Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA BERBAHAYA YANG SEMPURNA
FLASBACK ON....
Kantor Polrestabes, Ruang Rapat Tertutup, tim Jatanras, dua minggu sebelumnya.
Jam menunjukkan pukul 20.47. Lampu ruangan menyala temaram. Di papan tulis, tertempel tiga foto pria, tiga kasus kematian, di TKP yang sama, Pabrik Makmur Jaya
AKBP Raharja berdiri di depan meja, mengenakan kemeja polos putih, yang lengannya digulung melewati siku. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya sangat tajam.
"Tak ada kemajuan untuk mengusut kejanggalan tiga kasus kematian di pabrik itu?" tanyanya seraya mengetuk-ketukkan spidol di atas meja, lalu mengedarkan pandangannya pada lima anggotanya.
"Tiga kematian berbeda, di TKP yang sama, semuanya ditutup sebagai kecelakaan kerja akibat kelalaian karyawan," lanjut AKBP Raharja. Suaranya rendah, tetapi menekan.
Ia menoleh pada tumpukan map di tepi meja, lalu mengambil map pertama dan melemparkannya ke meja. "Korban pertama tewas terbakar di Gudang C, tujuh belas tahun lalu. Keterangan resmi, merokok di area terlarang."
AKBP Raharja mengambil map kedua. "Korban kedua jatuh dari perancah. Keterangan resmi, tidak menggunakan sabuk pengaman."
Dan map ketiga menyusul. "Korban ketiga tersengat listrik. Keterangan resmi, memperbaiki panel tanpa mematikan arus." Pemimpin tim Jatanras itu menghela napas dalam. "Apakah kalian percaya ini semua kebetulan?"
Salah satu anggota yang selesai membaca map pertama angkat bicara. "PT Maju Mundur... Bukankah ini salah satu perusahaan besar yang selama ini menjadi rekanan utama pemerintah?" ucap BRIPTU Adi dengan dahi mengernyit.
AKBP Raharja tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah jendela, memunggungi ruangan. "Betul," jawabnya pelan. "PT Maju Mundur bukan perusahaan biasa. Di atas kertas mereka bergerak di bidang manufaktur dan ekspor dengan produk unggulan makanan ringan anak. Tapi selama sepuluh tahun terakhir, mereka yang menangani pengadaan seragam, alat pelindung diri, dan logistik untuk tiga kementerian."
Bripda Tiara pun menyambung. "Setiap kali ada proyek negara berskala besar, nama mereka selalu ada di baris kedua. Tidak pernah jadi sorotan, ataupun headline, tapi selalu menang tender."
"Mereka pintar menjaga jarak," sahut Briptu Slamet. "Tidak terlalu dekat dengan pejabat, tapi juga tidak pernah lepas. Seolah-olah mereka memang sengaja ditempatkan di posisi itu, tak terlihat, tapi penting."
Bripka Eman, anggota senior, mengangguk. "Pantesan setiap laporan kecelakaan kerja selalu cepat selesai, dan tidak pernah ada audit menyeluruh."
"Karena kalau perusahaan ini goyah, banyak program pemerintah yang ikut terhambat," potong cepat AKBP Raharja. "Itulah sebabnya kasus ini tidak bisa kita tangani secara terbuka. Kita tidak bisa gegabah. Salah langkah sedikit, yang kena bukan hanya perusahaan. Bisa jadi nama lembaga juga ikut terseret."
AKBP Raharja berdiri di depan papan, lalu menunjuk foto Anto yang ditempel di sana. "Dan orang ini tahu betul cara bermain di celah itu. Ia membangun citra sebagai pengusaha nasionalis. Sumbangan ke panti asuhan, beasiswa, sampai bantuan saat bencana. Di luar, ia dermawan. Di dalam, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
AKBP Raharja menatap satu anggota terakhirnya yang sejak tadi belum bersuara. "Briptu Coki, laporkan apa yang kau dapatkan!" perintahnya.
