NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan Makan Siang

Nyerahin draf revisi tepat jam satu siang itu rasanya kayak abis lolos dari lubang jarum. Senja sengaja naruh bundel proposal itu di meja Arsen dengan suara agak digebrak—biar cowok itu tahu kalau Senja kerja setengah mati demi nurutin egonya.

​Tapi respons Arsen? Cuma lirik jam tangan, nutup laptop, terus berdiri.

​"Bawa tas kamu. Kita bahas ini di jalan sekalian makan siang sama perwakilan Grand Wijaya," kata Arsen pendek, langsung nyamber kunci mobil tanpa nunggu jawaban Senja.

​Senja cuma bisa melongo, ngedumel dalam hati sambil buru-buru balik ke kubikelnya buat ambil barang. Sialan emang, dikira gue nggak butuh napas apa.

​Sekarang, di sinilah Senja berada. Duduk di kursi penumpang depan mobil sedan hitam milik Arsen. Mobilnya kelihatan biasa aja dari luar, tapi pas Senja nutup pintunya tadi, suaranya kedengaran solid banget, bener-bener kedap dari bisingnya jalanan Jakarta.

​Arsen menyetir dengan satu tangan, santai tapi pandangannya fokus ke depan. Sampai akhirnya, pas mereka masuk ke area jalur cepat di daerah Tomang, atmosfer di dalam mobil mendadak berubah.

​Senja awalnya nggak ngeh. Tapi dia mulai sadar pas Arsen mendadak sering banget ngelirik kaca spion. Nggak cuma sekali dua kali, tapi ritmenya konstan banget, kayak orang yang lagi waspada penuh.

​"Pak, kelewatan nggak sih jalurnya? Harusnya kita ambil kiri kan buat ke restoran tempat ketemuan?" tanya Senja sambil nunjuk plang jalan di depan.

​Arsen nggak jawab. Cowok itu malah mendadak nginjek pedal gas dalem-dalem. Mesin mobil itu ngaung pelan, dan badan Senja langsung terdorong ke belakang karena percepatan yang mendadak gila.

​"Pak Arsen?! Low-low, ini jalur padat, Pak! Jangan ngebut-ngebut!" pekik Senja, refleks pegangan erat-erat sama seatbelt-nya.

​Arsen tetep diem. Tatapannya tajam banget ke arah spion. Di belakang mereka, ada dua motor sport warna hitam tanpa pelat nomor yang mulai selap-selip agresif, mencoba buat mepet mobil Arsen.

​"Senja, pegangan," ucap Arsen lempeng. Dia memutar setir dengan kasar ke arah kanan, memotong sebuah truk kontainer dengan jarak yang tipis banget.

​Tinfffff!!!! Suara klakson truk menggema panjang.

​Senja udah mau mati rasanya. Jantungnya berdegup kencang. "Pak Arsen lo gila ya?! Mau mati bareng apa gimana?!" teriak Senja, bener-bener ilang rasa sopannya karena udah ketakutan setengah mati.

​Arsen nggak peduli. Dengan tenang, dia malah ngerem mendadak, bikin dua motor di belakang mereka over-shoot alias kelewat di depan mobil, lalu Arsen langsung banting setir masuk ke gang kecil di sebelah kiri dengan kecepatan yang nggak masuk akal. Mobil itu melesat lincah, ngepot tipis di labirin jalan tikus sampai akhirnya mereka keluar lagi di jalur yang berbeda. Dua motor sport tadi hilang, kalah taktik.

​Arsen melambatkan laju mobilnya, kembali menyetir dengan kecepatan normal seolah-olah adegan kejar-kejaran barusan itu cuma imajinasinya Senja doang.

​Senja duduk merosot di kursinya, napasnya ngos-ngosan, mukanya udah pucat. "Lo... lo beneran gila ya, Pak? Tadi itu apa-apaan?!"

​Arsen melirik Senja sekilas. Nggak ada raut bersalah atau tegang di mukanya. Dingin banget. "Jakarta siang hari emang banyak pengendara motor yang ugal-ugalan. Saya cuma menghindari masalah. Sudah, turun. Kita sudah sampai."

​Restorannya tipe fine dining yang privat dan mahal. Di dalam ruangan VIP, sudah ada tiga orang pria paruh baya perwakilan dari pihak Grand Wijaya. Pakaian mereka necis, tapi cara mereka menatap Senja sejak pertama kali melangkah masuk langsung bikin Senja merasa nggak nyaman. Tatapan menilai yang sedikit terlalu lama dari atas ke bawah.

​"Wah, Pak Arsen. Nggak salah memang Malik Media jadi agensi nomor satu. Selain konsepnya bagus, asistennya juga secantik ini," ujar salah satu klien bernama Pak Baskoro, tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan ke Senja.

​Senja tersenyum formal, menyambut uluran tangan itu. Tapi Pak Baskoro sengaja menggenggam tangan Senja sedikit lebih lama dari durasi jabat tangan normal.

​"Namanya siapa tadi? Senja? Nama yang indah, secantik orangnya. Nanti kalau presentasi, kamu aja ya yang jelasin. Biar saya makin semangat dengerinnya," timpal pria satunya lagi sambil terkekeh, sengaja menggeser kursi di sebelahnya seolah memberi isyarat agar Senja duduk di sana.

​Senja menahan geli di perutnya. Baru juga mulai, udah ketemu bapak-bapak genit berduit. Pas Senja lagi mikir nyari alasan sopan buat nolak duduk di sebelah pria itu, sebuah tangan dengan kemeja hitam yang digulung rapi sampai siku mendadak menarik kursi di ujung meja—kursi yang jaraknya paling jauh dari para klien, tepat di sebelah posisi duduk Arsen sendiri.

​"Senja, duduk di sini. Taruh proposalnya di meja," perintah Arsen. Suaranya datar, tapi nadanya mutlak nggak bisa dibantah.

​Para klien itu agak tersentak, tapi langsung tertawa canggung. "Waduh, Pak Arsen protektif banget ya sama asistennya."

​Arsen tidak membalas candaan itu. Dia duduk dengan tegap, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap ketiga pria di depannya bergantian. Ada kilatan dingin di mata Arsen yang mendadak bikin atmosfer ruangan VIP yang tadinya penuh tawa genit langsung berubah jadi agak sunyi dan kaku.

​"Kita di sini untuk membahas bisnis, Pak Baskoro. Bukan untuk mencari teman mengobrol," ucap Arsen tenang, tapi entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti sebuah peringatan berat. "Senja sudah bekerja keras memperbaiki draf ini sesuai permintaan saya. Jadi saya harap, fokus kita siang ini ada pada lembaran kertas di depan Anda, bukan pada hal lain."

​Pak Baskoro menelan ludah, senyum genitnya langsung surut berganti anggukan kaku. "Ah, iya, tentu saja, Pak Arsen. Mari kita mulai."

​Senja yang duduk di sebelah Arsen sempat tertegun. Dia melirik bos tirannya itu dari samping. Arsen sedang membuka berkas dengan wajah lempengnya yang menyebalkan. Tapi entah kenapa, Senja baru sadar satu hal. Ketegangan saat kejar-kejaran mobil tadi, ditambah cara para klien kaya ini langsung mati kutu hanya karena satu kalimat dari Arsen... semuanya terasa nggak biasa.

​Bosnya ini bukan cuma sekadar robot korporat yang kaku. Ada sesuatu yang jauh lebih dominan, gelap, dan disegani dari seorang Arsen Malik, dan orang-orang di luar sana seolah tahu hal itu.

​Senja merapatkan duduknya, mendadak merasa kalau dunianya setelah ini nggak akan pernah sama lagi sejak mengenal cowok di sebelahnya ini.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!