Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Sehidup Semati
"Raden, bukankah itu pemuda yang di desa tadi?"
Prajurit tersebut melihat Wira yang masuk ke dalam, setelah berbicara dengan wanita pemilik penginapan. Meski hanya melihat punggungnya, namun prajurit itu yakin jika yang dilihatnya baru saja itu adalah pemuda yang mereka cari.
Raden Sanjaya menolehkan kepalanya ke arah penginapan. Namun Wira sudah menghilang masuk ke dalam. "Mungkin itu hanya bayanganmu saja. Fokusnya sekarang mencari pemuda itu, jadi hanya dia yang ada dalam bayanganmu," ucapnya.
"Mungkin juga, Raden."
Raden Sanjaya dan 4 orang anak buahnya kembali memacu kudanya perlahan. Pandangan mata mereka tajam mengamati setiap orang yang berpapasan ataupun searah dengan mereka.
Di dalam kamar penginapan, Wira duduk di samping Sinta yang memalingkan muka ketika dia masuk ke dalam kamar.
"Kau kenapa cemberut terus, lagi datang bulan ya?" goda Wira.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Wira. Antarkan aku pulang saja!"
Wira terkejut mendengar permintaan Sinta. Mau tak mau dia pun harus mengalah.
"Apa kau marah karena pertanyaanku tadi? Aku kan hanya bercanda tadi."
"Kalau kau hanya bercanda, kenapa pertanyaanmu begitu serius? Gurat wajahmu juga terlihat begitu datar."
"Hahaha, sumpah itu hanya sandiwaraku saja. Aku hanya ingin melihat tanggapanmu seperti apa."
Sinta membalikan badannya dan berhadapan dengan Wira. "Apa kau berani bersumpah atas nama orang tuamu jika tadi kau hanya bercanda saja?"
Wira mengangguk dan mengangkat satu tangannya ke atas, "Aku bersumpah atas nama kedua orang tuaku, bahwasanya tadi aku hanya bercanda saja. Aku juga akan menjaga gadis cantik di depanku ini untuk sekarang dan selamanya sampai maut memisahkan kami berdua!"
"Hanya menjaga saja?"
Wira menggaruk kepalanya pelan. Dia tahu maksud dari Sinta tentang hubungan mereka berdua, tapi dia masih bimbang dengan hatinya.
"Kenapa kau diam?" tanya Sinta lagi. Dia masih belum bisa menerima sumpah yang diucapkan Wira.
Wira memegang kedua tangan Sinta dengan lembut. Matanya menatap bola mata gadis cantik itu hingga membuatnya tertunduk malu.
"Sinta, kau tahu sendiri jika kita tidak tahu takdir apa yang akan terjadi ke depannya. Dan kau juga tahu kalau aku mendapat amanah dari kakek Arisuta untuk mengamalkan ilmu yang aku miliki. Tapi jika kau bersedia menunggu sampai aku siap untuk menikahimu, maka aku juga akan berjanji untuk tidak mendekati wanita lain."
"Benarkah apa yang kau katakan?" Mata gadis cantik itu berbinar-binar setelah mendapat kepastian dari pemuda yang menjadi pujaannya itu.
Wira mengangguk, "Sejak kecil aku tidak pernah berbohong jika untuk hal yang serius seperti kali ini."
"Lalu jika kakekmu Yang Mulia Raja Dharmawangsa mau menerimamu sebagai cucunya, tapi dia tidak mau menerimaku, apa yang akan kau lakukan?"
Wira tersenyum hangat kepada gadis cantik itu. Dia lalu menempelkan kedua tangan Sinta yang masih dipegangnya ke dadanya. "Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup sederhana. Dan bukan masalah besar buatku jika harus meninggalkan istana, seperti apa yang ibuku lakukan dulu."
Pemuda itu kemudian memeluk Sinta dengan begitu erat. Dia bisa merasakan air mata Sinta yang bercucuran keluar membasahi dadanya yang bidang.
"Sudah, jangan menangis! Sekarang ayo kita keluar dan berjalan-jalan di Kotaraja ini. Sekalian nanti kita cari tempat makan untuk mengisi perut."
Sinta merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Kepastian yang diberikan Wira membuatnya begitu lega akan nasibnya ke depannya.
