Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Hening mencekam di seberang telepon berlangsung cukup lama, hingga Riyan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berkejaran dengan angka digital Sistem di pelupuk matanya.
Jam digital transparan itu kini berkedip kejam: [06 Jam : 15 Menit : 44 Detik].
"Bagaimana, Valerie?" desak Riyan, suaranya sengaja direndahkan agar tidak terdengar sampai ke luar pintu kamar mandi.
"Waktu gua gak banyak. Lu mau nerima dana taktis ini buat balas dendam, atau lu mau nonton gua jadi raja di Bandung bareng Kezia besok pagi?"
Mendengar nama Kezia disebut, harga diri Valerie Vandersen yang tadinya sempat goyah langsung tegak kembali. Rasa cemburu sosial dan dendam akibat sahamnya yang hancur siang tadi membakar seluruh logika rasionalnya sebagai wanita borjuis.
"Oke! Gua terima tantangan gila lu!" sahut Valerie di seberang sana, suaranya bergetar penuh gairah konspirasi.
"Catat nomor rekening offshore milik Vandersen Trust di Cayman Islands. Dengan jalur ini, otoritas moneter gak bakal bisa ngelacak aliran dana lu sampai serangannya dimulai besok subuh!"
Valerie dengan cepat menyebutkan deretan kode bank internasional dan nomor rekening rahasianya. Riyan tidak membuang waktu satu detik pun.
Jempol kulinya menari lincah di atas layar ponsel yang retak seribu, membuka menu transfer internasional prioritas, lalu mengetik nominal angka yang bisa membuat gubernur bank sentral pingsan di tempat: 2.000.000.000.000 Rupiah.
Klik. tombol konfirmasi ditekan.
Tring!
[Denting Sistem! Transaksi Konsumsi Skala Mega Terdeteksi!]
[Inang telah mentransfer dana sebesar 2 Triliun Rupiah kepada pihak ketiga (Keluarga Vandersen) tanpa ikatan kontrak komersial atau jaminan aset.]
[Analisis Kerugian: Pengeluaran dinilai murni merugikan finansial Inang sebesar 100%. Misi Sampingan Sabotase Pernikahan dinyatakan BERHASIL!]
[Efek: Saldo Anda berkurang menjadi 2,45 Triliun Rupiah. Denyut denda kematian otot ditangguhkan hingga hasil sabotase besok subuh terlihat!]
Riyan langsung menyandarkan punggungnya ke dinding marmer kamar mandi, mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban adukan semen di dunia baru saja diangkat dari dadanya.
Saldo rekeningnya benar-benar berkurang dua triliun! Kali ini tidak ada short-selling, tidak ada investasi saham dadakan, dan tidak ada bonus reputasi karena Sistem mendeteksi ini sebagai tindakan "sedekah buta" untuk musuh.
"Duitnya udah masuk," kata Riyan ke speaker telepon.
"Sekarang tinggal pembuktian kata-kata lu. Besok subuh jam lima, gua mau lihat Bank Inti Zevan bergoyang."
"Lu gak perlu ngajarin gua cara menghancurkan bank, Kuli," cibir Valerie, meskipun nada suaranya kini terdengar sangat hormat dan penuh ketakutan terselubung terhadap kapasitas finansial Riyan.
"Dengan modal dua triliun tunai di tangan gua saat bursa saham masih tidur, gua bakal bikin likuiditas Bank Zevan minus sebelum Kezia sempat memakai sanggul pengantinnya. Siap-siap aja lu liat Lembang gempa finansial!"
Klik. Panggilan diputus sepihak oleh Valerie.
Riyan tersenyum puas, memasukkan ponselnya ke dalam saku jins, lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah kaki yang terasa sangat ringan. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king size, memejamkan mata, dan tertidur lelap dengan mimpi indah bahwa besok pagi dia akan kembali menjadi kuli bangunan miskin yang damai di daerah Dago.
\* \* \* \*
Pukul 05.00 WIB. Kabut tebal Lembang masih menyelimuti halaman resor Keluarga Zevan, namun di dalam kamar VIP, Riyan terbangun bukan karena alarm ponsel, melainkan karena suara gemuruh sirene darurat yang samar-samar terdengar dari arah gedung utama resor.
Riyan membuka matanya, melirik jam digital Sistem: [03 Jam : 00 Menit : 00 Detik].
Di luar kamarnya, terdengar derap langkah kaki puluhan pengawal yang berlarian dengan panik. Suara teriakan Kang Mandor Abraham Zevan yang bariton terdengar menggema di koridor, disusul oleh suara pecahan gelas kristal yang sangat nyaring.
KRAAASSH!
"Apa yang terjadi?! Bagaimana mungkin ada dana gelap sebesar dua triliun rupiah menyerang pos likuiditas Bank Inti kita di bursa berjangka?!" raung Abraham Zevan dari ruang kerja utamanya.
Riyan langsung meloncat dari tempat tidur, mendekati jendela kamar dan mengintip keluar.
Dia melihat Kezia Zevan sudah berdiri di selasar dengan pakaian gaun pengantin adat Sunda yang baru setengah jadi, wajah cantiknya pucat pasi sambil terus menempelkan ponsel satelit di telinganya.
'Yes! Berhasil! Riyan mengepalkan tangannya ke udara dengan sangat girang. Si cewek pirang itu beneran nepatin janjinya! Bank Zevan kolaps! Pernikahan gua pasti batal! Gua bebas!
Pintu kamar VIP Riyan mendadak didorong terbuka secara paksa dari luar. Kezia Zevan melangkah masuk dengan napas yang memburu. Sanggul rambutnya yang dihiasi kembang melati tampak sedikit miring akibat dia berlari.
