Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sesampainya di pondok pesantren, mobil Ganda berhenti tepat di depan kediaman utama (ndalem).
Di halaman, mobil sedan tua milik Abah Kiai juga masih terasa hangat mesinnya, menandakan bahwa beliau dan Umi Maryam baru saja sampai sekitar setengah jam yang lalu setelah ketegangan di rumah baru Ganda.
Begitu Ganda melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk dan pandangan yang layu, Abah Kiai yang sedang menikmati teh hangat di ruang tengah langsung mendongak.
"Ganda? Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu kusut begitu, apa ada masalah lagi di rumah?" tanya Abah Kiai dengan nada suara yang tenang namun sarat akan keperdulian seorang ayah.
Ganda menghentikan langkahnya, menatap sang ayah dengan tatapan memohon yang teramat sangat.
"Abah, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja."
Abah Kiai meletakkan cangkir tehnya, membaca ada kegelisahan yang teramat besar di dalam dada putra tunggalnya itu.
"Ada apa? Tampaknya serius sekali. Ayo ikut Abah."
Ganda menuntun Abah menuju ruang kerja pribadi beliau yang terletak di bagian belakang rumah.
Sebelum pintu kayu jati itu tertutup, Umi Maryam yang penasaran setengah mati tampak mengintip dari balik tirai dapur, mencoba mendekat untuk mencuri dengar.
Melihat gelagat istrinya, Abah Kiai langsung menoleh dan menegur tegas,
"Umi, jangan menguping. Ini urusan laki-laki."
Ditegur begitu, Umi Maryam langsung mengerucutkan bibirnya kesal, mendengus pelan sebelum akhirnya berbalik kembali ke dapur dengan hentakan kaki yang jengkel.
Cklek.
Ganda menutup pintu ruang kerja itu rapat-rapat dan memutar kunci dari dalam.
Suasana di dalam ruangan beraroma kitab suci dan kayu tua itu mendadak hening.
Abah Kiai duduk di kursi kebesarannya, sementara Ganda memilih bersumpah di atas sajadah kecil di lantai sebelum akhirnya duduk di kursi depan meja Abah.
"Nah, sekarang katakan, ada apa, Ganda?" tanya Abah Kiai lembut.
Ganda menundukkan kepalanya, meremas kedua telapak tangannya sendiri yang mendadak dingin.
Detik berikutnya, tumpah lah seluruh pergolakan batin yang menyiksanya sejak pagi tadi.
"Abah, Ganda merasa menjadi suami yang munafik dan gagal," aku Ganda dengan suara yang bergetar menahan sesak di dada.
"Semalam, kejadian dengan Diaz di hotel itu bukan karena nafsu, Abah. Ganda terpaksa melakukan hubungan suami istri demi menyelamatkan nyawanya dari racun obat perangsang dosis tinggi yang dicekoki oleh Bramasta. Ganda melakukannya dengan niat darurat, dengan membacakan doa di telinganya."
Ganda mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Abah Kiai.
"Tapi Abah, setelah malam itu... setelah Ganda menyentuh Diaz seutuhnya dengan rasa ingin melindungi, dinamika rasa di hati Ganda berubah total. Pagi ini, saat Ganda masuk ke kamar Laura untuk menunaikan keadilan waktu dan batin karena Ganda sudah berjanji pada diri sendiri untuk adil... tubuh dan hati Ganda menolak total, Abah."
Ganda menarik napas pendek yang terasa sangat berat.
"Begitu Ganda mau menyentuh Laura, bayangan wajah Diaz semalam, tangisnya, dan cengkeramannya terus mengunci pikiran Ganda. Ganda merasa hambar dan bersalah. Ganda akhirnya pura-pura sakit perut dan lari ke kamar mandi karena tidak bisa melanjutkan hubungan itu dengan Laura. Ganda tersiksa, Abah. Bagaimana Ganda bisa menegakkan keadilan poligami jika hati dan batin Ganda sudah sepenuhnya terkunci dan condong pada Diaz? Bukankah mengabaikan hak batin Laura juga dosa besar di mata Allah?"
Abah Kiai mendengarkan penuturan panjang lebar putranya tanpa memotong sedikit pun.
Beliau bersandar pada kursi jatinya, mengelus janggut putihnya perlahan sembari menatap Ganda dengan pandangan yang dalam, penuh dengan kebijaksanaan hidup.
Beliau tidak menghakimi, melainkan tersenyum tipis—memahami bahwa putranya kini baru benar-benar merasakan ujian terberat dari syariat poligami.
"Ganda, anakku..." ucap Abah Kiai, suaranya mengalun bariton dan menenangkan.
"Dengarkan Abah baik-baik. Apa yang kamu rasakan hari ini adalah hal yang manusiawi, namun di sinilah letak ujian imanmu sebagai seorang imam."
Abah Kiai memajukan tubuhnya, mengetuk meja dengan jarinya perlahan.
"Dalam Islam, Allah SWT sudah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 129: 'Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.' Ayat itu, Ganda, adalah jawaban atas kegelisahanmu. Allah Maha Tahu bahwa manusia tidak akan pernah bisa membagi rasa cinta dan kecenderungan hati secara matematis sama rata. Jatuh cinta dan condongnya hati itu urusan Allah, di luar kendalimu. Yang dituntut oleh syariat dalam poligami untuk adil bukanlah perasaanmu, melainkan perbuatan lahiriahmu; pembagian waktu yang jeli, nafkah yang cukup, dan perlakuan yang makruf."
