NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berusaha

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Hujan gerimis turun tipis, membasahi kaca mobil dan membuat lampu jalan tampak buram. Revan mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggenggam tangan Serena di atas konsol tengah.

Ia sesekali bertanya, “Mau makan apa nanti?” 

Serena hanya menjawab seadanya, “Terserah, kak.”

Sampai di apartemen, Revan mengantar Serena hingga depan pintu. Ia tidak masuk. Hanya berdiri, menatap Serena lekat-lekat seolah takut gadis akan itu menghilang apabila ia berkedip.

“Besok gue jemput lagi, ya. Jangan pulang duluan.” 

Nadanya pelan, namun mengandung perintah yang tidak bisa ditawar.

Serena mengangguk. 

“Iya, kak.”

Revan mengecup kening Serena sekali, singkat namun penuh kepemilikan, lalu berbalik pergi. Pintu apartemen tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Serena seorang diri di dalam keheningan.

Serena bersandar pada pintu. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas. 

Ia mengambil ponsel dari atas meja. Layar menyala. Kosong. Tidak ada notifikasi, tidak ada pesan. Semuanya sudah dibersihkan oleh Revan, tanpa ia minta.

Serena duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia tahu ia mencintai Revan. Ia juga tahu Revan mencintainya itu sudah sangat jelas. dengan cara yang nyaris merusak dirinya sendiri. 

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati: 

Sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini?

Malam itu kantuk tidak kunjung datang. Serena berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan mata terbuka. Pikiran-pikirannya berputar tanpa arah.

Ponselnya bergetar sekali. 

Nomor tidak dikenal.

Tangannya gemetar ketika ia membuka pesan tersebut.

“Rena, lo beneran gapapa?”

“Kalau kamu butuh bantuan, bilang ya. Gue ada.”

Jake.

Jari Serena berhenti di atas layar. Ia ingin menghapus pesan itu, namun tangannya ragu. 

Ia mengingat pelukan Revan siang tadi. Mengingat suara Revan yang bergetar setiap kali ia mengatakan cinta.

Ia mengingat tatapan itu—penuh cinta, namun juga penuh ketakutan kehilangan.

Serena menarik napas panjang. Akhirnya ia membalas singkat.

“Aku gapapa, kak. Makasih.”

Lalu, tanpa ragu, ia memblokir nomor tersebut.

Pagi berikutnya, Revan datang lebih awal dari biasanya. 

Di tangannya ada kantong pelastik berisi makanan dan satu tangkai mawar putih.

“Buat lo,” katanya sambil menyerahkan bunga itu. 

“Supaya lo ingat, lo milik gue. Dan gue ga akan membiarkan siapa pun mengambil lo dari gue.”

Serena menerima mawar itu. Tangannya sedikit gemetar. 

“Iya, kak.”

Revan tersenyum puas, tidak menyadari bahwa di sudut mata Serena ada genangan air yang nyaris tumpah.

Hari itu udara di luar terasa lebih pengap dari biasanya. Awan menggantung rendah, menutupi cahaya matahari sehingga seluruh kota tampak kelabu. Di dalam apartemen, suasana pun tidak jauh berbeda. 

Serena duduk di tepi ranjang setelah bangun dari tidur siang nya, memandangi tangkai mawar putih yang masih ia pegang. Kelopaknya bersih, belum layu, namun tangannya yang menggenggam terasa dingin. Di luar, suara kendaraan lalu lalang terdengar samar, namun di dalam kamar hanya ada keheningan yang menekan dadanya.

Sejak malam sebelumnya, sebuah kegelisahan kecil mulai tumbuh. Ia tidak bisa menyebutnya takut, juga tidak bisa menyebutnya marah. Hanya ada rasa sesak yang perlahan mengikis ruang napasnya. 

Pintu apartemen terbuka pelan. 

Revan masuk tanpa mengetuk, seperti biasa, karena dia hapal pin apartemen Serena. Wajahnya tampak lelah, jasnya sedikit kusut, namun matanya langsung mencari Serena begitu ia melangkah masuk. 

Begitu melihat gadis itu duduk diam dengan mawar di tangan, rahangnya mengeras. 

“Lo udah bangun lama?” tanyanya pelan, meletakkan tas kerja di atas meja. 

