Mohon bijak dalam membaca, jangan lompat Bab dan blom like ya ...😘
Qyana Selyana Putri, gadis cantik yang mengalami transmigrasi kedalam tubuh seorang gadis yang bernama Astara Kalyana Rayder, gadis cantik yang menjadi kesayangan kelima kakak laki-lakinya.
Meski begitu, Astara tidak merasa bahagia, apalagi sejak dia kehilangan kedua orangtuanya saat dia masih berusia sepuluh tahun, Astara merasakan kehampaan di dalam hidupnya, hingga membuatnya tidak lagi memiliki semangat untuk hidup.
Namun hal itu tidak pernah dia perlihatkan di hadapan kelima kakaknya, hingga suatu malam, setelah pembicaraan dia dengan seorang wanita, kekasih dari Sang kakak pertama. Setelahnya, Astara memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Hilangnya jiwa Astara, rupanya membuat raga itu di isi oleh jiwa Qyana yang pada saat yang sama telah di bunuh oleh sahabatnya sendiri.
Tak rela dengan takdir hidupnya yang seperti itu, Qyana memutuskan untuk menerima hidupnya yang kedua menjadi Astara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Adiramanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
@@@@@@
Sejak kejadian terakhir kali yang dialami Astara dan Ravandra waktu itu, sekarang Astara terlihat lebih giat lagi berlatih bela diri bersama dengan Tristan dan salah satu bodyguard wanita yang bekerja dengan Tristan.
Alasan Astara melakukan hal ini semua, karena dia tidak ingin gemetar ketakutan lagi saat mengalami kejadian yang selama ini dia alami, maka dari itu Astara bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih kuat lagi dan tentunya bisa menjaga dirinya sendiri.
"Nona ..." sapa Ayra, bodyguard wanita yang sudah lama bekerja dengan Tristan.
Dan sekarang, dia juga di tugaskan sebagai guru Astara dalam berlatih bela diri, sekaligus menemani Astara kemanapun Astara pergi.
"Kenapa kak," jawab Astara saat menoleh pada Ayra yang memberikan satu botol air mineral pada dirinya.
"Tidak perlu memanggil saya dengan sebutan kakak, Nona. Saya jadi merasa tidak nyaman dengan panggilan itu," ucap Ayra yang merasa canggung denga pangilan "kakak" dari Astara.
Meski dia memang beda dua tahun dengan Astara, namun Ayra sadar diri jika dia hanya seorang pesuruh, dan merasa tidak pantas dengan panggilan kakak yang di ucapkan oleh Astara barusan.
"Ish ... mana boleh, kan kakak memang lebih tua dari aku, masa aku harus panggil dengan nama saja, itu namanya enggak sopan tahu," ucap Astara yang tidak pernah setuju dengan pendapat Ayra barusan.
Dan memilih meminum air mineral yang di berikan oleh Ayra tadi, sedangkan Ayra sendiri terlihat duduk di dekat Astara saat mereka sedang berada di sebuah gedung khusus yang di gunakan Astara untuk berlatih bela diri bersama dengan Ayra.
"Ada apa Nona, sepertinya Nona sedang memikirkan sesuatu," ucap Ayra yang melihat kearah Astara yang tiba-tiba diam.
"Entahlah kak Ay, belakangan ini aku tidak pernah melihat kak Ashlan pulang kerumah, saat aku menghubunginya, dia juga tidak mau mengangkat pangilan itu, karena hal itulah aku merasa cemas dan juga kesal karena diabaikan," keluh Astara.
Yang setelah kejadian Adrian dan Astara yang berurusan dengan Arsen, Ashlan pergi dari rumah tanpa pamit.
Astara bahkan tidak tahu dimana Ashlan tinggal sekarang, dan saat Astara bertanya pada kakaknya yang lain, mereka hanya menjawab jika Ashlan butuh waktu untuk sendiri.
Namun sampai sekarang, Astara masih belum tahu bagaimana keadan Ashlan, dan hal itu membuat Astara bingung harus mencari Ashlan kemana nantinya.
"Mungkin Tuan Ashlan sedang sibuk, Nona," kata Ayra, yang berusaha menghibur Astara yang sepertinya sedang sedih.
"Sesibuknya kak Ashlan, seharusnya dia bisa membalas satu pesan dariku, tapi yang terjadi sekarang malah, dia selalu mengabaikan pesan dan panggilan ku," cemberut Astara.
"Lalu, apa yang ingin Nona lakukan sekarang,"
"Entahlah ..." jawab Astara yang kemudian beranjak dari duduknya di lantai.
"Kak Ayra, ayo ke Mall," ajak Astara, yang tanpa menunggu jawaban dari Ayra, Astara langsung berjalan lebih dulu menuju ruang ganti.
