NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMBILANBELAS

"Kan jadi susah sendiri gue!"

Arun mengeluh setelah kakinya sampai melangkah ditempat saat ini, halte bus. Hari ini Arun selesai kelas di sore hari karena harus menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya. Apalagi saat ini Arun mulai sibuk membuat skripsi untuk kelulusannya nanti.

Beberapa kali Arun mengecek jam di ponselnya namun, "dia tadi bilang bilang mau jemput gak sih?" Monolog Arun.

"Ahh bodo lah! Gue naik bus aja".

Arun melihat kedatangan bus yang tidak jauh dari halte tersebut. Beberapa orang turun lalu Arun masuk dan memilih duduk di kursi barisan kedua dekat jendela.

Saat di perjalanan Arun memilih menutup matanya namun getar ponsel ditangan membagunkan nya.

Drttttt ...

Arun melihat saat nomor tanpa nama melakukan panggilan. Arun sempat hanya memandangnya degan kerutan di dahi.

"Halo?"

"Lo dimana?" tanya seseorang dari sebrang sana.

Merasa tidak asing dengan suara tersebut Arun langsung melihat kembali layar ponselnya dan langsung menempelkan kembali di telinga saat otaknya telah menemukan bahwa itu adalah suara suaminya, Bio.

"Jawab! Gue tanya. Lo semedi?"

"Gue udah di bus"

"Astaga! Siapa yang nyuruh lo naik bus?"

Sebelumnya terdengar helaan nafas dari mulut Bio. Dan bisa dipastikan saat ini Bio dengan menahan amarahnya.

"Ya ... gue mau pulang. Makanya gue naik bus" ujar Arun dengan nada canggung.

Hening sejenak tidak ada sahutan dari Bio, "emang .. lo dimana?" tanya Arun mencoba mengalihkan topik.

"Menurut lo? Udah lah!".

Tut.

Sambungan langsung diputus oleh Bio membuat Arun membulatkan matanya kaget, "gila ya ni orang! Ditanya baik-baik juga!" Arun merasa tidak terima saat Bio marah pada dirinya.

Bukankah seharusnya Arun yang marah. Arun memilih menyimpan ponselnya kedalam tas, mood nya tambah tak karuan setelah mendapat telfon dari Bio.

Tidak butuh waktu lama untuk bus yang Arun tumpangi saat ini sampai di pemberhentian halte selanjutnya. Saat bus sudah berhenti dengan sempurna Arun langsung turun, jarak dari halte ini tidak begitu jauh dengan rumah baru Arun saat ini. Namun begitu sepertinya Arun masih harus menghadapi kendala berikutnya.

Arun menatap langit, entah efek sore hari atau memang akan turun hujan. Langit mendadak gelap, tanpa ragu Arun berjalan menuju rumahnya namun baru beberapa menit meninggalkan halte tersebut tetesan air hujan jatuh dengan intensitas kecil.

"Ya elah, hujan?" tanya Arun sambil melihat ke atas.

Arun tidak membawa peralatan apapun bahkan hari ini dia lupa membawa jaket. Arun langsung memeluk tas nya dan berlari kecil melanjutkan perjalanannya.

Hujan mulai turun dengan deras sedangkan rumah Arun sudah terlihat oleh matanya. Sekuat tenaga Arun berlari untuk sampai di rumah tersebut. Saat sampai di teras, Arun mulai mengatur napasnya yang tersenggal-senggal akibat berlari tadi.

"Cih! Nanya dimana, seolah marah karena gue gak ada. Taunya dia di rumah!" ucap Arun saat melihat mobil yang terparkir di garasi rumah tersebut.

Arun mengibas kan pakaiannya yang basah supaya tidak ada air yang menetes dan membasahi lantai rumah. Perlahan Arun membuka pintu rumah dan masuk lalu menutupnya kembali.

"Lo itu bego atau gimana sih?"

Arun langsung membalikan tubuhnya saat mendengar perkataan tersebut. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Bio.

Arun menatap Bio terlihat rahangnya mengeras dengan sorot mata tajam, "gue pinter!" balas Arun sambil melewati Bio.

"Siapa yang nyuruh lo pergi?! Gue belum selesai ngomong?" suara menggelegar Bio bersatu dengan gemuruh geluduk di luar sana.

Arun menghela napasnya lalu berhenti dan berbalik menatap Bio, "lo kenapa sih hah?! Gak di telpon gak ketemu langsung, marahhh aja" ucap Arun.

"Katanya lo naik bus, kenapa sekarang badan lo basah semua?" tanya Bio.

"Gue kejebak hujan itu waktu jalan kaki ke ruma. Lo kira ada bus sampe depan rumah? Lo kira ni rumah halte?" balas Arun sambil memutar malas bola matanya.

"Kenapa lo gak telpon gue buat jemput?" tanya Bio.

"Astaga, nanggung. Gue ke hujanan cuma jarak empat rumah kali".

"Waktu lo di kampus, kenapa ga telpon gue buat jemput lo?" Bio mengulangi pertanyaannya kembali.

Arun terdiam. Sedangkan Bio masih menatapnya intens, "gue ... ga punya nomor lo. Udahlah lagian gue udah sampe rumah juga!" ucap Arun agar masalah ini cepat selesai karena saat ini tubuh Arun merasa dingin dengan kondisi baju yang basah di tubuhnya.

