NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Slime yang Telah Punah

Suasana di dalam ruangan pemeriksaan Guild Petualang berubah menjadi dingin dan mencekam seketika. Alarm sihir yang berbunyi nyaring tadi perlahan meredup menjadi dengung pelan sebelum akhirnya lenyap sama sekali, sementara cahaya biru menyilaukan dari permukaan Kristal Penilai perlahan memudar kembali menjadi cahaya putih lembut seperti sedia kala. Namun retakan halus yang menjalar di seluruh permukaan kristal itu tetap terlihat jelas—bukti nyata bahwa benda sakti yang mampu mengukur kekuatan ribuan jenis makhluk ini telah dipaksa melampaui batas kemampuannya sendiri.

Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Pochi sama sekali tidak menyadari kekacauan yang baru saja ia buat. Slime biru kecil itu terus memantul riang di atas meja batu, kadang berguling ke kiri lalu ke kanan, seolah sedang bermain di padang rumput yang luas. Sesekali ia berhenti sejenak untuk menatap orang-orang di sekitarnya dengan mata bulat yang polos, lalu mengeluarkan suara ceria.

"Pyoo!"

Haruto menggaruk tengkuknya yang terasa gatal karena kebingungan, matanya bergerak melihat satu per satu wajah orang yang diam terpaku. "Eh... kenapa semuanya diam saja? Apakah ada yang salah dengan Pochi? Dia tidak menggigit siapa pun kan?"

Tak seorang pun menjawab pertanyaannya. Semua tatapan mata yang beragam—mulai dari rasa takjub, bingung, hingga ketakutan—tetap tertuju sepenuhnya pada tubuh kecil berwarna biru itu. Beberapa petualang yang tadi bergerak maju untuk melihat lebih dekat bahkan mundur selangkah, tangan mereka mencengkeram gagang senjata erat-erat seolah menghadapi musuh yang paling berbahaya.

Daichi berdiri di dekat ambang pintu, matanya yang biasanya tenang kini tampak penuh keraguan. Ia melangkah perlahan mendekati meja pemeriksaan, menatap Kristal Penilai yang masih bergetar pelan.

"Ini pertama kalinya dalam dua puluh tahun menjadi petualang aku melihat Kristal Penilai bereaksi seperti itu," ujarnya pelan, suaranya terdengar berat. "Biasanya benda ini tidak pernah gagal memberikan hasil, sekalipun itu monster langka atau makhluk sihir yang tidak biasa."

Elena masih berdiri di sisi lain meja, matanya tidak beralih dari deretan tulisan samar yang perlahan menghilang di permukaan kristal. Wajahnya pucat pasi, jari-jarinya yang ramping menekan tepi meja hingga buku jarinya memutih.

"...Tidak ada data," bisiknya parau, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. "Mustahil. Kristal ini terhubung langsung dengan arsip pusat Guild di ibu kota, mampu mengidentifikasi lebih dari dua puluh ribu jenis hewan, monster, tanaman beracun, hingga makhluk sihir yang tercatat dalam sejarah. Tapi untuk makhluk ini... tertulis jelas: data tidak ditemukan, tidak ada catatan yang cocok sama sekali."

Saat kebingungan mulai berubah menjadi kegelisahan di antara para petualang, pintu kayu berat di ujung ruangan tiba-tiba terbuka perlahan tanpa suara. Seorang pria tua berjalan masuk dengan langkah yang sangat tenang dan mantap, meskipun usianya sudah lanjut. Rambut dan janggutnya yang putih bersih menyisir hingga ke dada, menutupi sebagian jubah hijau tua yang ia kenakan. Di dada jubah itu terjahit lambang perak yang sangat khas: seekor naga yang mengepakkan sayap berhadapan dengan sesosok slime yang memancarkan cahaya kuno.

Begitu melihat sosok itu, seluruh petugas Guild dan petualang yang ada di ruangan langsung menundukkan kepala dan memberi hormat dengan sopan.

"Selamat datang, Tuan Gensai."

Haruto menoleh ke arah Daichi dengan wajah penuh tanda tanya, lalu berbisik pelan agar tidak didengar orang lain. "Daichi... siapa beliau? Semua orang sepertinya sangat menghormatinya."

Daichi juga menunduk sedikit sebelum menjawab dengan suara yang sangat pelan. "Itu Master Gensai, Nak. Kepala Divisi Hewan Pendamping dan Makhluk Sihir di Guild Petualang wilayah selatan. Beliau adalah ahli monster dan hubungan kontrak familiar terbaik di Kota Lumin, bahkan mungkin di seluruh wilayah kerajaan selatan. Beliau sudah mempelajari makhluk sihir selama lebih dari setengah abad."

Gensai tidak berhenti menyapa siapa pun. Ia berjalan lurus menuju meja pemeriksaan, langkah kakinya pelan namun pasti. Sepasang matanya yang masih tajam berwarna cokelat keemasan tidak pernah beralih sedikit pun dari Pochi yang kini diam menatapnya balik dengan kepala miring.

"Pyoo?" tanya Pochi seolah menyapa orang asing itu.

Pria tua itu menghela napas panjang, napas yang sarat akan kenangan dan rasa haru yang mendalam. Ia berdiri diam di depan meja selama beberapa saat sebelum akhirnya berbicara pelan.

"Sudah lama sekali... sangat lama sejak terakhir kali aku melihat bentuk seperti ini. Aku bahkan sudah mengira aku tidak akan pernah menyaksikannya lagi seumur hidupku."

Haruto mengangkat alisnya semakin tinggi, kebingungannya semakin bertambah. "Maksud Tuan... melihat apa? Apakah Tuan pernah melihat makhluk seperti Pochi sebelumnya?"

Gensai mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata Haruto. "Nak, coba jawab dengan jujur. Dari mana kau mendapatkan makhluk kecil ini?"

"Aku menemukannya di Hutan Grimm," jawab Haruto tanpa ragu. "Waktu itu aku sedang beristirahat makan roti di pinggir jalan, dan tiba-tiba dia melompat dari semak lalu mencuri rotiku."

Beberapa petualang di belakang tidak sengaja bersuara pelan karena kaget. "...Mencuri roti? Monster yang bahkan tidak terbaca datanya... mencuri roti gandum biasa?"

Haruto mengangguk mantap. "Iya. Lalu dia tidak mau pergi, malah menggigit jariku pelan. Setelah itu entah bagaimana kami jadi saling mengikuti, dan dia terus menemaniku sampai sekarang."

Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan yang luar biasa. Seseorang di sudut ruangan berbisik dengan nada tidak percaya. "Monster legendaris yang seharusnya hebat dan mengerikan... ternyata suka mencuri makanan?"

Gensai justru tersenyum tipis mendengar penuturan itu. "Itu memang sifat asli dari spesies mereka yang tercatat dalam naskah kuno. Mereka adalah makhluk yang sangat penasaran, menyukai hal-hal yang terasa akrab bagi mereka, dan sering kali bertindak lebih seperti anak kecil daripada monster berbahaya."

Haruto mengerutkan kening. "Maksud Tuan... spesies mereka berbeda sama sekali dari slime biasa yang sering kita temui di pinggiran hutan?"

Pria tua itu menggeleng perlahan, lalu menatap seluruh orang yang ada di ruangan dengan tatapan yang serius dan tegas.

"Dengar baik-baik, semua orang. Lupakan semua yang kalian ketahui tentang slime biasa yang lemah dan tidak berbahaya. Makhluk kecil yang sedang duduk tenang di atas meja ini... sama sekali bukan slime biasa."

Ia menunjuk Pochi dengan ujung jarinya yang keriput namun stabil.

"Spesies ini seharusnya telah punah lenyap dari muka benua ini lebih dari tiga ribu tahun yang lalu."

