"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAPORAN PATRIK
Mendengar laporan gila dari Patrik, aura dominan Alpha milik Lucian langsung meledak hebat tanpa bisa ditahan lagi.
Udara di sekitar pinggiran hutan itu mendadak terasa mencekam dan sangat menekan, hingga membuat beberapa burung di atas pohon langsung terbang berhamburan karena ketakutan.
"Wanita sialan itu benar-benar sudah bosan hidup!" bentak Lucian, rahangnya mengeras sempurna dengan urat-urat di pelipisnya yang menyembul tegang.
Lucian mengepalkan tangan kanan nya begitu kuat, dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa seorang gadis bangsawan senekat itu memanfaatkan hilangnya dirinya di perbatasan Kerajaan Costa untuk mencari simpati publik dan mengincar posisi Duchess Alistair.
"Bagaimana dengan tanggapan Ayah dan Ibunda?" tanya Lucian lagi, suaranya merendah namun terdengar sangat berbahaya, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Tuan Besar Lucas sangat murka dan sudah memperketat gerbang utama agar tidak ada satu pun orang dari keluarga Earl yang bisa mendekat, dan nyonya Jasmine sempat terkejut, namun beliau sama sekali tidak mempercayai rumor murahan tersebut, Tuan Muda," jawab Patrik cepat, mencoba menenangkan amarah rajanya.
Lucian mendengus kasar, sedikit merasa lega karena ibunya tidak termakan oleh bualan licik Lady Michelle, tapi rasa sesak dan panas di dadanya karena nama baik keluarganya diinjak-injak oleh skandal murahan tetap membuat darah serigalanya bergejolak hebat.
"Biarkan wanita ular itu menari di atas kebohongannya sendiri untuk sementara waktu. Begitu kondisiku pulih seratus persen dan pengkhianat di militer ini kutemukan, aku sendiri yang akan menyeretnya ke depan publik untuk menghancurkan harga diri keluarganya," ucap Lucian dengan senyum miring yang sangat dingin dan mematikan.
"Baik, Tuan Muda. Lalu, apakah Anda ingin saya menyiapkan pasukan tambahan untuk berjaga-jaga?" tanya Patrik, meminta instruksi lebih lanjut.
"Perketat saja penjagaan dari jauh, jangan sampai ada mata-mata dari ibu kota Harper yang mengendus keberadaan ku di rumah Ara," perintah Lucian tegas, sebelum akhirnya mengibaskan tangan mengusir Patrik agar segera kembali ke posisinya.
Patrik membungkuk hormat, lalu pergi, meninggalkan Lucian yang masih berdiri dengan dada yang naik turun menahan sisa amarahnya yang membakar.
Lucian membalikkan badannya, berjalan kembali menuju rumah sederhana milik Ara dengan langkah lebar, pikirannya benar-benar kacau dan dipenuhi oleh rasa dongkol akibat drama sampah di ibu kota Harper.
Ceklekk.
Lucian melangkah masuk ke dalam dapur, mendapati Ara yang sedang sibuk memotong beberapa sayuran di atas meja kayu dengan gerakan lincah.
"Oh, kamu sudah kembali dari jalan-jalanmu, Ian? Cepat sekali," ucap Ara tanpa menoleh, fokusnya tetap pada pisau dapur di tangannya.
Bukannya menjawab, Lucian justru berjalan mendekat dengan aura yang masih terasa agak berat, lalu tiba-tiba bertumpu pada kedua tangannya di pinggiran meja dapur, mengurung tubuh kecil Ara dari belakang tanpa menyentuhnya.
"Eh, eh! Kamu ini apa-apaan sih, Ian?! Datang-datang langsung berdiri mepet begini! Masih marah soal yang tadi? Kan sudah aku jelaskan!" seru Ara kaget, menoleh ke samping, menatap wajah tampan Lucian yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
Wajah Lucian tampak sangat gelap, tatapan mata emasnya menatap dalam ke dalam manik mata bulat Ara seolah sedang mencari pelarian dari rasa frustrasinya yang menumpuk sejak tadi.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Menyeramkan sekali, seperti beruang kutub yang tidak diberi makan setahun," omel Ara lagi, mencoba menutupi rasa gugupnya karena deru napas hangat Lucian yang terasa menyengat di kulit pipinya yang mulai memerah.
