NovelToon NovelToon
Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.

Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode — 18.

Kayla masih memegang pipinya yang terasa sakit dan Deris berdiri di hadapannya dengan rahang mengeras.

"Aku memang meninggalkan Zahira." Suara Deris rendah, tetapi penuh kemarahan. "Tapi aku tidak pernah menyuruhmu menjatuhkan martabatnya dengan cara seperti ini."

"Mas...." Air mata Kayla mulai mengalir.

"Cukup!"

Sejak hubungan mereka dimulai, kali ini Deris merasa benar-benar malu berdiri di samping Kayla.

Zahira hanya memperhatikan semua yang terjadi tanpa sedikit pun menunjukkan rasa puas. Baginya, harga diri tidak pernah dibangun di atas kejatuhan orang lain.

Melihat sikap itu, salah seorang pengusaha senior menghampirinya.

"Bu Zahira."

Zahira menoleh, lalu tersenyum sopan. “Ya, Pak.“

"Selama puluhan tahun saya berada di dunia bisnis, saya belajar satu hal. Reputasi seseorang tidak ditentukan oleh fitnah yang diarahkan kepadanya, tetapi oleh bagaimana ia bersikap ketika difitnah."

Pria itu mengulurkan kartu namanya. "Kalau suatu hari Wiranata Corp membutuhkan mitra distribusi di wilayah timur, perusahaan saya siap menjadi yang pertama mengajukan kerja sama."

"Terima kasih atas kepercayaan Bapak." Zahira menerimanya dengan kedua tangan, attitude wanita itu tidak perlu diragukan lagi.

Di sisi lain, Revan memandang Zahira beberapa saat. Sudut bibirnya nyaris terangkat, meski hanya sesaat. Wanita itu kembali membuktikan, bahwa kehormatan tidak perlu dipertahankan dengan kemarahan, tapi cukup dengan integritas.

Dan malam itu, nama Zahira Narapati bukan hanya gagal dihancurkan. Justru semakin dihormati oleh orang-orang yang hadir.

Tak lama setelah insiden itu, panitia acara segera mengambil alih keadaan.

"Para tamu yang kami hormati, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi malam ini. Acara akan dilanjutkan dalam beberapa menit."

Suasana ballroom perlahan kembali tenang, namun pembicaraan para tamu sudah berubah. Bukan lagi mengenai peluang investasi, melainkan tentang Zahira Narapati.

"Kalau aku berada di posisinya, mungkin sejak tadi aku sudah kehilangan kesabaran."

"Perempuan itu luar biasa tenang."

"Yang lebih hebat lagi, dia sama sekali tidak memanfaatkan situasi untuk mempermalukan siapa pun."

"Karakter seperti itu yang dibutuhkan seorang pemimpin."

Bisik-bisik pujian terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Tak jauh dari sana, Kayla masih berdiri dengan wajah pucat. Bekas tamparan Deris masih terlihat jelas di pipinya. Beberapa sosialita yang sebelumnya begitu akrab dengannya kini memilih menjaga jarak.

Salah seorang wanita bahkan berbisik tanpa berusaha mengecilkan suara.

"Ternyata selama ini dia hanya pandai berpura-pura."

"Aku benar-benar tidak menyangka."

"Kalau bisa melakukan hal seperti itu kepada mantan istri kekasihnya, besok-besok mungkin dia juga bisa melakukan hal yang sama kepada kita."

Kalimat-kalimat itu menusuk harga diri Kayla, kali ini ia merasakan bagaimana rasanya menjadi pusat cibiran.

Di sisi lain, beberapa investor senior menghampiri Revan.

"Pak Revan."

"Silakan."

"Saya mengucapkan selamat karena berhasil mendapatkan orang seperti Bu Zahira."

"Beliau memang memiliki kemampuan yang baik." Revan tersenyum tipis.

"Bukan hanya kemampuan, tapi juga karakter. Karena karakter seperti itu jauh lebih sulit, ditemukan dibandingkan orang yang sekadar pintar."

Revan tidak membantah, karena ia memang sependapat.

Deris masih berdiri di tempat yang sama, tatapannya terus mengikuti Zahira yang sedang berbincang dengan para pengusaha. Wanita itu tersenyum secukupnya, mendengarkan setiap lawan bicara dengan penuh perhatian, lalu menyampaikan pendapatnya tanpa sedikit pun meninggikan diri.

"Mas... aku benar-benar minta maaf." Suara Kayla terdengar lirih. “Aku hanya terbawa emosi, aku gak ingin siapa pun terus membandingkanku dengan Zahira."

Deris akhirnya memandang wanita itu, tatapannya dingin. "Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu?"

Kayla mengangguk pelan. "Aku sudah meminta orang...."