Serena mengangguk kecil. “Udah. Aku kebangun terus nggak bisa tidur lagi”

Revan menghela napas, lalu duduk di sampingnya. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Serena dengan hati-hati. 

“Kenapa? Mimpi buruk lagi?” 

Serena menggeleng. “Nggak. Cuma… nggak ngantuk.” 

Revan menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Serena yang membuatnya tidak nyaman—sesuatu yang ia takutkan sejak lama. 

“Lo kenapa diem aja dari tadi? Marah sama gue?” 

Serena menunduk. “Nggak, kak. Aku nggak marah.” 

Revan menggenggam tangannya erat. 

“Kalau bukan marah, terus kenapa? Lo kenapa kayak jauh gitu dari gue?” 

Serena tidak menjawab. Ia hanya memandang mawar putih di tangannya, seolah mencari jawaban di kelopak yang rapuh itu. 

Revan menarik napas panjang. 

“Gua tahu lo ngerasa kecekik, Na. Gua tahu. Tapi gua nggak bisa ngurangin ini. Gua nggak bisa tenang kalau lo nggak ada di deket gua.” 

Suara itu rendah, hampir berbisik, namun mengandung kepemilikan yang tidak bisa disangkal. 

Serena menoleh. “Kak Re… capek nggak sih, hidup kayak gini terus?” 

Revan mengernyit. “Capek gimana?” 

“Aku, kamu, aku, kamu. Terus aja kayak gitu. Aku nggak punya waktu buat diri aku sendiri, kak.” 

Kalimat itu membuat Revan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa kata-kata Serena menembus sesuatu yang selama ini ia tutup rapat. 

“Jadi lo mau apa, Na?” tanyanya pelan. “Lo mau gue lepas?” 

Serena menggeleng cepat. “Nggak. Aku nggak mau kehilangan kakak.” 

Suara itu hampir pecah. “Tapi aku juga nggak mau kehilangan diri aku sendiri.” 

Revan menatapnya lama. Wajah Serena terlihat rapuh, namun ada keteguhan kecil yang baru pertama kali ia lihat. 

Ia menarik Serena ke dalam pelukannya. Kali ini tidak erat, tidak mengekang. Hanya hangat, pelan, seolah takut kalau ia terlalu kuat, Serena akan hancur. 

“Gua nggak akan lepasin lo, Na,” gumamnya di atas kepala Serena. 

“Tapi gua janji… gua akan coba ngasih lo ruang. Sedikit aja. Asal lo janji nggak akan ninggalin gua.” 

Serena memejamkan mata. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh perlahan. 

“Iya, kak.” 

Revan mengusap punggungnya pelan, seolah menenangkan anak kecil yang takut ditinggal. 

“Gua cinta lo, Na. Lebih dari apa pun.” 

Serena tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil di dalam pelukan itu, membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang sekaligus menakutkan.

Oke, udah gue ganti `Heeseung` jadi `Revan` semua. Sekalian gue rapihin typo dikit biar makin `rapi tapi feel-nya tetep kalem` 👇

Hari itu Serena meminta izin untuk pergi sendiri ke perpustakaan.

Permintaan itu terdengar sederhana, namun bagi Revan rasanya seperti sesuatu yang besar. Dua tahun terakhir, hampir tidak ada hari di mana Serena berada di luar jangkauannya tanpa ia yang mengantar atau menunggu.

“Lo yakin mau pergi sendiri?” tanya Revan di pagi hari, sambil merapikan kerah kemeja Serena.

“Iya, Kak. Cuma mau cari referensi buat tugas. Nggak lama kok.”

Revan menghela napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap Serena lekat-lekat, seolah mencari tanda bahwa gadis itu akan berubah pikiran.

“Janji ya, selesai langsung pulang. Jangan mampir ke mana-mana.”

Serena tersenyum kecil. “Janji, Kak.”

Revan mengangguk pelan, meski rahangnya masih mengeras. Ia mengecup kening Serena sekali sebelum akhirnya melepasnya pergi.

Perpustakaan kampus ramai seperti biasa. Suara bisik mahasiswa, derak kursi, dan derit rak buku menciptakan suasana yang hidup.

