Nagita Mahendra harus menerima kenyataan pahit jika ternyata dia telah di hianati oleh tunangan dan sahabatnya. Setelah mengetahui semuanya, Nagita menjadi lebih dingin dan berniat membalaskan sakit hatinya. Di saat yang sama, ada seorang laki-laki yang bernama Damian Wijaya klien dari ayahnya. Di menawarkan diri untuk membantunya dengan berpura-pura menjadi kekasih Nagita. Hingga hubungan pura-pura itu berlangsung lama, dan membuat hati Nagita kembali bisa merasakan indahnya cinta. Bagaimana kisah Nagita yang harus berjuang melupakan kisah cintanya kepada Damian setelah mengetahui jika ternyata laki-laki itu sudah mempunyai seorang tunangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viar05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Tentang Marvin
Hari ini Malika akan menemani Marvin pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan bisnis selama empat hari. Malika diminta Marvin untuk membantunya di sana, karena asistennya harus menggantikan dirinya untuk berada di kantor. Awalnya Malika ingin menolaknya, namun dia harus bekerja dengan profesional dan akhirnya bersedia.
"Apa kamu sudah siap Malika?" tanya Marvin.
"Sudah Pak!" jawab Malika sambil membawa kopernya.
"Kamu hanya membawa itu?"
"Kenapa memangnya Pak? Kita kan pergi untuk bekerja, bukan untuk liburan." Ujar Maika.
"Baiklah Ayo!"
Marvin dan Malika masuk kedalam mobil dan Malika duduk di belakang bersama bosnya itu. Keduanya akan pergi ke bandara dan menunggu keberangkatan pesawat mereka yang akan membawa mereka ke sebuah pulau yang terkenal sangt indah itu. Setelah menunggu, akhirnya pesawat mereka mulai berangkat. Malika terkejut saat melihat keadaan di dalam pesawat itu, mewah dan sangat nyaman. Baru kali ini Malika merasakan naik pesawat yang mewah swoerti sekarang ini, dan dia duduk di samping bosnya yang tampan itu.
Selama perjalanan, Marvin sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Bosnya itu memang irit bicara, membuat Malika bosan dan memilih untuk tidur. Hampir satu jam kebih mereka berada di atawa awan, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bandara yang ada di kota itu. Malika yang sudah terbangun, berjalan sedikit tertatih karena sedikit bingung. Hingga tidk sengaja tubuhnya hampir tertabrak seseorang jika Marvin tidak membantunya.
"Jalan yang benar Sayang! Aku tidak mau sampai kamu terjatuh."
Deg!
Malika yang memang sedikit linglung langsung terkejut saat mendengar ucapan bosnya. Sungguh Malika masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kamu baik-baik saja Malika?" tanya Marvin, membuat Malika tersadar.
"I—iya Pak, sya tidak apa-apa yerima kasih banyak." Ucap Malika sedikit gugup, karena bisa sedekat ini dengan bosnya. Memang ini bukan pertama kalinya Marvin bersikap lembut kepadanya, sudah sering bosnya melakukan hal itu dan Malika merasa sedikit rusih karena harus menahan debatan jatungnya yang terasa berdetak cepat jika berdekatan dengan Marvin.
Satu jam kemudian, mereka sampai di sebuah penginapan yang terlihat seperti rumah hunian. Letak nya tidak jauh dari tepian pantai, membuat sepanjang mata memandang terlihat pemandangan pasir dan air laut yang biru.
Malika masuk mengikuti arahan dari pelayan yang mengantarkan mereka ke kamarnya masing-masing.
"Hari ini kami bisa istirahat Malika, besok baru kita mulai bekerja."
"Baik Pak, saya permisi." Ucap Malika, lalu masuk ke kamarnya yang letaknya tidak jauh dari kamr laki-laki itu. Malika merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. "Nyamannya, begini kali jadi orang kaya. Bisa pergi kemanapun yang dimau tanpa harus memikirkan uang." Ucap Malika laku mulai tertidur.
Jam dua siang, Malika baru bngun karena peritnya lapar. Dia segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, lalu keluar dari kamarnya. Malika mencari keberadaan bosnya, untuk menanyakan dimana dia bisa mendapatkan makan siang.
"Maaf Nona, Anda sudah di tunggu di kolam renang oleh tuan Marvin." Ucap seorang pelayan perempuan.
"Baik, terima kasih banyak."
Malika bergegas menuju tempat dimana Marvin berada saat ini. Saat dia keluar ...
Deg!
Sungguh pemandangan yang membuat Malika kagum, bagaimana tidak. Untuk pertama kalinya dia melihat yubuh telanjang bosnya yang sispek dan terlihat gagah itu. Membuat dia betah melihatnya, sampai menbayangkan nyamannya berada di dalam pelukan laki-laki itu. Namun Malika kembali berpikur jernih, dan bersikap biasa saja.
