“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 Pergi
Hembusan angin menyapa — helaian surai panjang sepinggang itu, berterbangan tatapan wanita itu kosong ke laut kepalanya menyandar di bahu kokoh—yang tidak akan pergi.
" Masih capek? " Tanya Samudra tangannya bergerak mengelus rambut Arumi, aroma sampo mengguar dari setiap helai rambut tersebut. " Aku capek banget " Sahut nya
" Kalau kamu capek ingat tuhan selalu menjadi rumah mu " Ucap Samudra membuat Arumi menegakkan punggung nya. " Katanya kamu sayang sama aku, kenapa kamu berkata kalau Tuhan selalu jadi rumah untukku? .. Lalu apakah kamu bukan rumahku? " Tanya Arumi dengan suara serak
Samudra menatap lekat langit yang mendung, " Arumi rumah itu hanya ada satu, untuk jiwa yang pergi sebaik-baiknya rumah adalah Tuhan. Dia tidak akan mengecewakan kamu — tidak akan pernah meninggalkan kamu, " Jelas Samudra
" Apakah kamu akan meninggalkan aku? " Mata Rumi memerah — Samudra tersenyum lembut tetiba Samudra meniupkan sesuatu ke wajahnya, membuat tubu Rumi terkulai lemah matanya tertutup ' maafkan aku '
****
" Abang! " Pekik Arumi kala membuka matanya ia mengerjapkan matanya dengan cepat, lagi-lagi ia ada dikamar nya sendiri seingat nya ia ada di laut sama Samudra nya namun?. Ini sudah kedua kalinya
Ia bergegas menghubungi Samudra namun lelaki itu tidak aktif, " Ada apa? " Gumamnya tangannya bergetar tidak kuasa menahan segalanya — perasaan buruk menghantui nya
" Kenapa aku bisa disini?, kenapa perasaan ku ngga enak?.. Aku harus temui abang! " Kata nya ia bergegas menuju ke kamar mandi bersiap-siap untung saja, Samudra pernah mengasih alamat kontrakan nya
Ia langsung pergi ke kontrakan tersebut diantar ojek online, sesampainya di rumah kontrakan minimalis itu — ia di kejutkan oleh penghuni rumah yang ternyata bukan Samudra.
" Teman saya loh mbak dia tampan — namanya Samudra Dirgantara " Ulang Arumi entah sudah keberapa kalinya.
" Maaf mbak tapi saya sudah menyewa rumah ini, lebih dari satu tahun " Sahut Ibu itu membuat bahu Arumi terkulai
" Ya sudah terimakasih maaf menganggu " Harapannya gugur, rasa ingin tahu menusuk nya ia bertanya-tanya mengapa Samudra membohongi diri-Nya. Kalau ia tinggal disana?
" Eh Rumi bikin kaget aja kamu! " Sentak Dinda saat melihat Rumi yang datang ke supermarket dengan Wajah kusut.
" Bos udah datang? " Tanya Rumi dengan cepat membuat Raisa dan Dinda saling tukar pandang. " Sudah " Sahutnya
" Makasih! " Arumi berlari dengan cepat ke ruangan Arsya hanya lelaki itu yang tahu kemana perginya Samudra.
𝘒𝘳𝘦𝘬!
Arsya terperanjat saat mendengar pintu terbuka lebar, seorang wanita dengan wajah kusut terlihat jelas ia memutar kedua bola matanya malas.
" Maafkan saya pak ngga sempat, ketuk pintu ada hal penting yang saya mau tanya " Kata Arumi dengan suara bergetar
" Masuk! " Arsya menutup laptopnya tatapan nya menelisik, Rumi yang seolah tidak sanggup berdiri dengan tungkai lemahnya itu.
" Saya kesini mau bertanya dimana, Bang Samudra? Kenapa tetiba dia pergi? " Tanya Arumi bibirnya bergetar hebat air mata mengalir Entah kenapa hati Arsya berdenyut nyeri saat melihat — air mata wanita itu.
" Kamu kesini hanya untuk bertanya tentang Samudra? " Tanya Arsya takjub
" Bos saya tahu, pasti ada sesuatu yang bos sembunyikan katakan lah! " Desak Arumi
Arsya menghela napas panjang tangannya mengambil sebuah notes kecil, ia menulis dengan rapi sebuah alamat. " Itu rumah Samudra, kesanalah dan kamu akan tahu segalanya " Cakap Arsya ia memberikan selembar notes tersebut
" Terimakasih pak " Arumi berlalu dengan cepat Arsya menghela napas dalam. " Lo beruntung Sam dicintai sama dia " Gumamnya
\*\*\*\*
" 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘨𝘶𝘮𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 "
- 𝘚𝘢𝘮𝘶𝘥𝘳𝘢 𝘋𝘪𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 -