bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ruangan itu terdiam total, hanya suara pendingin udara yang bersenandung pelan di latar belakang. Ketegangan berubah menjadi rasa canggung yang luar biasa, membekukan setiap gerak tubuh orang di dalam ruangan tersebut.
Dinda menyadari bahwa kehadiran Arga justru menjadi pisau bermata dua yang sangat berbahaya. Di satu sisi, pria itu berhasil menghentikan penyelidikan para direktur, namun di sisi lain, ia telah memberikan senjata mematikan kepada dewan direksi yang sangat konservatif.
Jika mereka melihat celah perpecahan dalam rumah tangga mereka, warisan dua ratus triliun itu akan melayang selamanya.
Ia menarik napas panjang, mencoba menata ekspresi wajahnya kembali menjadi
profesional.
Dinda melirik ke arah Arga yang kini sedang merapikan dasi dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu memang ahli dalam menciptakan badai dan kemudian
berpura-pura menjadi orang yang paling tenang di tengah kerusuhan. Dinda harus segera bertindak sebelum kontrol atas perusahaan benar-benar lepas.
Sambil merapikan setelan jasnya yang sedikit kusut, Dinda melangkah pelan menuju
jendela ruang rapat. Ia butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya yang sedang
kacau. Di luar sana, kota Jakarta bersinar terang dengan lampu-lampu gedung pencakar langitnya. Nadira, yang berada dalam tubuh Clarissa, mulai menyusun strategi baru untuk menghadapi suami yang tidak terduga sifatnya itu.
Napas Dinda mengencang saat melihat Arga yang masih berdiri di sana, menjaga jarak
dengan tenang namun memberikan perlindungan fisik yang nyata. Beberapa meter di belakang mereka, Dinda mulai berdebat dengan nada tinggi, berusaha mengalihkan pembicaraan kembali ke masalah warisan. Ia menyerang secara verbal, mencoba memprovokasi sisi emosional mereka agar kehilangan kesabaran di depan notaris.
Matanya menyipit tajam, menunggu satu kesalahan kecil yang bisa meruntuhkan
kewarasan Nadira.
Nadira mendengus pelan, mengepalkan tangan di balik lipatan rok mahalnya. Godaan
untuk membalas cacian Dinda dengan kemarahan yang sama sangat besar, hampir tak tertahankan. Jika ia meledak sekarang, semua perencanaan matang akan hancur dalam sekejap.
Ia menarik napas panjang, menahan amarah yang mulai membara di ulu hati. Fokus utamanya adalah tetap pada tujuan akhir, yaitu mengamankan aset senilai ratusan
triliun tanpa kehilangan harga diri di depan publik.
Saat ketegangan mencapai puncaknya, Arga melangkah maju. Tanpa menoleh, ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Nadira. Suaranya sangat pelan, hampir tak
terdengar oleh orang lain, memberikan saran taktis yang mengejutkan tentang cara
menghadapi taktik kotor Dinda.
Arga menyarankan untuk membiarkan Dinda terus berbicara hingga ia terjebak dalam kebohongannya sendiri. Nadira mengangguk pelan, mengerti bahwa suaminya kini berada di pihaknya, meski dengan cara yang tidak
konvensional dan penuh dengan ketidakpastian.
Seketika, suasana di ruangan itu berubah drastis. Dinda, yang tadinya terlihat begitu
percaya diri, tiba-tiba terdiam. Matanya menatap kosong ke arah selembar dokumen yang baru saja diberikan oleh asisten legal. Wajahnya yang pucat kini tampak memerah karena rasa malu dan kemarahan yang tertahan. Ternyata, taktik yang disarankan Arga tadi bukan sekadar mitos belaka.
Pengkhianatan yang Terungkap terdengar suara kertas robek yang sangat keras memecah keheningan. Dinda baru saja
menyadari bahwa salah satu poin dalam surat wasiat asli telah diubah secara sepihak
olehnya sendiri. Ini adalah identitas terbalik yang nyata, di mana ia yang menuduh Nadira
jahat, justru tertangkap basah melakukan manipulasi.
