Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 13 - Pil KB Darurat
Davion benar-benar tidak mengerti.
Di hadapannya Aluna berdiri tanpa perlawanan sedikit pun. Gaun yang tadi ia kenakan kini telah terlepas sempurna, jatuh begitu saja di lantai meninggalkan dirinya dalam keadaan yang begitu rentan. Tapi Aluna tetap diam dan patuh.
Tidak ada usaha untuk menutupi diri dengan kedua tangannya. Seketika mulut Aluna seperti bisu.
Davion menggeram pelan, lalu dengan satu tarikan ia menarik tubuh Aluna masuk ke dalam cengkramanya. Davion mencium bibir merah Aluna dengan kasar, tanpa jeda dan tak ada kelembutan sedikit pun.
Namun bahkan dalam keadaan seperti itu Aluna tidak menolak. Dan sikap itulah yang justru membuat Davion semakin kehilangan kendali.
Tangannya mencengkeram bahu Aluna lebih erat, ingin memaksa reaksi yang tidak pernah ia dapatkan. Tapi tetap saja tidak ada. Hanya penerimaan yang menyakitkan.
Dengan satu dorongan kasar, Davion melempar tubuh Aluna ke atas ranjang. Nafasnya memburu dan emosinya berputar tanpa arah, antara marah, kesal, dan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mampu ia pahami.
Batas yang selama ini Davion bentuk akhirnya runtuh juga malam ini.
Bukan karena keinginan apalagi cinta. Melainkan karena ego yang terlalu besar dan kepasrahan yang terlalu dalam.
"Ah," lirih Aluna saat Davion mulai menyentuh seluruh tubuhnya, matanya terpejam dan tubuhnya tak pernah berhenti menggeliat. Di bawah Kungkungan Davion semuanya terasa menjadi semu.
Pernikahan ini akankah menjadi selamanya?
Dengan satu kali hentakan Davion menyatukan tubuh keduanya.
"Ahk!" desih Aluna menahan pedih di bagian inti. Kesucian yang selama ini ia jaga akhirnya terambil pula oleh sang suami. Namun yang membuat Aluna merasa begitu nelangsa adalah karena Davion melakukan semuanya dengan begitu kasar, sedikitpun tak ada kelembutan.
Aluna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air matanya jatuh juga, mengalir diam-diam di pelipisnya dan membasahi bantal yang ia genggam erat.
Sakit.
Bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya. Namun bahkan dalam keadaan seperti itu, Aluna tetap tidak menghentikan Davion. Karena di dalam pikirannya yang paling dalam, Inilah posisinya.
Inilah alasan kenapa ia ada di sini.
'Kenapa masih diam, Aluna? Kenapa kamu seperti tak punya perasaan,' batin Davion, dia menghentak semakin kuat sampai tubuh Aluna ikut tergerak.
Rasa nikmat itu membuat Davion tak bisa berhenti begitu saja, bahkan rasanya dia semakin ingin masuk lebih dalam.
Saat semuanya berakhir, ruangan ini kembali sunyi. Aluna sudah terbaring lemah dan Davion bangkit lebih dulu, wajahnya tetap dingin meski dadanya masih naik turun.
Tidak menoleh dan mengatakan apa pun, seolah apa yang baru saja terjadi tidak memiliki arti.
"Dav," panggil Aluna lirih, suara kecilnya memecah keheningan.
"Apa?"
"Bagaimana jika aku hamil, aku tidak menggunakan kontrasepsi."
Davion tak langsung menjawab pertanyaan itu, mereka berdua sama-sama tahu bahwa hal seperti ini harusnya tak terjadi jika sesuai dengan kontrak pernikahan yang pernah mereka tandatangani bersama.
Sekarang bukan Aluna yang melanggar, tapi Davion.
Dan Aluna lagi-lagi tidak mempermasalahkan hal itu. Aluna hanya ingin bertanya bagaimana jika dia hamil? Apakah Davion masih ingin mengakhiri pernikahan mereka.
"Gugurkan saja, kita tidak dalam hubungan yang memungkinkan untuk memiliki anak," balas Davion seraya bangkit dari duduknya.
Aluna mencelos, kata-kata Davion selalu saja berhasil melukai hatinya. Dilihat oleh Aluna, Davion yang menuju ruang ganti dan keluar dari kamar ini.
'Ya Tuhan, apa benar pernikahan kami tidak memiliki harapan?' batin Aluna.
'Malam ini Davion melanggar kesepakatan yang dia buat sendiri, mungkinkah... suatu saat nanti pikirannya pun berubah?' batinnya lagi.
Dengan tertatih Aluna pun turun dari ranjang king size tersebut, ia memunguti semua pakaiannya yang berserak di lantai dan menuju kamar mandi.
Setelahnya Aluna tidak lagi mendekati ranjang, ia kembali ke tempatnya sendiri yaitu sofa yang ada di sudut ruangan.
Davion mengepalkan tangannya kuat melihat semua hal tersebut melalui rekaman CCTV. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja, ia menghubungi sang sekretaris, Juana.
"Halo, Tuan," jawab Juana di ujung sana, meskipun waktu tengah menunjukkan tengah malam namun dia tetap terjaga untuk sang Tuan.
"Pagi besok datang ke rumahku dan bawa obat kontrasepsi darurat," titah Davion.
"Baik, Tuan."
"Pastikan tidak ada yang tahu tentang hal ini," kata Davion lagi, yang ia maksud adalah keluarganya sendiri.
"Baik, Tuan," jawab Juana patuh.
Obat kontrasepsi darurat adalah obat yang digunakan untuk mencegah kehamilan setelah melakukan hubungan baddan tanpa pengaman, efektif jika diminum maksimal 72-120 jam setelahnya.
Panggilan terputus dan tatapan Davion kembali tertuju ke arah layar CCTV. Aluna kini sudah berbaring di sofa dan meringkuk sendirian. "Kamu tidak akan hamil, aku sendiri yang akan pastikan."
woooy Maesaroh kamu tuh udah ga ada hak atas Aluna
aluna bukan bagian dari Myles lagi
aluna sekarang bagian dari dari horas,,eh salah
kamu udah menjual Aluna ko enak banget masih pengen Aluna patuh sama kamu terus,,gemes daah aaah
ini si sabun DAV juga kenapa seh kamu ga selidiki Aluna