Mengabaikan Ayra yang tersenyum saat melihat mood Astara yang bisa berubah dengan cepat, lalu setelahnya dia mengikuti Astara untuk berganti baju.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka berganti dengan pakaian casual mereka, mereka langsung menuju ke Mall yang waktu itu sempat Astara kunjungi.
Hingga tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di Mall terbesar di kota S tersebut.
"Apa Nona ingin membeli sesuatu," kata Ayra sambil berjalan mengikuti Astara yang tengah menikmati melihat-lihat seisi Mall.

"Em ... aku masih belum tahu, jadi kita lihat-lihat dulu aja kak," jawab Astara tersenyum sambil melihat kearah Ayra yang berjalan di belakangnya.
Namun, baru lima menit Astara berjalan memasuki Mall tersebut, dia justru melihat pemandangan yang membuatnya merasa sangat marah.
Ayra yang melihat Astara berhenti tiba-tiba, merasa penasaran dengan apa yang sedang di lihat oleh Astara, namun saat melihat kearah yang di lihat oleh Astara. Ayra merasa bingung dengan sepasang pria dan wanita yang terlihat sangat romantis, yang sedang berada di depan toko ternama di depan mereka.
"Nona ..." panggil Ayra, yang hal itu rupanya membuat Astara sadar dimana posisinya sekarang.
"Iya kak ..." ucap Astara sambil menoleh kearah Ayra.
"Nona terlihat sedang marah, apa nona mengenal mereka?," tanya bingung Ayra saat melihat pasangan itu berjalan kearah mereka.
"Tidak, itu hanya perasaan kakak aja, lebih baik kita pergi untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan," ucap Astara yang kemudian melanjutkan langkahnya.
Sambil menahan amarah yang hampir membuatnya lepas kendali, namun saat dia sadar siapa dirinya yang sekarang, Astara hanya bisa diam, sambil bersikap acuh saat berjalan melalui pasangan tadi.
Namun sepertinya, situasi tidak berpihak pada Astara, karena yang saat ini terjadi sangat berlawanan dengan apa yang Astara inginkan.
\*\*\*
**Di kediaman Arsalan**.
Ravandra terlihat frustasi saat dia tidak di berikan kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, hal itu karena sang kakek yang sudah lebih dari satu minggu tinggal di rumah kedua orangtuanya.
Agatha yang merasa putranya tertekan dengan kondisi saat ini, mencoba untuk bicara dengan Ravandra yang memilih menghabiskan waktunya di ruang kerjanya selama lebih dari satu minggu ini.
"Nak ..." panggil Agatha saat baru saja membuka pintu ruangan kerja Ravandra.
"Masuklah Mom," jawab Ravandra menoleh kearah pintu sambil bangkit dari kursi kebesarannya, dan setelahnya dia berjalan menghampiri Agatha yang sudah duduk di sofa setelah menutup kembali pintu ruang kerja Ravandra.
"Mommy tahu kamu sangat tidak nyaman dengan kehadiran kakekmu di sini, tapi cobalah untuk bertahan sebentar lagi," ucap Agatha sambil mengusap kepala Ravandra, hal yang sudah biasa di lakukan Agatha, saat Agatha bicara serius dengan Ravandra.
"Aku tahu Mom, hanya saja aku sangat merindukan Astara, dan karena kakek aku jadi tidak bisa bertemu dengannya," keluh Ravandra sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Agatha.
"Mommy mengerti apa yang kamu rasakan sekarang, tapi kamu tahu sendiri seperti apa kakekmu itu,"
"Dan Mommy tidak ingin jika hubungan yang baru kamu bangun dengan Astara rusak karena kakekmu," harap Agatha sambil mengusap kepala Ravandra.
"Aku tahu, hanya saja ..." jawab Ravandra yang tidak bisa melanjutkan apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
Sebab dia sangat sadar jika kehadiran sang Kakek akan membuat Astara dalam bahaya saat dia tahu jika dia berhubungan dengan Astara. Karena itulah, sudah lebih dari satu minggu dia tidak bertemu dengan Astara.
Karena Ravandra mencoba menyembunyikan hubungan yang baru dia bangun dengan Astara, dan berharap sang kakek tidak akan tahu mengenai hal itu.
Namun saat Ravandra mendapatkan pesan di ponselnya, Ravandra merasa berat saat diharuskan untuk memilih dua pilihan yang harus dia pilih. Dan naasnya, kedua pilihan itu berkaitan dengan Astara dan hubungan yang harus mereka lalui nantinya.
**TBC**
alur ceritanya menarik
/Hey//Hey//Hey/