Briptu Coki segera berdiri. Ia masih mengenakan kemeja lusuh dan celana bahan yang sudah kusut. Selama dua minggu terakhir ia menyamar sebagai karyawan bagian pengendali mutu di PT Maju Mundur.
"Siap, Pak," jawab Coki.
"Pertama, kepala keamanan pabrik cabang Tulungagung saat ini, namanya Darman, 45 tahun. Dialah yang menandatangani semua laporan kecelakaan kerja."
Briptu Coki berhenti sejena, lalu melanjutkan. "Selama saya mengamati, ia sering lembur sendirian hingga larut malam. Selain itu, beredar kabar di kalangan karyawan mengenai 'hantu pabrik'. Katanya ada suara langkah kaki di lantai dua saat shift malam, padahal ruangan itu kosong. Saya menduga kabar itu sengaja disebarkan agar tidak ada karyawan yang berani lembur dan melihat apa yang dilakukan Darman."
Beberapa anggota saling berpandangan. Suasana menjadi semakin tegang.
"Kedua, perhatian saya pada Gudang C," lanjut Coki sambil menunjuk denah di papan tulis. "TKP untuk tiga kematian itu, ditutup rapat. Tapi di malam kedua pengintaian saya, ada aktivitas mencurigakan di dalamnya, seperti aktivitas manusia."
Briptu Coki menghela napas, seolah sesuatu membuatnya kecewa karena alasan tertentu. "Tapi kita tidak memiliki dasar hukum untuk menggeledah tempat itu karena semua berkas perkaranya sudah dinyatakan selesai dan ditutup."
AKBP Raharja mengangguk pelan. "Lanjutkan."
"Ketiga, kondisi di kantor pusat. Bripda Tiara, tolong dijelaskan bagian ini," ujar Briptu Coki.
Bripda Tiara membuka map berisi print-out data keuangan. "Ini sangat janggal. PT Maju Mundur melaporkan kerugian sebesar 18 miliar pada tahun ini. Angka itu tidak wajar karena volume ekspor mereka justru meningkat. Bulan depan perusahaan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 200 karyawan. Skalanya besar, sementara itu, direktur utama, Anto, justru baru membeli dua unit mobil mewah."
AKBP Raharja terdiam. Ia berjalan mondar-mandir di depan papan tulis. "Jadi, kita memiliki kepala keamanan pabrik yang mencurigakan, sebuah gudang yang ditutup rapat, dan arus keuangan perusahaan yang tidak jelas..."
Tiba-tiba Briptu Adi, mengangkat tangan.
"Lapor, Pak. Dari hasil pengecekan data BPJS Ketenagakerjaan, saya menemukan satu nama. Udin Jasuke. Ia adalah putra dari korban pertama. Saat ini ia bekerja di bagian gudang."
Seluruh ruangan menoleh ke arah Briptu Adi.
Mata Coki seketika berbinar. Ia langsung membuka laptopnya dan mengetik cepat. "Benar, Pak. Nama Udin Jasuke tercantum dalam daftar 200 karyawan yang akan di-PHK bulan depan."
AKBP Raharja menghentikan langkahnya. "Lalu apa maksudmu?"
Coki menutup laptopnya perlahan. "Kita manfaatkan dia, Pak."
"Bagaimana caranya?" tanya AKBP Raharja.
"Saya punya ide," katanya. "Saya akan menyebarkan fakta tentang masa lalu dan identitas Udin. Jika Anto tahu Udin adalah putra dari Pak Budi yang menjadi korbannya, maka ia akan panik," kata Coki. "Ia tidak akan memecat Udin. Justru sebaliknya, ia akan menjaga Udin tetap di dekatnya.
"Untuk apa mereka mempertahan Udin?" tanya balik Briptu Adi.
"Untuk menyingkirkannya tanpa jejak," jawab Briptu Coki datar. "Seperti yang ia lakukan pada Budi. Korban pertama."
"Jelaskan lebih detail, aku masih belum mendapatkan alurnya," sahut Bripka Eman.
