NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Di Balik Dinding Es

Hari-hari berikutnya membawa perubahan halus namun terasa jelas di kediaman megah itu. Sejak kejadian di kampus, Arga tidak lagi bersikap sedingin es batu seperti sebelumnya. Ia masih bicara singkat, masih mempertahankan wibawanya, tapi tatapannya tidak lagi terasa menusuk atau sekadar menilai barang. Kadang, saat tidak sadar, matanya diam-diam mengikuti gerakan Laras seolah ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja.

Sementara itu, rasa penasaran Laras semakin memuncak. Apa yang membuat Arga membentengi hatinya setebal itu? Mengapa ia begitu takut untuk membuka diri pada orang lain? Jawaban perlahan mulai terkuak melalui percakapan santai dengan Bu Rina, wanita yang paling mengenal sisi gelap masa lalu keluarga ini.

Suatu sore, saat Laras sedang membantu menata bunga di ruang tengah, Bu Rina mendekat dengan senyum lembut. Tangannya pun ikut merapikan tangkai bunga yang agak berantakan.

“Nyonya, akhir-akhir ini saya melihat perubahan pada Tuan Arga. Belum pernah saya lihat dia sesabar ini, bahkan sesekali terlihat melamun sendiri memikirkan sesuatu,” ucap Bu Rina pelan seolah takut didengar dinding.

Laras tersenyum tipis sambil memotong tangkai bunga. “Mungkin hanya kelelahan kerja, Bu. Dia punya banyak tanggung jawab yang berat.”

“Bukan hanya itu, Nyonya,” jawab Bu Rina menggeleng pelan. “Kalau Nyonya ingin mengerti kenapa dia bersikap demikian, Nyonya harus tahu apa yang pernah dia alami. Beliau tidak dilahirkan dingin seperti ini. Kehidupanlah yang membuat hatinya tertutup rapat.”

Laras berhenti sejenak, menatap Bu Rina dengan pandangan memohon penjelasan. “Kalau tidak mengganggu, bolehkah Ibu ceritakan sedikit? Aku ingin mengerti suamiku sendiri, meski awalnya ini hanya perjanjian.”

Bu Rina mengangguk perlahan, matanya berkaca mengenang masa lalu. “Dua puluh tahun silam, Ibu kandung Tuan Arga pergi meninggalkan rumah ini tanpa pesan. Ia kabur membawa hartanya sendiri demi pria lain yang dianggapnya lebih mampu memberikan kehidupan mewah. Ia meninggalkan anak laki-lakinya yang baru berusia tujuh tahun, percaya bahwa suaminya dan anaknya tidak akan bisa memberikannya apa yang ia inginkan.”

Jantung Laras terasa berdenyut kencang mendengarnya. Bayangkan rasa sakit seorang anak yang ditinggalkan oleh orang yang paling dicintainya.

“Belum cukup sampai di situ,” lanjut Bu Rina dengan suara semakin lirih. “Saat dia tumbuh dewasa, Arga pernah jatuh cinta tulus pada seorang wanita. Dia berikan segalanya—perhatian, waktu, bahkan kepercayaan sepenuhnya. Namun ternyata wanita itu hanya menginginkan posisi dan kekayaannya. Saat dia mengalami kemunduran bisnis sementara waktu, wanita itu pun pergi tanpa ragu, bahkan menyebarkan gosip buruk tentangnya untuk melindungi nama dirinya sendiri.”

“Sejak hari itu,” lanjut Bu Rina menghela napas panjang, “Arga bersumpah tidak akan pernah lagi percaya pada perasaan. Dia menganggap cinta hanyalah alat untuk memanfaatkan kelemahan orang lain. Itulah sebabnya dia memilih pernikahan kontrak—dia pikir dengan dasar kesepakatan tertulis, tidak akan ada rasa sakit seperti yang pernah dia rasakan.”

Mendengar penjelasan itu, dada Laras terasa sesak bukan karena takut, melainkan karena rasa iba yang mendalam. Selama ini dia hanya melihat sisi luarnya yang angkuh dan berkuasa, tanpa menyadari bahwa di balik kekuasaan itu tersembunyi luka yang menganga dan belum sembuh sempurna.

“Ternyata dia menyimpan rasa sakit yang begitu besar,” gumam Laras pelan. “Pantas saja dia selalu berpikir semuanya bisa dihitung dengan uang dan kesepakatan. Baginya, perasaan itu tidak bisa dipercaya.”

“Memang begitu, Nyonya,” jawab Bu Rina. “Tapi lihatlah sekarang. Perlahan tapi pasti, ketulusan Nyonya mulai menembus pertahanannya. Hanya saja butuh kesabaran lebih lama untuk mencairkan es yang membeku puluhan tahun lamanya.”

 

Kesempatan untuk membuktikan ketulusan itu datang tak lama kemudian. Selama tiga hari berturut-turut, Arga pulang sangat larut malam, terlihat lelah luar biasa namun tetap memaksakan diri bekerja. Suhu tubuhnya mulai meninggi karena kelelahan yang menumpuk, namun dia menyembunyikannya dengan rapat.

Malam ketiga, Laras terbangun mendengar suara benturan pelan dari lorong. Ia bangkit dan berjalan mengikuti suara itu, mendapati Arga terhuyung dan hampir jatuh saat hendak membuka pintu kamarnya. Wajahnya pucat pasi, dahinya basah oleh keringat dingin, dan napasnya terengah-engah.

