Pernikahan adalah salah satu untuk menyempurnakan agama. Tetapi bagaimana jika pernikahan dilandasi karena keterpaksaan dan kebohongan?.
Disha Haura, gadis cantik yang duduk di bangku semester akhir terjebak dalam pernikahan dengan adik tingkatnya. Keduanya di jebak dan di fitnah sehingga membuat keduanya harus menikah.
Di samping itu seseorang yang selalu menyebut nama Disha dalam sepertiga malam harus menelan ludah melihat pujaan hatinya menikah dengan adiknya sendiri.
Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan baca sehingga kalian menemukan jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Bersalah
Keduanya masuk ke dalam kamar Arcel dan masih terdengar suara igauan dari Habib.
'Kamu melihatnya? Ini semua karena mu!" Arcel menyalahkan Disha yang kini terdiam mematung melihat Habib yang terus mengigaukan namanya
'Apa yang terjadi pada Habib?" tanya Disha pada Arcel tetapi Arcel hanya mendengus dan pergi duduk di atas sofa
'Tanggung jawab!" perintah Arcel dengan nada yang dingin membuat bulu kuduk Disha berdiri karena baru kali ini Arcel berbicara seperti ini padanya
Disha pun menghampiri Habib yang masih mengigau, sedangkan Arcel hanya menatapnya dengan duduk di sofa.
'Sayang bangun" Disha menepuk-nepuk bahu Habib dan benar saja tidak lama kemudian Habib membuka matanya dan menatap Disha dengan tatapan penuh kerinduan
'Habib kangen tante" ucap Habib dengan suara bergetar
Disha pun membawa bocah tampan itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat, Habib terisak dalam pelukan Disha membuat Disha merasa bersalah. Seharusnya sebelum dirinya pergi dia pamit pada Arcel dan Habib.
'Maafkan tante" sesal Disha
Disha melepaskan pelukannya pada Habib saat merasa Habib sudah tertidur pulas dan meletakkan kepala Habib di atas bantal dengan pelan.
'H...habib sudah tidur kak" cicit Disha pada Arcel yang mengacuhkannya membuatnya kesal
Disha akui jika dirinya salah tetapi mengapa Arcel selalu mengabaikannya sejak pertemuan mereka tadi, padahal Disha sudah menyapanya.
'Kalau begitu Disha pamit, permisi assalamualaikum" pamit Disha dan berjalan menuju pintu
'Berani kakimu keluar maka kupastikan besok kamu tidak akan bisa melangkah lagi!" ancam Arcel tidak main-main bahkan kini dirinya sudah berjalan ke arah Disha dengan tatapan tajam
'M.. maksudnya kakak apaan? Kakak mau membuat kaki ku patah?" tanya Disha tidak percaya
'Bisa saja atau tidak" jawab Arcel tidak jelas
'Jaga Habib malam ini, tidak ada penolakan!" perintah Arcel
'Tidak bisa, besok Disha ada acara kak jadi takut telat" tolak Disha
'Berani menolak? Ini semua karena mu. Andai kamu tidak hadir di keluarga saya pastinya Habib tidak akan seperti ini!" tuding Arcel tidak sadar
'Hampir 3 tahun Habib menahannya dan mulai tenang tetapi sekarang kamu datang lagi seolah tidak ada salah sama sekali? Sungguh hebat!" Arcel mencemooh Disha membuat Disha terdiam
Arcel tidak tau mengapa dia berbicara seperti itu pada Disha, seharusnya dia mengatakan bahwa dia merindukan Disha. Lihatlah akibat kata-katanya yang terlampau kejam kini Disha meneteskan air matanya.
'Terus Disha harus bagaimana? Disha harus apa supaya kakak dan Habib bisa memanfaatkan Disha?" tanya Disha terisak
'Menikah dengan ku" ucap Arcel dingin
'A..apa?!" tanya Disha tidak percaya
'Menikah dengan ku? Apa kurang jelas lagi?" Arcel pergi meninggalkan Disha yang masih mematung di dekat pintu
Arcel membaringkan tubuhnya di atas sofa dan melirik Disha yang masih berdiri.
'Temani Habib untuk malam ini" ujar Arcel dan memilih menutup matanya
Jam setengah 3 Arcel membuka matanya, kepalanya terasa pusing. Ini sudah menjadi kebiasaannya, apabila dirinya diliputi amarah maka Arcel memilih untuk tidur saja dan alhasil pas bangun tidur dia akan merasakan pusing.
'Maafkan aku" sesalnya saat melihat Disha dan Habib yang tidur berdampingan
Arcel membayangkan jika dirinya yang di posisi Habib, entah kapan keinginannya itu terkabul tetapi sepertinya tidak akan pernah terwujud.
'Astaghfirullahh! Apa yang baru saja ku pikirkan, astaghfirullah" Arcel beristighfar sambil menepuk keningnya
Arcel pun pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu, malam ini dia akan kembali bersujud dan meminta pada sang penciptanya.
Empat rakaat sudah di jalankan nya, di sujud terakhirnya Arcel meminta maaf kepada sang khalik dan meminta agar dirinya segera disadarkan oleh syetan yang mencoba menggodanya.
'Ya Allah, kali ini pun aku meminta hal yang sama. Aku sudah bertemu dengannya ya Allah, dan perasaan itu bukannya menghilang tetapi semakin besar. Aku memohon padamu jika Disha bukanlah jodoh yang engkau takdir kan buat ku maka ijinkan aku melupakannya, jauhkan aku darinya ya Allah. Sungguh aku sudah lelah" ucapnya sambil mengadahkan tangannya ke atas sembari berdoa pada sang pencipta
Arcel dengan khusyuk meminta kepada sang pencipta berharap doanya terkabul, Arcel juga ingin merasakan yang namanya rumah tangga yang utuh. Memiliki seorang istri yang bisa menjadi tempatnya melepaskan penat sejenak, andai memang Disha ditakdirkan untuknya maka Arcel pastikan bahwa dirinya adalah pria yang paling beruntung.
Tak terasa kini sudah waktukunya sholat subuh, Arcel beranjak dari sajadah berjalan ke arah putranya yang masih tertidur pulas dan disamping Habib terlihat Disha yang juga tidur dengan pulas.
'Seperti keluarga sungguhan" guman Arcel berharap
'Hai boy, wake up... Ini sudah subuh lohh" Arcel menciumi wajah tampan Habib berharap mata putranya itu terbuka
Arcel tersenyum kecil melihat Habib yang kini membuka matanya, Arcel bersyukur memiliki seorang putra yang mudah di ajari, di latih dan mudah di bangunkan, menurut meski sesekali ngeyel tetapi Arcel menyukai semua sifat putranya itu. Seiring bertambahnya usia Habib tentu saja sifat-sifat buruknya akan hilang asal dirinya bisa mendidik Habib menjadi anak yang berbudi pekerti.
'Habib ngantuk daddy" Habib mencebikkan bibirnya
'Wahhh nanti Allah murka loh kalau kamu ga sholat" Arcel menakut-nakuti Habib yang kini langsung duduk
Habib pun langsung turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, dirinya belum menyadari keberadaan Disha.
'Disha" panggil Arcel
'Bangunlah ini sudah waktunya untuk sholat" Arcel tidak mungkin menyentuh tangan Disha karena dia takut juga menyentuh yang bukan mahramnya
'Disha Hauraaa.... Bangun atau ku cium sekarang juga!" ancam Arcel dan benar saja Disha membuka matanya
'Cihh di bilang cium langsung bangun, ternyata kamu mesum juga yaa" gurau Arcel membuat Disha kebingungan
'K...kak Arcel? Kenapa kakak ada di kamarku?" tanya Disha kebingungan
Sepertinya Disha masih belum sadar sepenuhnya membuat Arcel gemas sendiri, sepertinya mulai sekarang dirinya harus lebih memperlihatkan perasaannya pada Disha. Sepertinya itu bukan ide yang buruk?
'Cucilah wajahmu dan sholat" ucap Arcel lembut
'Umm.... Aku.... Itu kak aku lagi umm..." Disha ragu untuk mengatakannya karena malu dan segan pada Arcel
'Kamu datang bulan?" tanya Arcel tepat sasaran
'I..iya kak, sebaiknya aku kembali ke kamar saja" cicit Disha malu dan dirinya sudah sadar jika dirinya berada di kamar Arcel
''Jam berapa acaranya?" tanya Arcel dan melirik Habib yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi
'Jam 9 kak" jawab Disha
'Istirahat saja, nanti aku bangunkan jam 7 dan aku tidak menerima penolakan Disha" Arcel tersenyum geli melihat wajah planga plongo Disha yang menurutnya cukup lucu
'Hi boy, ayo kita sholat" ajak Arcel
'Tante Disha tidak ikut daddy?" tanya Habib membuat Disha kebingungan untuk menjawab pertanyaan Habib
'Kamu masih ingat kan apa yang daddy bilang ada beberapa alasan perempuan tidak bisa untuk sholat? Nahh... Tante Disha tengah mengalaminya boy. Kamu paham kan?" Arcel memegang kedua bahu putranya dan tersenyum hangat
'Ooo... Begitu, ya sudah ayo sholat daddy" ajak Habib dan Arcel pun menjadi imam buat Habib sedangkan Disha menatap keduanya dengan senyuman manis
🐚🐚🐚
Mau nanya dong buat kaliann
Kalau misal suami, pacar, adik, abang atau anak laki-laki kalian bertanya alasan kalian tidak sholat apa jawaban kalian? Apa kalian malu atau memilih berbohong saja?
riri-can