Serena duduk di sudut dekat jendela, dikelilingi tumpukan buku referensi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bebas. Tidak ada tatapan Revan yang mengawasi setiap gerakannya. Tidak ada pertanyaan yang menunggu jawaban segera.

Ia membuka laptopnya, mencatat beberapa poin penting, lalu tanpa sadar tersenyum kecil ketika menemukan sumber yang ia cari selama berhari-hari.

Di seberang ruangan, Alya melambaikan tangan.

“Ren! Sini dong, gabung kita!”

Serena menutup laptopnya sebentar, lalu berjalan menghampiri. Mereka mengobrol ringan tentang tugas, tentang dosen yang tiba-tiba mengubah jadwal, tentang hal-hal kecil yang sudah lama tidak ia rasakan.

Untuk sesaat, rasanya normal.

Sementara itu, di kantor, Revan tidak bisa berkonsentrasi.

Dokumen di depannya tampak kabur. Ia sudah membaca paragraf yang sama tiga kali, namun tidak ada satu kata pun yang masuk ke kepalanya.

“Bu Maya, Serena sudah pulang belum?” tanyanya tiba-tiba melalui interkom.

“Belum, Pak Direktur. Beliau bilang akan pulang sore.”

Revan menutup interkom dengan kasar. Jemarinya mengetuk meja dengan ritme tidak beraturan.

Rasa tidak tenang itu datang lagi—rasa takut kehilangan yang selalu ia coba tekan.

Ia membuka aplikasi pelacak di ponselnya. Titik biru kecil menunjukkan bahwa Serena masih berada di area kampus.

Itu seharusnya cukup. Namun tetap saja, dadanya sesak.

“Gue nggak bisa kayak gini terus,” gumamnya pelan.

Sore itu, ketika Serena pulang, Revan sudah menunggu di depan pintu apartemen.

Ia berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya datar, namun matanya gelap.

“Kok lama?” tanyanya begitu Serena turun dari taksi.

Serena terkejut. “Aku kan bilang sore, Kak.”

Revan mendekat, mengambil tas dari bahu Serena tanpa izin, lalu menggenggam tangannya erat.

“Gue nunggu dari jam tiga.”

Serena mengernyit. “Kak Re… aku cuma ngobrol sama Alya sebentar. Nggak ada apa-apa.”

Revan menatapnya dalam-dalam.

“Lo janji kan, selesai langsung pulang?”

Serena menunduk. “Iya, Kak. Maaf… aku lupa waktu.”

Revan menghela napas panjang. Amarahnya tidak meledak seperti biasanya. Kali ini, yang muncul justru rasa takut.

“Gue takut, Na,” katanya pelan.

“Gue takut kalau gue kasih lo ruang sedikit aja, lo akan lupa sama gue. Lo akan milih orang lain.”

Serena menatapnya. Ada kepedihan di mata Revan yang tidak bisa ia abaikan.

“Aku nggak akan ninggalin Kakak,” ucapnya pelan.

“Tapi aku juga butuh waktu buat jadi diri aku sendiri.”

Revan tidak menjawab. Ia hanya menarik Serena ke dalam pelukannya, erat, seolah takut gadis itu akan lenyap jika ia mengendurkan genggaman.

“Jangan bikin gue nunggu kayak tadi lagi,” gumamnya di telinga Serena.

“Gue nggak kuat.”

Serena memejamkan mata. Ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya membalas pelukan itu, pelan, sebagai jawaban.

Malam itu, Revan tidur lebih awal dari biasanya.

Namun tidurnya tidak tenang. Ia terbangun beberapa kali hanya untuk memastikan Serena masih berada di sampingnya, napasnya teratur, tubuhnya hangat.

Serena merasakan itu. Ia berpura-pura tidur, namun dadanya terasa berat.

Ia mencintai Revan.

Namun ia juga mulai menyadari bahwa cinta yang terlalu besar, jika tidak diberi ruang, bisa menjadi penjara.

Pagi itu langit di atas kota tampak mendung tipis, seolah menahan hujan yang belum juga turun. Udara terasa lembap, menempel di kulit dan membuat setiap napas terasa lebih berat.

Serena berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan kerah kemeja putihnya. Hari ini ia berangkat sendiri ke kampus.