Dinda mundur selangkah, tubuhnya
gemetar hebat karena menyadari bahwa ia baru saja menggali kuburnya sendiri di depan seluruh anggota keluarga. Ia tidak bisa lagi mengelak karena tanda tangannya tertera jelas di dokumen palsu tersebut.
Nadira menatap Dinda dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba. Dalam hatinya, ia
merasa sangat puas melihat keruntuhan itu, namun ia tetap menjaga wibawa sebagai
wanita bangsawan. Kini, ia memiliki senjata pamungkas yang tidak hanya akan melucuti
hak waris Dinda, tapi juga menghancurkan reputasinya selamanya. Arga meletakkan
tangannya di bahu Nadira, memberi isyarat bahwa inilah saat yang tepat untuk
memberikan pukulan terakhir.
"Kamu pikir kamu bisa sembarangan mengubah kehendakmu?" tanya Nadira dengan suara rendah yang menggetarkan dada. Dinda tidak bisa menjawab, hanya bisa menundukkan kepala karena malu. Risiko dari keputusan Dinda malam ini sangatlah mahal, ia tidak hanya kehilangan uang, tapi juga tempat tinggal dan nama baik. Ini adalah konsekuensi yang nyata dan menyakitkan, sebuah luka keras yang tidak akan bisa disembuhkan oleh waktu.
Arga kemudian melangkah maju, menatap tajam ke arah Dinda yang sudah gemetar
ketakutan.
"Keluarga ini sudah cukup dipermalukan oleh ulahmu," ucapnya tegas. Ia kemudian menarik Nadira pergi dari ruangan itu, meninggalkan Dinda dalam kehancurannya sendiri.
Nadira merasa lega, namun ia tahu bahwa perang belum sepenuhnya usai. Ada langkah besar lain yang harus diambil untuk memastikan bahwa aset tersebut benar-benar aman di tangannya.
Malam itu, Nadira dan Arga berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang rapat pribadi. Nadira menyadari bahwa kerja sama mereka berdua kini menjadi kunci utama keselamatan masa depannya. Meskipun ada rasa tidak percaya yang masih mengendap, ia mulai melihat Arga sebagai sekutu yang setara. Mereka harus segera merumuskan rencana baru sebelum Dinda menemukan cara lain untuk melawan.
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu kayu jati yang berat. Nadira menarik napas
dalam, menyiapkan mentalnya untuk pertarungan strategi berikutnya.
"Kita butuh rencana yang lebih kuat dari ini," bisik Nadira, menatap Arga dengan determinasi baru di matanya.
Suaminya hanya mengangguk, memegang gagang pintu yang dingin. Mereka berdua tahu bahwa untuk mendapatkan warisan dua ratus triliun itu, mereka harus rela melakukan apa saja, bahkan jika itu berarti harus menghancurkan sisa hubungan keluarga yang sudah sangat rapuh.
Nadira mencengkeram lengan baju Arga dan menyeretnya keluar dari ruang rapat sebelum
siapa pun sempat menghalangi. Udara di luar ruangan lebih dingin, namun telapak tangan
Nadira terasa lengket oleh keringat.
"Kita tidak bisa bicara di sini," bisiknya cepat, matanya terus memantau keberadaan Dinda di ujung lorong.
Mereka berhenti di sudut belakang dekat jendela besar yang menghadap ke taman kantor. Arga merapikan dasinya yang sedikit melar setelah insiden tadi.
"Apa yang terjadi di dalam sana tadi? Dinda seolah tahu persis poin mana yang akan kita gunakan untuk menjatuhkannya," tanya Arga dengan suara parau.
Nadira menghela napas berat, jemarinya mengetuk-ngetuk kaca jendela.
"Dia punya mata di dalam ruangan itu, Arga. Atau mungkin dia sudah membaca dokumen yang ada di meja ketua komite."
Nadira menoleh, menangkap ekspresi serius di wajah Arga yang biasanya tenang. Arga mengulurkan tangan ke dalam saku dalam jaketnya.
"Kalau begitu, kita juga punya kartu as yang dia tidak tahu." Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis yang sudutnya
sudah sedikit lecek.
"Ini bukan dari kantor, Nad. Ini data luar yang aku dapatkan setelah menyelidiki rekening pribadi sepupunya sendiri."