NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8_Boneka Anabel.part1

Bab 1: Boneka yang Tidak Pernah tidur

"Jangan pernah membawa boneka itu masuk ke rumah ini, Nak..." Suara seorang wanita tua terdengar bergetar dari balik pintu kayu yang sudah lapuk. Tangannya menggenggam erat tongkat, sementara matanya terus menatap sebuah boneka kecil yang berada di dalam kotak tua.

Boneka itu memiliki wajah pucat dengan mata bulat besar berwarna hitam. Rambutnya yang panjang dan kusut menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Senyum kecil tergambar di bibir boneka itu, namun entah mengapa senyum tersebut justru terlihat menyeramkan.

Di bagian lehernya terdapat pita merah yang sudah kusam.

"Kenapa, Nek? Ini cuma boneka biasa," ujar seorang gadis bernama Alena sambil mengangkat kotak tersebut. Ia mencoba tersenyum, meskipun wajahnya terlihat penasaran.

Nenek Ratih langsung melangkah mundur. Wajahnya berubah pucat, bibirnya bergetar, dan matanya menatap boneka itu seperti sedang melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

"Bukan... bukan boneka biasa, Alena." Nenek Ratih menelan ludah dengan susah payah. "Boneka itu pernah membuat satu keluarga kehilangan nyawa mereka."

Alena terdiam.

Angin malam tiba-tiba bertiup kencang. Pintu rumah tua itu berderit sendiri, padahal tidak ada yang menyentuhnya.

Kreeeek...

Alena menoleh ke arah pintu.

"Nenek... tadi pintunya terbuka sendiri?" tanyanya pelan sambil mengerutkan dahi.

Wajah Alena mulai menunjukkan rasa takut.

Namun Nenek Ratih tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada boneka tersebut.

"Buang boneka itu sekarang juga, Alena."

Suara Nenek Ratih terdengar tegas, tetapi penuh ketakutan.

"Aku tidak bisa, Nek. Boneka ini aku temukan di gudang rumah lama peninggalan Ayah. Mungkin ini barang kesayangannya dulu." jawab Alena memeluk kotak boneka itu.

Ekspresi wajahnya melembut.

"Aku ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan." lanjutnya.

Mendengar itu, wajah Nenek Ratih semakin panik.

"Jangan!" Teriakan Nenek Ratih membuat

Alena terkejut.

Tubuh wanita tua itu gemetar.

"Jangan panggil dia kenangan..." Suara Nenek Ratih berubah menjadi bisikan. "Karena dia bukan membawa kenangan... dia membawa kematian."

Malam itu, Alena membawa boneka tersebut ke kamarnya.

Rumah peninggalan ayahnya memang sudah lama kosong. Setelah ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, Alena memilih tinggal bersama Nenek Ratih.

Kamar Alena berada di lantai dua. Ia meletakkan boneka itu di atas meja dekat tempat tidurnya.

"Aneh... kenapa Nenek sangat takut dengan boneka ini?" Alena berbicara sendiri sambil memperhatikan wajah boneka itu.

"Padahal dia cuma benda mati." lanjutnya.

Alena tersenyum kecil. Namun saat ia hendak mematikan lampu...

Tok... tok... tok...

Suara ketukan terdengar dari arah jendela.

Alena membeku. Perlahan ia menoleh. Jendela kamarnya tertutup rapat. Tidak ada siapa pun di luar.

"Siapa itu?" Suara Alena bergetar.

Ia berjalan mendekati jendela.

Dengan tangan gemetar, ia membuka tirai.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Alena menghela napas lega.

"Mungkin cuma ranting pohon." batinnya.

Ia kembali ke tempat tidur. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya membesar.

Boneka yang tadi ia letakkan di atas meja... Kini berada di atas tempat tidurnya. Tepat di samping bantalnya.

Alena mundur perlahan. Wajahnya berubah pucat.

"Tidak..." Bisiknya pelan. "Aku tadi meletakkannya di meja."

Tangannya mulai gemetar. Ia memberanikan diri mengambil boneka itu.

Saat tangannya menyentuh tubuh boneka tersebut... Sebuah suara kecil terdengar.

"Alena..."

Alena langsung membeku.

Suara itu seperti suara anak kecil. Matanya bergerak perlahan menatap boneka di tangannya.

Boneka itu diam. Tidak bergerak. Namun suara itu terdengar lagi.

"Temani aku..."

Napas Alena tercekat. Ia menjatuhkan boneka itu ke lantai.

Bruk!

"Siapa di sana?!" teriaknya keras.

Wajahnya ketakutan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara tawa kecil yang terdengar dari sudut kamar.

"Hehehe..."

Alena menutup mulutnya. Air matanya mulai menggenang. Karena suara itu berasal dari bawah tempat tidurnya.

Keesokan paginya, Alena menceritakan kejadian itu kepada Nenek Ratih.

"Nek... aku mendengar suara dari boneka itu."

Alena berbicara dengan wajah pucat. Matanya terlihat kurang tidur.

Nenek Ratih langsung menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.

Prang!

Gelas itu pecah di lantai.

"Dia sudah memilihmu..." Nenek Ratih berbisik. Wajahnya penuh ketakutan.

"Maksud Nenek apa?" tanya Alena menatap bingung.

Nenek Ratih menarik napas panjang.

"Dulu... ada seorang anak kecil bernama Anabel." Suara Nenek Ratih mulai bergetar.

"Dia meninggal secara misterius. Setelah kematiannya, boneka kesayangannya ditemukan berada di tempat-tempat aneh."

Alena mulai merinding.

"Lalu?" tanya Alena penasaran.

Nenek Ratih menatap ke arah tangga lantai dua.

"Siapa pun yang membawa boneka itu pulang..." Ia berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. "Akan mulai mendengar suara Anabel."

Suasana dapur mendadak terasa dingin. Alena perlahan menoleh ke arah lantai dua.

"Apa yang terjadi pada mereka, Nek?" tanya Alena ingin tahu

Nenek Ratih menunduk.

"Mereka semua..." Suaranya mengecil. "mati dengan wajah ketakutan."

Malam kedua.

Alena berusaha membuang boneka itu. Ia membawa boneka Anabel keluar rumah.

"Aku tidak peduli apa kata Nenek. Aku harus membuangnya." ucap Alena, wajah Alena terlihat tegang.

Ia berjalan menuju tempat sampah besar di belakang rumah. Namun saat ia membuka kotak sampah...

Boneka itu sudah ada di dalamnya. Padahal boneka itu masih berada di tangannya.

Alena perlahan melihat boneka yang ia pegang. Kemudian melihat boneka di dalam tempat sampah. Ada dua boneka yang sama.

Tubuhnya langsung kaku.

"Tidak mungkin..." Bisiknya.

Tiba-tiba boneka di dalam tempat sampah itu mengangkat kepalanya. Matanya yang hitam menatap Alena. Lalu bibir kecilnya bergerak.

"Kenapa kamu mau meninggalkan aku?"

Alena menjerit.

"AAAAAA!"

Ia menjatuhkan boneka yang ada di tangannya dan berlari masuk rumah.

Namun sebelum pintu tertutup... Sebuah tangan kecil muncul dari celah pintu. Menahan pintu agar tidak tertutup.

Alena menangis ketakutan.

"Siapa kamu?!"

Dengan tubuh gemetar, ia mundur.

Boneka itu perlahan muncul di balik pintu. Lalu terdengar suara anak kecil yang lirih.

"Aku Anabel..."

Lampu rumah tiba-tiba mati.

Klik.

Dalam kegelapan... terdengar suara langkah kaki kecil berjalan mendekat.

Tok... tok... tok...

Lalu sebuah bisikan terdengar tepat di belakang Alena.

"Aku sudah lama menunggumu..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!