Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. SBR
...~•Happy Reading•~...
Devan menatap Maminya dengan pandangan kecewa dan gusar. Bayangan akan kehilangan Janet lagi membuatnya tidak tenang. Padahal dia sudah senang mengetahui keberadaan Janet.
"Mengapa kau emosi? Waktu itu kau bilang biarkan saja. Sekarang kau ngebet mau ambil dia lagi." Bu Brenda heran dengan sikap Devan yang berubah.
"Waktu itu aku marah dia kabur. Jadi gak mau cari dia. Aku berharap Papanya suruh dia balik lagi dan minta maaf padaku." Devan memikirkan alasan yang bisa diterima Maminya dan tidak mencurigai niatnya.
"Mami lupa berapa banyak Marco berhutang? Setelah lama Janet tidak kembali, aku baru sadar. Mungkin seumur hidup dia tidak bisa membayarnya." Devan terus mendesak, sebab Maminya mulai terlihat menyerah untuk mengambil Janet.
"Mami sudah tidak ingin menagih hutang itu lagi." Perkataan tajam Gevaro tentang minum alkohol di laut dan mabuk di darat membekas di hatinya.
"Sekarang dia dilindungi Devin, gak usah harapkan dia minta maaf. Anggap saja dia bukan siapa-siapamu lagi." Ucapan Bu Brenda tentang Janet dilindungi Devan, makin menaikan tensi emosi Devan.
"Kau fokus pada rumah tanggamu. Mami cape melihatmu terus berselisih dengan Devin." Bu Brenda masih trauma bertemu Gevaro.
"Dia tidak menghasilkan apa-apa, tidak memberimu anak. Selain cuma untuk bermain di atas tempat tidur denganmu." Bu Brenda ingat yang dikatakan Gevaro tentang Janet menghangatkan tempat tidur Devan.
"Mami tidak mengerti. Mami lebih sayang Devin." Devan kesal, dan mulai menggunakan senjata untuk memainkan perasaan dan kasih sayang Maminya.
~▪︎▪︎
Saat itu Devan meminta Janet pergi, karna menginginkan Meghan. Dia khawatir Meghan tahu hubungannya dengan Janet, lalu meninggalkan dia dan rencana pernikahan dibatalkan.
Namun setelah mereka menikah, dia menyadari perbedaan rasa dan kenikmatan yang signifikan antara Janet dan Meghan saat mereka pergi berbulan madu.
Sensasi berhubungan intim pertama kali dengan Janet dan Meghan sangat berbeda. Sehingga setelah menikah beberapa bulan, dia mulai mencari Janet. Hampir satu tahun terakhir dia selalu sempatkan waktu untuk mencari Janet.
Setelah bertemu, Devan terkejut melihat perubahan sikap Janet yang lebih dewasa dari saat pergi dari apartemen. Begitu juga dengan perubahan tubuhnya yang makin menggairahkan.
Dia yang pernah melihat dan menyentuh tubuh bu^gil Janet secara langsung, bisa mengetahui seluk beluknya dengan sekali pandang.
Karena terlanjur bertanya tentang keberadaan Janet di ruang kerja Gevaro, membuat dia kelabakan menjawab pertanyaan Gevaro. Dia menutupi keinginan hati dengan bersikap kasar dan tidak peduli di depan Gevaro dan Jensen.
Setelah meninggalkan kantor Gevaro, hasratnya makin tidak terbendung untuk mendapatkan Janet lagi. Tanpa menunggu, dia segera bicara dengan Maminya untuk mengambil Janet.
Dia rela mencari Marco ke berbagai tempat dan melibatkan berbagai orang yang sering mengerjakan pekerjaan kotor untuknya. Karena tinggal bersama Janet telah menjadi obsesi utamanya.
▪︎▪︎~
~▪︎▪︎
"Kau tidak usah kesal dan membanding-bandingkan dengan Devin." Bu Brenda berbicara pelan untuk menghibur Devan.
"Sekarang kita sudah tahu dia bekerja di perusahaan itu, akan gampang temukan dia. Jangan pakai Marco lagi. Lebih baik Mami sewa detektif untuk cari tahu tempat tinggalnya." Bu Grenda berharap itu bisa menenangkan Devan, agar tidak bertemu Gevaro.
"Secepatnya, Mi. Kalau Mami tidak mau cari Janet, aku yang akan cari sendiri." Devan jadi kesal, sebab dia ingin segera membawa Janet ke apartemen.
Dia bukan saja mau memastikan kehamilan Janet, tapi gairah dan sensasi bercinta dengan Janet pertama kali yang masih suci, kembali terbayang. Geloranya makin merangsang keinginannya untuk mengulanginya lagi.
"Mau cari apa?" Tanya Meghan yang masuk ke ruang makan tanpa disadari Devan dan Maminya.