Seketika itu ruangan meledak dengan suara keterkejutan.

"Apa?!"

"Punah? Maksudnya sudah tidak ada lagi di dunia ini selama ribuan tahun?"

"Bagaimana mungkin bisa ada di sini sekarang?"

Gensai mengangguk pelan untuk menenangkan kegaduhan itu. "Dalam catatan tertua yang tersimpan di perpustakaan pusat Guild, mereka dikenal dengan nama Slime Purba. Dahulu kala, para penyihir agung dan penguasa naga menyetarakan tingkat ancaman serta potensi kekuatan mereka dengan naga kuno yang paling kuat sekalipun."

Haruto hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar hal itu. Matanya melotot lebar menatap Pochi yang sedang asyik melompat-lompat mengejar bayangannya sendiri di permukaan meja.

"Naga?!" serunya dengan suara melengking. "Yang Tuan maksud... dia? Slime kecil yang bulat dan lembut ini?"

Ia menunjuk Pochi dengan jari gemetar. "Yang ini di sini?"

Pochi seolah tahu namanya disebut, ia melambaikan sebagian tubuhnya ke arah Haruto sambil berseru ceria. "Pyoo!"

Gensai tersenyum kecil melihat tingkahnya. "Jangan pernah tertipu oleh ukuran tubuhnya yang kecil dan penampilannya yang polos. Kekuatan asli dari spesies Slime Purba tidak berasal dari kekuatan fisik mereka, melainkan dari kemampuan bawaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain mana pun."

Ia melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin serius.

"Pertama, Slime Purba mampu meniru bentuk, kemampuan, dan bahkan sifat sihir dari apa pun yang pernah mereka lihat dengan jelas—mulai dari manusia biasa, berbagai jenis monster, hingga senjata pusaka dan benda sihir legendaris. Kedua, tubuh mereka menyimpan cadangan energi mana yang nyaris tak terbatas, jauh melampaui batas yang bisa dimiliki oleh penyihir terkuat sekalipun."

Kegaduhan yang lebih besar kembali melanda ruangan.

"Mana yang tak terbatas? Itu sama sekali tidak masuk akal!"

"Jika benar begitu, dia bisa melepaskan sihir terkuat tanpa perlu beristirahat sama sekali!"

"Kenapa tidak ada yang tahu tentang hal ini sebelumnya?"

Gensai menggeleng pelan. "Itulah sebabnya ribuan tahun lalu terjadi perang besar. Para penyihir dan bangsa naga takut jika kekuatan mereka jatuh ke tangan yang salah atau jika mereka berkembang biak tanpa kendali, maka keseimbangan seluruh dunia akan hancur. Maka disebarluaskanlah perintah untuk memburu mereka hingga kehabisan, dan perlahan-lahan mereka menghilang dari catatan sejarah."

Haruto perlahan mendekat ke meja, menatap Pochi dengan pandangan yang penuh pengertian. Potongan-potongan kejadian yang ia alami selama ini mulai tersusun rapi di kepalanya. Ia teringat saat melawan serigala hitam di hutan—saat Pochi tiba-tiba berubah wujud menjadi dirinya sendiri, bahkan bisa menirukan gerakan dan kekuatan yang sama persis.

"Ternyata..." bisiknya pelan. "Ternyata itu bukan sekadar kebetulan atau khayalanku saja. Itu memang kemampuan asli yang dimilikinya sejak awal."

Gensai kembali menatap Haruto, matanya menyorot tajam seolah ingin memastikan kebenaran dari ucapannya. "Jawab dengan jujur satu hal lagi, Nak. Apakah kau sudah membuat kontrak kerjasama atau kontrak pengikat dengan makhluk ini secara resmi? Entah itu dengan bantuan sihir atau upacara khusus?"

Haruto menggeleng cepat dengan wajah bingung. "Kontrak? Aku bahkan tidak tahu caranya, atau ada aturan seperti itu. Dia hanya muncul di depanku, lalu terus mengikutiku ke mana pun aku pergi. Aku mencoba mengusirnya sekali, tapi dia tetap tidak mau pergi."