"Jika seseorang diatas tahu Udin adalah putra Budi, mereka akan mengira, anak itu sengaja masuk ke perusahaan dengan tujuan tertentu!" tegas AKBP Raharja.
Ruangan hening selama beberapa detik, hening yang lebih berat, karena semua anggota tampak menimbang dan berpikir lebih dalam.
Bripka Eman mengernyit dalam. "Aku akan membantu menemukan cara agar Udin mendapat mutasi ke cabang Tulungagung. Kurasa itu akan mempermudah Briptu Coki melihat lebih dalam, langsung ke TKP."
AKBP Raharja menarik napas panjang. Ia kemudian menunjuk ke arah Coki. "Rencana itu sangat berisiko, karena melibatkan warga sipil."
"Justru karena itu kita harus masuk," potong Bripka Eman. " Jika memang ada sesuatu, mereka akan menggunakan TKP yang sama untuk melakukan kejahatan yang sama."
"Selain itu..." Bripka Emon menghela napas. "Kalau perusahaan sebesar ini bisa bermain kotor dan lolos, berapa banyak perusahaan lain yang ikut meniru? Maka kita usut mulai dari dalam, pelan-pelan tanpa suara."
AKBP Raharja diam menimbang.
Bripda Tiara kembali mengangkat tangan. "Kondisi finansial perusahaan itu mengalami defisit parah Komandan. Dugaan kuat ada korupsi di internal. Tapi pihak eksekutif berkilah. Alasannya klasik, rupiah anjlok, IHSG anjlok, beberapa investor mengundurkan diri."
AKBP Raharja menatap semua orang di ruangan itu, tarikan napasnya terdengar begitu berat. "Dari sisi manapun, ini sangat berbahaya, sejak kapan kita menjadikan warga sipil sebagai umpan?!"
"Bukan umpan, Komandan," sahut Briptu Coki cepat. "Umpan kalau kita lepas begitu saja. Ini jebakan. Kita yang mengendalikan papan catur. Anto dan komplotannya yang akan bergerak duluan. Dan saat ia bergerak, ia pasti meninggalkan jejak."
AKBP Raharja menatap anggotanya itu lebih lama. "Risikonya besar. Bagaimana kalau Anto benar-benar membunuh Udin sebelum kita siap?"
"Saya akan mengawasinya 24 jam," kata Briptu Coki. "Saya minta izin untuk tetap menyamar, dekat dengan Udin menjadi bayangannya."
Briptu Adi mengangkat tangan. "Tapi bagaimana kalau Udin menolak kerja sama? Dia tidak tahu apa-apa."
"Itulah bagusnya," kata Bripka Eman. "Dia harus tidak tahu apa-apa. Dia harus marah, harus bingung, harus natural. Karena kalau dia akting, Anto akan curiga. Kita butuh Udin yang asli. Anak yang kehilangan ayahnya, dan mencari keadilan tanpa tahu dia sedang kita pakai."
AKBP Raharja berdiri. Ia berjalan ke papan tulis. Ia melingkari nama Udin Jasuke dengan spidol merah. "Rencana yang sempurna," katanya akhirnya. "Berisiko, tapi sempurna." Ia menoleh ke arah Briptu Coki. "Aku yang akan menemui Udin di akhir, jika sesuatu terjadi."
Briptu Coki menggeleng tegas. "Tidak perlu, Komandan. Saya akan mengawasinya 24 jam. Saya jamin dia aman, sampai saatnya tiba."
"Saatnya tiba untuk apa?" Tuntut Bripda Tiara.
Coki tersenyum tipis, bukan senyum senang, tapi senyum khas seorang pemburu. "Saat Anto panik, ia akan melakukan manipulasi, atau mungkin justru mengungkap bukti. Saat itulah kita masuk. Dengan bukti utuh. Dan dengan saksi yang tidak bisa ia beli, yaitu Udin."
AKBP Raharja mengangguk pelan. "Baiklah, mari kita lanjutkan!"
FLASBACK OFF
...****************...
Bersambung.