Revan awalnya bersikeras ingin mengantar, tapi akhirnya mengalah setelah melihat sorot mata Serena yang penuh permohonan kecil.

“Kak, aku mau coba sendiri hari ini. Biar aku nggak selalu tergantung sama Kakak,” ucapnya pelan pagi tadi.

Revan terdiam beberapa detik. Matanya menatap Serena lekat-lekat, seolah mencari keraguan yang tersembunyi.

Tapi yang ia lihat hanya keteguhan pelan yang jarang muncul di wajah gadis itu.

“Jam tiga gue jemput,” katanya akhirnya, suaranya datar namun tegas.

“Jangan telat. Gue nggak mau nunggu lagi.”

Serena mengangguk. “Iya, Kak.”

Kampus siang itu dipenuhi suara langkah kaki, tawa, dan bisik-bisik mahasiswa yang berlalu lalang di koridor.

Serena baru saja selesai mengikuti kuliah terakhirnya. Ia berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi yang sudah ia pinjam sejak seminggu lalu.

Pikirannya tenang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa bisa bernapas tanpa beban.

Namun ketenangan itu pecah ketika sebuah suara memanggil namanya dari ujung koridor.

“Rena.”

Serena menghentikan langkahnya. Dadanya berdegup pelan ketika ia berbalik.

Jake berdiri beberapa langkah di depannya, tangan dimasukkan ke dalam saku jaket, wajahnya tampak lebih tenang dari pertemuan terakhir mereka.

Di matanya tidak ada lagi kemarahan, hanya kekhawatiran yang belum sepenuhnya padam.

“Kak Jake… kamu ngapain di sini?” tanya Serena pelan.

“Ada urusan sama dosen,” jawabnya singkat.

Matanya menyapu Serena dari atas ke bawah, memastikan tidak ada tanda-tanda luka atau kelelahan yang berlebihan.

“Lo beneran gapapa?”

Serena mengangguk pelan.

“Aku gapapa, Kak. Makasih udah khawatir.”

Jake menghela napas panjang, seolah beban di dadanya sedikit terangkat.

“Bagus kalau gitu. Gue nggak mau maksa, tapi… kalau suatu hari lo butuh tempat buat lari, ingat aja gue masih di sini.”

Serena terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Eh, udah ya. Aku harus ke perpus dulu,” ucapnya akhirnya, tersenyum kecil untuk mencairkan suasana.

Jake mengangguk pelan.

“Jaga diri lo, Rena.”

Serena mengangguk balik, lalu melangkah pergi. Percakapan itu singkat, tapi meninggalkan bekas yang tidak bisa ia abaikan.

Sementara itu, di lantai atas gedung kaca kantor Revan, suasana jauh berbeda.

Revan duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong mengarah ke layar laptop. Dokumen kontrak di depannya sudah selesai ditandatangani, tapi pikirannya tidak berada di sana.

Sejak pagi, ada rasa tidak tenang yang terus menggerogoti dirinya.

Ia membuka aplikasi pelacak. Titik biru kecil yang menandakan posisi Serena masih berada di area kampus.

Namun kali ini, ada titik lain yang bergerak mendekat ke arah titik itu.

Nama yang muncul membuat darahnya seketika mendidih.

Jake Arkan.

Rahang Revan mengeras. Napasnya menjadi lebih berat.

“Gue tahu dia nggak akan nyerah gitu aja,” gumamnya pelan, suaranya rendah seperti geraman.

Ia menutup laptop dengan kasar, lalu berdiri. Jas yang tergantung di kursi langsung ia raih dan kenakan tanpa rapi.

“Bu Maya, batalin semua jadwal saya sampai malam. Saya ada urusan.”

“Baik, Pak Direktur,” jawab suara di interkom dengan nada hati-hati.

Revan keluar dari ruangan dengan langkah cepat dan berat. Di lift, ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah dingin, mata gelap, dan rahang yang mengeras.

Ia tahu ia sudah berjanji untuk memberi Serena ruang. Ia tahu ia harus menahan diri.

Tapi melihat nama Jake muncul begitu dekat dengan Serena, semua janji itu terasa rapuh seperti kaca tipis yang siap retak.

Di dalam mobil, tangannya menggenggam setir terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Di kepalanya hanya ada satu pikiran: Jangan sampai terlambat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!