"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIDADARI DI BALIK Fajar
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang hanya diisi oleh deru napas Zaid yang teratur. Di sisi ranjang yang lain, Khadijah masih terjaga. Pertanyaan Zaid sebelum pria itu terlelap tadi "Apa kamu betah tidur dengan cadar seperti itu?" terus bergema di kepalanya, memantul di dinding hati yang mulai melunak.
Khadijah menoleh perlahan, menatap punggung Zaid yang naik turun dengan stabil. Ada rasa bersalah yang menyelip di sela dadanya. Sebagai seorang istri, ia tahu bahwa menyembunyikan kecantikannya dari suami sah adalah sebuah bentuk jarak yang seharusnya tidak ada. Selama ini, ia bertahan karena merasa Zaid belum menerimanya, karena ia merasa dirinya hanyalah "beban" yang terpaksa dipikul.
Namun, kalimat Zaid tadi, meski diucapkan dengan nada kaku dan segera ditinggal tidur, terasa seperti sebuah undangan tersembunyi. Sebuah permintaan agar ia mulai merasa "di rumah" di dalam kamarnya sendiri.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Khadijah perlahan melepas jarum pentul yang menyematkan cadarnya. Kain hitam itu luruh, memperlihatkan hidung yang bangir dan bibir yang mungil. Kemudian, ia melepas hijab instan yang membungkus kepalanya. Rambut hitam legam yang panjangnya mencapai pinggang terurai jatuh seperti sutra di atas sprei putih. Ia merasa lega, kulitnya menyentuh udara malam yang sejuk, sebuah kemewahan yang jarang ia rasakan sejak menikah.
'Mas Zaid benar, ini jauh lebih nyaman,' batinnya sembari memejamkan mata, membiarkan dirinya menyusul sang suami ke alam mimpi.
Udara subuh yang dingin mulai merayap masuk lewat celah ventilasi. Khadijah terbangun saat alarm di ponselnya bergetar pelan. Namun, saat ia hendak beranjak untuk mengambil wudhu, ia merasakan beban berat dan hangat melingkar di pinggangnya.
Khadijah mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga ia takut suaranya akan membangunkan raksasa yang sedang memeluknya. Zaid, entah sejak kapan dalam tidurnya, telah bergeser dan kini memeluk Khadijah dengan sangat erat dari belakang. Lengan kekar Zaid melingkari perutnya, sementara wajah Zaid terkubur di antara helai rambut Khadijah yang harum wangi mawar.
Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Khadijah. Ini adalah kontak fisik terjauh dan pertama sejak mereka menikah. Khadijah mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit, namun pelukan Zaid justru semakin mengencang, seolah-olah pria itu takut kehilangan pegangannya di tengah mimpi.
"Zaid..." bisik Khadijah lembut, suaranya parau khas orang bangun tidur. "Zaid, bangun... sudah subuh."
Zaid menggeliat. Sensasi lembut dan aroma harum yang memenuhi indra penciumannya membuatnya enggan membuka mata. Ia merasa seperti sedang memeluk tumpukan awan yang sangat wangi. Perlahan, kesadarannya terkumpul. Ia merasakan tekstur halus seperti benang sutra di wajahnya.
Zaid membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat bukan lagi langit-langit kamar yang kaku, melainkan hamparan rambut hitam legam yang terurai indah di atas bantal. Zaid berkedip, mengira ia masih bermimpi. Ia mengangkat kepalanya sedikit, dan saat itulah Khadijah berbalik menghadapnya untuk membangunkannya kembali.
Waktu seolah berhenti berdetak.
Di depannya, tanpa penghalang selembar kain pun, Khadijah menatapnya dengan mata bening yang masih sayu karena kantuk. Wajah itu... Zaid terpaku. Kulitnya seputih pualam, dengan rona merah alami di pipi. Bibirnya yang manis tampak sedikit bergetar karena gugup. Rambut panjangnya yang terurai berantakan justru menambah kesan kecantikan yang alami, seperti bidadari yang baru saja turun dari langit untuk menetap di ranjangnya.
Zaid bengong. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang sanggup keluar. Selama ini ia membayangkan berbagai macam wajah di balik cadar itu, tapi kenyataan di depannya jauh melampaui imajinasinya yang paling liar sekalipun. Rian benar bahkan Rian meremehkan kecantikannya. Ini bukan sekadar cantik; ini adalah keindahan yang menenangkan jiwa.
"Zaid?" Khadijah menyentuh lengan Zaid yang masih melingkar di pinggangnya, mencoba menyadarkan suaminya yang tampak seperti kehilangan nyawa. "Mas Zaid, kamu kenapa?"
Zaid tersentak, ia segera melepaskan pelukannya dengan kaku, namun matanya masih belum bisa berpaling dari wajah Khadijah.
"Kamu..." suara Zaid serak, tenggorokannya mendadak kering. "Kenapa... kenapa kamu buka?"
Khadijah menunduk, wajahnya memerah sempurna hingga ke telinga. "Karena Mas yang minta tadi malam. Mas tanya apa saya betah... jadi saya pikir, mungkin ini saatnya."
Zaid menelan ludah. Ia merasa seperti orang bodoh yang baru saja menemukan harta karun di halaman rumahnya sendiri. Keangkuhan yang selama ini ia bangun sebagai "pria jalanan yang dingin" runtuh berantakan hanya dengan sekali tatap.
"Jangan..." Zaid menggantung kalimatnya, membuat Khadijah mendongak cemas.
"Jangan apa, Mas? Mas nggak suka melihat wajah saya?" tanya Khadijah lirih.
"Jangan ditutup lagi," sambung Zaid cepat, suaranya lebih tegas namun ada nada permohonan di sana. "Maksudku... kalau di dalam kamar, jangan ditutup lagi. Aku... aku baru sadar kalau aku punya istri."
Khadijah tersenyum malu, lesung pipi kecil di sudut bibirnya muncul pemandangan yang membuat jantung Zaid melakukan backflip. Khadijah bangkit dari ranjang, rambut panjangnya bergoyang mengikuti gerakannya.
"Ayo sholat subuh, Mas. Nanti telat," ajak Khadijah sembari melangkah menuju kamar mandi.
Zaid masih duduk mematung di ranjang, menatap punggung istrinya sampai menghilang di balik pintu. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Pagi ini, Zaid Al-Idrus sadar, bahwa peperangan sesungguhnya bukan lagi melawan geng motor di jalanan, melainkan melawan hatinya sendiri yang mulai menyerah pada pesona sang Hafizah.