Sepasang kekasih yang baru saja mengikrarkan janji sehidup semati itupun keluar dari penginapan. Mereka berdua berjalan dengan diiringi tatapan mata gadis dan pemuda yang iri melihat keromantisan mereka berdua. Tak sedikit pula yang memuji betapa serasinya mereka berdua.
Setelah puas berjalan-jalan di sekitar ibukota, mereka akhirnya mampir ke sebuah tempat makan yang lebih besar daripada tempat makan yang ada di desa tadi.
Tempat makan bertingkat tiga itu terlihat sangat ramai pengunjung. Banyak pengunjung yang keluar masuk untuk mengisi perut mereka berdua.
Ketika keduanya hendak naik ke lantai dua, seorang lelaki tinggi besar dan berwajah garang menghentikan langkah mereka. "Maaf, Kisanak, Nisanak. Lantai dua hanya untuk kalangan pendekar dan pedagang. Sedangkan lantai paling atas hanya untuk kalangan bangsawan saja."
Wira hendak membantah ucapan lelaki itu, tapi cubitan kecil Sinta ke pinggangnya, membuatnya mengurungkan niatnya.
Mereka berdua akhirnya memilih sebuah meja yang berada di sudut. Pengalaman di desa kemarin ketika mereka duduk di dekat tangga dan hampir timbul kekacauan, membuat keduanya mencari meja yang jauh dari tangga.
Ternyata keputusan mereka berdua benar. Tanpa mereka sadari, Raden Sanjaya dan 4 anak buahnya memasuki tempat makan tersebut. Mereka berlima langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas.
Namun sebelum mereka menaiki anak tangga, seorang pengawal Raden Sanjaya melihat Wira dan Sinta yang sedang sibuk menikmati makanannya. "Raden, bukankah itu pemuda dan gadis yang kita cari?" tunjuknya.
Raden Sanjaya menghentikan langkahnya dan melihat ke arah yang ditunjuk pengawalnya.
Mata lelaki berumur sekitar 25 tahun itu berbinar penuh nafsu melihat sasarannya sudah di depan mata.
"Ayo naik ke atas dulu sebelum mereka melihat kita!" ajak Raden Sanjaya.
"Raden, jika kita semua naik ke atas, mereka berdua bisa menghilang lagi. Sebaiknya ada dua dari kita yang mengawasi mereka."
"Kau benar. Kalian berdua awasi mereka di luar! Jangan sampai terlihat sampai kita tahu di mana mereka menginap."
"Baik, Raden." Dua orang pengawal berjalan keluar dari tempat makan. Sedangkan Raden Sanjaya meneruskan langkahnya menaiki anak tangga.
Selesai menghabiskan makanannya, Wira dan Sinta memutuskan untuk kembali ke penginapan. Di saat membayar, sekilas Wira melihat sebuah brosur yang tertempel di dinding. Brosur itu berisi tentang turnamen yang diadakan pihak istana, untuk mencari seorang Senopati baru menggantikan Senopati lama yang sudah mangkat.
"Ini kesempatan kita untuk mendekati kakekku!" ucap Wira pelan di telinga Sinta sambil menunjuk brosur yang baru saja dia baca.
"Kesempatan yang bagus, Wira. Namun kau harus memenangkan turnamen itu dan menjadi Senopati agar bisa mendekati Yang Mulia," sahut Sinta.
"Nanti aku akan bertanya kepada pemilik penginapan, siapa tahu dia mendengar tentang turnamen ini."
Sinta mengangguk. Mereka berdua berjalan keluar dari tempat makan tersebut, menuju penginapan tempat mereka menginap.
Tanpa mereka sadari, dua orang pengawal Raden Sanjaya mengikuti langkah mereka berdua dari jarak yang cukup jauh.
"Raden, kami sudah menemukan tempat mereka menginap," ucap seorang pengawal dengan nafas terengah-engah.
Raden Sanjaya tersenyum lebar. Harapannya untuk menikmati tubuh Sinta semakin terbuka lebar. Dia kemudian merencanakan untuk menculik Sinta, sekaligus membunuh Wira.
Sementara itu di dalam penginapan, Wira dan Sinta langsung menemui Darsih, pemilik penginapan.