Bu Brenda melihat mantunya yang masuk tanpa menyapa dan melihat Devan terdiam. "Mau cari dokter untuk periksa kesehatan kalian." Bu Brenda menolong Devan yang tiba-tiba tegang.
"Sudah tiga tahun lebih menikah, gak kunjung hamil. Ada apa dengan kalian?" Bu Brenda melanjutkan untuk menolong Devan yang kelabakan.
"Kita sudah periksa, kan, sayang?" Meghan duduk di samping Devan yang terdiam dan menepuk lengannya. Devan mengangguk, minum dan menyuap.
"Hasilnya, kami sehat, kok, Mi. Kami rajin bikin supaya bisa hamil, tapi belum juga. Mau bagaimana lagi, Mi." Meghan berkata kepada Bu Brenda sambil tersenyum madu kw.
"Bukan cuma rajin bikin. Makanan diperhatikan dan istirahat yang cukup. Jangan keluyuran terus di luar rumah sampai malam." Bu Brenda mulai curiga melihat sikap Meghan terhadap Devan dan sebaliknya.
"Iya, Mi." Ucap Meghan pelan. Dia terpaksa menjawab, karena Devan hanya mengunya, seakan yang dibicarakan Maminya tidak berhubungan dengannya Hal itu mengesalkan Meghan.
Selesai makan, Meghan mengikuti Devan ke kamar. Dia curiga pembicaraan Devan dan Maminya tentang mencari. Dia yakin, bukan mencari dokter.
"Devan, mengapa penampilanmu sangat berbeda hari ini?" Tanya Meghan yang melihat Devan sedang mematut outfit yang dikenakan di depan cermin.
"Ada pertemuan." Jawab Devan singkat. Dia sedang memikirkan Janet yang sangat terkesan melihat penampilannya saat berangkat dari apartemen. Dia ingin hal itu terulang lagi saat bertemu Janet nanti.
Meghan meradang, tapi berusaha tenang. "Devan nanti aku mau pergi shoping dengan Chibil." Ucap Meghan sambil melihat Devan mengganti outfit.
"Iya. Pergi saja." Jawab Devan singkat. Pikirannya sedang berkelana membayangkan Janet menatapnya dengan mata membulat.
"Nanti kita bertemu di mana?" Tanya Meghan yang terus memancing pembicaraan.
"Di rumah." Devan kembali menjawab singkat.
"Kau tidak jemput aku?" Nada suara Meghan naik, sebab Devan biasa menjemput, walau sibuk.
"Aku lagi sibuk dan ada masalah di perusahaan." Jawab Devan datar tanpa melihat Meghan.
"Kalau begitu, aku tidak usah pergi." Meghan ngambek dan menunjukan rasa sedih. Dia yakin, Devan akan berubah sikap dan akan menjemput. Namun yang diharapkan tidak terkabul.
"Begitu lebih baik. Kau tidak dengar yang Mami bilang tadi? Ini sudah tiga tahun lebih, kau belum hamil."
"Apa itu salahku? Aku sehat." Meghan jadi emosi.
"Bukan cuma sehat. Istirahat dan jangan sering keluyuran. Kau lupa yang aku bilang sebelum menikah? Anak diperlukan untuk bisa bertahan di sini."
"Mengapa kau tidak nikahi wanita yang sudah hamil?" Meghan sangat emosi.
"Itu yang tidak aku pikirkan sebelum menikahimu." Jawaban Devan membuat Meghan berteriak dan melemparnya dengan bantal.
"Pelankan suaramu, kalau tidak mau diusir dari sini." Bentak Devan sebelum keluar kamar. Dia mulai terpengaruh ucapan Maminya tentang hamil dan anak, hingga membuatnya emosi pada Meghan.
Meghan pun emosi dan heran dengan sikap Devan. 'Bukannya dia sendiri yang berencana mau keluar dari sini? Mengapa sekarang dia khawatir akan diusir dari rumah ini?' Meghan merasa aneh akan sikap Devan.
Meghan jadi khawatir kalau tetap tinggal di rumah mertuanya. 'Aku akan sering dengar pertanyaan yang sama setiap kali duduk di meja makan atau di ruang santai. Sudah ada tanda-tanda hamil atau belum?' Meghan mengepalkan kedua tangan, untuk menyalurkan emosi dan rasa frustasinya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...
Asyer pasti senang bisa belajar renang secara anak kecil pasti suka mainan air.
aku bacanya senyum senyum dari tadi😂
wah andri beneran nih udah mengikhlaskan janet untuk gevaro,
beneran nih ngga nyesel, . biarin ngga bisa melakukan kewajiban suami istri.. tapi selama 4 tahun beneran ngga ada cinta nih.. ❣️
babang gevaro ditunggu 🙊