Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Penguntit Elisa
Awal Maret, Jalan Pemuda mulai ramai sejak pagi.
Toko tempat Elisa bekerja menjual kacang kering, gula batu, jamur kuping, ebi, dan berbagai bahan masakan yang baunya bercampur menjadi satu. Setiap hari ia menimbang barang, membungkus plastik, mencatat pesanan, dan tersenyum kecil kepada pelanggan tetap.
Elisa suka pekerjaan itu.
Ia tidak perlu bicara terlalu banyak. Tangannya cukup sibuk. Jika ada pelanggan bertanya, ia menjawab pelan. Jika pemilik toko menyuruh, ia mengangguk. Hidup seperti itu sederhana, tetapi membuatnya merasa berguna.
Masalah mulai dari toko seberang.
Di sana ada seorang laki-laki muda bernama Calvin Zhou. Ia bekerja membantu toko alat tulis milik kerabatnya. Awalnya ia hanya sering berdiri di depan toko saat Elisa mengangkat karung kecil.
"Berat? Aku bantu."
Elisa menolak halus. "Tidak perlu. Bisa."
Ia tetap mengambil ujung karung.
"Jangan malu. Perempuan kecil seperti kamu nanti pinggangnya sakit."
Elisa menarik karungnya kembali. Ia tersenyum canggung karena tidak tahu apakah harus marah.
Hari berikutnya, Calvin Zhou datang lagi. Kali ini membawa segelas es teh.
"Untukmu. Cuaca panas."
"Terima kasih, tapi aku sudah minum."
"Simpan saja. Aku khusus beli."
Elisa tidak mengambil. Ia sedang menimbang gula batu, tetapi tangan Calvin Zhou tetap menggantung di depan meja. Pelanggan yang melihat mulai tersenyum-senyum. Elisa merasa wajahnya panas.
"Aku kerja," katanya.
"Aku juga kerja. Kerja melihat kamu."
Beberapa orang tertawa.
Elisa tidak.
Tawa itu membuat punggungnya kaku.
Sejak hari itu, Calvin Zhou semakin sering muncul. Saat Elisa menyapu depan toko, ia pura-pura lewat. Saat Elisa mengangkat kardus, ia mendekat terlalu dekat. Saat Elisa menunduk menulis nota, ia berkata dengan suara cukup keras, "Kalau rambutmu digerai pasti lebih cantik."
Elisa mengikat rambutnya lebih kuat.
Ia mulai memilih berdiri di belakang rak, bukan di depan pintu. Jika harus keluar membuang sampah, ia menunggu pekerja lain lewat. Setiap melihat bayangan dari toko seberang, perutnya langsung menegang.
Tetapi ia masih ragu.
Mungkin orang itu hanya terlalu ramah.
Mungkin ia sendiri yang berlebihan.
Mungkin kalau ia mengadu, orang akan bertanya kenapa ia tidak lebih tegas dari awal.
Sore itu, Calvin Zhou datang ketika toko sepi. Pemilik toko sedang ke gudang belakang. Elisa sedang menghitung stok kacang hijau.
"Besok libur?" tanyanya.
Elisa tidak menoleh. "Tidak."
"Aku tahu jalan makan enak dekat Simpang Lima. Aku antar."
"Tidak."
"Jangan begitu. Aku sudah baik padamu berhari-hari."
Elisa berhenti menulis.
Kata itu membuat dadanya dingin.
Baik.
Ia tidak pernah meminta kebaikan itu.
"Aku tidak mau," katanya lebih jelas.
Calvin Zhou tertawa kecil. "Perempuan kalau bilang tidak kadang artinya malu."
Elisa mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, ia menatap langsung.
"Tidak artinya tidak."
Senyum laki-laki itu menipis. "Galak juga."
Ia pergi, tetapi sebelum keluar, ia mengetuk meja dua kali dengan jari. "Besok aku datang lagi."
Malam itu Elisa pulang dengan langkah cepat.
Di rumah, Margaret sedang memilah catatan belanja di meja makan. Di sampingnya ada kartu nama Hartono dan buku cokelat Jason yang penuh angka. Tetapi saat melihat wajah Elisa, Margaret langsung menutup buku.
"Lisa, sini."
Elisa duduk.
Awalnya ia hanya berkata, "Di toko ada orang aneh."
