NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:32.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

#26

Tiara— kamu ke sini sama siapa, Sayang?” tanya Dinda lembut, sambil memberi pelukan ringan untuk Tiara, serta mengusap pipi gadis kecil itu. 

“Sama Papa,” jawabnya ketus, kedua matanya tak melepas pandangan dari Alisha yang juga tak mau merubah mode manjanya pada Dinda. 

“Oh, sama papa. Kenalan dulu, yuk, sama teman baru Tiara, namanya Alisha. Alisha, dia namanya Tiara.” Dinda mencoba mendekatkan tangan Alisha dan tangan Tiara. 

“Gak mau!” tolak Alisha pelan tapi tegas. 

Begitupun Tiara yang kompak mengatakan hal serupa, “Aku juga gak mau!” 

Tiara pun memeluk lengan kiri Dinda, sementara Alisha memeluk lengan kanan Dinda. Dua-duanya adalah anak tunggal, jadi masing-masing kukuh mempertahankan ego mereka. 

Di tengah kebingungan memilih siapa yang harus ia bela, Dokter Angga muncul bersama Dinara. Dinda yang tempo hari menolak lamaran Dokter Angga belum sempat bicara lagi dengan pria itu. Jadi, ia hanya bisa diam dengan wajah memelas berharap Dokter Angga bisa membebaskannya. 

“Tiara, nggak boleh begitu, Nak. Kasihan Mama nggak bisa bergerak.” Dokter Angga melepas sepatunya lalu melangkah masuk kelas, memisahkan Tiara yang masih setia memeluk lengan Dinda dengan erat. 

“Nggak mau, Pa. Mama Dinda mamanya aku, bukan mamanya dia!” pekik Tiara, gadis itu mengamuk di pelukan papanya. 

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba kedua mata Alisha berkaca-kaca, padahal Dinda juga bukan mamanya. Tapi ia merasa sedih ketika ada yang menyebut Dinda bukan mamanya. 

Setelah Tiara berpindah ke pelukan papanya, Alisha tiba-tiba naik ke pangkuan Dinda dan memeluk leher wanita itu. 

Deg! 

Deg! 

Perasaan aneh bercampur takjub, melingkupi hati Dinda, ia kembali merasa tak baik-baik saja, apalagi Alisha ada di posisi sedekat ini dengannya. Tubuh mereka rapat, meski masih tersekat pakaian, namun perasaannya membuncah diliputi rasa sayang, serta rasa ingin memberi perlindungan terbaik. 

“Alisha, kamu kenapa?” bisik Dinda. 

Dokter Angga tak bisa berkata-kata, ia pun heran ketika melihat tingkah Alisha yang seolah tak mau lepas dari Dinda. 

Alisha menggeleng pelan, “Aku nggak papa, kok. Cuma pengen peluk Tante aja.” 

“Papa, tuh, kan dia peluk-peluk mama aku lagi.” 

Tiara mulai menangis, ia tak rela berbagi pelukan dan perhatian Dinda dengan yang lain. 

Fokus dan konsentrasi Dokter Angga terpecah, padahal sebelumnya ia tengah mengamati wajah Alisha yang mirip dengan wajah Dinda. 

Cukup lama Tiara mengajukan aksi protes, karena ternyata, papanya lebih membela Alisha keyimbang memenangkan dirinya. 

“Ada keributan apa ini?” 

Entah sejak kapan Dokter Candra ada di sana, wanita itu terlihat letih setelah pulang kerja. “Mami—” cetus Alisha ketika melihat Kedatangan sang mami. 

“Sini, Sayang,” kata Dokter Candra, bibirnya  tersenyum tapi ia tak suka melihat Alisha yang bergelayut manja di pelukan Dinda. 

“Maaf, ya, karena saya telat menjemput. Jadi merepotkan semua.” 

“Nggak, kok. Sama sekali nggak merepotkan,” sahut Dinda, malahan saya senang bisa menemani Alisha menggambar, gambarnya sangat bagus,” puji Dinda yang semakin membuat Dokter Candra tak suka. 

Tapi ia tak bisa serta-merta mengatakan isi hatinya, apalagi ia masih berstatus sebagai dokter pengganti untuk Eyang Tuti, nenek mertua Dinda. “Terima kasih atas pujiannya. Memang benar Alisha suka menggambar, terutama menggambar pakaian.” 

Ucapan Dokter Candra membuat Dinara dan Dokter Angga tertegun. Tapi, mungkin itu hanya perasaan mereka saja, sebuah kebetulan, karena di luaran sana yang memiliki bakat seperti Dinda cukup banyak. 

“Papa, bilang sama maminya, biar anaknya gak ambil mama aku.” Masih dengan rengekan, Tiara meminta tolong pada papanya agar Alisha jangan lagi mendekati Mama Dinda. 

Dokter Angga sampai tak enak hati, begitu pula Dinda yang sedang diperebutkan. Namun, wanita itu berusaha tetap tenang dalam mengontrol emosinya. 

“Sayang, nggak boleh bilang begitu, Mama Dinda kan—”

“Ah, gak mau tahu, pokoknya nggak ada yang boleh deket-deket Mama!” Teriakan Tiara kian menjadi. 

Maklum saja, ia selalu menjadi tuan putri di rumahnya, dimanjakan papa, kakek, nenek, serta orang-orang di sekitarnya dengan alasan kasihan karena mamanya sudah meninggal sedari ia lahir ke dunia. Hasilnya? Tiara merasa bahwa manjanya adalah sebuah sikap yang benar dan wajar. 

“Dok, tolong jangan diambil hati, ya?” kata Dinda merasa tak enak pada maminya Alisha, yang secara tidak langsung memberi pembelaan pada Tiara. 

Tapi Dokter Candra tak menanggapi, ia justru pamit dan bergegas membawa Alisha pulang. “Kami pamit pulang dulu, ayo, Sayang, kita pulang.” 

Alisha mengangguk, meski hatinya berat  meninggalkan Dinda. 

Melihat kepergian Dokter Candra dan Alisha, Tiara pun merosot dari gendongan papanya, dan berpindah memeluk Dinda. Padahal Dinda masih belum bisa melepaskan pandangan dari Dokter Candra dan Alisha. 

“Mama,” kata Tiara manja. 

Dinda tersenyum, meski hatinya belum rela mengakhiri kebersamaan dengan Alisha. Entah kapan ia bisa berjumpa lagi dengan gadis kecil itu, sebab tidak mungkin ia mendatangi sekolah milik Dinara setiap hari. 

“Dind, aku titip Tiara sebentar, ya.” Tanpa menunggu kesediaan Dinda, Dokter Angga berjalan cepat menyusul Dokter Candra guna meminta maaf atas ucapan putrinya. 

Selepas kepergian Dokter Angga, Dinda menunduk menatap Tiara. 

“Lain kali, tidak boleh bersikap seperti tadi, ya? Itu tidak sopan, dan Mama juga gak suka.” 

Tiara mencebik, kesal, tapi bila sang mama yang menasehati, ia tak bisa melawan, atau membantah. Jadi Tuara hanya bisa mengangguk. 

“Tuh, lihat, papa jadi harus minta maaf pada maminya Alisha. Padahal siapa tadi yang bersikap tidak sopan?” 

“Aku.” 

Dinda berlutut di depan Tiara, lalu memeluknya erat. “Mama suka, kalau Tiara bersikap sopan. Pada siapa pun, kita harus sopan, paham, Sayang?” 

Tiara mengangguk, Dinda merapikan rambut gadis kecil itu, lalu mengusap air matanya juga. 

Dinda kembali menoleh ke arah Dokter Angga dan Dokter Candra yang masih bicara, entah apa yang mereka bicarakan. 

“Dind, ada yang nyari, nih?” Dinara mengangkat telepon genggamnya. 

“Siapa?” 

“Pangeranmu.”

