"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kontrak di balik gaun
Pernikahan ini tidak lebih ramai dari rapat mingguan divisi pemasaran di kantor Elio. Tidak ada dekorasi bunga yang melimpah, tidak ada alunan orkestra, dan yang pasti—tidak ada cinta.
Hanya ada sebuah kapel pribadi di pinggiran kota yang sunyi, dengan beberapa kursi yang dibiarkan kosong. Keluarga besar Raymond tidak ada di sini, tentu saja. Ibu Elio—yang kini menjadi satu-satunya pendukungku dalam skenario gila ini—sengaja menjaga semuanya tetap privat. Sementara dari pihakku? Hanya ada Bi Nisa, pengasuh panti asuhan yang sudah kuanggap ibu sendiri. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa "anak nakal" kesayangannya ini akan menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa ia eja namanya dengan benar.
Aku menatap cermin. Gaun putih ini terlalu mahal, terlalu indah, dan terasa seperti borgol yang sangat mewah.
"Sudah siap?" suara dingin itu membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Elio berdiri di sana, di ambang pintu ruang tunggu. Dia tampak sempurna dengan setelan tuksedo hitamnya, tapi tatapannya... dia menatapku seolah aku adalah kesalahan teknis dalam hidupnya yang sudah terencana rapi.
"Kalau saya bilang tidak siap, apakah Bapak mau mengembalikan kontraknya dan memberikan uang itu secara cuma-cuma?" tanyaku ceplas-ceplos, mencoba menutupi rasa gugup yang mulai merayap di dadaku.
Elio berjalan mendekat, langkahnya mantap dan mengintimidasi. Dia berhenti tepat di depanku, membuat aroma parfum maskulin yang mahal menyerang indra penciumanku. "Simpan omong kosongmu untuk nanti. Kita hanya butuh dua puluh menit untuk menyelesaikan ini, lalu kau bisa kembali ke duniamu yang berisik itu."
"Wow, dingin sekali," aku terkekeh, meski tanganku gemetar hebat di balik gaun. "Pak, kita akan berbagi satu atap selama dua tahun. Bisa tidak kalau kita pura-pura sedikit lebih ramah?"
Elio mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Matanya yang tajam mengunci pandanganku. "Ramah adalah untuk orang yang saling peduli, Aratala. Sedangkan kita? Kita hanya dua orang asing yang terjebak dalam dokumen hukum yang membosankan."
Dia menarik tangannya, memberi isyarat pada
"Ingat satu hal," bisiknya tepat di telingaku sebelum kami melangkah keluar menuju altar. "Jangan pernah berharap lebih dari kontrak ini. Karena di rumahku, tidak ada tempat untuk gadis seperti kau."
Aku hanya tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan sifat 'cegil' yang mulai muncul. Oh, tenang saja, Pak CEO. Kita lihat saja nanti siapa yang akan duluan melanggar aturan kontrak yang membosankan ini.
Elio berjalan dengan langkah lebar dan dingin meninggal kan ku sendiri menuju arah yang lebih mirip lorong kantor daripada jalan menuju altar pernikahan. Aku tahu dia sedang berusaha menunjukkan padaku bahwa pernikahan ini tidak ada artinya baginya—tidak ada kemegahan, tidak ada sakralitas.
Tiba-tiba, sebuah ide konyol muncul di kepalaku. Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini terasa seperti upacara pemakaman.
Tanpa aba-aba, aku menggenggam tangan kekarnya. Tangannya besar, kokoh, dan terasa hangat, kontras dengan sikapnya yang sedingin es. Sebelum dia sempat bereaksi, aku menariknya, memaksanya untuk mempercepat langkah.
"Eh—apa yang kau lakukan?" seru Elio, suaranya naik satu oktaf karena terkejut. Langkah angkuhnya yang teratur kini berantakan karena aku menariknya agak berlari kecil menuju depan.
"Ayo cepat, Pak CEO!" seruku sambil tertawa. Rambutku sedikit berantakan, dan aku tidak peduli. "Kalau kita cuma jalan pelan seperti mau ke ruang interogasi, kapan acaranya selesai? Saya sudah lapar, saya ingin cepat-cepat sampai ke bagian sesi makan-makannya!"
Elio mencoba menghentikan langkahnya, menatapku dengan mata yang membola, tak percaya ada orang yang berani menarik tangannya seperti menarik anak kecil di taman bermain. "Aratala, berhenti! Lepaskan tanganku! Ini tidak sopan!"
"Sopan itu buat orang asing, pa Elio. Kita kan sudah mau jadi suami istri—bahkan dalam kontrak!" balasku enteng sambil terus menariknya. "Lagipula, kalau kita lari, kita jadi terlihat seperti pengantin yang sedang kabur. Bukannya itu lebih seru daripada cuma berdiri kaku?"
Aku bisa merasakan otot lengannya yang menegang di bawah genggamanku, tapi anehnya, dia tidak menghempaskan tanganku. Dia justru sedikit tersandung karena kebingungan, wajahnya yang tadi dingin kini tampak frustrasi sekaligus—mungkin—sedikit terhibur dengan kelakuan gila istri kontraknya ini.
Di kejauhan, aku melihat ibu Elio tersenyum lebar melihat kami. Dia sepertinya menikmati setiap detik kebingungan anaknya.
🌴🌴🌴
Kami sampai di depan altar—atau lebih tepatnya, meja kayu minimalis tempat saksi pernikahan berdiri. Nafas Elio sedikit memburu karena tarikan mendadakku tadi. Dia menatapku dengan tatapan "ingin membunuh", tapi aku hanya membalasnya dengan cengiran lebar paling manis yang kupunya.
"Kau benar-benar tidak punya urat malu, ya?" desis Elio tepat di telingaku, suaranya rendah dan tajam.
Aku mengangkat bahu dengan santai, merapikan rambutku yang sedikit berantakan. "Hidup itu cuma sekali, Pak CEO. Kalau cuma bisa jalan anggun, nanti keburu tua keburu mati. Mending lari, biar jantungnya sehat."
Elio membuang muka, tapi aku melihat sudut bibirnya sedikit berkedut. Apakah dia menahan tawa? Atau menahan amarah? Entahlah.
Di hadapan kami, seorang petugas catatan sipil menatap kami dengan bingung, mungkin karena dia baru kali ini melihat pasangan yang datang ke altar dengan cara 'berlari kecil' seperti sedang dikejar penagih utang.
"Silakan, Tuan Elio dan Nona Aratala," ucap petugas itu canggung.
Elio segera menguasai diri. Dia kembali ke mode mode-dingin-nya. Dia tidak menatapku sama sekali saat mengucapkan janji nikah yang terdengar sangat formal dan hambar. Itu bukan janji, itu seperti sedang membacakan kontrak kerja sama perusahaan.
Giliran aku yang bicara. Aku menatap Elio, lalu menatap Bi Nisa yang berdiri di pojok ruangan dengan wajah haru. Biar bagaimana pun, ini adalah pernikahan, meskipun palsu.
"Saya, Aratala Arasunya Grita," ucapku dengan suara yang sengaja dibuat lantang, membuat Elio menoleh tajam ke arahku. "Menerima Elio Lerian Raymond sebagai suami saya... untuk dua tahun ke depan. Semoga kita tidak saling membunuh satu sama lain selama masa kontrak ini."
Suasana mendadak hening. Bi Nisa tampak kaget, sementara Ibu Elio justru tertawa kecil di kursi penonton. Elio sendiri? Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara tidak percaya dengan kenekatanku atau benar-benar mulai menyesali keputusan membiarkan ibunya memilihkan istri untuknya.
Petugas itu berdeham. "Silakan... pasangkan cincinnya."
Elio mengeluarkan kotak kecil dari saku tuksedonya. Cincinnya sangat indah, bertahtakan berlian yang mungkin harganya bisa membangun sepuluh panti asuhan baru. Saat dia meraih tanganku untuk memasangkan cincin itu, jemarinya terasa dingin. Dia melakukannya dengan cepat, kasar, dan tanpa perasaan.
Selesai. Secara hukum, sekarang aku adalah istri dari pria yang paling tidak menginginkanku di dunia ini.
Aku menimang-nimang cincin yang kini melingkar manis di jari manisku. Berliannya berkilau indah di bawah lampu kapel, sangat mewah sampai-sampai membuat mataku silau. Sambil berpura-pura mengagumi desainnya, otakku mulai berhitung cepat.
Kalau dijual di toko emas langganan, kira-kira laku berapa ya? Seratus juta? Dua ratus juta? Kalau harganya segitu, kayaknya cukup deh buat aku beli mobil bekas yang masih layak jalan.
"Berhenti menatap cincin itu seolah kau sedang menghitung keuntungan dagangan di pasar," suara dingin Elio memecah lamunanku. Dia berdiri tepat di sampingku, tangannya terlipat di depan dada.
