Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Selamanya
Isak tangis dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an kini menggema di ruang tengah rumah yang beberapa jam lalu menjadi saksi sebuah akad nikah yang sakral.
Gaun pengantin putih yang melekat di tubuh Fatimah telah berganti dengan gamis dan khimar hitam polos.
Di sudut ruangan, Fatimah duduk bersimpuh di dekat jenazah ayahnya yang telah terbujur kaku di bawah kain jarik bermotif batik.
Mata jernih Fatimah yang tersembunyi di balik cadar hitamnya tampak bengkak dan memerah.
Air matanya terus mengalir tanpa suara, membasahi kain penutup wajahnya. Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihantam badai yang datang bertubi-tubi tanpa memberikan jeda baginya untuk sekadar menarik napas.
Baru saja ia menyerahkan seluruh impian masa mudanya demi sebuah bakti. Baru beberapa menit yang lalu ia merasakan hangatnya kecupan dan belaian tangan sang ayah di atas kepalanya setelah ia resmi menjadi seorang istri.
Namun kini, raga yang dulunya menjadi pelindung pertamanya di dunia itu telah dingin, terbujur kaku meninggalkan mereka untuk selamanya.
"Fatimah... minumlah sedikit" sebuah suara berat dan tenang terdengar di dekatnya.
Fatimah menoleh sedikit. Rayhan, suaminya, kini telah duduk berjongkok di sampingnya.
Pria itu menyodorkan secangkir air hangat dengan gerakan yang sangat sopan, menjaga jarak agar tidak terlalu mengejutkan istri kecilnya yang sedang dirundung duka.
Sejak detik pertama kepergian Ayah, Rayhan yang paling sigap. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu langsung mengambil alih semua urusan—mulai dari menghubungi pihak rukun tetangga, mengurus ambulans, hingga menenangkan Ibu dan Fadia yang sempat histeris.
"Iya, Mas. Terima kasih,"
Bisik Fatimah lirih. Suaranya hampir habis karena terlalu banyak menangis. Ia menerima cangkir itu dengan jemari yang masih bergetar, meminumnya sedikit di balik cadar, lalu meletakkannya kembali.
Rayhan menatap Fatimah dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba sekaligus kekaguman.
Di saat Ibu dan Fadia masih menangis meraung-raung di kamar sebelah, Fatimah justru menunjukkan ketegaran yang luar biasa sebagai seorang santriwati.
Gadis dua puluh tahun itu memilih duduk di samping jenazah sang ayah, melantunkan surah Yasin dengan suara bergetar namun tetap khusus dan terjaga.
"Ayah pergi dengan senyuman, Fatimah."
"Beliau wafat dalam keadaan tenang karena tugasnya di dunia sudah selesai."
"Tugasmu untuk berbakti kepadanya pun sudah tuntas dengan sempurna hari ini,"
Ucap Rayhan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan lewat kata-katanya.
"Sekarang, giliran saya yang akan melanjutkan tugas Ayah untuk menjaga dan melindungimu."
Mendengar kalimat Rayhan, Fatimah menunduk dalam-dalam. Ada rasa hangat yang aneh menyusup di tengah-tengah rasa duka yang menyelimuti hatinya.
Pria yang kemarin sempat ia benci dan ia anggap sebagai belenggu, kini justru menjelma menjadi satu-satunya sandaran yang kokoh di saat dunianya runtuh.
Sore harinya, prosesi pemakaman dilangsungkan.
Fatimah berdiri di antara kerumunan pelayat di pemakaman umum desa, menyaksikan perlahan-lahan tubuh ayahnya diturunkan ke dalam liang lahat oleh Faisal dan beberapa warga.
Rayhan berdiri tepat di samping Fatimah, memayungi tubuh istrinya dari sengatan sisa matahari sore, seolah menegaskan janjinya kepada mendiang mertuanya bahwa ia tidak akan membiarkan Fatimah kepanasan atau terluka.
Saat tanah pertama mulai ditumpahkan dan azan kubur dikumandangkan oleh Faisal dengan suara parau, pertahanan Fatimah kembali goyah.
Bahunya terguncang hebat. Ia menyadari satu hal: kini, ia benar-benar telah melangkah ke fase kehidupan yang baru.
Lembaran masa mudanya telah ditutup rapat bersamaan dengan tanah yang menimbun jasad ayahnya.
Selamat tinggal, Ayah. Terima kasih telah memilihkan imam untuk Fatimah.
Di atas tanah kubur yang masih basah itu, Fatimah berjanji di dalam hatinya, ia akan menjadi istri yang baik dan saleha sesuai dengan ajaran agama, demi menjaga nama baik dan kedamaian ayahnya di alam sana.