“Arga!” seru Laras terkejut dan segera berlari mendekat, menopang tubuh berat pria itu. “Kamu demam! Kenapa tidak bilang saja? Ayo, aku bantu masuk.”

Arga mencoba mengusirnya dengan tenaga yang tersisa. “Tidak perlu… aku baik-baik saja. Pergilah tidur, jangan ganggu…” Namun kalimatnya terputus saat pusing hebat menyerang kepalanya, membuat dia tidak sanggup melawan lagi.

Laras menggeleng tegas, tidak mau mendengarkan penolakannya. “Sekarang bukan soal perjanjian lagi. Kalau kamu sakit, aku merawatmu. Itu hal yang pantas dilakukan oleh orang yang tinggal serumah. Diamlah dan istirahatlah.”

Ia membawanya masuk ke kamar tidur utama Arga yang selama ini jarang ia masuki. Laras segera meletakkan Arga di atas tempat tidur empuk, membuka dasi dan kancing kerah bajunya agar napasnya lebih lega. Ia mengompres dahi dan ketiaknya dengan air hangat, lalu menyiapkan teh madu hangat serta obat penurun demam yang ada di lemari obat.

Sepanjang malam itu, Laras tidak tidur sedikit pun. Ia duduk di samping tempat tidur, memeriksa suhu tubuh Arga setiap jam, mengganti kain kompres, dan memastikan Arga tetap minum air cukup. Sesekali Arga mengigau dalam tidurnya, mengucapkan kata-kata yang terdengar menyakitkan: “Jangan tinggalkan aku… jangan ambil semuanya…”

Mendengar itu, hati Laras terasa teriris. Ia mengusap pelan rambut Arga dengan lembut, suara lembutnya membisikkan penenang. “Tenanglah… aku tidak akan pergi. Tidurlah, semuanya akan baik-baik saja.”

Saat fajar menyingsing, demam Arga perlahan turun. Ia membuka matanya perlahan, merasa tubuhnya terasa lebih ringan namun kepalanya masih sedikit pusing. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Laras yang terlelap bersandar di tepi tempat tidur, matanya terpejam namun tampak lelah sekali, rambutnya sedikit berantakan dan dahinya terlihat berkerut karena khawatir.

Ingatan semalam perlahan kembali. Ia teringat bagaimana Laras tidak mempedulikan rasa lelahnya sendiri, bagaimana tangannya yang lembut mengusap keringatnya, dan kata-kata penenang yang membuat ketakutan di hatinya perlahan hilang. Sudah berapa lama tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan apa pun? Sejak ibunya pergi, ia hanya merasakan kesetiaan yang didasari rasa hormat atau takut pada kekuasaannya saja.

Namun Laras berbeda. Ia tidak memandang Arga sebagai tuan atau bos, melainkan sebagai manusia biasa yang sedang sakit dan butuh bantuan. Rasa hangat yang menjalar di dadanya membuat Arga tertegun. Ia mencoba mengingat kembali prinsip hidupnya sendiri—semua transaksi harus ada imbal balik—namun kali ini logikanya buntu. Ia tidak bisa menemukan apa yang bisa ia berikan setimpal dengan kehangatan yang ia rasakan saat ini.

Gerakan Arga membuat Laras terbangun. Ia langsung menyentuh dahi Arga untuk memeriksa suhunya, matanya menyala lega melihat demamnya sudah turun drastis.

“Syukurlah suhunya sudah turun. Bagaimana rasanya sekarang? Masih terasa pusing?” tanyanya dengan nada khawatir yang tulus.

Arga menatap wajah itu lekat-lekat. “Kenapa kau melakukannya? Tidur semalaman hanya untuk orang yang tidak berjanji memberikan apa pun padamu?” tanyanya pelan, suara paginya terdengar serak namun tidak lagi dingin.

Laras tersenyum lembut, senyum yang menembus langsung ke relung hati Arga. “Karena itulah hal yang seharusnya dilakukan. Aku tidak menghitung keuntungan atau kerugian saat melihat orang lain kesusahan. Kalau besok aku yang sakit, aku harap ada orang yang melakukan hal yang sama untukku.”

Kata-kata itu meledak bagai air yang membasahi tanah kering di hati Arga. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kepercayaan mulai tumbuh bukan karena bukti tertulis, melainkan karena tindakan nyata yang tulus. Ia menyadari bahwa dinding es yang ia bangun selama bertahun-tahun itu mulai retak, dan Laras adalah retakan pertama yang perlahan membiarkan cahaya masuk kembali ke dalam hidupnya.

“Terima kasih, Laras,” ucap Arga perlahan, tulus dan tanpa topeng. “Ini… terima kasih yang tulus dari hatiku sendiri.”

Laras tertegun mendengar nada bicara yang berbeda itu. Ia mengangguk senang. “Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang istirahatlah dulu. Aku akan siapkan bubur hangat untukmu.”

Saat Laras berdiri hendak pergi, pergelangan tangannya ditahan pelan oleh tangan Arga. Sentuhan itu lembut, tidak memaksa, namun terasa hangat dan memegang erat.

“Jangan pergi terlalu jauh,” bisik Arga lirih, matanya menatapnya lekat. “Tetaplah di sini sebentar saja.”

Laras tertegun sesaat, lalu duduk kembali perlahan. Di ruangan yang masih diselimuti cahaya pagi redup itu, keduanya merasakan ikatan yang lebih kuat dari sekadar tinta di atas kertas kontrak. Mereka belum mengucapkan kata cinta, namun benih kepercayaan sudah tertanam kuat, tumbuh perlahan namun pasti.

1
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!