Lalu kata-kata keluar pelan-pelan. Bantuan yang tidak diminta. Es teh yang tidak diterima. Komentar tentang tubuh dan rambut. Tawa orang. Ajakan makan. Kalimat tentang perempuan yang bilang tidak.
Margaret mendengar tanpa memotong.
Semakin Elisa bicara, semakin jelas bayangan lama di kepala Margaret. Dalam mimpi buruk yang ia bawa dari kehidupan dulu, Elisa pernah terseret oleh laki-laki seperti ini: dimulai dari bantuan kecil, lalu komentar, lalu rasa bersalah, lalu paksaan yang semua orang anggap "urusan muda-mudi".
Dulu Margaret terlambat melihat.
Kali ini tidak.
"Dengar Mama," kata Margaret.
Elisa menunduk. "Aku salah karena dari awal tidak marah?"
"Tidak."
Jawaban itu cepat, keras, dan membuat Elisa mengangkat wajah.
"Kau tidak salah karena sopan. Yang salah adalah orang yang memakai kesopananmu untuk mendorong batas."
Elisa menggenggam ujung baju.
Margaret mengambil selembar kertas kosong. Ia menggambar lingkaran kecil di tengah.
"Ini tubuhmu. Ini waktumu. Ini rasa amanmu. Semua ada batasnya. Orang boleh memberi bantuan, tapi kau boleh menolak. Orang boleh bicara, tapi kau boleh menghentikan. Kalau kebaikan orang membuatmu takut, itu bukan kebaikan."
Elisa menatap lingkaran itu.
"Tapi orang di toko tertawa."
"Orang yang tertawa tidak pulang dengan rasa takutmu."
Kalimat itu membuat mata Elisa merah.
Margaret melanjutkan, "Besok kau katakan di depan pemilik toko: Calvin Zhou, jangan datang mengganggu pekerjaanku. Jangan pegang barangku. Jangan ajak aku pergi. Kalau masih datang, aku lapor."
"Kalau dia marah?"
"Biar."
"Kalau dia menunggu di luar?"
Mata Margaret menjadi dingin.
"Kalau dia menunggu, berarti dia sudah memilih jalan yang lebih pendek menuju masalah."
Elisa mengerti siapa masalah itu.
Ko Jason.
Tetapi Margaret belum menyuruh memukul siapa pun. Ia hanya mengambil kertas kedua dan menulis tiga baris.
Nama: Calvin Zhou.
Toko: alat tulis seberang.
Perilaku: mendekat, komentar tubuh, ajakan paksa, menunggu.
"Mulai hari ini, catat. Tanggal, jam, saksi. Jangan hanya menangis. Orang seperti ini paling takut pada catatan."
Elisa mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya sejak bekerja di Jalan Pemuda, ia merasa rasa tidak nyamannya punya nama.
Keesokan paginya, Elisa melakukan persis seperti yang diajarkan.
Saat Calvin Zhou muncul di depan toko dengan senyum biasa, Elisa berdiri di dekat meja kasir, pemilik toko ada di belakangnya.
"Calvin Zhou," katanya, suaranya gemetar tetapi jelas. "Jangan datang mengganggu pekerjaanku lagi. Jangan bawakan minuman. Jangan ajak aku pergi. Aku tidak mau."
Beberapa pelanggan menoleh.
Wajah Calvin Zhou berubah.
"Aku cuma bercanda."
"Aku tidak suka."
"Kau mempermalukan aku."
"Kau yang membuatku tidak nyaman."
Pemilik toko berdeham. "Kalau mau beli, beli. Kalau tidak, jangan ganggu pegawai saya."
Calvin Zhou pergi dengan wajah gelap.
Sehari itu, Elisa bisa bernapas sedikit lega.
Tetapi saat toko tutup dan langit mulai gelap, ia melihat bayangan laki-laki itu di seberang jalan.
Calvin Zhou tidak mendekat.
Ia hanya mengikuti.
Jaraknya sepuluh langkah.
Lalu delapan.
Lalu enam.
Elisa mempercepat langkah, tangan menggenggam buku catatan kecil dari Margaret.
Di tikungan menuju rumah, ia mendengar suara Calvin Zhou dari belakang.
"Elisa, kita bicara baik-baik."
Kali ini, Elisa tidak menoleh.
Ia berlari.