dengan intonasi datar tanpa emosi. Lyana berdiri seketika. Ia menoleh pada Rumi. Laki-laki itu mengangguk pelan, memberikan senyum penyemangat yang sangat ia butuhkan saat ini.

"Bawa ordnernya. Ceritain faktanya secara runtut. Kamu pasti bisa," bisik Rumi.

Lyana membalas anggukan itu, memantapkan langkahnya masuk ke dalam ruangan. Tidak ada jendela di dalam ruang evaluasi tersebut, hanya dinding berwarna putih bersih dan meja oval besar berlapis kaca. Di seberang meja, duduk seorang pria paruh baya berkemeja batik cokelat. Beliau adalah Pak Tirta, Direktur Evaluasi Beasiswa wilayah Jawa Tengah.

"Silakan duduk, Lyana," ucap Pak Tirta. Tangannya bertumpu pada sebuah map cokelat polos. Dan di atas meja itu, tergeletak surat laporan palsu buatan Satria, lengkap dengan logo garuda BEM di sudut kirinya.

Lyana menarik kursi perlahan, meletakkan ordner birunya di atas meja dengan hati-hati seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.

"Selamat pagi, Pak Tirta. Terima kasih atas waktunya. Saya hadir ke sini untuk membawa dokumen klarifikasi dari pihak rektorat kampus terkait laporan yang Bapak terima kemarin. Surat yang ada di meja Bapak itu—"

"Surat itu palsu," potong Pak Tirta tenang, suaranya datar tanpa riak.

Lyana terkesiap. Kalimat pembelaan panjang lebar yang sudah ia hapalkan mati-matian semalaman mendadak tersangkut di pangkal tenggorokan. "Bapak... sudah tahu?"

"Pihak kampus sudah menghubungi staf kami sejak kemarin sore. Bapak Wakil Dekan Kemahasiswaan bahkan mengirimkan surel resmi beserta bukti rekaman suara, yang menyatakan bahwa dokumen ini adalah hasil manipulasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan pelaku utamanya sudah dijatuhi sanksi akademis."

Pak Tirta menggeser surat laporan palsu Satria itu menjauh dari pandangannya, menumpuknya asal-asalan di sudut meja.

Sebuah hembusan napas lega yang luar biasa panjang nyaris lolos dari belahan bibir Lyana. Otot-otot leher dan punggungnya yang sejak kemarin sekaku papan perlahan mengendur. Semua usahanya dan Rumi mengumpulkan bukti semalaman rupanya direspons dengan sangat cepat oleh dekanat. Pak Haris benar-benar turun tangan untuk membersihkan namanya. Ia tersenyum tipis, merasakan kelegaan murni mengaliri aliran darahnya.

"Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat menghargai objektivitas pihak yayasan. Kalau begitu, soal status beasiswa saya—"

"Namun, panggilan evaluasi pagi ini tidak kami batalkan secara sepihak," Pak Tirta menyela lagi. Nada bicaranya kali ini berubah, kehilangan unsur formalitas yang biasa, berganti menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.

Pria itu menarik sebuah map plastik lain dari laci mejanya, membuka halamannya perlahan, menatap Lyana dari balik lensa kacamatanya yang memantulkan cahaya lampu ruangan.

Lyana mengerjap bingung, keningnya berkerut. Senyum di wajahnya memudar. "Maksud Bapak?"

Pak Tirta tidak menjawab. Ia menarik selembar kertas foto hasil cetakan berwarna ke tengah meja, lalu memutarnya perlahan agar bisa dibaca jelas oleh Lyana.

Itu sama sekali bukan dokumen BEM. Itu bukan laporan keuangan, bukan kuitansi, bukan pula log printer.

Kertas itu adalah tangkapan layar dari sebuah unggahan media sosial Drip & Draft. Di dalam foto tersebut, tampak Lyana yang sedang mengenakan celemek barista berwarna cokelat tua, tersenyum ke arah kamera sambil menuangkan susu ke dalam cangkir espreso dari balik meja bar. Di bawah foto itu, tertera tanggal unggahan yang baru berusia dua minggu.

"Saat staf kami melakukan investigasi lapangan singkat terkait latar belakangmu kemarin sore, mereka secara tidak sengaja menemukan ini," Pak Tirta mengetuk foto tersebut dengan jari telunjuknya.

Mata Lyana membelalak. Darah di sekujur tubuhnya terasa surut seketika. Ujung jari-jarinya berubah sedingin bongkahan es.

"Pasal empat dalam kontrak beasiswamu secara eksplisit menyatakan bahwa penerima beasiswa penuh dilarang keras mengambil pekerjaan paruh waktu dalam bentuk apa pun. Hal ini untuk memastikan bahwa fokus kalian seratus persen hanya pada akademik," Pak Tirta melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Lyana dengan sorot yang menuntut jawaban mutlak. "Jadi, saya bertanya satu kali saja kepadamu. Apakah benar kamu melanggar kontrak dengan bekerja paruh waktu sebagai barista setiap malam, Lyana?"

Ruangan ber-AC itu mendadak terasa mencekik tenggorokan Lyana. Ia menatap foto dirinya di atas meja, lalu menatap dinding putih di sekelilingnya, menyadari kenyataan yang mengerikan.

Musuh sejatinya hari ini bukanlah kelicikan Satria atau persaingan Senat. Musuh sejatinya adalah rahasia yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat demi mengumpulkan uang saku untuk bertahan hidup. Dan kali ini, tidak ada ordner biru, flashdisk Dito, atau surat dari Dekanat yang bisa menyelamatkannya.

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!