Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Obsesif
"mengurusi mu sepenuhnya, sampai napas terakhirku," lanjut Aiden, suaranya terdengar lembut di telinga Alesha, tapi setiap kata terasa seperti paku yang dipaku perlahan ke dalam hatinya.
Ia tetap memeluk tubuh Alesha yang menggigil hebat, sementara gadis itu hanya bisa terisak pelan, tidak mampu melawan atau bahkan berteriak lagi karena rasa sakit yang menjalar tak tertahankan. Di luar dinding rumah itu, malam masih sunyi dan gelap, tapi di dalam ruangan ini, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada kegelapan apa pun.
Kurang dari dua puluh menit, dokter pribadi yang sudah lama dipercaya Aiden tiba dengan perlengkapan lengkap. Ia bekerja dengan tenang, tidak banyak bertanya, seolah sudah terbiasa menangani kejadian-kejadian aneh di dalam mansion megah ini. Setelah memeriksa dengan teliti, memutar dan meraba kaki yang bengkak serta tertekuk tidak wajar itu, dokter itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi serius.
"Tulang kering dan tulang betis kaki kanan patah melintang parah, Tuan. Ada juga kerusakan pada jaringan sendi dan pembuluh darah di sekitarnya. dan masa pemulihannya akan sangat lama — berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dan saya harus jujur... kemungkinan besar dia tidak akan bisa berjalan normal lagi seperti sedia kala. Paling banter hanya bisa menggerakkannya sedikit, tapi untuk berdiri dan melangkah sendiri, peluangnya sangat kecil. Selama masa itu, dia harus menggunakan kursi roda untuk semua keperluannya."
Berita itu seperti petir di siang bolong bagi Alesha. Matanya terbelalak lebar, air matanya kembali membanjir deras, kali ini bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi karena rasa hancur yang menyelimuti seluruh jiwanya. Baginya, kaki yang rusak ini bukan hanya luka di tubuh — tapi juga tanda bahwa pintu harapannya untuk kabur, untuk kembali bersekolah, dan hidup bebas seperti dulu, seolah tertutup rapat dan dipaku mati.
Namun reaksi Aiden justru sangat berbeda. Tidak ada ekspresi kaget, tidak ada ratapan sedih yang tulus. Sebaliknya, setelah mendengar penjelasan dokter itu,sudut matanya bahkan terlihat kilatan kepuasan yang samar namun nyata. Ia mengangguk pelan, lalu menepuk bahu dokter itu dengan nada tenang yang terasa tidak wajar.
"Lakukan apa yang harus dilakukan, biayanya tidak masalah. Yang paling penting, pastikan dia tidak merasakan sakit yang berlebihan, dan semua laporan disimpan rapat-rapat — tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutmu ke telinga orang lain. Mengerti?" perintahnya dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.
"Siap, Tuan," jawab dokter itu segera.
Aiden kembali berlutut di samping Alesha, memegang kedua bahunya dan memaksanya menatap lurus ke matanya. Tatapan laki-laki itu begitu dalam, penuh rasa memiliki yang meluap-luap, dan dibalut dengan kata-kata manis yang justru terasa seperti racun.
"Dengar baik-baik sayang, gadis manis ku... lihatlah apa yang terjadi ketika kau mencoba melawan kehendak Aku? Kau sendiri yang membuktikan bahwa kau tidak sanggup menghadapi dunia luar, tidak sanggup menjaga dirimu sendiri. Bahkan langkah kecil menuju kebebasan saja sudah melukaimu begini parah," ucapnya pelan, tapi setiap kalimatnya menusuk hati Alesha lebih dalam daripada jarum suntik sekalipun.
Ia mengangkat tangan Alesha yang dingin dan gemetar, mencium punggung telapak tangannya lama sekali sebelum melanjutkan suaranya yang terdengar seperti bisikan iblis yang menyamar sebagai malaikat:
"Tapi jangan takut, Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendirian. Justru karena kejadian ini, sekarang kau tidak punya alasan lagi untuk pergi, bukan? Kaki ini butuh perawatan terus-menerus, butuh diangkat, dibersihkan, dipijat, dipakaikan obat, dan dibawa ke mana-mana. Siapa lagi yang bisa melakukannya selain Aku? Dulu Dedy dan Mami membiarkanmu tumbuh dan berjalan sendiri sampai kau punya keinginan bodoh itu. Tapi Aku akan memastikan kau tidak perlu melangkah lagi ke tempat yang bisa mencelakakan dirimu, ucap Aiden
Alesha hanya bisa terisak tanpa suara, bibirnya bergetar ingin membantah, ingin berteriak bahwa ini bukan keinginannya, bahwa ini adalah kecelakaan yang terjadi karena dia kaget mendengar suara Aiden — tapi tenggorokannya terasa kering dan tertutup rapat oleh rasa takut dan sakit yang luar biasa. Ia sadar, mulutnya sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan kata-kata laki-laki yang sedang mengikat nasibnya ini.
...............
Setelah operasi selesai dan masa pemulihan awal berjalan selama dua minggu, Alesha akhirnya dipindahkan kembali ke kamarnya sendiri, namun dengan perubahan besar. Di samping tempat tidurnya kini terpasang kursi roda yang empuk namun kokoh, seluruh sudut kamar dan lorong diubah agar mudah untuk dilalui, dan jadwal hidup Alesha kini diatur jauh lebih ketat dan rinci daripada sebelumnya.
Setiap pagi, Aiden sendiri yang datang membangunkannya, mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya yang kuat dan menggendongnya untuk di duduk kan di kursi roda, lalu memandikannya, memakaikan pakaian yang dipilihnya sendiri, menyisir rambutnya, dan menyuapi makanan serta obat sampai habis. Semua dilakukan dengan gerakan yang sangat hati-hati, lembut, dan penuh perhatian — seolah Alesha adalah harta karun paling rapuh yang pernah ada. Namun di balik semua itu, pengawasannya menjadi seribu kali lebih ketat.
Tidak ada lagi guru privat yang datang ke rumah itu. Aiden menghentikannya dengan alasan yang terdengar masuk akal:
"Untuk apa belajar lagi sekarang, sayang? Pikiranmu harus tenang sepenuhnya demi kesembuhan kakimu. Jangan dipenuhi hal-hal yang hanya akan membuatmu tertekan dan ingin bergerak jauh lagi. Nanti kalau sudah cukup pulih, Aku sendiri yang akan mengajari apa saja yang perlu kau ketahui — hanya hal-hal yang aman dan tidak membuat pikiranmu melayang ke tempat yang berbahaya," katanya sambil memijat lembut kaki yang dibalut perban itu.
Alesha hanya bisa diam dan menerima semuanya. Setiap kali ia mencoba menggerakkan jari kakinya sekadar merasakan apakah masih ada harapan, ia hanya mendapatkan rasa sakit yang menusuk. Dan setiap kali ia melirik ke luar jendela, melihat anak-anak lain berjalan lincah membawa tas sekolah, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Ia mengingat kembali hidupnya yang dulu — meski kaya dan dijaga orang tua, ia masih bisa melangkah, masih bisa duduk di dalam kelas, masih punya mimpi untuk berdiri sendiri suatu hari nanti. Sekarang, bahkan kemampuan untuk berdiri saja sudah direnggut darinya — dan yang paling menyakitkan, Aiden justru menganggap ini sebagai anugerah bagi hubungan mereka.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan menyinari ruangan dengan cahaya keemasan yang redup, Aiden mendorong kursi rodanya sampai tepat di depan jendela besar itu. Ia berdiri di sampingnya, meletakkan satu tangan di bahu Alesha dan tangan lainnya menempel di kaca jendela seolah menutup seluruh pandangan dunia luar itu dari gadis itu.
"Lihatlah, gadis manis ku... sekarang kau tidak perlu berjalan lagi untuk melihat apa yang ada di luar sana. Cukup duduk di sini, dan Aku akan membawa matamu ke mana saja yang kau mau. Dulu kau pikir kebebasan adalah melangkah sendiri, tapi Aku ajarkan kebebasan yang sesungguhnya: tidak perlu khawatir jatuh, tidak perlu takut tersesat, tidak perlu bergantung pada kaki yang lemah — cukup bergantung sepenuhnya pada Aku saja," ucapnya dengan suara yang dalam dan penuh keyakinan.
Ia berlutut lagi setinggi mata Alesha, lalu menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang bercampur rasa sayang, kepemilikan mutlak, dan obsesi yang tidak lagi disembunyikan.
"Jangan pernah berpikir untuk kabur lagi, mengerti? Setiap kali kau mencoba lepas, takdir akan membawamu kembali ke pelukan Aku dengan cara yang lebih meyakinkan. Sekarang kakimu menjadi sakti, dan hatimu seharusnya mulai mengerti — dunia ini terlalu kejam untuk gadis selembut dirimu. Satu-satunya tempat yang aman, hangat, dan mencintaimu tanpa syarat adalah di sisi Aku. Mulai hari ini, dunia kita hanya terdiri dari dua orang saja: kau dan Aku. Tidak ada sekolah, tidak ada teman, tidak ada masa lalu bersama Dedy dan Mami yang bisa membuatmu lupa. Hanya kita berdua, selamanya, ucap Aiden menatap menik mata berkaca kaca Alesha
Alesha menundukkan wajahnya, air matanya jatuh membasahi selimut yang menutupi kakinya yang tidak bisa digerakkan itu. Ia sadar sepenuhnya sekarang: jatuhnya dari tangga itu bukan hanya merusak tulang kakinya, tapi juga menjadi alasan sempurna bagi Aiden untuk mengunci seluruh pintu dan celah yang tersisa. Semua sikap lembut, semua perhatian tanpa batas, hanyalah bungkus indah untuk sebuah rantai yang sekarang terikat jauh lebih kuat, lebih erat, dan tidak akan pernah bisa diputuskan lagi.
Mimpi untuk kembali bersekolah, berjalan bebas, dan hidup seperti anak-anak biasa yang dulu ia miliki meski hidup dalam keluarga kaya — kini hanya menjadi kenangan jauh yang perlahan akan terkubur di bawah bayang-bayang cinta yang buta dan obsesi yang tak berujung dari sosok yang memanggil dirinya sebagai Aiden seorang yang paling berkuasa, semua orang akan tunduk padanya
Bersambung
Thank you yang sudah baca cerita oyen 😊