"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Gaun yang Terlalu Pas
Udara di kawasan Megamendung, Bogor, selalu memiliki cara tersendiri untuk menusuk tulang, terutama ketika jarum jam telah melewati pukul tujuh malam. Kabut tebal merayap turun dari puncak perbukitan, menyelimuti pelataran vila kolonial raksasa milik keluarga besar Pradipta. Vila ini bukan sekadar tempat peristirahatan; ini adalah simbol sejarah—tempat di mana tiga generasi Pradipta mengonsolidasikan kekuasaan bisnis mereka atas tanah air.
Malam ini, ratusan lampu kristal gantung di dalam aula utama Megamendung dinyalakan secara serentak. Pendar cahayanya yang kuning keemasan memantul mewah pada lantai marmer Italia yang mengilat. Di luar, puluhan mobil sedan mewah dan SUV hitam antipeluru berpelat nomor khusus berbaris rapi di sepanjang jalan setapak berkerikil. Pengamanan malam ini berstatus Fase Tiga—tingkat tertinggi yang pernah diterapkan oleh divisi keamanan privat Arkananta.
Di dalam kamar rias utama lantai dua, atmosfer justru terasa jauh lebih menegangkan dibanding ruang rapat pleno dewan komisaris.
"Dokter Ayana, tolong jangan menahan napas terlalu lama. Saya perlu mengunci pengait ritsleting terakhir di bagian punggung," ujar Madam Viona, tangannya yang terampil bergerak cepat di atas kain beludru hitam pekat yang membungkus tubuh ramping Ayana.
Ayana mengembuskan napas panjang dengan pasrah. "Madam, saya rasa gaun ini menyusut dua sentimeter sejak sesi pengukuran di Jakarta kemarin. Mengapa rasanya begitu ketat di bagian pinggang?"
Madam Viona tertawa kecil, melangkah mundur untuk memandangi hasil karyanya di depan cermin raksasa setinggi manusia. "Gaun ini tidak menyusut, Dokter sayang. Ini adalah potongan super-slim fit yang sengaja dirancang untuk mengikuti lekuk tubuh Anda secara presisi. Dan harus saya akui... Tuan Besar Hermawan memiliki selera yang luar biasa. Anda tampak... sangat berbahaya malam ini."
Ayana menatap pantulannya sendiri di cermin, dan untuk sesaat, ia hampir tidak mengenali wanita yang berdiri di sana.
Gaun beludru hitam berpotongan sabrina itu mengekspos garis bahunya yang tegas dan leher jenjangnya dengan begitu sempurna. Taburan payet hitam berkilau di bagian pinggang memberikan efek visual seolah-olah ia sedang mengenakan rangkaian bintang malam. Rambut cokelatnya yang biasa diikat asal-asalan saat dinas di rumah sakit kini disanggul modern dengan gaya chignon yang elegan, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah cantiknya dengan lembut.
Riasan wajahnya sengaja dibuat tidak terlalu tebal, namun sapuan lipstik merah bold di bibirnya memberikan karakter yang teramat kuat—karakter seorang wanita yang siap berdiri di samping sang penguasa tertinggi Pradipta Group.
TOK! TOK!
Pintu kamar rias diketuk dengan ritme yang sangat familier. Karina melangkah masuk dengan gaun formal berwarna biru pastel, memegang sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun.
"Dokter Ayana, Pak Arka sudah menunggu di ujung koridor lantai dua," ujar Karina, matanya berbinar kagum saat melihat penampilan Ayana. "Wow... saya rasa malam ini seluruh sepupu jauh Pak Arka yang berniat menjatuhkan kita akan langsung kehilangan kata-kata begitu melihat Anda turun dari tangga."
Karina berjalan mendekat, lalu membuka kotak beludru di tangannya. Di dalamnya, sebuah kalung berlian dengan mata safir biru tua berbentuk tetesan air berkilau dengan teramat mewah di bawah pendar lampu. "Ini adalah 'The Blue Tear of Pradipta'. Warisan langsung dari mendiang ibu Pak Arka. Beliau meminta saya untuk memasangkannya pada Anda sekarang."
Ayana merasakan tenggorokannya mendadak kering saat Karina melingkarkan kalung berharga fantastis itu di lehernya. Logam dingin itu menyentuh kulitnya, memberikan beban tanggung jawab baru yang terasa begitu nyata. Kontrak tiga bulan yang awalnya terasa seperti kesepakatan profesional biasa, kini telah bermutasi menjadi labirin emosional yang tak memiliki jalan keluar.
Ketika Ayana melangkah keluar dari kamar rias, koridor lantai dua Megamendung terasa begitu sepi dan megah. Di ujung koridor, berdiri seorang pria dengan postur jangkung tegap yang sedang membelakanginya, menatap ke arah jendela besar yang mengarah ke taman dalam.
Arkananta Pradipta malam ini mengenakan setelan tuksedo hitam tiga bagian (three-piece tuxedo) yang dirancang khusus oleh penjahit terbaik di London. Kemeja putih bersih di balik rompi hitamnya tampak kontras dengan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna di kerahnya. Rambut hitamnya ditata klimis ke belakang, mengekspos garis rahangnya yang tegas dan struktur wajahnya yang tampak begitu aristokratis dan dingin.
Mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi Ayana di atas lantai kayu ek, Arka perlahan membalikkan tubuhnya.
Seketika itu juga, langkah kaki Ayana terhenti otomatis. Jarak di antara mereka tersisa lima meter, namun atmosfer di koridor itu mendadak terasa begitu padat.
Sepasang mata elang Arka menyipit samar saat pandangannya menyapu figur Ayana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kilat intensitas yang teramat dalam dan posesif memancar dari manik matanya, membuat Ayana merasa seolah-olah seluruh sistem pertahanan medisnya sedang dilucuti tanpa ampun oleh tatapan pria itu.
Arka melangkah maju, perlahan memotong jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat di depan Ayana. Aroma minyak wangi sandalwood bercampur mint yang maskulin dari tubuh Arka langsung menguasai indra penciuman Ayana.
"Saya tahu gaun itu akan terlihat luar biasa untukmu, Ayana," ujar Arka, suaranya terdengar lebih rendah dan berat dari biasanya, bergetar dengan emosi tersembunyi yang sangat kuat. "Tapi melihatmu memakainya secara langsung malam ini... membuat saya merasa bahwa keputusan Kakek untuk mempercepat acara ini adalah keputusan terbaik abad ini."
Ayana berdeham salah tingkah, mencoba mengalihkan pandangannya dari bibir tipis Arka yang berada begitu dekat. "Pak Arka... tolong jangan menatap saya seperti Anda sedang memindai laporan keuangan triwulanan yang mencurigakan. Ini murni karena keahlian Madam Viona, bukan karena saya."
Arka tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang teramat menawan, yang hanya pernah ia perlihatkan di dalam ruang kedap suara atau di atas balkon Lembang. Ia mengulurkan tangan kanannya, membiarkan jemarinya yang besar dan hangat menyentuh permukaan safir biru di leher Ayana sejenak, sebelum turun untuk menggenggam jemari lentik wanita itu.
"Kalung ini... sangat cocok di lehermu, Ayana. Ibu saya pasti akan sangat senang jika tahu bahwa kalung ini akhirnya melingkar di leher wanita yang berhasil menyembuhkan putranya dari kegelapan," bisik Arka, suaranya sarat akan ketulusan yang murni.
Pria itu kemudian menekuk lengan kirinya, memberikan ruang bagi Ayana untuk menyandarkan tangannya di sana. "Aula di bawah sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melihat kita jatuh. Tapi malam ini, kita akan menunjukkan pada mereka... bahwa batu karang ini tidak lagi berdiri sendirian."
Ayana menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu menyelipkan tangan kanannya ke dalam lengan kekar Arka. Sentuhan taktil itu memberikan gelombang ketenangan yang instan ke dalam sistem syarafnya sendiri. "Baiklah, Pak Bos. Mari kita selesaikan babak Megamendung ini dengan kemenangan mutlak."
Pintu ganda aula utama lantai dasar dibuka lebar oleh dua pengawal bersetelan jas.
Begitu langkah kaki Arka dan Ayana melewati ambang pintu, riuh rendah suara obrolan ratusan anggota keluarga besar dan kolega bisnis Pradipta Group seketika terhenti total. Keheningan absolut mendadak menguasai ruangan luas tersebut. Ratusan pasang mata berpaling serentak ke arah tangga besar tempat keduanya mulai melangkah turun.
Di ujung aula, duduk di atas kursi roda kayu jati yang diukir mewah, Kakek Hermawan Pradipta tampak memperhatikan cucu tertuanya dengan seulas senyuman kepuasan yang teramat masif. Di sampingnya, beberapa paman dan sepupu dari faksi mendiang Elena dan Kendra tampak berdiri dengan wajah kaku dan pucat, menahan amarah yang tidak bisa mereka ekspresikan secara terbuka.
"Lihat itu..." bisik salah seorang kerabat jauh di barisan belakang. "Itu dokter pribadi yang menghancurkan pergerakan Elena minggu lalu. Dia memakai 'The Blue Tear'. Statusnya tidak bisa diganggu gugat lagi."
Arka menuntun Ayana melintasi lautan manusia tersebut dengan postur tubuh yang teramat tegap dan penuh wibawa. Tidak ada tanda-tanda getaran syaraf, tidak ada tanda-tanda kepanikan, meskipun suara bisikan dan denting gelas sampanye di sekitar mereka beresonansi dengan cukup bising. Terapi komparatif yang dilakukan Ayana selama satu bulan ini telah membuahkan hasil yang sempurna; Arka kini telah sepenuhnya mengendalikan takdirnya sendiri.
Begitu mereka tiba di depan Kakek Hermawan, pria sepuh itu mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat agar mikrofon utama diserahkan kepadanya.
"Malam ini, di Megamendung," suara Kakek Hermawan yang serak namun penuh otoritas menggema melalui sistem pengeras suara aula. "Saya, Hermawan Pradipta, tidak hanya merayakan pemulihan total stabilitas korporasi Pradipta Group. Malam ini, saya secara resmi mengumumkan... bahwa masa kontrak medis Dokter Ayana Sheenaz telah berakhir, dan mulai detik ini, dia telah resmi diterima di dalam silsilah keluarga sebagai tunangan dan calon istri sah dari Arkananta Pradipta."
Tepuk tangan bergemuruh di dalam aula, meskipun sebagian besar dari mereka melakukannya dengan setengah hati akibat tekanan otoritas sang naga sepuh.
Arka menoleh ke arah Ayana, mengabaikan seluruh pasang mata yang menonton mereka. Pria itu menundukkan wajahnya, mengecup punggung tangan Ayana yang berada di dalam genggamannya dengan gerakan yang teramat hormat dan posesif di depan publik.
"Selamat datang di duniaku yang megah, Ayana," bisik Arka di tengah gemuruh tepuk tangan.
Ayana menatap sepasang mata elang yang kini sepenuhnya menjadi pelindungnya itu. Tantangan menuju delapan puluh babak kehidupan mereka di masa depan mungkin akan dipenuhi oleh intrik korporat yang jauh lebih kejam, namun malam ini, di bawah atap Megamendung, sang dokter rewel tahu... bahwa ia telah resmi menjadi bagian dari takdir sang penguasa terkaya di negeri ini.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