Dinda menatap jengah sahabatnya itu. “Halo, Mas.” 

“Aku otewe ke sana, jangan kemana-mana.” 

“T-tapi—” 

“Nggak ada tapi, pokoknya tunggu aku di sana.” 

“Hmm.” 

Dinda mengembalikan ponsel milik Dinara, tak lama kemudian Dokter Angga kembali. 

“Oh, iya, Mas ada perlu apa kemari?” tanya Dinda, mencoba bersikap biasa, membuktikan bahwa mereka masih bisa berteman, tanpa harus menjalin hubungan lebih. 

“Tiara ingin sekolah, ya, kupikir tidak ada salahnya masuk playgroup, toh sebentar lagi ia juga mulai masuk TK.” 

Namun, belum sempat mereka bicara banyak, mobil milik Bagas sudah tiba di halaman sekolah. Dari wajahnya Dokter Angga terlihat tak suka, padahal Bagas datang sendiri tanpa diminta oleh Dinda. 

“Tadinya aku mau ke butik, tapi pas lihat status Dinara, aku langsung menelponnya,” kata Bagas sesaat setelah tiba di dekat Dinda. 

Dinda hanya diam, tersenyum tipis sekedar menghormati Bagas yang sudah datang menjemputnya. “Kamu masih lanjut balik ke butik, atau mau langsung pulang?” 

“Langs—” Kalimat Dinda terputus sebab Bagas tiba-tiba menyingkap rambut yang membelit lehernya, serta membetulkan letak kalung baru Dinda. 

Modus yang sangat disengaja agar Dokter Angga melihat bahwa Dinda sudah memiliki kalung dengan model dan bentuk yang sama dengan yang ia beli tempo hari. 

Dokter Angga tak bisa menutupi keterkejutannya, padahal pria itu bermaksud menghadiahkan kalung tersebut di hari ulang tahun Dinda bulan depan. Tapi Bagas sudah mendahuluinya, bahkan tanpa sengaja Dokter Angga juga melihat ada cincin yang melingkar di jari tangan Bagas begitu pula di tangan Dinda. 

Apa maksud semua ini? Apakah kali ini ia benar-benar kehabisan langkah? 

1
vania larasati
lanjut
Felycia Fernandez
mulai ke bongkar...
Shee_👚
😭😭😭😭😭
ko ya ikut bahagia
Shee_👚
ada gak baju yang punya abel ya
Shee_👚
apa disini alisya bakalan ngenalin baju²nya dia, siapa tau ada baju yang sama saat ketemu sama dokter candra
Shee_👚
nah mulai mode soang dah🤣
Shee_👚
biar dapet restu ya gas🤣
Shee_👚
silahkan membusuk di penjara😤
Shee_👚
jelas aku juga bakalan nganan kaya dara🤣
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss
Bunda Aish
nah, semoga ini jadi jalan untuk memastikan Alisha adalah Abel
hasana
akhirnya
Esther
Masih ingat baju yg dipakai Abel saat terakhir kali ya Dinda.
vania larasati
lanjut
Sh
Moon jahat atau baik ? dulu Miranda ,bapak dan emaknya masuk penjara, tapi berhasil hidup menjadi wanita yang baik... Apakah anak Livia dibuat kejam sengsara hidupnya, atau masih membuktikan orangtua tidak baik, anak belum tentu tidak baik juga... kita tunggu kebaikan atau ketegaan Moon terhadap anak Livia
moon: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

aku separuh medusa 🐛 separuh dewi kwan im... 😇
total 1 replies
muthia
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Linda Yohana
Bagus jalan cerita novelnya
Shee_👚
dah segitu jelasnya dan banyak sakti serta bukti malah masih ngeyel. bener2 si igun gak ada hatinya sama sekali😤😤
Shee_👚
mampus, biar pecah sekalian itu hati, percuma di kasih hati malah gak tau diri😤😤
Patrick Khan
iblis kau igun🤬🤬🔨
Patrick Khan
pertanyaan q kemana abel🤔🤔🤔😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!