"Kamu sudah bangun?"
"Maaf Pak, saya tidurnya kelamaan ya." Ucap Malika tersenyum malu, membuat Marvin gemas dan ingin memakan sekertarinya itu sekarang juga.
"Duduklah, kita makan siang dulu." Ucap Marvin lalu duduk di hadapan Malika dengan tubuh telanjang dada, membuat Malika panas dingin.
Malika hanya bisa mengangguk, sambil menunduk karen sedikit malu. "Tenang jantung, jangan saampai membuatku malu." Batin Malika. Kemudian dia menarik nafasnya untuk menetralkan debaran jantung nya yang tidak mau di ajak kompromi itu. "Lama-lama aku bisa gia kalau terus begini." Ucapnya lagi dalam hati.
"Kamu kenapa Malika?" tanya Marvin sambil mulai memakan makanan nya.
"Tidak Pak," ujar Malika lalu fokus dengan makanan nya.
Setelah selesai, Marvin kembali masuk kedalam kolam renang. Sedangkan Malika duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Dia sibuk berselancar di dunia maya untuk mencari tahu apa saja tempat wisata yang ada di kota ini. Dia tersenyum sendiri sambil matanya fokus dengan gadgetnya, hingga dia di kejutkan oleh ucapan bosnya.
"Kamu tidak mau berenang Malika?"
Malika berbalik dan menatap bosnya. "Tidak Pak, saya sudah mandi, lagi pula saya tidak bawa baju renang." Ucap Malika kembali fokus dengan ponselnya.
Marvin yang merasa di acuhkan langsung naik dan mendekati Malika yang saat itu terlihat sedang fokus berkirim pesan dengan seorang laki-laki.
"Siapa dia Malika?" tanya Marvin di telinga gadis itu, membuat Malika mematung karena terkejut.
"Pak—Marvin." Ucap Malika gugup.
"Jadi kamu sibuk chatting dengan laki-laki lain dan mengabaikan aku Malika." Ucap Marvin sambil menghirup wangi tubuh gadis itu.
"Apa yang Bapak lakukan?" ujar Malika terbata, karena harus menahan sesuatu yang baru dia rasakan saat Marvin menyentuhnya.
Ya, saat ini Duda tampan itu sedang menciumi leher putih milik sekertaris nya itu.
"Pak aku mohon jangan lakukan hal itu." Cegah Malika.
Marvin bukannya berhenti, dia malah memeluk gadis itu dari belakang. Membuat Malika harus menahan nafasnya saat merasakan sesuatu yang menonjol di belakang tubuhnya. Marvin tersenyum saat melihat sikap gadis itu, lalu dia segera melepaskan nya.
"Kamu kenapa Malika?" tanya Marvin.
"Bapak yang kenapa?" tanya balik Malika dengan kesal. Lalu gadis itu pergi meninggalkan Marvin yang berdiri dengan wajah herannya.
"Kenapa dia malah marah, harusnya aku yang marah." Gumam Marvin lalu menyudahi berenangnya.
Sementara Malika di dalam kamarnya, langsung naik ke atas kasur dan menutup dirinya dengan bantal. Dia terbayang kejadian yang dialaminya barusan. Saat merasakan sesuatu milik Marvin yang sepertinya sedang bangun. Malika bukan gadis bodoh yang tidak mengerti hal seperti itu. "Dasar bos mesum! Bikin otakku traveling aja." Gumam Malika, lalu merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya hingga akhirnya tertidur kembali.
Marvin yang merasa g*irahnya sudah naik, setelah berdekatan dengan Malika—langsung masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang ingin keluar. Hampir satu jam dia berada di sana, sambil membayangkan Malika hingga akhirnya dia mengerang puas. Marvin langsung keluar dan memakai pakaian nya, dia memikirkan cara supaya bisa secepatnya bisa mendapatkan gadis itu. Marvin sengaja membawa Malika pergi berlibur dengan alasan pekerjaan. Padahal dia ingin melakukan pendekatan kepada gadis itu. Seorang Malika yang sudah mencuri hatinya, sejak pertama kali dia bekerja menjadi sekertaris nya. Gadis cantik yang ramah dan juga cerdas. Namun saat itu Marvin hanya sebatas mengaguminya karena dia sadar sudah mempunyai seorang istri.
Takdir seolah berpihak kepadanya, dimana dia harus berpisah dengan istrinya dan kini hidup sebagai seorang duda. Marvin mulai menunjukkan ketertarikannya kepada Malika. Namun gadis itu sama sekali tidak memberikan respons nya, hingga membuat Marvin kadang merasa kesal karena harus menahan kecemburuannya saat melihat Malika berdekatan dengan karyawan laki-laki di kantornya.
ku kasih bunga Thor biar semangat up nya💪🔥
d tnggu jdohnya arkana,biar ga jd playboy trs...😁😁😁