Seketika Pochi melompat tinggi dari meja lalu mendarat tepat di bahu Haruto. Ia menggesekkan tubuhnya yang lembut dan kenyal ke pipi pemuda itu seolah menunjukkan rasa sayang dan kesetiaan.

"Pyoo!"

Gensai tersenyum tipis melihat pemandangan itu, senyum yang penuh dengan makna mendalam. "Kalau begitu... ini bukanlah kontrak yang dipaksakan atau diatur oleh sihir. Dia sendiri yang memilihmu secara sukarela."

Ucapan itu membuat seluruh ruangan kembali hening seketika. Seseorang di belakang berbisik dengan suara penuh kekaguman sekaligus ketidakpercayaan.

"Monster legendaris yang setara dengan naga kuno... memilih manusia biasa yang baru saja mau mendaftar jadi petualang?"

Haruto sendiri masih belum percaya hal itu ditujukan kepadanya. Ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku? Kenapa harus aku? Aku tidak punya kekuatan besar, tidak kaya, dan bahkan baru datang ke dunia ini beberapa hari yang lalu."

Gensai menggeleng pelan. "Itu adalah hal yang belum bisa kujawab saat ini. Hanya dia sendiri yang tahu alasan di balik pilihannya. Namun ada satu hal yang harus kau tanamkan dalam hati, dan jangan pernah melupakannya mulai detik ini."

Tatapannya berubah menjadi sangat serius dan penuh peringatan.

"Jangan pernah memperlihatkan keberadaan Pochi kepada sembarang orang, jangan ceritakan siapa dia, dan jangan biarkan ada yang tahu kebenarannya. Jika berita bahwa Slime Purba yang masih hidup tersebar luas... bukan hanya ksatria kerajaan atau penyihir istana yang akan datang ke sini. Organisasi gelap yang menginginkan kekuatan mutlak, pemburu monster langka yang mencari keuntungan, bahkan penyihir terlarang yang ingin mengambil tubuhnya untuk eksperimen akan berbondong-bondong memburunya."

Haruto merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar penjelasan itu. Tanpa sadar ia mengangkat tangan dan memeluk Pochi yang masih berada di bahunya erat-erat. Pochi sedikit terkejut namun segera mengeluarkan suara lembut seolah menenangkan pemuda itu.

"Tenang saja Pochi," bisik Haruto mantap. "Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu atau membawamu pergi dariku. Aku janji."

Di sudut ruangan yang agak gelap, di balik kerumunan petualang yang sibuk berdiskusi, berdiri seorang pria yang mengenakan zirah biasa dan jubah lusuh layaknya petualang pemula lainnya. Selama pemeriksaan berlangsung ia tidak pernah bergerak sedikit pun, dan tidak ada yang menyadari keberadaannya. Saat semua orang sibuk menatap Haruto dan Pochi, sudut bibirnya tersungging senyum tipis yang dingin dan penuh rencana.

"Jadi benar saja... Slime Purba yang hilang ribuan tahun lalu ternyata benar-benar masih hidup," bisiknya pelan hingga hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya. "Dan jatuh ke tangan anak muda yang tidak tahu apa-apa."

Ia perlahan berbalik badan, berjalan tenang menuju pintu keluar tanpa menarik perhatian siapa pun. Langkah kakinya ringan dan tidak menimbulkan suara sama sekali, seolah ia adalah bagian dari bayangan di ruangan itu.

Di luar gerbang Guild, ia menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga gelap. Sebuah surat perintah baru telah terbentuk di dalam pikirannya, sebuah misi yang jauh lebih penting daripada apa pun yang pernah ia kerjakan sebelumnya.

Misi itu sangat sederhana namun sangat berbahaya: Menangkap Haruto Kazehara dan membawa makhluk bernama Pochi hidup-hidup ke tempat tuannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!