NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017

Nama yang Terkunci

Di atas kasur, ponsel pinjaman menyala sebentar karena notifikasi kosong. Bunga melihat notes terakhirnya. Kata `Wicaksana` berada di sana, diam, seperti pintu yang menolak tetap tertutup.

Bunga menatap kata itu sampai matanya perih.

"Aku bisa cari sendiri," katanya pada kegelapan kamar.

Tuan Misterius tetap diam.

"Kamu tahu aku bisa."

Masih tidak ada jawaban.

Bunga mengambil ponsel. Sinyalnya lemah, tetapi cukup. Ia mengetik `insiden gala eksekutif muda kritis Wicaksana` di kolom pencarian. Jarinya berhenti di atas layar sebelum menekan enter.

Di dalam dadanya, rasa takut yang bukan miliknya bergerak.

"Kalau kamu mau menghentikan aku," kata Bunga, "sekarang waktunya."

Tuan Misterius akhirnya bersuara. "Jangan lakukan dengan koneksi publik."

Bunga hampir tertawa karena kesal. "Itu yang kamu pikirkan?"

"Keamanan."

"Bukan. Itu alasan terakhir yang masih bisa kamu pakai."

Ia menekan enter.

Hasil pencarian muncul dalam beberapa detik. Artikel berita ekonomi, foto gala, kabar tentang insiden tertutup di hotel, dan satu judul yang membuat tenggorokan Bunga kering.

`Direktur Kepatuhan Wicaksana Group Dikabarkan Kritis Setelah Insiden Gala`

Nama lengkapnya tidak ada di judul. Bunga membuka artikel itu.

Tuan Misterius berkata, "Bunga."

"Diam."

Artikel itu penuh kalimat hati-hati: sumber internal, belum ada keterangan resmi keluarga, eksekutif muda, salah satu pewaris Wicaksana, dirawat di fasilitas medis swasta. Foto yang dipakai buram, diambil dari jauh saat gala sebelum kekacauan. Wajah pria berjas hitam terlihat setengah samping.

Bunga memperbesar foto.

Napasnya berhenti.

Ia pernah melihat garis rahang itu. Bahu itu. Jas mahal itu. Pria yang menarik tangannya di dapur hotel. Pria yang jatuh di atas tubuhnya setelah menerima hantaman di kepala.

"Itu kamu," bisik Bunga.

Di dalam kepalanya, Tuan Misterius tidak membantah.

Bunga menggulir artikel lebih cepat. Di paragraf ketiga, akhirnya nama itu muncul.

`Rangga Wicaksana, putra kedua Keluarga Wicaksana, dikenal sebagai ahli hukum bisnis dan Direktur Kepatuhan Wicaksana Group.`

Kamar kos terasa mengecil.

Bunga membaca nama itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

"Rangga," katanya pelan, mencoba rasa nama itu di lidahnya.

Emosi di dalam dadanya bergetar seperti kaca disentuh.

"Ya," jawab Tuan Misterius.

Bunga menutup mata.

Selama ini suara itu punya nama. Bukan Tuan Misterius. Bukan penyewa gelap di kepalanya. Bukan komentator menyebalkan yang tahu garpu dan kontrak. Ia punya nama keluarga, jabatan, foto, berita, tubuh, dan mungkin kamar rumah sakit yang dijaga orang-orang mahal.

"Nama saya Rangga Wicaksana," katanya akhirnya, tidak lagi bersembunyi di balik lelucon. "Putra kedua Keluarga Wicaksana. Direktur kepatuhan Wicaksana Group. Dan saat ini, kalau artikel itu benar, tubuh saya masih hidup tapi tidak sadar."

Bunga membuka mata.

Ada banyak hal yang bisa ia katakan. Ia bisa marah karena dibohongi. Ia bisa tertawa karena orang yang tinggal di kepalanya ternyata konglomerat sungguhan. Ia bisa panik karena ia telah menyeret putra Wicaksana naik angkot, makan nasi bungkus, kabur dari rumah sakit, dan hampir menggigit tangannya sampai biru.

Yang keluar hanya, "Kamu benar-benar orang kaya."

Rangga diam.

"Itu kesimpulan pertamamu?"

"Maaf, otakku sedang antre."