Abah Kiai menghela napas pendek, menatap Ganda dengan lebih serius.
"Kamu merasa bersalah karena menolak Laura pagi ini. Itu wajar karena batinmu baru saja mengalami lonjakan emosi yang hebat bersama Diaz semalam. Tapi ingat, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kamu gagal. Kamu hanya sedang syok secara psikologis. Syahwat dan batinmu sedang terikat pada momen sakral semalam."
"Lalu, bagaimana dengan perceraian, Abah? Jika Ganda terus begini, bukankah lebih baik Ganda melepaskan salah satu agar tidak ada yang terzalimi?" tanya Ganda lirih, menyuarakan opsi terekstrim di kepalanya.
Abah Kiai langsung menggelengkan kepala dengan tegas.
"Jangan sebut kata cerai semudah itu, Ganda. Abghadul halalil lallahil thalaq—perkara halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian. Kamu mau menceraikan siapa? Diaz? Wanita yang semalam baru saja kamu selamatkan dan sekarang hatimu terpaut padanya? Atau Laura? Wanita yang kamu nikahi atas dasar menolong keluarganya dan sejauh ini patuh kepadamu, hanya karena pagi ini hatimu sedang tidak bergairah padanya?"
Beliau berdiri, berjalan menghampiri Ganda lalu menepuk pundak kokoh putranya.
"Perceraian itu adalah jalan keluar terakhir jika sebuah pernikahan sudah mendatangkan kemudaratan agama dan fisik yang tidak bisa diperbaiki lagi. Kasusmu saat ini bukan kemudaratan, melainkan ego dan kekacauan emosi sesaat. Jangan biarkan setan menunggangi rasa bersalahmu untuk menghancurkan dua rumah tangga sekaligus."
"Nasihat Abah, kembalilah pulang setelah hatimu tenang. Beristighfar lah. Jangan paksa dirimu menyentuh Laura jika batinmu masih menolak hari ini, tapi jangan pula kamu acuhkan dia dengan wajah ketus. Datangi Laura, ajak dia bicara dengan baik, penuhi hak nafkah lahirnya dan waktunya dengan adil tanpa harus memaksakan hubungan batin jika belum siap. Dan untuk Diaz, luruskan salah pahamnya. Komunikasi, Ganda. Jadilah laki-laki yang tegas. Poligami itu bukan tentang kenyamanan hatimu, tapi tentang bagaimana kamu menundukkan egomu demi menegakkan hukum Allah."
Sementara itu, di dalam rumah baru, suasana sunyi setelah kepergian Ganda mendadak pecah oleh ketukan kasar di pintu kamar utama.
Tok! Tok! Tok!
Diaz yang sedang merebahkan diri di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar dengan hati yang remuk langsung menghela napas.
Dengan langkah malas, ia bangkit dan membuka pintu.
Di depannya, Laura sudah berdiri dengan wajah yang memerah, masih mengenakan kimono tipisnya dengan tangan yang bersedekap dada.
"Ada apa?" tanya Diaz datar, menatap dingin ke arah madunya.
Laura menatap Diaz dengan pandangan penuh tuntutan dan amarah yang tertahan.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Mas Ganda semalam sampai pagi ini dia... dia..." Laura mendadak menggigit bibir bawahnya, menahan kalimatnya agar tidak meneruskan perkataan yang justru akan mempermalukan dirinya sendiri di depan istri pertama.
Ia terlalu gengsi untuk mengaku bahwa Ganda mendadak mulas dan menolaknya di atas ranjang.
Diaz menyipitkan mata, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis.
"Sampai apa? Bicara yang jelas."
Laura meremas jemarinya sendiri, mengubah taktiknya dari kemarahan menjadi rona memelas yang dipaksakan.
"Lepaskan Mas Ganda, Diaz. Tolong, aku mohon sama kamu, ceraikan dia. Aku sangat mencintai Mas Ganda. Kamu itu baru sebentar hidup dengan Mas Ganda, kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!"
Laura maju satu langkah, menatap Diaz dengan tatapan sok berkuasa.
"Sedangkan, aku ini orang pondok, aku sudah lama bersama Mas Ganda, lingkungan kami sama. Kamu hanya orang asing yang merusak keserasian kami!"
Mendengar ucapan Laura yang begitu percaya diri namun terdengar sangat menggelikan di telinganya, Diaz menarik napas panjang.
Rasa cemburu akibat salah paham soal kimono tadi mendadak bersanding dengan rasa muak yang luar biasa pada drama perempuan di hadapannya ini.
Alih-alih menangis atau membalas dengan makian seperti tadi pagi, Diaz justru menatap Laura dengan pandangan super cuek seolah Laura hanyalah angin lalu.
"Kalau begitu, beritahu suamimu sendiri agar dia yang menceraikan aku. Simpel, kan?" sahut Diaz santai, nada suaranya begitu meremehkan.
"Jangan minta ke aku. Mintanya ke laki-laki yang tadi pagi kamu gelendoti itu. Dan satu lagi... jangan ganggu aku, aku mau lanjut nonton film."
Tanpa menunggu jawaban dari Laura yang langsung melotot syok, Diaz langsung membalikkan badan, berjalan santai menuju tempat tidur, dan kembali duduk bersandar di sana sembari meraih remote TV.
Ia mengabaikan keberadaan Laura yang masih mematung di ambang pintu dengan dada yang kembang kempis menahan dongkol karena kembali didepak dengan begitu mudah.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