Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.
Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.
Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.
“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. SLMS
Sejak dari kantor polisi, Pak Andara hanya bisa termenung. Pandangannya kosong mengarah ke luar kaca.
Ia tak habis pikir jika sang istri adalah dalang dari kecelakaan itu. Seketika memori ingatannya kembali menghiasi benaknya tentang kejadian puluhan tahun yang lalu.
Kala itu, Raya istri pertamanya yang tak lain adalah ibu kandung Bumi dan Riksa mengalami pendarahan hebat pasca melahirkan Bumi. Bahkan Raya sempat koma.
Yang membuat Pak Andara curiga saat itu adalah, selang penghubung alat pernafasan terlepas.
Entah itu kelalaian dari petugas medis ataukah ada seseorang yang sengaja melepas selang itu.
Awalnya seperti itulah Pak Andara menduganya.
Namun, saat melihat kasus yang menimpa Senja, Pak Andara mulai berspekulasi jika kematian istri pertamanya mungkin saja berhubungan dengan Bu Cahaya.
“Pah.”
Lamunan panjang Pak Andara langsung membuyar. Ia menoleh sejenak lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan.
“Pah.” Bumi mengelus pundak Pak Andara. Berdiri di sampingnya dengan mengarahkan pandangan yang sama.
Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
“Pah, apa maksud ucapan Papa di kantor polisi tadi. Maksudku tentang Mama.”
“Bumi, sebenarnya Mama Aya bukanlah Mama kandungmu. Mama kandungmu sudah lama meninggal pasca melahirkanmu. Dia mengalami pendarahan hebat hingga berujung koma. Sebelum akhirnya dia dinyatakan meninggal.”
“Apa?!” Bumi terkejut sekaligus tak percaya.
“Maafkan papa karena selama ini memilih merahasiakan semuanya darimu,” bisik Pak Andara dengan suara tercekat. “Mama Aya adalah sahabat mamamu sekaligus partner bisnis. Sejak kamu bayi, dialah yang merawat kamu dan Riksa. Karena melihat ketulusannya merawat kalian berdua, satu tahun pasca mamamu meninggal, papa memutuskan menikahinya. Sayangnya, papa nggak mendapatkan keturunan darinya.”
Pak Andara mendekat, memeluk putra bungsunya itu lalu kembali berbisik lirih, “Itulah mengapa, papa sangat marah sekaligus takut ketika Senja berulang kali mengalami pendarahan. Papa seolah trauma karena mengingat mamamu. Papa takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Sayangnya, itu terjadi lagi ketika papa harus kehilangan Kala dan Aru.”
“Pah, maafkan aku,” balas Bumi sambil meneteskan air mata. Menyesali perbuatan biadabnya pada Senja.
Pak Andara mengurai pelukannya seraya menatap lekat wajah Bumi.
“Perbuatan Mama Aya sudah keterlaluan. Kasus ini berjalan alot mungkin karena ulahnya juga. Papa merasa dia sudah membayar beberapa petinggi untuk menggagalkan penyelidikan.”
Bumi hanya diam tertunduk. Marah dan benci seketika bercampur menjadi satu. Ia pun seolah tak bisa menerima perbuatan sang Mama.
Di saat ia mulai berubah, ingin memperbaiki pernikahannya, seketika badai datang menerjang sehingga membuatnya terhempas.
Akibatnya, hubungan yang baru saja akan membaik malah semakin memburuk karena Senja malah semakin membencinya.
“Papa sudah memutuskan akan menceraikannya. Apa pun alasannya papa sudah nggak respect. Perbuatannya benar-benar fatal. Ini sudah masuk dalam kasus pembunuhan berencana,” pungkas Pak Andara.
“Aku harus berbicara empat mata dengan Cahaya. Apakah dia ada sangkut-pautnya dengan kematian Raya? Jika itu benar adanya, aku benar-benar nggak bisa memaafkannya,” batin Pak Andara.
.
.
.
Di balik jeruji besi, Bu Cahaya hanya bisa pasrah. Menangis pun sudah tak ada gunanya. Bak pepatah mengatakan ‘Apa yang kau tanam itulah yang kau tuai.’