Bunga berdiri terlalu cepat sampai ponsel hampir jatuh dari pangkuannya. Ia berjalan ke sudut kamar, lalu kembali lagi karena tidak ada cukup ruang untuk mondar-mandir. Kamar kos itu hanya cukup untuk satu kasur, satu rak plastik, dan satu manusia yang tidak sedang panik. Malam ini ada dua jiwa di dalamnya, satu artikel berita, dan nama keluarga yang bisa membuat pintu mana pun terbuka atau tertutup selamanya.

"Aku pernah dengar orang nyebut Wicaksana di pesta," katanya. "Cara mereka ngomong seperti menyebut nama bank, pengadilan, dan cuaca buruk sekaligus. Semua orang tahu, semua orang takut, semua orang pura-pura biasa."

"Itu berlebihan."

"Tidak. Yang berlebihan itu kamu membiarkan aku memanggilmu Tuan Misterius sambil kamu sebenarnya pewaris keluarga yang wajahnya muncul di artikel bisnis."

"Saya bukan pewaris utama."

"Oh, maaf. Putra kedua konglomerat. Cabang tinggi nomor dua. Tetap saja kalau jatuh menimpaku, aku gepeng."

Rangga tidak punya jawaban cepat untuk itu.

Bunga membuka galeri artikel lagi. Ia menemukan foto lain dari berita lama: Rangga di podium seminar hukum bisnis, Rangga berdiri di belakang Prabu, Rangga menandatangani dokumen di ruang rapat. Selalu rapi. Selalu putih, abu-abu, hitam. Tidak ada noda sambal. Tidak ada angkot. Tidak ada piring ketiga.

"Kamu lihat aku di semua keadaan paling rendahku," katanya, suaranya turun. "Kelaparan. Ketakutan. Tidak punya KTP. Tidak punya uang. Nangis hampir di powder room. Gigit tangan sendiri karena kamu mau hilang."

Rangga sangat diam.

"Sementara aku baru lihat kamu lewat foto perusahaan. Kamu punya nama, gedung, ayah, kakak, dokter, pengawal. Kamu punya semua hal yang bisa dipakai untuk menjelaskan dirimu. Aku cuma punya suara."

"Saya tahu itu tidak adil."

"Bukan cuma tidak adil." Bunga menekan dada sendiri, seolah bisa menunjuk tempat ia merasa ditinggali. "Ini badanku. Ini satu-satunya rumah yang tidak bisa diusir orang lain dariku. Dan kamu ada di sini dengan nama yang kamu simpan."

Emosi Rangga bergetar, bukan defensif, lebih seperti malu yang terlalu lama tidak punya bahasa.

"Saya takut," katanya.

Bunga berhenti.

"Takut kalau kamu tahu saya Wicaksana, kamu akan mencari keluarga saya. Takut kalau keluarga saya tahu, mereka akan mengambil alih hidupmu. Takut kalau Hartono tahu saya masih bisa bergerak melalui kamu, dia akan menghabisimu sebelum saya sempat mencegahnya."

"Jadi kamu memilih aku takut sendirian."

"Ya." Suaranya pecah tipis. "Dan itu salah."

Kejujuran itu membuat marah Bunga kehilangan bentuk paling tajamnya, tetapi tidak menghapus luka. Ia duduk lagi di tepi kasur, lebih pelan dari sebelumnya.

"Aku masih marah."

"Kamu berhak."

"Aku mungkin akan marah besok juga."

"Itu juga wajar."

"Bagus. Jangan minta diskon emosi."

Nada itu hampir membuatnya terdengar seperti Tuan Misterius lagi, tetapi tidak sepenuhnya. Nama Rangga mengubah ruang di antara mereka. Membuatnya lebih nyata, lebih berat.

Bunga duduk bersila di kasur. "Kenapa tidak bilang dari awal?"

"Karena terlalu berbahaya."

"Buat siapa?"

"Kita berdua."

"Aku sudah dikejar orang Hartono, kabur dari rumah sakit, ditumpahi anggur, diajak orang pintar, dan hampir jatuh dari mal karena emosimu. Standar bahayaku sudah naik."

"Identitas saya bisa membuatmu menjadi target lebih besar."

"Aku sudah target kecil?"

"Bunga."