Sepasang mata elangnya menatap Riyan dengan tatapan yang sangat rumit perpaduan antara kepanikan, ketidakpercayaan, dan rasa takjub yang tak terbendung.
"Riyan..." suara Kezia bergetar hebat.
"Keluarga Vandersen... mereka baru saja meluncurkan serangan spekulasi mata uang dan likuiditas terbesar dalam sejarah perbankan Bandung terhadap Bank Inti Zevan."
"Mereka memiliki modal tunai misterius sebesar dua triliun rupiah yang entah datang dari mana pada jam lima subuh tadi."
Riyan sengaja memasang wajah panik buatan, aktingnya kali ini harus total.
"Waduh! Serius, Nona?! Wah, parah banget itu si Vandersen! Terus gimana? Pernikahan kita terpaksa dibatalin kan karena bank lu mau bangkrut? Waduh, sayang banget ya, padahal gua udah siap pakai kain emas ini," kata Riyan dengan nada yang dibuat se-kecewa mungkin.
Kezia melangkah mendekati Riyan, menatap lurus ke dalam matanya. Bukannya menangis atau membatalkan pernikahan, Kezia justru meraih kedua tangan Riyan dengan cengkeraman yang sangat erat dan penuh emosi.
"Tidak, Riyan... Pernikahan kita tidak akan dibatalkan," ucap Kezia, seulas senyum takjub yang teramat dalam perlahan muncul di bibirnya yang gemetar.
"Justru sebaliknya. Ayahku baru saja menyadari kejeniusan mutlak dari rencana jangka panjangmu!"
Riyan langsung membeku, senyum di wajahnya lenyap seketika.
"Hah?! Rencana... rencana apaan?"
"Jangan menyembunyikannya lagi, Riyan!"
"Aku tahu semuanya!" Kezia menatap Riyan dengan binar mata penuh pemujaan bisnis yang gila.
"Ayahku baru saja memeriksa log aliran dana rahasia. Dua triliun yang dipakai Valerie Vandersen untuk menyerang bank kami... ternyata berasal dari rekening milikmu yang ditransfer tadi malam dari balik kamar mandi!"
DEGG!
Jantung Riyan rasanya mau copot sampai ke usus dua belas jari. Mampus! Kok bisa ketahuan sih?! Log bank Cayman Islands katanya aman, sialan lu Valerie!
"Taktik 'Double-Agent Feed' yang sangat mengerikan, Riyan!"
Kezia memeluk lengan Riyan dengan sangat erat, air mata kekaguman hampir menetes dari mata indahnya.
"Kamu sengaja memberikan dana dua triliun itu kepada Valerie agar dia melakukan serangan subuh. Kenapa? Karena dengan adanya serangan berskala mega itu, Bank Sentral secara otomatis mengaktifkan status 'Darurat Likuiditas Intervensi Negara' untuk melindungi Bank Zevan! Negara baru saja menyuntikkan dana talangan gratis sebesar sepuluh triliun rupiah untuk menyelamatkan bank kami!"
Kezia menopang dagunya di dada Riyan, menatapnya seolah pria kuli di depannya ini adalah Tuhan Penguasa Ekonomi Dunia.
"Dengan meminjam tangan musuhmu (Valerie) untuk memicu krisis buatan, kamu berhasil memeras dana talangan sepuluh triliun dari pemerintah secara legal tanpa Zevan Group perlu mengeluarkan modal sepeser pun! Saham Bank Zevan justru melonjak 200% pagi ini karena dinilai sebagai bank yang 'Terlalu Besar untuk Runtuh' (Too Big to Fail)! Dan dana dua triliun milikmu yang dipegang Valerie... sekarang disita oleh negara sebagai barang bukti kejahatan pasar modal, yang artinya... hak kepemilikan dana itu akan dikembalikan kepadamu beserta bunga penaltinya!"
[Denting Sistem! Efek Pembalikan Logika Finansial Skala Global Terjadi!]
[Analisis Sistem: Sabotase Inang berhasil diputarbalikkan oleh intervensi Bank Sentral akibat efek reputasi tinggi Zevan Group. Rekening Inang mendapatkan pengembalian dana sitaan beserta kompensasi bunga penalti pasar modal sebesar tiga triliun rupiah!]
[Selamat! Saldo terkini Anda meledak menjadi 5,45 Triliun Rupiah! Pihak Keluarga Zevan menyatakan Anda sebagai 'Penyelamat Keluarga' dan mempercepat akad nikah menjadi... SEKARANG JUGA!]
Riyan Sadewa langsung menjatuhkan lututnya ke atas lantai kamar, menatap langit-langit dengan pandangan yang benar-benar hancur lebur.
"Pemerintah... dana talangan... bunga penalti..." Riyan berbisik parau, air matanya beralih mengalir deras di pipi kulinya.
"Gua cuma mau ngasih duit ke musuh biar bank lu bangkrut, woi... Kenapa malah dapet sepuluh triliun dari negara?! KAPAN GUA MISKINNYA, YA TUHAN?!"
Sebelum Riyan sempat pingsan karena frustrasi, Abraham Zevan bersama enam pelatan adat Sunda langsung menyerbu masuk ke dalam kamar, mengangkat tubuh Riyan secara paksa, dan langsung memakaikan blangkon emas ke kepalanya.
Jam digital di matanya berkedip riang menunjukkan angka nol: akad nikah resmi dimulai, dan istri pertama Riyan dari keluarga rahasia pertama... resmi sah.