NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Saat pintu lift terbuka, hawa dingin dan lembap langsung menyergap. Area parkir

basement memiliki aroma yang khas campuran antara bensin, beton basah, dan sisa parfum mahal yang tertinggal di karpet mobil mewah.

Lampu neon di atas sana berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di antara barisan kendaraan gelap.

Arga berjalan lebih dulu, langkah kakinya pasti mengarah ke sebuah jip tua yang terparkir di sudut paling ujung, jauh dari jangkauan kamera pengawas utama.

Nadira mengikutinya dengan hati-hati, melepas sepatunya sebentar untuk memijat kakinya yang pegal, lalu memasukkannya kembali sebelum Arga menoleh.

"Masuk ke mobil," bisik Arga sambil membuka pintu penumpang depan. "Aman bicara di sini."

Nadira menurut tanpa banyak tanya. Ia masuk ke dalam kabin yang pengap, namun terasa

lebih terlindungi. Arga tidak langsung menyalakan mesin. Ia justru merogoh dasbor, mengambil bungkus rokok dan sebuah korek api tua. Api kecil menyala, menyulut ujung

rokok kretek, dan asap tipis mulai memenui ruangan sempit itu.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Nadira, tidak tahan lagi menahan rasa penasaran yang

sejak tadi mengganjal.

"Kamu terlihat gugup sejak tadi di ruang rapat. Padahal kamu yang paling pintar menyusun strategi."

Arga tidak langsung menjawab. Ia menghirup rokoknya dalam-dalam, membiarkan

keheningan mengental di antara mereka berdua. Matanya menatap tajam ke kaca spion, memastikan tidak ada satupun teknisi atau satpam yang melintas di belakang mereka.

Baru kemudian ia berbicara, suaranya rendah dan berat.

"Warisan itu... kakek tidak meninggalkannya begitu saja tanpa jaring pengaman," ucap

Arga pelan.

"Ada dokumen yang selama ini disembunyikan oleh pihak notaris. Aku baru

tahu pagi ini saat kurir mengantarkan map ini ke kantorku."

Ia menyerahkan sebuah map usang yang sampulnya sudah sedikit menguning. Nadira

menerimanya dengan tangan gemetar. Kertas itu terasa berat, bukan karena fisiknya, tapi

karena apa yang mungkin tertulis di dalamnya.

Ia membuka map itu di bawah cahaya lampu dashboard yang redup, matanya menyapu baris demi baris kalimat hukum yang rumit.

"Ini klausul pembatalan?" Nadira membaca dengan suara bergetar. "Jika ahli waris terbukti melakukan tindakan kriminal atau manipulasi data selama proses persidangan, seluruh aset akan dialihkan ke yayasan amal?" tanya Nadira. Arga mengangguk mantap. punggungnya ikut menegang.

"Seseorang di dalam sana mencoba

menjebakmu, Clar. Mereka sengaja memasukkan data palsu ke dalam sistem keuangan perusahaan bulan lalu, dan jejak digitalnya mengarah ke mejamu. Aku yang

menemukannya saat memeriksa server malam ini."

Nadira merasakan darahnya seolah berbalik arah. Dingin. Sangat dingin. Jika ia tidak

hati-hati, bukan hanya warisan dua ratus triliun yang hilang, tetapi juga kebebasannya.

Saudara-saudarinya pasti ada di balik ini semua. Mereka tidak akan membiarkan ia

memenangkan segalanya tanpa perlawanan sengit.

"Apa yang harus kulakukan?" desis Nadira, menatap Arga dengan mata yang mulai

berkaca-kaca namun menolak untuk menangis.

"Jika mereka menemukan dokumen ini di

tanganku, mereka akan membakar gedung ini sebelum aku sempat membuktikan

kebenarannya."

"Kita tidak akan memberi mereka kesempatan," jawab Arga tegas. Ia mematikan rokoknya di asbak kecil, gerakannya kasar dan penuh tekad. "Keputusan akhir harus diambil malam ini juga. Kita harus memindahkan dokumen ini ke brankas luar negeri atau mempublikasikannya secara anonim sebelum rapat besok pagi."

Nadira terdiam. Ini bukan sekadar soal uang atau warisan lagi. Ini soal bertahan hidup. Ia

menatap map usang di pangkuannya, lalu menatap wajah Arga yang serius. Tidak ada

jalan kembali setelah ini. Jika ia salah mengambil langkah, ia akan hancur oleh rahasia yang baru saja ia pegang.

"Bakar saja," bisik Nadira tiba-tiba. "Bakar dokumen ini. Jika mereka tidak punya bukti fisik, mereka tidak bisa menjeratku dengan tuduhan manipulasi."

Arga menatapnya tak percaya.

"Kamu yakin? Itu berarti kamu melepaskan bukti untuk melawan mereka di pengadilan nanti. Kamu akan bermain tanpa kartu as."

"Aku lebih suka bermain tanpa kartu as daripada harus masuk penjara karena kartu itu sendiri," balas Nadira, suaranya kini menguat. "Lakukan, Arga. Sekarang juga. Sebelum aku berubah pikiran."

Arga menghela napas panjang, menatap wanita di sebelahnya dengan rasa hormat yang baru. Nadira memang jahat, atau setidaknya tubuh yang ia tempati ini jahat, tapi ia memiliki nyali yang luar biasa. Tanpa banyak bicara lagi, Arga mengambil pemantik api di dasbor dan menyulut sudut map itu.

Api menyala cepat, menghanguskan kertas-kertas berharga itu menjadi abu kelabu. Cahaya api memoles wajah mereka berdua, menciptakan bayangan dramatis di jendela mobil yang gelap. Bau kertas terbakar bercampur dengan aroma rokok yang masih tersisa, menciptakan suasana yang hampir mustahil bagi orang yang sedang memusnahkan aset triliunan rupiah.

"Sekarang mereka tidak punya apa-apa," ucap Nadira, melihat abu itu beterbangan keluar

dari jendela mobil yang sedikit terbuka. "Kita pulang. Besok pagi, kita akan menghadapi

mereka dengan kepala tegak. Tanpa dokumen, mereka hanya punya rumor."

Arga menatap sisa bara api yang mulai padam di asbak.

"Kamu tahu ini bukan akhir, kan? Mereka akan mencari cara lain. Dan aku khawatir, cara mereka berikutnya tidak akan sesederhana memalsukan data."

Nadira tidak menjawab. Ia bersandar kembali ke kursi, menutup matanya sejenak.

Keputusan telah diambil, dan konsekuensinya harus ia tanggung. Ia mendengar mesin

mobil menyala, dan mobil itu mulai mundur perlahan meninggalkan sudut gelap basement menuju jalan raya yang ramai.

Di cermin spion, bayangan gedung tinggi tempat ia bekerja tadi tampak menjulang angkuh.

Malam ini, ia telah menghancurkan satu senjata, namun ia tahu, perang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia membuka matanya, menatap kegelapan di luar jendela, bersiap untuk ledakan konflik yang akan datang di hari berikutnya.

Lampu jalan di sepanjang jalan tol memercik lewat kaca jendela mobil, menerangi wajah

tegang Nadira yang menunduk di kursi belakang. Ia menggeser tumpukan berkas dari Arga ke pangkuannya, merapikan lembaran kertas yang mulai kusut karena lipatan.

Udara di dalam kabin terasa pengap, bercampur antara aroma parfum mahal Nadira dan bau tajam kertas fotokopi yang baru keluar dari mesin.

"Coba lihat ini, Clar. Angkanya tidak main-main," ucap Arga sambil mencondongkan tubuh dari jok kemudi, matanya mengamati lewat kaca spion dalam.

Nadira menarik napas pendek, jarinya menelusuri baris demi baris mutasi rekening yang tercetak rapi. Setiap transaksi memiliki nominal besar yang selalu berujung di rekening pribadi Dinda, saudara tiri yang selama ini ia curigai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!