Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.Balas Budi Telah Lunas
Beberapa orang yang sedang melintas mulai melirik ke arah mereka.
Vira tetap berdiri tegak di belakang etalase tokonya. "Aku berubah karena akhirnya aku sadar."
"Sadar apa?" tanya Daril tak sabar.
"Sadar kalau rasa terima kasih bukan alasan buat ngorbanin seluruh hidupku."
Daril terdiam, lidahnya terasa kelu.
Vira kembali melanjutkan dengan nada suara datar. "Kamu memang pernah menyelamatkan nyawaku. Aku gak pernah ngelupain itu."
Vira menatap pria di depannya itu dalam-dalam. "Tapi nyelametin nyawaku bukan berarti kamu berhak nentuin masa depanku."
Setiap kata yang diucapkan Vira terasa seperti tamparan keras bagi Daril. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan asing.
Ia masih melihat wajah yang sama. Namun perempuan yang berdiri di depannya bukan lagi Vira yang selalu mengangguk dan mengiyakan semua keinginannya.
Daril masih berdiri di depan toko Vira beberapa saat. Ia mencoba membujuk lagi.
"Ra, kita sudah empat tahun bersama. Masa semuanya selesai begitu saja?"
Namun Vira malah melayani pelanggan yang baru datang, seolah Daril hanyalah orang biasa.
"Beli apa, Bu?" tanya Vira sopan.
"Telur, Ra," sahut ibu tersebut. "Boleh Ibu milih sendiri gak?"
"Oh, boleh, Bu," jawab Vira. "Nanti naikkan saja di timbangan digital ini." Vira menunjuk timbang di atas etalase.
Ibu itu menatap timbangan itu, lalu mengangguk kecil.
Daril yang diabaikan merasa harga dirinya terluka.
"Kamu pasti akan menyesal, Ra," ucap Daril dengan rahang mengeras.
Vira menatap.pria itu lurus. Seketika senyum ramah pada pelanggan tadi hilang. "Aku gak akan pernah menyesali keputusanku hari ini."
Dalam hati ia melanjutkan, "Keputusan yang seharusnya aku buat di kehidupan sebelumnya. Agar aku gak mati di tangan orang yang tak seharusnya aku cintai."
Ibu-ibu yang sedang memilih telur melirik sekilas. Ia mendengar waktu Daril berkata, ''Ra, kita sudah empat tahun bersama. Masa semuanya selesai begitu saja?'
Dalam hati ia bergumam. "Mereka beneran putus?"
Daril kehilangan kata-kata. Ia menatap Vira beberapa saat, lalu berbalik meninggalkan toko dengan langkah lebar penuh amarah. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kalau memang ada laki-laki lain..." gumamnya pelan. "Akan kucari tahu siapa orangnya."
Sementara itu, Vira memandangi punggung Daril hingga menghilang di tikungan Dadanya terasa sesak. Perlahan, ia mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya..." Sudut matanya mulai memanas. "Aku berhasil mengatakan tidak."
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, tetapi bibirnya melengkung ke atas. "Kali ini aku akan hidup buat diriku sendiri."
***
Daril pulang dengan kepala masih dipenuhi kejengkelan. Ia tak menyangka Vira yang selama ini selalu memenuhi permintaannya tiba-tiba berubah. Yang paling sulit ia terima, gadis itu bahkan mengakhiri hubungan mereka.
Begitu masuk ke rumah, Daril langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Wajahnya kusut seperti baru saja kalah judi miliaran rupiah.
"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Mirna yang baru keluar dari dapur.
Daril mengembuskan napas kasar. "Vira gak mau kasih aku modal, Bu."
Mirna mengernyit.
"Jangankan modal," lanjut Daril. "Dia malah mutusin aku. Katanya balas budinya sama aku udah kelar."
"Apa?" Mata Mirna membelalak. "Sampai mutusin kamu?"
Daril mengangguk lemas.
Mirna langsung mendecak kesal. "Ibu sudah bilang. Pasti ada laki-laki lain." Ia meremas ujung dasternya. "Apa dia gak ingat, kalau bukan karena kamu dulu menyelamatkannya, dia pasti sudah mati. Sekarang setelah punya uang, dia malah lupa diri."
Daril mengusap wajahnya frustrasi.
"Terus aku harus gimana, Bu? Sekarang aku gak punya kerjaan. Masa aku harus jadi ojol? Yang bener aja. Aku ini lulusan S-1."
Mirna menatap putranya beberapa saat. "Memangnya kenapa kalau jadi ojol? Yang penting dapat uang."
Daril langsung menggeleng. "Ya malulah, Bu. Kalau ujung-ujungnya jadi kang ojek, ngapain aku kuliah?""
Mirna mendesah panjang. "Malu gak bakal bikin kita kenyang, Ril."
Kalimat itu membuat Daril terdiam.
"Selama ini beras, minyak, gula, bahkan uang berobat Ibu banyak dibantu Vira. Kalau sekarang dia benar-benar berhenti membantu, kita mau makan apa?"
Bahu Daril langsung merosot. "Aku juga gak tahu."
Ruangan itu mendadak dipenuhi keheningan. Keduanya sama-sama memikirkan bagaimana cara bertahan hidup... dan bagaimana agar Vira mau membantu mereka lagi.
Beberapa saat kemudian, Mirna membuka suara. "Kalau menurut Ibu, kamu awasi saja Vira."
Daril mengangkat kepala.
"Cari tahu kenapa dia berubah,". lanjut Mirna. Ibu yakin pasti ada penyebabnya."
Rahang Daril mengeras. "Nanti akan kucari tahu. Siapa pun yang membuat Vira berubah seperti ini, aku gak akan tinggal diam."
"Tapi..." Ia mengembuskan napas berat. "Sebelum itu, kita harus cari uang dulu."
***
Kabar tentang putusnya Daril dan Vira menyebar di desa seperti puntung rokok jatuh di hutan jati yang sedang meranggas.
Di teras rumah salah satu warga, beberapa ibu-ibu sedang duduk sambil menganyam tas plastik.
"Kalian dengar belum? Vira sama Daril putus."
"Hah? Serius? Bukannya mereka sudah lama dekat?"
"Iya. Katanya yang mutusin malah Vira."
"Lho, kok bisa? Setahuku Vira sayang banget sama Daril."
"Itu, 'kan, dulu."
"Kalau dipikir-pikir, memang sudah lama juga Vira yang terus membantu keluarga Daril."
"Iya. Tiap bulan ngirim beras, minyak, gula. Belum lagi uang berobat buat Mirna."
"Aku juga dengar Vira sampai gak jadi kuliah supaya Daril tetep bisa menyelesaikan kuliahnya."
"Bener. Daril hampir putus kuliah karena ayahnya meninggal."
"Kasihan juga, ya Vira."
"Sekarang Daril sudah lulus setahun lebih, tapi masih belum punya pekerjaan tetap."
"Kalau terus begitu, siapa yang tahan?"
Salah seorang ibu tertawa kecil.
"Kalau aku masih punya anak bujang, sudah kusuruh cepat-cepat deketin Vira."
"Ya jelas. Cantik, baik hati, punya toko, rumah sendiri lagi."
"Yang paling penting rajin dan gak sombong."
"Iya. Menantu seperti itu susah dicari."
Seorang ibu yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.
"Menurutku, justru sekarang Vira sudah sadar. Perempuan juga capek kalau terus memberi, sementara yang diberi tidak berusaha berubah."
Semua mengangguk setuju.
"Semoga saja Vira dapat jodoh yang lebih baik."
"Sayang ya, di kampung ini pemuda yang benar-benar rajin cuma sedikit."
Lalu seorang ibu menjawab, "Ada, sih. Arvin."
Ia menunjuk ke arah rumah di seberang jalan. Di halaman rumah itu, Arvin tampak mengangkat karung-karung pasir seorang diri. Ibu-ibu yang lain ikut menoleh ke arah pemuda itu.
"Kasihan anak itu," gumam salah seorang dari mereka. "Orangnya pekerja keras, cuma nasibnya saja yang berat."
Sejenak, tak ada lagi yang berbicara. Suara anyaman plastik kembali mendominasi teras rumah itu.
Tiba-tiba, suara seorang bocah terdengar dari jalan depan.
"Kak Arvin!"
Semua menoleh.
Bocah itu berlari kecil sambil melambai-lambaikan tangan.
"Kak Arvin, Kak Vira nyariin! Disuruh datang ke toko sekarang!"
Sontak para ibu saling berpandangan.
"Vira nyari Arvin?"
"Ada urusan apa, ya?"
Di sisi lain, Arvin yang baru saja selesai mengangkat karung pasir tampak ikut tertegun mendengar panggilan itu.
Arvin mengernyit bingung. Seingatnya, ia dan Vira bahkan belum pernah berbincang lebih dari beberapa kalimat. Lalu... untuk apa gadis itu mencarinya?
...✨"Balas budi memiliki akhir, tetapi harga diri tidak boleh ikut dikorbankan."...
..."Tidak semua orang yang pernah menolongmu berhak menentukan masa depanmu."...
..."Keberanian terbesar bukan mempertahankan hubungan yang salah, melainkan berani mengakhirinya."...
..."Kesempatan kedua adalah hadiah untuk memperbaiki pilihan, bukan mengulang penderitaan."✨...
.
To be continued
Duh jangan sampai berhasil misinya si Yanti dan si Daril yang mau mencelakai Vira...semoga ada warga yang kebetulan lewat depan rumah Vira..ato Pak RT yang lagi keliling,biar kejahatan si Datil dan si Yanti terciduk.
Vira orang baik pasti Alloh melindungimu Ra...
Si Kutu Kupret bener² manfaatin Vira jadi Pahlawan,padahal kenyataannya Bohong,baru terungkap kebenarannya.
Jangan bilang apa yaa..?
sepertinya Vira benar-benar akan jatuh Cinta sama Arvin
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga