Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"ma kamu kenapa , apa yg kamu liat di hp Kiara." tanya om Seno.
"pa ini... Vidio entah siapa yg kirim." jawab Tante Yuni sambil menunjukkan hp itu ke arah suami nya.
"ini.. Ini Linda ma..?" gumam Seno namun masih di dengar Bu Amira.
"apa kata mu Seno , Linda. Coba sini , saya mau liat." Tante Yuni lalu menyerahkan ponsel itu pada Bu Amira.
Bu Amira melihat vidio yg di dalam nya adalah seorang wanita yg sedang menundukkan kepala nya hingga wanita itu mendongakkan wajah nya dan melihat ke arah cctv sambil berucap.
"dimana anak ku , dimana suamiku , dimana mereka." suara nya pelan namun ada ada getaran yg membuat ia akan berteriak setelah ini.
"dimana mereka... dimana mereka...!!!!!!" teriak dia berteriak , marah dan tak terkendali.
"Antoonnn... Dimana mereka, dimana kamu sembunyikan Kiara anakku , aku tau dia masih hidup..!!!!" dia adalah Linda yg sedang mengamuk memanggil nama Anton dan menanyakan keberadaan anak nya.
"Anton .... Risma.... Kalian akan mati... Mati... Hahahahaha...!!!! Sampai aku tau anakku terluka , aku akan buat kalian membusuk di sini." ancaman demi ancaman yg terlontar di bibir Linda serta memanggil Anton dan Risma. Kedua manusia itu yg memisahkan antara anak dan ibu , dan memisahkan antara suami dan seorang ayah.
Kiara yg mendengar itu tak kuasa menahan air mata yg sudah merembes keluar membasahi pipinya, dia mendengar suara yg dia pikir itu adalah ibu kandung nya yg selama ini menghilang.
Begitupun Bu Amira yg mengira jika Linda sudah tiada , namun ia bersyukur jika Linda masih di berikan kehidupan walaupun dengan cara tragis.
"dimana mereka menyekap Tante Linda." tanya Bara.
"yg pasti itu jauh dari sini bar , bagaimana kalo cari. Gue gak tega lihat nya , Kiara gue tau perasaan gimana , tapi lu yg sabar ya pasti kami akan mencari nya." ucap nya.
"jangan suruh gue sabar Vera..." ucap Kiara dengan nada dingin, "Gue harus mencari dia , dia ibu kandungku. Tak akan ku biarkan yg menyekapnya hidup dengan tenang." sambung nya dengan penuh penekanan.
"kamu tenang Kiara , kita pastikan dulu dimana Linda dan kita harus cari tau siapa pemilik nomor ini." sahut om Seno.
"apa..? Tenang..? Bagaimana bisa aku tenang om , sedangkan ibu ku di kurung di sana, dia di ikat dan di pasung..!" teriak nya.
"Kiara.. Sayang, sudah nak kamu yg tenang sabar, om Seno dan yg lain nya akan segera bergerak menuju ke lokasi." ucap nenek nya sambil mengelus punggung cucu nya.
"iya Kiara apa yg dikatakan nenek mu benar , aku janji bakalan membawa Tante Lindu untuk mu." ujar Bara.
"aku harus ikut.." Kiara menatap tajam ke arah Bara , Bara hanya menghela nafas panjang nya . emang susah bicara dengan orang yg keras kepala , namun Bara pun hanya bisa mengalah.
"oke.. oke kamu ikut..?" " dan mama sama nenek Amira di rumah , Vera lu tetap di rumah jangan lupa kabarin kami, nanti ada Bima dan Justin yg udah gue suruh ke rumah." perintah Bara.
"oke lu tenang aja bar." Bara mengangguk.
"tapi Bara papa masih penasaran siapa yg mengirimi vidio itu, gak mungkin anak buah Anton. Mereka gak akan berani berkhianat pada bos nya." sahut papannya Bara.
"dan dia juga pasti bukan orang sembarangan pa , lihat kan gak mungkin dia mengirim vidio ini tanpa di ketahui anak buah Anton, berani sekali dia." ujar Tante Yuni.
"iya ma kamu benar , Vera kamu bisa lancar nomer hp itu." pinta nya.
"bisa om , uhm maaf Kiara gue boleh cek nomer itu." ujar nya meminta izin, Vera lalu menyerahkan ponsel itu ke Vera , setelah itu Vera mengecek nomer itu.
melihat wajah Vera yg bingung Bara lalu bertanya, "kenapa Vera..?" tanya Bara.
"gue tau alamat ini Bara..." gumam nya lalu melirik Bara dan Kiara.
"maksud mu.." tanya Bu Yuni
"alamat nya di Kabupaten Karawang (Jawa Barat) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bekasi di wilayah penyangga timur Jakarta." jawab Vera.
"masih dekat , ya cukup jauh jika kita berangkat ke sana sekarang. Kita harus cari orang itu dan kita minta dia untuk mencari tempat penyekapan Linda." ucap om Seno
"papa udah kabarin orang-orang papa, mereka udah bergerak menuju ke alamat yg papa kirim." Bara hanya mengangguk lalu ia menghidupkan mobil itu dan melesat keluar pagar.
.
.
.
Singkat waktu mereka telah sampai di tujuan setelah menempuh perjalanan cukup jauh , ketiga nya lalu turun dan menemui anak buah Seno.
"pak Seno.." sapa mereka.
"apa sudah kalian temukan orang itu." mereka menggelengkan kepalanya.
"tapi kami menemukan sebuah gubuk pak Seno." sahut yg lain.
"gubuk..? Dimana itu." tanya Bara.
"saat kami berempat berpencar, Aldi teman kami tak sengaja menemukan gubuk dan lokasi nya dekat hutan pak Bara." jawab nya.
"apa masih dekat dengan pemukiman." sahut pak Seno.
"100 meter dari pemukiman pak Seno, agak jauh dan seperti nya para warga yg di sana tak pernah curiga dengan gubuk itu." ucap Aldi anak buah Seno.
"aneh.. kenapa mereka tidak mencurigai ada nya gubuk itu di sana." ujar Kiara.
"menurut saya kemungkinan mereka di bayar oleh anak buah Anton untuk membungkam mulut para warga agar tak bocor atau melaporkan ke pihak berwajib jika mereka menyekap seorang wanita." ujar nya.
"logika sih tapi mana mungkin kan sampai 25 tahun Tante Linda di sekap di sana ." gumam nya.
"sudah sudah , gimana kalo kita cek gubuk itu." ajak om Seno lalu Aldi memimpin perjalanan untuk menuju ke gubuk itu.
Gubuk itu tak terlalu jauh , namun mereka harus berhati-hati takut nya ada jebakan yg di buat oleh anak buah Anton.
Tak lama kemudian mereka sampai , namun tak terlalu mendekati gubuk itu karena anak buah Anton sedang berjaga di sana.
"jadi apa.." tanya Bara Dangan was-was.
"kita atur strategi, Aldi sama Guntur kalian alihkan mereka, Dani sama Toni kalian berjaga di sekitar sini dan kabari kami jika ada yg datang." perintah nya
"baik pak Seno." ucap nya kompak.
"kita bertiga masuk dan Kiara ingat kamu harus bisa jaga diri , karena ini juga menyangkut nyawa." bisik om Seno, Kiara hanya mengangguk paham.
Mereka lalu berpencar masing-masing mengambil tugas dari perintah bos nya , om Seno, Bara dan Kiara dengan cepat menuju ke gubuk dan masuk ke dalam nya.
Di dalam sana mereka pikir gubuk itu hanya gubuk kecil, ternyata ada ruang tersendiri di sana . Mereka bertiga lalu masuk dengan hati-hati lalu menutup kembali pintu itu, om Seno yg paling depan memimpin langkah Bara dan Kiara.
Ruangan yg agak sempit dan pengap tanpa jendela hingga mereka sampai di ujung lorong. Di sana ada sebuah pintu coklat , om Seno lalu meraih gagang pintu itu dengan jantung yg sudah berdegup kencang , begitu pun dengan Bara dan Kiara mereka sambil menelan Saliva nya karena harus tepat waktu keluar dari lorong ini agar anak buah Anton tak kembali lagi ke gubuk.
saat Seno akan membuka pintu itu, pintu itu ternyata tak terkunci mereka beruntung lalu ketiga nya gegas masuk dan betapa kagetnya mereka saat masuk melihat isi di dalam ruangan itu.
Bersambung