~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
***
Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat perbukitan Joglo, memancarkan semburat jingga keemasan yang menembus celah-celah rimbunnya dedaunan pohon sawo. Angin pegunungan berembus pelan, membawa harum tanah basah dan kesegaran dedaunan yang menenangkan.
Keheningan rumah joglo terasa sedikit longgar hari itu. Raden Mas Baskoro—pria perkasa berusia tiga puluh lima tahun yang menguasai seluruh perbukitan—sedang tidak berada di kediamannya. Pria itu harus bertolak ke kota kabupaten selama dua hari penuh untuk menyelesaikan urusan administrasi tanah dan perpajakan darurat. Kepergian sang juragan besar seolah memberi ruang napas bagi seluruh penghuni joglo, terutama bagi Larasati yang kini menginjak usia sembilan belas tahun.
Di usianya yang kesembilan belas, raga Larasati memancarkan kedewasaan yang kian matang dan anggun. Perutnya yang membulat indah di usia kehamilan empat bulan membuat lekuk tubuh remajanya kian berisi dan ranum. Memanfaatkan ketidakhadiran suaminya, Larasati bermaksud mencari udara segar.
Mbok Sum, yang biasanya selalu mengekor di belakangnya, mendadak berhalangan karena harus mengurusi racikan ramuan jamu tradisional di dapur dalam. Karena merasa Larasati hanya akan berjalan-jalan di area kebun dalam—tanah pribadi yang berpagar jati dan terisolasi dari jalur umum—Mbok Sum mengizinkan Nyai muda itu melangkah sendirian.
"Inggih, Gusti Nyai. Cukup di sekitar kebun sawo saja, nggih? Jangan terlalu jauh ke tapal batas," pesan Mbok Sum sebelum kembali ke dapur.
Larasati tersenyum tipis dan mengangguk. Langkah kakinya yang beralaskan selop kain melangkah perlahan menyusuri jalan setapak tanah yang ditutupi guguran daun sawo. Ia mengenakan kebaya katun tipis sewarna merah muda yang longgar, memperlihatkan aura keibuan yang sangat memikat. Tangan kecilnya yang halus miring mengelus lembut perutnya yang sudah mulai membuncit, merasai kehangatan kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimnya.
"Anakku... hiruplah udara ini," bisik Larasati lirih pada perutnya sendiri. "Bapakmu sedang tidak ada, jadi kita bisa menikmati angin sore sebentar."
Langkah Larasati membawanya semakin dalam menuju pancuran air alami di tepi hutan sawo. Suara gemercik air yang jatuh di atas batu kali hitam menciptakan irama yang menenangkan hati. Namun, tepat saat Larasati melangkah melewati rumpun bambu kuning di dekat pancuran, langkahnya mendadak terkunci mati.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di tepi pancuran batu itu, seorang pemuda berdiri membelakanginya. Pria itu berpakaian lurik lusuh yang bagian lengannya digulung hingga sikut, sedang membasuh bekas-bekas tanah liat hitam di tangannya. Begitu mendengar derak halus ranting yang terinjak selop Larasati, pemuda itu berbalik dengan cepat.
Itu Bagas.
Dua pasang mata yang pernah saling menyimpan impian masa lalu itu kini bertabrakan di udara sore yang sunyi. Suara gemercik pancuran mendadak tenggelam oleh degup jantung mereka yang beradu keras.
Bagas terpaku. Pria desa itu berdiri kaku laksana patung batu. Matanya menatap lurus pada sosok Larasati yang berdiri di depannya. Pandangannya perlahan turun, tertuju pada perut Larasati yang kini membulat jelas di balik kain kebaya tipisnya. Binar kepedihan yang amat dalam menyala seketika di sepasang mata Bagas. Perubahan fisik Larasati—yang kian matang, berisi, dan secara nyata membawa benih bangsawan penguasa Joglo—menghantam dada Bagas bagaikan hantaman godam raksasa.
"Laras..." desah Bagas parau, suaranya hampir tenggelam oleh embusan angin.
Larasati menyadari bahaya yang mengintai dari keberadaan pemuda ini di tanah pribadi Baskoro. Ketakutan akan cemburu suaminya seketika membakar benaknya. Ia melangkah mundur satu cangkul, tangannya refleks merapat memeluk perutnya yang membuncit sebagai bentuk perlindungan.
"Bagas... kenapa kamu berada di sini?" bisik Larasati panik, matanya liar memandang ke sekeliling kebun. "Ini tanah pribadi Mas Baskoro! Jika pengawal melihatmu, kamu bisa dibunuh!"