Aku menoleh, memberikan senyum paling polos yang kubisa. "Eh, Bapak perhatikan ya? Saya cuma kagum, desainnya bagus. Kira-kira, kalau saya lepas cincin ini, harganya jatuh banget nggak ya di pasaran?"
Elio membeku. Matanya melebar sesaat—bukan karena marah, tapi karena syok mendengar betapa tidak tahu malunya wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya ini.
"Kau... kau baru saja menikah, dan hal pertama yang kau pikirkan adalah menjual cincin pernikahanmu untuk beli mobil?"
"Ya habisnya, Bapak kan sudah punya mobil banyak. Masa saya sebagai istri cuma naik sepeda listrik terus? Nanti Bapa malu dong setiap kali mau ke kampus," jawabku dengan nada logis yang dibuat-buat.
Elio memijat pelipisnya. Dia terlihat benar-benar lelah, padahal acara baru saja dimulai. "Aku tidak membelikanmu cincin itu untuk kau jual. Pakai. Jangan pernah lepaskan, atau kontrak tiga miliar itu akan kupotong lima puluh persen."
Aku langsung menarik tanganku, menyembunyikannya di balik punggung gaun pengantinku. "Iya, iya! Galak amat sih. Cuma bercanda, Pak. Lagian, saya juga sayang kalau harus menjual berlian seindah ini. Mungkin nanti saya jual kalau kita sudah cerai saja."
Elio tidak menjawab. Dia hanya membuang napas kasar, lalu berjalan menjauh dengan langkah lebar, meninggalkan aku yang masih asyik membayangkan betapa kerennya kalau aku bisa punya mobil sendiri.
"Hei! Tunggu! Kita belum foto keluarga!" teriakku sambil berlari kecil menyusulnya, membiarkan ekor gaun pengantinku menyeret lantai kapel dengan cara yang sangat tidak elegan.
🌴🌴🌴
Perjalanan menuju kediaman Raymond terasa seperti sedang berada di dalam kulkas berjalan. Elio duduk di kursi pengemudi, memandang lurus ke depan dengan wajah yang seolah-olah dipahat dari es batu, sementara aku duduk di sampingnya sambil menatap keluar jendela, sesekali mencuri pandang ke arah jam mahal di pergelangan tangannya.
"Rumahnya jauh ya?" tanyaku memecah keheningan. "Apa ada kolam renangnya? Saya sudah lama sekali tidak berenang."
Elio tidak menoleh. "Kita tidak tinggal di sana untuk bersenang-senang, Aratala. Kau di sana untuk memenuhi kontrak. Jangan menyentuh barang-barang pribadiku, jangan membawa orang asing, dan yang paling penting—jangan buat keributan."
"Wah, Bapak ini kaku sekali. Seperti kerupuk yang sudah melempem," cibirku pelan, tapi cukup keras untuk didengar.
Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah mansion yang ukurannya bahkan lebih besar dari seluruh kompleks panti asuhan tempatku tinggal. Aku turun dari mobil dengan mulut yang sedikit menganga. Ini rumah atau lapangan bola?
Saat aku melangkah masuk ke ruang tamu yang luasnya membuatku merasa seperti semut, Elio berhenti tiba-tiba, membuatku menabrak punggungnya.
"Satu lagi," ucapnya dingin sambil berbalik menatapku. "Jangan pernah berpikir untuk mendekatiku saat aku sedang bekerja. Ruangan kerjaku adalah zona terlarang."
Aku menyeringai, menatapnya dari bawah ke atas. "Zona terlarang, ya? Menarik."
"Aratala," suaranya mulai meninggi, menahan kesabaran yang sudah di ujung tanduk.
"Iya, iya, Tuan Raymond yang terhormat," kataku sambil melambaikan tangan, lalu melangkah santai menuju arah yang menurutku adalah dapur. "Daripada Bapak pusing memikirkan aturan, mending Bapak tunjukkan di mana dapur. Saya lapar sekali sejak tadi, dan jujur saja, perut saya lebih penting daripada kontrak konyol ini sekarang."
Elio hanya bisa berdiri mematung di tengah ruang tamu yang megah itu, melihat istri kontraknya yang baru saja menikah, bukannya masuk ke kamar pengantin, malah asyik mencari cemilan di dapur rumahnya.
Aku mendengar desahan napas panjangnya di kejauhan. Welcome to your new life, Elio, pikirku sambil terkikik geli. Hari pertama saja dia sudah tampak pusing, apalagi dua tahun ke depan.
🌴🌴🌴
Tunggu episode selanjutnya yaaa, heheh😅
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu