Update tipis-tipis, ya. Maaf Hiatus terlalu lama karena sibuk dengan realita.
Sepuluh tahun menjalani biduk rumah tangga, Diana dan Hengki tidak kunjung mendapatkan momongan. Orang tua Hengki selalu menekan keduanya untuk segera memberi cucu.
Tekanan yang terus mendera Hengki membuat lelaki itu terjerumus pada lubang hitam. Dia yang awalnya begitu mencintai istrinya, kini dengan tega mengkhianati janji suci pernikahan.
Diana yang saat itu merasa sakit hati, memutuskan untuk keluar dari rumah. Wanita itu berniat membalas segala rasa sakit yang diberikan oleh suami serta keluarga toxic itu.
Mampukah Diana menjalankan niat balas dendamnya atau wanita itu justru terjebak dalam permainannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurma Azalia Miftahpoenya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangatnya Keluarga
Adrian pulang ke rumahnya setelah memastikan wanita pujaannya sudah lebih tenang. Meski mereka sudah resmi bertunangan, nyatanya kedua anak Adam dan Hawa itu masih menjunjung tinggi harga diri mereka untuk tidak tinggal bersama sebelum terjadinya ijab qobul.
Pria tampan berkharisma itu merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Namun, meski begitu dia adalah sosok anak dan kakak yang baik untuk ibu dan keempat adik perempuannya. Adrian masih tinggal bersama dengan kelima wanita tercinta walaupun sebenarnya dia sudah memiliki hunian sendiri.
Seperti pesan almarhum sang ayah yang menitipkan ibu serta keempat adiknya, Adrian menjaga mereka dengan sangat baik. Segala kebutuhan dipenuhi oleh Adrian tanpa banyak drama. Namun, meski begitu, Adrian pun tidak begitu saja melepas tangan atas pergaulan adik-adiknya. Terbukti dengan cara pria itu menjaga keempat perempuan terkasih dengan menaruh alat penyadap di ponsel masing-masing adiknya itu.
Keempat adiknya itu pun tahu tentang ulah sang kakak yang memata-matai kegiatan mereka. Namun, mereka sama sekali tidak memprotes perbuatan kakaknya. Mereka justru merasa sangat diperhatikan oleh kakak laki-laki yang mereka miliki itu.
Kini Adrian baru saja sampai di rumah mewah peninggalan sang ayah. Baru saja kakinya melangkah masuk, sudah terdengar suara sorakan dari para perempuan cerewet yang ada di rumah tersebut. Disusul dengan kedua gadis yang memegang lengannya, kemudian menuntun paksa Adrian untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Nah, ini dia biang keladinya!"
"Cie, yang abis tunangan. Ish, masa ngelamar pacar ga ajak-ajak kita, sih!"
"Hooh, Mas Adrian ngeselin banget," sahut adiknya yang lain.
"Loh, kalian udah tahu?" tanya Adrian kaget. Pria itu tersenyum malu ketika para gadis itu menggodanya.
"Tahulah. Mommy udah bilang ke kita-kita," jawab adik lainnya.
Seorang gadis yang paling tinggi di sana langsung menjatuhkan diri sofa yang sama dengan Adrian. Dia menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak dengan ekspresi cemberut.
"Lily kenapa?" tanya Adrian lembut.
"Mas Adrian sekarang udah punya tunangan. Terus apa kita bakal kehilangan perhatian dari kakak sulung kita?"
Adrian tersenyum tipis disertai kepalanya menggeleng kecil. "Mana mungkin, Ly. Kalian tetap adik-adik tersayang aku, kok! Apalagi kamu, kamu kan adek bontot kesayangan mas." Pria itu menepuk pelan kepala Lily yang bersandar di pundaknya.
Seketika Lily mengangkat kepalanya, raut wajahnya pun berubah sumringah. "Beneran, ya, Mas! Awas aja kalau bohong!"
"Memangnya mas pernah bohong?"
Lily menggelengkan kepalanya pelan. Ya, Adrian adalah sosok kakak terbaik untuk adik-adiknya. Pria itu sama sekali tidak pernah berbohong ataupun mengecewakan mereka semua. Setiap yang dikatakan olehnya adalah suatu kebenaran, sebab itulah para adiknya sangat penurut jika sudah Adrian yang turun tangan.
"Lily aja, nih, yang disayang?" tanya seorang gadis cantik dengan Surai hitam sebahu.
"Lily, Aster, Rose, dan Jasmine. Kalian adik-adik tersayang yang mas miliki," jawab Adrian yang seketika membuat para gadis menghambur ke pelukan sang kakak.
Ketika kelima bersaudara itu tengah berpelukan, tiba-tiba saja seorang wanita yang melahirkan mereka datang dan berceletuk, "Cie, akur banget anak-anak mommy."
Kelima anak dengan nama belakang Wiratama itu serentak menoleh, lalu para gadis beranjak meninggalkan sang kakak untuk berebut pelukan sang ibu. Adrian yang satu-satunya pria di sana hanya diam menyaksikan para wanita tercintanya itu.
"Kamu enggak mau peluk mommy juga, Adrian?" tanya sang ibu menyindir.
Adrian hanya mengedikkan bahunya, lalu berpaling muka dari tatapan mengejek para gadis tersayang. Gemas dengan sikap jual mahalnya sang kakak, gadis-gadis itu pun kembali memeluk sang kakak.
Rossa tersenyum bangga manakah melihat keharmonisan keluarganya itu. Meski mereka sudah lama ditinggal pergi oleh sang ayah, nyatanya mereka tetap akur dan saling menyayangi.
Wanita paruh baya yang masih begitu cantik meski dengan baju tidurnya itu kini melangkah mendekati kelima anaknya. Mendudukkan diri di sofa tunggal sambil terus tersenyum bahagia.
"Udah-udah pelukannya. Mas kalian capek itu," ucap Rossa melerai pelukan kelima anaknya.
Keempat gadis cantik itu menurut dan langsung melepaskan dekapan mereka pada sang kakak. Setelah itu mereka memilih tempat duduk yang nyaman. Hanya Lily yang tetap tidak mau beranjak dari sofa yang sama dengan Adrian. Gadis berusia 20 tahun itu masih saja bergelayut manja di lengan kekar kakaknya.
"Lily," tegur sang ibu.
"Biarin aja, Mom," sahut Adrian.
Rossa menggeleng pelan. Sikap Lily memang sangat manja kepada kakak laki-lakinya. Gadis cantik dengan rambut pendek itu bahkan memiliki cita-cita memiliki suami yang sikapnya tidak jauh berbeda dari Adrian, sang kakak.
"Kamu baru pulang dari apartement Diana, Adrian?"
"Iya, Mom. Tadi ada sedikit masalah. Jadi, Adrian berusaha untuk menenangkan Diana dulu sebelum pulang," jawab Adrian jujur.
Dadi Rossa mengernyit. "Masalah apa memangnya?"
"Biasalah, Mom. Tentang keluarga mantan suaminya," balas Adrian tanpa menutup-nutupi apapun dari ibunya.
"Loh, calon istri Mas Adrian ...."
"Iya, nggak usah dibahas!" sahut Adrian ketika sang adik terlihat terkejut.
"Apapun itu, asal dia wanita baik-baik dan tidak merebut Mas Adrian dariku, aku tidak masalah," sahut Lily yang langsung disoraki oleh ketiga kakaknya.
"Huuuu! Dasar anak manja!" seru ketiganya kompak.
Lily menjulurkan lidahnya untuk mengejek para kakaknya. "Biarin aja. Aku kan adek kesayangan Mas Adrian," ucapnya bangga, sambil lebih mengeratkan pelukannya pada sang kakak pertama.
"Kalian ini hobinya ceng-cengan terus. Pusing mommy," kata Rossa, sambil memegang pelipisnya.
Meski kerap bertengkar dan saling mengejek, tetapi Rossa sangat tahu bahwa anak-anaknya itu saling menyayangi. Buktinya setiap salah satu dari mereka pergi dan belum kembali, mereka akan kelabakan dan saling mencari.
Kelima anak Rossa itu hanya cengengesan ketika melihat apa yang dilakukan oleh sang ibu. Mereka justru tertawa senang karena berhasil membuat sang ibu pusing tujuh keliling.
"Mas," panggil salah satu adik Adrian.
"Ya, Aster. Kenapa?"
Aster sedikit ragu-ragu untuk bertanya. Namun, karakternya yang memiliki penasaran yang tinggi membuatnya harus menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.
"Aster mau ngomong. Tapi, Mas jangan marah, ya," ucap gadis seksi itu sedikit takut-takut.
"Mana mungkin mas marah, Aster. Katakan saja apa yang mau kamu katakan."
"Mas Adrian kan sudah punya tunangan, ya. Jadi, apakah itu artinya Mas sudah bisa move on dari Kak Tisya?" tanya Aster yang seketika membuat suasana hening.
Adrian tidak langsung menjawab, pria itu terdiam selama beberapa menit. Begitu juga dengan Rossa yang sangat tahu bagaimana perasaan sang putra jika ada yang mengingatkannya pada Tisya, cinta pertama Adrian yang kini telah pergi.
Diamnya Adrian tentu membuat Aster merasa bersalah. Walau bagaimanapun juga. Dia sangat tahu perasaan sang kakak yang pernah hancur lebur 8 tahun silam.
"Maaf, Mas. Aster salah bicara, ya," ucap Aster meminta maaf.
"Kamu tidak salah, Aster. Mas tidak pernah bisa melupakan sosok Tisya. Dia cinta pertama mas yang telah pergi ke surga bersama anak pertama mas. Mereka akan selalu ada di hati mas sampai kapanpun," jawab Adrian yang seketika membuat suasana ruang tamu di rumah mewah itu berselimut kesedihan.
Seorang sahabat bertanya, apakah yang harus kulakukan tatkala istriku meminta berpisah tinggal dengan ibuku yang semakin renta, sementara aku dibesarkan dengan kasih sayang semenjak kecil..
Jawabannya sama seperti Nabi Ibrahim berkata pada Ismail.. "gantilah pintumu" (istri).
apakah tanpa merawat orang tua tidak bisa mandiri?
apakah orang tua kita pernah meninggalkan kita saat membutuhkan mereka?
yang paling penting.. saat mereka hidup berdua sampai akhir hayat.. meninggal cuma dirawat orang lain.. apakah bisa kita menjamin tidak ada penyesalan karena tak sempat memberikan yang terbaik di akhir usia mereka?
apakah yang terbaik buat mereka itu materi?
masih ingatkah kisah seorang pemuda yang di dunia dijanjikan surga karena baktinya pada ibunya?
yah sudahlah.. ujungnya kita cuma berargumen dengan keyakinan kita.
kirain Rose kerjain papanya..
bisa percuma kamu punya istri..
ntar dikuasai Mommy 🤣🤣🤣
Itung-itung nyicil buat anak..
ehh.. salah ketek.. 😁 salah ketik 🤣🤣🤣
seandainya yang terjadi ini pada pemeran utamanya..
Readers pada bilang.. lumrah kan.. maklumlah lagi hamil 😁
kalau yg hamil peran antagonisnya.. yakin mau komen begitu?
semoga cepet diberi momongan..
semangat sehat thor..
semangat lanjut..
selamat menyambut bulan suci ramadhan bulan penuh ampunan❤