Bagas melangkah mendekat dua tindak, wajahnya yang kusam tampak kurus dan terbakar rasa bersalah. "Aku... aku hanya ingin membersihkan sisa tanah liat setelah kejadian di batas barat tempo hari, Laras. Aku tidak tahu kalau kamu akan datang kemari..." Bagas menelan ludahnya yang terasa pahit, matanya kembali menatap perut Larasati dengan pandangan terluka. "Larasati... demi Tuhan, aku mohon jangan membenciku atas apa yang terjadi dengan juraganmu di bulak barat."
Larasati menggeleng cepat. Jiwa sembilan belas tahunnya yang kini penuh tanggung jawab sebagai permaisuri Joglo mencoba menguasai keadaan. "Kulo mboten membencimu, Bagas. Tapi kamu harus pergi sekarang juga! Tempat ini bukan untukmu lagi!"
Larasati memutar tubuhnya, bersiap berlari kembali menuju rumah joglo. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, sebuah cengkeraman tangan yang hangat dan gemetar menahan pergelangan tangannya.
Srettt.
Larasati tersentak hebat. Ia memutar tubuhnya kembali, menatap Bagas yang kini berdiri sangat dekat darinya. Pegangan tangan Bagas di pergelangan tangannya tidak terlalu keras, namun sarat akan keputusasaan yang mendalam.
"Lepaskan tanganku, Bagas!" ancam Larasati dengan suara bergetar, mencoba menarik tangannya, namun pergelangan tangannya ditahan erat.
"Tolong, Laras... sebentar saja," pintanya lirih, napasnya terdengar sesak di tenggorokan. Bagas menatap wajah Larasati yang kini bersih dan berseri, berbanding terbalik dengan dirinya yang lusuh. "Jawab satu pertanyaanku... hanya satu, lalu aku akan pergi dari kehidupanmu selamanya."
Larasati menahan napasnya, dadanya naik-turun memburu. "Apa lagi yang mau kamu tanyakan, Bagas? Semua sudah selesai!"
Bagas menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Larasati, suaranya bergetar berat membawa kepedihan batinnya selama berbulan-bulan. "Apakah kamu bahagia di sini, Laras? Apakah kamu... apakah kamu sudah mencintai pria itu? Pria tiga puluh lima tahun yang menikahimu hanya karena utang keluarga ayahmu?!"
Pertanyaan itu menghantam dada Larasati tepat di titik paling sunyi.
Larasati membeku. Bibirnya yang ranum merapat rapat, lidahnya mendadak terasa kelu laksana batu. Ia mencoba menarik tangannya lagi, namun tubuhnya seolah kehilangan daya untuk bergerak.
Pikirannya seketika berkecamuk hebat, terlempar ke dalam pusaran keraguan yang selama ini coba ia kubur di dalam-dalam. Apakah aku benar-benar mencintainya? Pertanyaan Bagas mengoyak pertahanan batinnya.
Jujur saja, seluruh pernikahan ini terjadi secara mendadak dan paksa. Ia diserahkan ke rumah joglo sebagai penebus utang Sastro Wignyo. Kenangan akan malam-malam awal di ranjang jati kembali membayangi benaknya. Kemewahan yang diberikan Baskoro, cemburu buta yang posesif, kurungan emas, hingga dominasi raga yang intens setiap kali suaminya tersulut emosi... apakah itu semua bentuk cinta? Ataukah selama ini Raden Mas Baskoro yang berusia tiga puluh lima tahun itu hanya menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu maskulinnya dan wadah untuk mencetak keturunan bangsawan selanjutnya?
Larasati terdiam sangat lama. Suara gemercik air pancuran dan deru angin sawo seolah menjadi satu-satunya suara yang mengisi hening di antara mereka. Bagas menatap wajah Larasati yang berubah pucat dan dipenuhi kebingungan, menangkap keraguan yang terpancar jelas dari kerutan halus di dahi sang Nyai muda.
"Kamu... kamu bahkan tidak bisa menjawabnya, Larasati," bisik Bagus, senyum pahit terukir di bibirnya yang kering. Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Larasati perlahan melemah. "Kamu tidak tahu apakah pria itu benar-benar mencintaimu sebagai manusia, atau hanya menginginkan ragamu dan anak di perutmu itu..."
Larasati masih berdiri mematung, dadanya sesak oleh gejolak rasa yang Mboten mampu ia uraikan. Kata-kata Bagas merayap masuk ke celah terdalam jiwanya, memicu kebisingan di benaknya yang mboten sanggup ia jawab dengan sepatah kata pun.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat