Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. SBR
...~•Happy Reading•~...
Gevaro menarik nafas perlahan, dia makin tahu karakter suami Janet yang diceritakan Kabag personalia. Olehnya, dia ingin mengenal Andri secara pribadi sebelum membahas hal utama pertemuan mereka.
"Berarti anda sudah tahu saya dari istri anda. Apa dia memarahi saya di rumah, karena harus menahan diri tidak bisa memarahi saya di kantor?" Gevaro membuka percakapan dengan sesuatu yang ringan.
"Janet tidak seperti itu, Pak. Dia terlalu baik dan nerimo apa yang menjadi nasibnya. Cuma hari itu, dia memang berbeda dan saya tidak bisa menggambarkan kondisinya dengan baik."
"Kondisinya? Saat kapan?" Gevaro tidak jadi bersantai, sebab Andri terlihat serius.
"Saat pertama kali melihat anda di kantor."
"Oh, ya. Saya ingat tatapannya." Gevaro kembali santai. "Apa yang dia katakan kepada anda tentang saya?"
"Sebenarnya, dia seperti mau meledak karena marah, tapi tidak bisa. Jadi pulang di rumah, dia masuk kamar dan diam dengan wajah seperti udang rebus."
"Saya tanya ada apa dan agak mendesak, karena khawatir berpengaruh pada Asyer." Andri menggerakan tangan menggambarkan Asyer.
"Dia bilang, orang itu jadi pimpinanku di kantor." Walau belum pernah bertemu dengan orang itu, saya tahu maksudnya dan bisa mengerti suasana hatinya.
"Saya jadi khawatir dia kembali diganggu atau dilecehkan orang itu, jadi saya tanyakan lagi. Tapi Janet bilang : Orang itu pura-pura tidak mengenalku. Apa dia sakit atau amnesia? Rasanya aku mau memandikan sepatunya dengan air pel." Andri bercerita serius sambil ingat cerita Janet. Tapi membuat Gevaro hampir tertawa.
Gevaro mengangkat tangan. "Sorry, saya jadi ingat wajah istri anda saat marah hari itu. Kalau saya bukan pimpinannya, mungkin dia akan lakukan lebih dari menyiram sepatu."
"Bisa jadi, Pak. Karna dia masih marah sampai di rumah. Untuk mencegah itu terjadi, dia minta ijin untuk resign."
"Tapi saya minta dia bersabar dan tetap bekerja. Asyer bangga Mamanya bekerja di kantor seperti itu. Kalau pimpinanmu bersikap tidak mengenalmu, mengapa kau kalah dan bersikap mengenalnya? Abaikan saja."
"Ya, saya mengerti. Mengapa setelahnya, istri anda bersikap baik dan profesional." Gevaro mengakui yang dikatakan Andri.
"Saya membiarkan dia tetap bekerja, bukan karena kami kekurangan. Cuma ingin dia menjalani kehidupan normal seperti anak muda pada umumnya, setelah bertahun-tahun di rumah merawat Asyer."
"Karna anda sudah mengatakan itu, mari kita bicarakan yang jadi tujuan pertemuan ini. Namun sebelumnya, ada sedikit yang saya ingin tahu dari anda tentang masa lalu Janet. Agar saya tidak salah ambil keputusan." Gevaro jadi serius.
"Semoga tidak membuka luka atau membuat anda tersinggung." Gevaro ingin tahu kisah yang sebenarnya dari Andri, agar bisa melengkapi informasi yang diperoleh dari Devan dan Janet.
"Tidak, Pak. Anda mau tanya apa, silahkan. Saya akan beritahu yang saya tahu." Andri bersedia.
"Saya mau tahu tentang pertemuan Anda dengan Janet. Dia bilang, anda yang membatunya. Apa itu benar?"
"Saya tidak bisa menjawab benar atau tidak. Itu sesuatu yang relatif bagi masing-masing orang. Lebih baik saya cerita, nanti anda yang menilai sendiri." Andri yakin, Gevaro sudah dengar dari saudaranya dan Janet. Jadi butuh cerita darinya sebagai penyeimbang.
Gevaro membuka tangan mempersilahkan sambil mengangguk. Andri mengangguk dan mencondongkan tubuhnya, agar suaranya bisa didengar jelas oleh Gevaro. "Lebih dari empat tahun lalu, saya mengantar penumpang ke apartemen...." Andri menyebut nama apartemen. "Saya driver taksi online." Gevaro mengangguk, karena sudah tahu.
"Karna sudah malam, saya putuskan itu penumpang terakhir dan akan matikan aplikasi. Namun sebelum tiba di tempat, ada notifikasi masuk dari apartemen itu."
"Saya tidak merespon, karna berpikir akan diambil oleh driver lain. Tapi tidak ada yang ambil. Melihat tujuannya ke rumah sakit, saya tergerak hati untuk mengambil sekalian pulang."
"Singkat cerita, penumpangnya Janet. Saya bertanya, sesuai titik? Dia bilang iya. Padahal kondisi dan bagasinya tidak cocok ke rumah sakit. Dia agak tidak fokus, saat saya ajak bicara."
"Saya tanya, apa ada yang sakit? Dia tidak menjawab. Saya bertanya beberapa kali, tetap tidak ada jawaban. Saya menepi untuk memeriksa keadaannya. Ternyata dia pingsan. Jadi saya tahu dia yang sakit."
"Saya membawa sesuai titik. Setelah ditangani perawat, saya tidak bisa tinggalkan dia, karna bagasinya di mobil. Saya parkir dan ke UGD untuk melihat kondisinya."
"Perawat mengatakan: Ibu tidak apa-apa, Pak. Karna sedang hamil, mungkin kecapean dan banyak yang dipikirkan, jadi itu bisa terjadi."
"Anda bisa membayangkan kondisi itu? Saat ditanya namanya, saya membuka aplikasi untuk membaca namanya sambil berharap itu yang benar."
"Kemudian saya bicara ditelinganya agar cepat sadar. Supaya dia bisa memberikan identitas dan lainnya. Ketika dia sadar, pandangannya kosong dan cuma melihat saya. Itu adalah kondisi kedua yang membuat saya tidak bisa tinggalkan dia."
"Saya minta nomor telpon suami atau keluarganya untuk saya hubungi. Dia menggeleng dan air mata perlahan mengalir di pinggiran mata. Makin lama makin deras dan dia berusaha bangun sambil mengatakan tolong saya."
"Ini kondisi yang mengisyaratkan ada yang tidak beres dengan kehamilannya. Dalam kepala saya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Apa dia korban tindakan rudapaksa atau korban seks bebas muda mudi. Tapi perilakunya tidak menunjukan alami kedua hal itu."
"Saya kembali tidak bisa meninggalkan dia seorang diri. Dia terlihat sangat muda. Saya perkirakan dia berusia 17 atau belum 18. Dia bisa melakukan apa saja malam itu."
"Entah dia menggugurkan kandungan, atau bundir. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Tapi sikap diam dan tenangnya seperti sungai yang dalam. Kita tidak tahu ada buaya atau tidak. Menakutkan."
"Mungkin wanita lain, hamil adalah anugerah terindah. Tapi bagi Janet, hamil adalah penyakit, virus atau boom waktu yang akan membunuhnya."
"Saya seperti ditarik ke dalam pusaran yang tidak berunjung dan harus membuat pilihan. Tetap menolong dia, atau membiarkan dia begitu saja. Kenapa untuk menolong dia perlu banyak pertimbangan, karna dia gadis muda dan saya pria yang tidak dia kenal."
"Melihat malam itu dia bisa jadi mangsa empuk bagi siapa saja. Saya menetapkan hati untuk menolong dengan keyakinan, bukan kebutulan dia jadi penumpang saya malam itu."
Gevaro menyimak dengan berbagai perasaan dan terus minum air untuk meredam amarahnya. Dia jadi melihat Andri dari sisi yang lengkap. "Apa anda sebaik ini?" Pertanyaan singkat yang mengandung banyak makna.
"Relatif, Pak. Tapi bagi seseorang seperti saya yang pernah berada di ambang kematian, dan diberi kesempatan hidup satu kali lagi adalah anugerah yang tidak bisa digambarkan." Andri berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau ada seseorang butuh pertolongan, saya menyadari orang itu dikirim Tuhan untuk saya tolong. Saya akan lakukan dengan sepenuh hati sebagai rasa syukur atas kebaikan Tuhan yang membiarkan saya menemani dan mungkin memakamkan Mama. Bukan Mama yang memakamkan saya." Andri melanjutkan dengan hati penuh.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...