Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Toko Buku
Chisen tidak memberi reaksi malam itu.
Karena itu, Erlyn justru makin memikirkannya.
Jika Chisen melarang, ia bisa marah. Jika Chisen menyindir, ia bisa membalas. Jika Chisen bertanya banyak, ia bisa mengatakan bahwa ia hanya pergi ke toko buku, bukan kawin lari. Tetapi Chisen memilih diam, menunduk ke ponsel, makan seperti biasa, lalu naik ke loteng setelah makan malam.
Diamnya membuat semua jawaban Erlyn tidak punya tempat mendarat.
Pagi berikutnya, Erlyn meminta izin pada Jing.
"Toko buku di Tunjungan?" ulang Mama.
"Iya. Kevin mau cari buku latihan. Aku juga mau lihat."
"Angie ikut?"
Erlyn berhenti sebentar. "Katanya mungkin tidak bisa. Ada acara keluarga."
Jing menatapnya lebih lama.
Erlyn langsung menambahkan, "Di mall, Ma. Siang. Nanti sopir antar dan jemput. Kalau Mama tidak boleh, aku tidak pergi."
Kalimat terakhir keluar terlalu cepat. Ia sendiri tidak tahu apakah ia berharap Mama melarang atau mengizinkan.
Jing meletakkan pisau buah di meja. "Mama bukan melarang kamu punya teman. Tapi kamu baru pindah. Orang masih suka bicara."
"Aku tahu."
"Kamu yakin anak itu baik?"
Erlyn mengingat Kevin yang duduk di kursi depan saat mengantarnya pulang, payung yang tidak terlalu dekat, pertanyaan tentang Belitung yang tidak memaksa.
"Sejauh ini, iya."
Jing mengangguk pelan. "Kalau begitu boleh. Sopir antar jemput. Pulang sebelum jam lima."
"Terima kasih, Ma."
Erlyn baru saja lega ketika suara dari tangga terdengar.
"Jam empat."
Ia dan Jing menoleh.
Chisen turun sambil memasukkan ponsel ke saku. Wajahnya seperti biasa, datar, seolah ia hanya menambahkan jadwal makan ikan.
Erlyn menatapnya. "Mama bilang jam lima."
"Mall ramai kalau sore."
"Aku tidak pergi sendiri."
"Justru itu."
Jing melirik mereka bergantian, lalu mengambil piring buah dengan sangat bijak dan pergi ke dapur, meninggalkan medan perang kecil itu.
Erlyn menyilangkan tangan. "Koh tidak punya hak menentukan jam pulangku."
"Benar."
"Lalu kenapa bicara?"
"Karena kamu mendengar."
Chisen berjalan melewatinya menuju ruang makan. Tidak ada larangan. Tidak ada penjelasan. Hanya kalimat yang membuat Erlyn ingin melempar bantal lagi.
Akhirnya, Erlyn berangkat pada hari Minggu pukul sebelas.
Sopir menurunkannya di pintu masuk mall. Kevin sudah menunggu di dekat toko roti, memakai kemeja biru muda dan celana jeans. Ia tersenyum saat melihat Erlyn, tetapi tidak melambaikan tangan berlebihan.
"Angie tidak jadi?" tanya Erlyn.
"Dia kirim pesan. Katanya kalau kami macam-macam, dia punya kartu tarot untuk mengutuk."
Erlyn tertawa. "Itu terdengar seperti Angie."
"Kamu tidak keberatan?"
"Selama kita benar-benar ke toko buku."
"Tentu."
Mereka benar-benar ke toko buku.
Kevin membawa daftar. Erlyn juga akhirnya membeli satu buku latihan matematika, dua pulpen, dan pembatas buku bergambar bunga kecil. Kevin melihat pembatas buku itu dan berkata, "Melati?"
"Sepertinya."
"Cocok denganmu."
Erlyn berhenti membalik barang. "Kenapa?"
Kevin tampak baru sadar ia bicara terlalu cepat. "Karena... sederhana, tapi wanginya kuat."
Pujian itu aneh. Tidak buruk, tetapi membuat Erlyn tidak tahu harus menjawab apa. Ia akhirnya meletakkan pembatas buku itu di keranjang.
"Aku beli karena murah."
Kevin tertawa, dan suasana kembali ringan.
Mereka makan siang di food court. Erlyn memilih mi ayam, Kevin memesan nasi goreng. Mereka duduk di meja terbuka, di tengah ramai keluarga, anak kecil, dan suara piring. Tidak ada yang rahasia. Tidak ada yang perlu disembunyikan.
Tetap saja, beberapa kali Erlyn melihat jam.
Pukul dua lewat lima belas.
Pukul dua lewat empat puluh.
Pukul tiga.
Kevin akhirnya menyadari. "Kamu harus pulang jam berapa?"
"Sebelum jam lima."
"Kakak tirimu bilang jam empat?"
Erlyn hampir tersedak. "Kamu tahu?"
"Waktu kamu baca pesan tadi, wajahmu seperti orang baru dapat perintah perang."
"Dia tidak mengirim pesan."
"Oh." Kevin tersenyum tipis. "Berarti lebih kuat. Dia tidak perlu kirim pesan."
Erlyn tidak menjawab.
Karena Kevin benar, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Ia sampai di Jalan Kenanga pukul empat kurang sepuluh.
Tepat waktu versi Chisen.
Ketika masuk rumah, aroma bawang putih dan kecap menyambutnya. Erlyn mengikuti bau itu ke dapur dan menemukan Chisen berdiri di depan kompor, mengaduk mi goreng. Lengan kemejanya digulung. Di meja ada irisan daun bawang yang rapi.
"Koh masak?"
"Terlihat begitu."
"Untuk siapa?"
"Orang rumah."
Erlyn meletakkan kantong toko buku di meja. Pembatas buku melati terlihat dari dalam kantong plastik bening. Mata Chisen turun sebentar ke benda itu, lalu kembali ke wajan.
"Pulang jam berapa?" tanyanya.
"Sebelum jam empat."
"Bagus."
"Koh menghitung?"
"Tidak."
"Koh masak karena aku tidak ada?"
Chisen mematikan kompor. "Karena kalau menunggu kamu, semua mati kelaparan."
Erlyn menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum.
Chisen mengambil piring, menuang mi goreng, lalu mendorong satu porsi kecil ke arahnya.
"Cicipi. Besok kamu belajar ini."
Erlyn menatap piring itu, lalu menatap Chisen.
Tidak ada larangan pergi.
Tidak ada pertanyaan tentang Kevin.
Tidak ada wajah marah.
Hanya mi goreng panas dan suara datar yang seolah semuanya biasa saja.
Erlyn mencium aroma kecap, tetapi dadanya justru terasa sedikit asam.
Ia diam.
Lama.
Namun saat Chisen berbalik mengambil sumpit, Erlyn melihat satu hal kecil.
Daun bawang di talenan terpotong lebih halus dari biasanya, seolah seseorang melampiaskan sesuatu pada pisau.