“Apa Papa setega itu pada mama?” gumamnya sembari menyeka air mata. “Senja, gara-gara wanita sialan itu, aku berakhir di sini!”
Seketika kebenciannya pada Senja semakin menjadi-jadi. Ia seolah tak terima karena Pak Andara sangat menyayangi menantunya itu.
Keduanya kerap bertengkar karena Pak Andara lebih membela Senja daripada dirinya.
Beberapa bulan sebelum kecelakaan tepatnya sebelum merayakan anniversary pernikahan.
Ketika sedang melewati salah satu toko pakaian bayi, salah satu dari teman bisnisnya itu tak sengaja melihat Pak Andara dan Senja di dalam toko itu.
Mereka mengira jika Senja adalah sugar baby dari Pak Andara.
“Aya, bukankah itu suamimu? Lalu, siapa wanita hamil itu? Mesra banget mereka.”
Bu Cahaya langsung mengarahkan ekor mata ke arah Senja dan Pak Andara.
“Dasar wanita murahan!” umpatnya dalam hati.
Hatinya seketika panas sekaligus cemburu melihat keduanya yang begitu mesra.
“Yuk samperin saja mereka. Beri pelajaran pada pelakornya,” sahut teman satunya lagi dengan maksud mengompori.
“Jangan salahkan pelakornya. Mungkin saja si Andara ngebet nikah lagi karena menginginkan keturunan. Secara, sudah puluhan tahun Aya dan Andara menikah namun Aya tak kunjung hamil,” sindir teman satunya lagi.
Bu Cahaya langsung mengepalkan kedua tangan merasa kesal juga geram mendengar ucapan temannya itu.
“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Jika aku melabrak, yang malu pasti aku juga. Lagian suamiku pasti akan membela wanita itu!” sarkasnya.
“Nggak bisa dibiarkan! Nggak ada yang bisa merebut Andara dariku karena dia milikku. Aku harus menyingkirkan wanita itu sama seperti aku menyingkirkan Raya meski dia sahabatku. Apalagi Bumi juga nggak mencintainya. Bukan nggak mungkin jika suamiku bisa jatuh cinta padanya!” batin Bu Cahaya.
Kebenciannya pada Senja semakin mendarah daging karena suaminya selalu membela menantunya itu.
Buntut dari itu pula pertengkaran sering terjadi di antara mereka berdua. Sehingga berujung dengan menyewa seseorang untuk menghabisi nyawa Senja.
*******
Lamunan panjang Bu Cahaya seketika membuyar saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Bu Cahaya, saya benar-benar nggak menyangka jika Ibu tega menyewa orang untuk menghabisi nyawa menantu Ibu sendiri. Di mana rasa empati Ibu?”
Bu Cahaya hanya diam. Menatap tajam pada asisten kepercayaan suaminya itu.
“Gerry! Kenapa kamu juga membela wanita murahan itu, hah? Apa kamu juga termasuk salah satu pria yang menjadi pemuasnya?!” pekik Bu Cahaya sekaligus menuduh.
“Jangan asal bicara, Bu. Meski Senja pernah bekerja di club' malam, dia bukanlah wanita seperti yang Ibu tuduhkan. Maaf, sudah membuat Ibu menjadi tahanan. Jika bukan karena Bumi maka kasus ini nggak akan terkuak.”
“Apa maksudmu, hah?!” tanya Bu Cahaya dengan geram.
“Dua hari yang lalu, Bumi nggak sengaja melihat Ibu menemui pria itu. Plat nomer pria itu adalah kunci saya bisa mendapatkan informasi lengkap. Andai saya terlambat, maka kasus ini nggak ada titik terang. Apalagi pria itu sudah bersiap meninggalkan Kota J. Aku jadi penasaran berapa Ibu membayarnya?” jelas Gerry sekaligus menyindir.
Bu Cahaya langsung bungkam seraya tertunduk. Ia pun tak menyangka jika ia bisa sampai kecolongan. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh ke tanah juga.
Sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga bau busuknya. Seperti itulah yang dialami Bu Cahaya.
Sepandai-pandainya ia menyimpan rahasia namun akhirnya terbongkar juga.
Nasibnya kini berada di ujung tanduk. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Cinta yang begitu dalam pada pria yang dicintainya membuatnya kalap mata.
...----------------...