"Jangan pakai nada itu." Ia menunjuk kepalanya sendiri, lupa bahwa Rangga tidak bisa melihat jarinya kecuali melalui matanya. "Kamu tinggal di sini. Kamu lihat aku malu, lapar, takut, marah. Tapi namamu kamu simpan seperti barang di laci Baskara."

Rangga tidak menjawab.

Bunga menelan napas. "Tubuhmu di mana?"

"Rumah sakit keluarga. Fasilitas medis milik jaringan Wicaksana."

"Kamu yakin?"

"Itu prosedur keluarga saya untuk kasus yang tidak ingin menjadi konsumsi publik."

"Kamu bicara soal tubuhmu seperti bicara soal dokumen rahasia."

"Karena bagi mereka, mungkin memang begitu."

Kalimat itu jatuh dingin.

Bunga teringat Prabu Wicaksana turun dari mobil hitam. Tatapan staf yang membungkuk. Rasa mual yang menerobos tubuhnya. Kata `tanda tangan` yang muncul seperti pecahan kaca.

"Ayahmu," kata Bunga.

"Prabu Wicaksana."

"Dia ayahmu."

"Secara biologis dan hukum, ya."

"Secara hati?"

Hening.

Bunga tidak memaksa. Ia sudah cukup belajar kapan pertanyaan bisa berubah menjadi tangan yang mendorong seseorang ke pinggir.

"Ibumu?"

"Sekar Wicaksana."

"Kakak?"

"Arjuna Wicaksana."

Nama-nama itu muncul satu per satu seperti pintu di koridor panjang. Bunga menulisnya di notes. Rangga tidak menghentikan.

"Kamu bilang keluarga mungkin mencarimu," kata Bunga.

"Mereka mencari tubuh saya."

"Bukan kamu?"

"Bagi banyak orang, tidak ada bedanya."

"Bagi kamu ada."

"Ya."

Bunga menatap layar artikel lagi. Foto buram itu tampak seperti orang asing dan bukan. Ia ingat pria di gala menariknya dari pukulan, tubuhnya jatuh, darah, saus cokelat, suara Bunga memanggil `Pak jas mahal`.

"Kamu menyelamatkan aku," katanya pelan.

"Saya menyelamatkan bukti."

"Bohong."

Rangga diam.

"Kalau cuma bukti, kamu bisa lari sendiri. Kamu maju karena tongkat itu mau kena aku."

"Saya tidak berpikir."

"Kadang itu bukti paling jujur."

Di dalam kepalanya, emosi Rangga bergerak pelan. Bunga tidak tahu namanya. Malu, mungkin. Atau takut menerima bahwa ia pernah memilih hidup orang lain dalam satu detik ketika hidupnya sendiri sudah lama tidak ia pilih.

Ponsel bergetar lagi. Melati mengirim pesan:

`Bung? Kamu sudah baca? Aku takut itu orang yang dulu ada di gala sama kamu.`

Bunga melihat pesan itu, lalu layar artikel.

"Melati mulai menghubungkan juga," kata Bunga.

"Jangan jawab detail."

"Aku tahu."

Ia mengetik:

`Aku baca. Jangan bahas di grup. Nanti aku cerita kalau sudah aman.`

Melati membalas cepat.

`Aku percaya kamu. Hati-hati.`

Dua kata itu membuat Bunga menunduk sebentar.

Rangga berkata, "Dia teman yang baik."

"Aku tahu."

"Jangan seret dia terlalu jauh."

"Kamu tidak berhak ceramah soal menyeret orang setelah tinggal di kepala orang tanpa nama."

"Adil."

Bunga menarik napas panjang. "Sekarang jawab satu hal."

"Apa?"

"Waktu kamu bilang tubuhmu tidak sadar... kalau tubuh itu mati, apa yang terjadi padamu?"

Rangga tidak langsung menjawab.

Kamar kos terasa sangat sunyi.

"Saya tidak tahu," katanya akhirnya.

Bunga meremas ponsel sampai jarinya sakit.

Di luar, motor lewat lagi. Di layar, foto buram Rangga Wicaksana masih terbuka, menatap dunia dari jarak aman yang palsu.

Bunga berkata, "Kalau begitu kita cari tubuhmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!