"Gue tadi kesana tapi lo udah gak ada. Lo sengaja ngehindarin gue?".

"Lo .. ke kampus?" tanya Arun dengan ekspresi tidak percaya. Jadi ini alasan Bio marah saat di telpon tadi.

Bio membuang pandangannya, "lo emang cuma bisa buat susah aja ya! Lo sadar gak sih lo itu baru sakit kemaren, sekarang lo malah hujan-hujanan lagi ..."

"Kehujanan" koreksi Arun.

"Lo emang mau banget nyusahin gue? Lo pikir kerjaan gue cuma ngurusin lo doang? Lo kira tanggung jawab gue cuma sama lo doang?!"

"STOP!" teriak Arun.

Bio tersentak saat mendengar teriakan tersebut, "JADI LO PIKIR GUE MAU BUAT SUSAH LO? LO PIKIR GUE SENGAJA BUAT CARI PERHATIAN LO? GUE GAK BUTUH TANGGUNG JAWAB LO! urus urusan masing-masing" ucap Arun lalu melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya.

Bio mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat jelas saat wajah Arun tadi marah dengan mata berkaca-kaca, entah ada air mata yang turun atau tidak karena wajah Arun masih basah karena air hujan.

Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Setelah perdebatan tadi Arun tidak kunjung keluar dari kamarnya. Sedagkan Bio masih duduk di meja makan sambil menatap layar laptopnya. Sedikit terbersit ke khawatiran dalam diri Bio dengan sesekali menatap pintu kamar Arun dengan harapan akan terbuka.

Namun nihil sepertinya wanita itu tidak akan keluar dari kamarnya. Bio langsung mengalihkan pandangannya kembali pada layar laptopnya.

Suara pintu terbuka dan Arun keluar dari kamarnya begitu saja. Seolah tidak memperdulikan Bio dan ternyata sebaliknya. Saat ini Bio pun tidak berniat melihat pada Arun.

Trang!!

Botol minum yang dipegang Arun terjatuh. Tangan Arun terasa licin setelah selesai mencuci botol tersebut, Arun memang berniat untuk mengambil air minum namu ternyata botol tersebut kotor.

"Lo gak papa?" tanya Bio sambil mengambil botol dari lantai.

Arun memang sempat akan mengambil botol tersebut namun baru saja akan berjongkok kepala Arun terasa berputar akhirnya dia hanya berpegang pada wastafel tersebut.

"Makasih" ucap Arun sambil meraih botol dari tangan Bio.

Bio langsung memalingkan wajah Arun untuk menghadapnya dengan kedua tangannya. Terasa panas suhu tubuh Arun, mata yang sayu dan wajah yang putih namun terkesan pucat tersebut membuat hati Bio tercubit.

"Lo sakit? Badan lo panas" ucap Bio.

Arun langsung mengerakan kepalanya dan membuat tangan Bio terlepas, "gue baik-baik aja!" jawab Arun lalu menuju dispenser untuk mengisi air.

Bio mengikutinya dari belakang, "Run! Lo sakit, ayok kita ke dokter" ujar Bio.

"Gue gak papa, lo urus aja pekerjaan lo gak usah pikirin gue. Ini cuma demam biasa besok juga udah sembuh" jelas Arun sambil memutar tutup botol minumnya.

Kali ini Bio memutar tubuh Arun dengan memegang kedua lengannya hingga Arun menghadap Bio dengan sempurna, "maafin gue kalo omongan gue buat lo sakit hati" ujar Bio sambil menatap mata yang sayu tersebut.

"Lo gak perlu minta maaf, lo gak salah. Disini emang gue yang salah. Lepas, gue mau istirahat" pinta Arun dengan suara pelan.

Bio menggelengkan kepala, "enggak kita harus ke dokter dulu" tolak Bio.

Bagaimana pun usia Bio sudah masuk masa kedewasaan yang cukup, lebih bisa mengendalikan emosinya. Sedangkan Arun dia masih berusaha untuk mencapai masa tersebut sehingga masih sulit untuk Arun bersikap sejajar dengan Bio saat ini.

"Gak perlu, nanti gue minum obat yang ada di ruma aja" ujar Arun.

"Lo belum makan. Jangan minum sembarang obat" Bio berusaha menasehati Arun.

"Gue yang bertanggung jawab atas diri gue sendiri, lo gak perlu khawatir. Awass gue mau ke kamar!" paksa Arun agar terlepas dari Bio.

"Lo tanggung jawab gue! Karena lo istri gue".

"Cuma status dan perjodohan lo gak perlu segitunya. Gue gak papa dari dulu juga gue selalu begitu, bukan bagian dari yang diinginkan" ucap Arun.

Grep!

Tanpa aba-aba Bio langsung memeluk Arun. Namun tanpa Arun sangka air matanya jatuh begitu saja, tubuhnya seolah luruh bersama dengan air mata tersebut. Untung ada tangan Bio yang siap menahan bebannya.

"Maafin gue" ucap Bio lirih saat mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut Arun.

Suhu tubuh Arun yang panas membuat Bio dapat merasakan itu dari pelukan mereka saat ini. Ada rasa bersalah yang Bio dapatkan saat keadaan seperti ini karena memperlakukan Arun dengan kasar sore tadi.

"Kalo lo gak mau ke dokter, lo makan dulu ya, nanti gue cariin obat buat nurunin demam lo" ucap Bio masih dengan posisi memeluk Arun.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!