"Ara... berjanji padaku satu hal," ucap Lucian tiba-tiba dengan suara beratnya yang serak dan terdengar sangat menuntut.
"Janji apa? Bicara yang jelas, jangan membuatku bingung!" jawab Ara, mengerutkan keningnya heran.
"Jangan pernah mempercayai rumor apa pun yang kamu dengar tentangku di luar sana. Ingat baik-baik, di atas kertas ataupun tidak saat ini aku adalah suamimu, Ian," bisik Lucian dengan nada penuh penekanan di dekat telinga Ara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.
Ara yang mendengar ucapan aneh itu langsung melongo di tempatnya, menatap bingung sekaligus heran ke arah Lucian yang sekarang perlahan menjauhkan tubuh besarnya dan berjalan keluar dari dapur dengan wajah ketus yang sulit diartikan.
"Pergi lagi? Ck pria itu benar-benar aneh, apa racun di otaknya belum sepenuhnya hilang?!" omel Ara frustrasi, menghentakkan kaki kecilnya ke lantai dapur sambil memegangi dadanya yang mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya karena tingkah aneh sang Alpha.
"Rumor apa coba? Aku bahkan tidak kenal siapa-siapa di luar desa ini selain warga pasar," gumam Ara menggelengkan kepala heran.
Dia mendengus malas, memilih untuk tidak terlalu ambil pusing dan melanjutkan kembali kegiatan memotong sayurnya yang sempat tertunda.
Lucian berjalan menuju halaman samping rumah, tempat tumpukan kayu bakar berada. Dia mengambil kapak kayu, lalu mulai membelah balok-balok kayu dengan ayunan yang sangat bertenaga.
Brak
Brak
Suara kayu yang terbelah menjadi dua terdengar berdentum nyaring di udara sore yang mulai sejuk. Lucian meluapkan seluruh emosi dan rasa kesalnya pada kayu-kayu malang itu, membayangkan wajah licik Lady Michelle ada di sana.
"Sialan, berani sekali dia mencari perkara denganku," umpat Lucian pelan, menyeka keringat yang menetes di pelipisnya menggunakan punggung tangan.
"Hei! Kamu mau merusak kapak ku lagi ya?!" teriakan melengking Ara dari arah pintu samping membuat gerakan kapak Lucian langsung terhenti di udara.
Ara berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang, menatap tajam ke arah tumpukan kayu yang sekarang sudah hancur berkeping-keping karena kekuatan otot serigala Lucian yang terlalu berlebihan.
"Sudah ku bilang, kalau memotong kayu itu pakai perasaan, Ian! Bukan pakai emosi! Lihat itu, kayunya jadi terlalu kecil untuk dijadikan kayu bakar di tungku!" omel Ara, melangkah mendekat dengan wajah ditekuk sebal.
Lucian menurunkan kapaknya, menancapkan ujung besi kapak itu ke tanah gembur, lalu menatap Ara dengan helaan napas pendek.
Sisa aura kemarahannya mendadak menguap begitu saja begitu melihat wajah ketus gadis kebun di depannya.
"Aku hanya sedang melatih otot-otot ku, Nona kubis. Lagipula, kayu sekecil ini justru akan lebih cepat terbakar, kan?" jawab Lucian santai, mencoba membela diri dengan senyum miring andalannya.
"Alasan saja! Bilang saja kamu sengaja mau menghancurkan fasilitas rumahku," cibir Ara, memutar bolanya malas.
Ara mendekati tumpukan kayu, lalu berjongkok untuk memunguti belahan kayu yang berserakan di tanah ke dalam keranjang anyaman kecil.
Melihat hal itu, Lucian tidak tinggal diam, dia ikut berjongkok di sebelah Ara, membantu memunguti kayu-kayu tersebut dengan gerakan yang jauh lebih pelan dari biasanya.
"Ara," panggil Lucian lembut, memecah keheningan di antara mereka berdua yang sibuk bekerja.