"Bukan! Tapi kamu menganggap kehormatan seseorang, bisa dihancurkan demi memuaskan rasa iri." Nada suara Deris rendah, tetapi setiap katanya terdengar begitu jelas. "Selama ini aku memang mengecewakan Zahira, tapi aku tidak pernah menginginkanmu menjadi perempuan yang kehilangan batas."

Air mata Kayla kembali mengalir. "Mas, kamu masih marah?"

"Aku sangat kecewa padamu." Deris mengembuskan napas panjang.

Di ujung ballroom.

Seorang panitia menghampiri Zahira.

"Bu Zahira, Pak Revan meminta Ibu bergabung di meja utama. Sebentar lagi akan ada sesi diskusi tertutup bersama beberapa investor."

"Baik."

Zahira mengangguk sopan.

Panitia mempersilakan para tamu utama memasuki ruang konferensi yang berada di lantai dua hotel. Ruangan itu jauh lebih tenang dibanding ballroom. Sebuah meja oval besar telah dipersiapkan, lengkap dengan layar presentasi dan dokumen kerja sama yang tersusun rapi.

Hanya sekitar dua puluh orang yang mendapat undangan mengikuti forum tertutup tersebut. Semuanya adalah pemilik perusahaan, direktur utama, dan investor.

Zahira menjadi satu-satunya General Manager yang hadir. Beberapa pasang mata sempat memandangnya dengan rasa ingin tahu.

"Kami ingin mengetahui strategi Wiranata Corp menghadapi ketidakstabilan rantai pasok dalam dua tahun ke depan." Salah seorang investor asal Jepang membuka pembicaraan.

Beberapa direktur mulai membuka berkas masing-masing.

Revan justru memutar sedikit kursinya ke arah Zahira. "Silakan."

Satu kata dari pria itu, namun cukup membuat seluruh peserta rapat memahami bahwa Revan memberikan kepercayaan penuh kepada bawahannya.

Zahira tidak tampak gugup, Ia membuka dokumen yang telah dipersiapkannya sejak pagi. "Dalam kondisi pasar seperti sekarang, perusahaan yang bertahan bukan hanya yang memiliki modal besar, melainkan yang mampu beradaptasi lebih cepat daripada perubahan itu sendiri."

Ia menampilkan bagan di layar. "Kami membagi pemasok menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat risiko. Untuk komponen utama, kami tidak lagi bergantung pada satu vendor. Sistem multi-supplier memang meningkatkan biaya operasional sekitar tiga persen, tetapi mampu menurunkan risiko terhentinya produksi hingga lebih dari tiga puluh persen."

Beberapa investor langsung mencatat.

Salah seorang direktur manufaktur mengangkat tangan. "Bagaimana jika seluruh pemasok menaikkan harga secara bersamaan?"

Zahira mengangguk pelan. "Itulah alasan kami juga mulai mengembangkan pemasok lokal sebagai alternatif. Harganya lebih kompetitif dan waktu distribusinya lebih singkat. Dalam jangka panjang, strategi ini justru meningkatkan daya tawar perusahaan."

Penjelasannya lugas dan tak bertele-tele.

Setiap jawaban selalu disertai alasan dan data, hampir semua anggota yang hadir mulai memusatkan perhatian kepadanya.

Di sisi lain meja, Deris memperhatikan semuanya dalam diam. Ia mengenali cara Zahira berbicara, tenang dan terstruktur. Persis seperti saat dulu mereka masih membangun perusahaan dari nol. Bedanya, kini semua ide itu disampaikan untuk kemajuan perusahaan lain. Dan orang yang menikmati hasilnya bukan lagi dirinya. Perasaan itu terasa seperti seseorang perlahan mencabut sesuatu dari dalam dadanya.

Setelah sesi diskusi berlangsung hampir satu jam, investor utama akhirnya tersenyum.

"Saya rasa kita sudah menemukan jawaban yang kami cari." Ia menoleh kepada Revan. "Pak Revan, saya mengucapkan selamat. General Manager Anda memiliki pemahaman operasional yang luar biasa."

"Terima kasih." Revan menjawab singkat.

Investor itu kemudian memandang Zahira. "Bu Zahira, kalau suatu hari nanti Ibu memimpin perusahaan sendiri, saya ingin menjadi salah satu investor pertama yang bekerja sama dengan Ibu."

Ruangan seketika dipenuhi senyum kecil, kalimat itu bukan sekadar pujian tetapi bentuk pengakuan.

"Terima kasih atas kepercayaan Bapak, saya masih harus banyak belajar." Zahira menjawab dengan rendah hati.

"Sikap rendah hati dan kemampuan yang berjalan beriringan adalah kombinasi yang langka."

Ucapan itu kembali disambut anggukan semua orang.

Rapat resmi ditutup, para tamu mulai berdiri dan saling bertukar kartu nama. Dalam hitungan menit, hampir belasan kartu nama berpindah ke tangan Zahira.

"Bu Zahira, semoga kita bisa bertemu lagi."

"Kalau ada kesempatan bekerja sama, jangan ragu menghubungi perusahaan kami."

"Saya ingin melanjutkan diskusi mengenai efisiensi logistik."

Satu per satu mereka berpamitan, Deris hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Dulu, semua relasi mengenal dirinya melalui Zahira. Namun ia terlalu sibuk menikmati hasil, hingga lupa menghargai orang yang membangun kepercayaan tersebut. Kini, kepercayaan itu ikut pergi bersama Zahira.

Saat para tamu mulai meninggalkan ruang konferensi, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun menghampiri Revan.

"Pak Revan."

"Pak Surya."

Pria tua itu tersenyum hangat. "Saya sudah lama mengenal keluarga Wiranata, karena itu saya ingin menyampaikan satu hal."

"Silakan."

"Saya iri."

Revan sedikit mengernyit.

"Iri karena Anda berhasil menemukan orang yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas."

Pak Surya melirik ke arah Zahira yang sedang berbicara dengan panitia. "Dalam dunia bisnis, kemampuan bisa dipelajari. Kejujuran, kesetiaan, dan ketenangan saat menghadapi tekanan jauh lebih sulit dicari."

Revan mengikuti arah pandang pria itu, tatapannya berhenti beberapa detik pada Zahira. "Itulah alasan saya, mempertahankan orang-orang yang memang pantas dipertahankan."

Kalimat itu terdengar biasa, namun tidak bagi Deris. Pria itu berdiri hanya beberapa meter dari mereka, Ia mendengar setiap kata Revan dan Pak Surya dengan sangat jelas.

Seketika, ucapan tersebut berubah menjadi tamparan paling keras yang pernah ia terima. Karena ia sadar, Ia telah melakukan kebalikan dari apa yang baru saja diucapkan Revan. Orang yang seharusnya ia pertahankan, justru menjadi orang pertama yang ia lepaskan.

1
Muft Smoker
tenang aj almira Kayla ,, harus ny km bersyukur masuk penjara ,, kalian gx perlu repot2 mikirin makan tiap hari ,, semua udh dtanggung pihak penjara ,, Selamat menempuh hidup baruuuu ,, duo kuntiii ,, 😏😏😏😏
Muft Smoker
nah kan ,, anda bermain dg org yg slah almira😏😏😏😏
Muft Smoker
untung pak bos peka yx ,,
Mundri Astuti
jangan sampai ada jaminan dari keluarganya, Revan jaga tetu jangan kasih kendor
Aditya hp/ bunda Lia
rasain ... merasa diri pintar padahal Revan lebih jenius .. selamat bobo cantik di hotel prodeo 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kalian lampiiirrr . gerandong
Muft Smoker: sabar bunda ,, mereka emnk turunan makhluk astral ,, tp jgn di perjelas juga ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
gina altira
Hayo loh Almira
gina altira
untung ada revan
Uba Maoludin
Almira, Kayla kamu sebentar lagi mendapatkan kehancuran arena kamu berdua biangnya kerusuhan karena hati busukmu
Muft Smoker
orang panik biasa ny akan melakukan kesalahan ,, 😒😒😒
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
Muft Smoker
orang sirik tanda tak mampu ,,
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia
duh gantung udah pinisirin bingit padahal ... gak sabar
Rita Rita
makin seru dan makin ingin tau aksi brutal 2 Mak Lampir.🤔🤭 yg udah sebenarnya udah kalah talak dengan Zahira,,
Mundri Astuti
gitu dong Revan, itu baru laki" keren
Rita Rita
gimana Kayla,,, dapet merebut pria mandul 🤭🤔🤣🤣🤣
Rere🌠: ngetawainnya puas banget kayaknya 🤣🤭
total 1 replies
Rita Rita
merebut dan akhirnya kena tampar ditengah perkumpulan orang banyak betapa rendahnya nilai harga diri. Kayla,,, Kayla wkwkwk,,,
Rita Rita
nyesel ya RIS,,,? makanya jangan tergiur dengan batu kali
Rita Rita
yang merebut milik orang hidup nya tak tenang ia akan selalu dibayangi rasa takut khawatir dan tak percaya
Rita Rita
lah,, ngapain juga Zahira noleh loe lagi Daris,,,? sesuatu yang udah loe buang ga bakalan balik lagi,dan Zahira pasti nganggap loe sampah yg tidak perlu dipungut.
Aditya hp/ bunda Lia
buat senjata makan tuan Thor kayaknya dia mau kasih Zahira obat setan terus ... ya gitu lah tapi buat si Almira yang kena sama si kayla
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!