NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tipis Antara Dendam dan Rasa

Pertemuan tatap muka di koridor temaram itu terputus begitu saja ketika Bu Sofia melangkah tegas membelah lorong, membuat Glen perlahan mundur dan menghilang di balik pintu kelas Sastra. Melanie menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum melangkah masuk ke dalam ruang Teater. Namun, atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu sama sekali tidak membantu. Riuh suara mahasiswa yang sedang melakukan pemanasan vokal terdengar seperti dengungan samar di telinga Melanie.

"Mel, kamu pucat lagi," bisik Diandra begitu Melanie duduk di sampingnya, meletakkan botol air mineral dengan raut cemas. "Tadi Kak Thone bicara apa? Ini masih ada hubungannya dengan Glen, kan?"

Melanie menggeleng pelan, memaksakan segaris senyum di bibirnya. "Bukan apa-apa, Di. Hanya soal koordinasi kelas gabungan minggu depan. Jangan khawatir."

Diandra mendengus pelan, jelas tidak memercayai jawaban itu, namun ia memilih diam saat Bu Sofia berdiri di tengah panggung rendah dan bertepuk tangan tiga kali untuk meminta perhatian seluruh mahasiswa.

"Baik, hari ini kita tidak akan melakukan praktik besar seperti kemarin," suara Bu Sofia menggelegar, menggema di antara dinding cermin. "Hari ini kita fokus pada pendalaman emosi internal. Saya ingin kalian berpasangan untuk menuliskan analisis psikologis karakter yang kalian peragakan kemarin. Dan karena kemarin teksnya digabung dengan anak Sastra, tugas ini akan menjadi tugas kelompok lintas jurusan."

Jantung Melanie seolah berhenti berdetak sesaat. Ia langsung menatap ke arah pintu depan, seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Melanie," panggil Bu Sofia, matanya beralih pada buku absensi. "Karena kemarin kamu menjadi Aira dan Glen menjadi Danuel, kalian berdua otomatis menjadi satu tim. Analisis bagaimana kebencian Danuel berbenturan dengan ketulusan Aira. Minggu depan, saya minta draf kasarnya sudah siap."

Sore harinya, rintik hujan kembali membasahi Jogja, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan mata. Melanie berdiri di selasar luar perpustakaan pusat, tempat yang sengaja ia pilih untuk menemui Glen setelah mengirimkan pesan singkat lewat nomor yang ia dapatkan dari Thone. Ia sengaja memilih tempat terbuka agar Glen tidak merasa terpojok oleh dinding-dinding ruangan yang sempit.

Langkah kaki yang lambat namun konstan terdengar mendekat. Glen berjalan menembus bias lampu taman yang mulai menyala, dengan jaket denimnya yang dibiarkan terbuka, menampilkan kaus hitam polos di baliknya. Wajah tampannya yang menyerupai pahatan marmer itu tampak begitu tenang, namun sepasang mata elangnya memancarkan kilat ketakutan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng acuh tak acuhnya.

"Seorang putri yang nekat," suara Glen terdengar rendah, berbaung dengan suara rintik hujan yang menghantam atap selasar. "Memanggil serigala ke tempat terbuka, seolah-olah dia tidak takut jubah sucinya akan dicabik-cabik oleh cakar dendam."

Melanie tidak membalas dengan senyuman ceria seperti biasanya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria di hadapannya. "Glen, kita punya tugas dari Bu Sofia. Tapi di luar itu... aku ingin kita bicara sebagai dua orang yang hidup di dunia nyata. Bukan sebagai Danuel, dan bukan sebagai Aira."

Glen terkekeh pendek, sebuah tawa kering yang terdengar hambar dan getir. Ia memalingkan wajahnya, menatap rintik hujan yang jatuh di pelataran. "Dunia nyata adalah tempat yang terlalu kejam untukmu, Melanie. Di dunia nyata, ayahku kehilangan akalnya karena apa yang dilakukan keluargamu. Di dunia nyata, aku harus membencimu sampai seluruh napasku habis."

"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya, Glen?!" potong Melanie, suaranya meninggi, menantang gemuruh angin sore itu. Melanie melangkah maju lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa melihat dengan jelas bagaimana garis rahang Glen menegang hebat. "Kenapa kamu tidak menghancurkanku sekarang juga? Kamu punya banyak kesempatan. Tapi setiap kali kamu menatapku, kamu justru terlihat seperti orang yang sedang sekarat karena menahan sesuatu."

Glen membalikkan badannya dengan cepat, mencengkeram pembatas besi selasar dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu tidak tahu apa-apa, Melanie..."

"Aku tahu kamu ketakutan, Glen!" teriak Melanie, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang mulai memerah karena dingin. "Kak Thone cerita padaku. Kamu tidak pulang ke rumah lamamu semalam. Kamu mengurung diri di rumah besarmu yang kosong karena kamu takut, kan? Kamu takut kalau rasa benci yang kamu pelihara belasan tahun ini... berubah menjadi cinta padaku!"

Kalimat Melanie menghantam keheningan selasar itu seperti petir di siang bolong. Glen mematung seketika. Sepasang mata elangnya bergetar hebat, menatap Melanie dengan pandangan yang campur aduk antara amarah yang meluap dan kerapuhan yang teramat pekat. Dinding es yang ia bangun dengan darah dan air mata selama dua belas tahun kini berguncang dahsyat, runtuh berkeping-keping oleh pengakuan jujur dari gadis yang seharusnya ia hancurkan.

Glen maju dua langkah dengan cepat, mencengkeram kedua tangan Melanie yang gemetar, menundukkan kepalanya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Napasnya yang memburu terasa hangat di kulit wajah Melanie yang basah oleh air mata.

"Jika benar begitu... jika benar aku mulai mencintaimu, lalu apa yang mau kamu lakukan, Melanie?!" desis Glen, suaranya tak lagi teatrikal, melainkan suara asli yang sarat akan rasa sakit dan keputusasaan yang mendalam. "Apakah kamu mau tertawa? Apakah kamu mau merayakan kemenangan keluargamu yang berhasil membuat anak dari musuh mereka berlutut di hadapanmu? Katakan padaku!"

Melanie tidak menarik tangannya dari cengkeraman Glen. Ia justru menatap mata pria itu dengan pandangan mata yang penuh dengan ketulusan yang murni, membiarkan kehangatan jemarinya menyalurkan ketenangan ke dalam jiwa Glen yang gundah.

"Aku tidak akan pernah tertawa, Glen," bisik Melanie lirih, suaranya bergetar namun pasti. "Jika kebencianmu membuatmu terluka, dan cintamu membuatmu ketakutan... maka biarkan aku tetap di sini. Bukan sebagai anak dari musuh masa lalumu, tapi sebagai Melanie yang akan menemanimu menyembuhkan luka-luka itu."

Glen tertegun, cengkeramannya di tangan Melanie perlahan melonggar. Ia menatap gadis di hadapannya dengan pandangan tak percaya, menyadari bahwa naskah dongeng tragis yang ia tulis telah sepenuhnya gagal. Tokoh Danuel tidak lagi membenci Aira; pria bernama Glen itu kini telah kalah, tersesat di dalam labirin rasa yang ia ciptakan sendiri untuk menghancurkan mereka berdua.

1
Miu.Nuha
aku khawatir glen jadi skizo 😭
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...
Miu.Nuha
melanie udh tau usut punya usut kenapa kamu dendam kali 😑😑,, udh gk usah pake naskah2 segala...
Sarifah_Aini97: udh tau kak
total 3 replies
Filan
kayaknya yang kamu butuhkan psikiater deh
Filan
sebutir kerikil pala lu! 😅
Filan
ya ampun seolah semua orang melihat adegan itu /Chuckle/
Filan
berbagi aja sih, Mel
Xlyzy
Glen si melani dia ga tau menau loh masak mau sapu rata sih
Xlyzy
sekarang udah tau kan Mel apa sebab nya
ginevra
semoga kalian baik2 aja, jangan saling menghancurkan gitulah. baikan aja baikan
ginevra
setidaknya kamu masih punya hati nurani Glen. Yah... memang serba salah sih.... aku nggak nyalahin kamu karena punya dendam mengingat apa yang terjadi sama keluarga kamu. tapi Melanie juga kasian. dia nggak tau apa2
Sarifah_Aini97: Makasih ya udah paham dilema yang dihadapi Glen, pantengin terus kelanjutannya buat tahu nasib Melanie!

🙏🙏
total 1 replies
ginevra
apaan sih Glen? lama2 lu ngeselin sumpah.
MULIANA💦
kayaknya hancur banget ya keluarga si glen. makanya dia sampai segitunya
Sarifah_Aini97: Bener banget, masa lalu keluarganya emang sekelam dan sehancur itu sampai bikin dia nekat...
total 1 replies
MULIANA💦
melani memang ikut menikmati. tapi disini yang salah bukan melani-nya dudul
Rain Aricia
Ah, sok kali kau Glen. Nanti pas mau balas dendam kau malah terpikat😌
Sarifah_Aini97: Wah, jangan-jangan tebakanmu bener nih, kita lihat aja nanti Glen bakal luluh atau enggak 😄
total 1 replies
Rain Aricia
Lah, aneh kali perkataanmu ah
Rain Aricia
Ga bisa si Glen ini berpikir lebih jauh. Dia kira 12 tahun yg lalu si Mela udah besar apa? Masa kau mau balas dendam sama org yg ga tau apa2
Rain Aricia
Iya benar Mel, makanya kamu mulai sekarang jaga jarak aja
Aquarius97 🕊️
Glen... benci sama cinta itu beda tipis lohh...
Aquarius97 🕊️
bukan sekedar hantu sih, kalau hantu masih ada yg lucu.. iblis keknya lebih tepatnya eheheh
Cimol krispy
awas saja jika mata itu berhasil membuatmu jatuh Glen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!