Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 20 Semut dan Telur
Tek!
Ternyata semut seramah-ramah memiliki cangkang badan yang kuat. Ketika pertama kali Purwasaga hendak membunuh semut itu dengan cukup memencetnya, ternyata semut itu tidak remuk. Perlu sedikit tenaga dalam untuk membuat semut seramah-ramah remuk, sampai-sampai suara kehancurannya terdengar seperti gigi menghancurkan kacang Arab.
Purwasaga kembali membungkuk setelah membuang bangkai semut di jarinya. Ia menyalakan ilmu Genggaman Merah Putih. Dengan sinar merah di tangan itu, Purwasaga bisa melihat kondisi telur lolot berwarna biru gelap.
Terlihat ada titik-titik hitam yang bergerak di kisaran sisi bawah cangkang telur sebesar pelukan itu. Titik-titik hitam yang bergerak itu tidak lain adalah kawanan semut.
“Hahaha! Aku basmi kalian semua,” ucap Purwasaga setelah tertawa jahat.
Purwasaga lalu menempelkan tangan kanannya di sisi atas cangkang telur. Seketika sinar putih yang terbang-terbang mengitari tangan itu menempel pada cangkang dan menjalarkan lapisan sinar putih ke seluruh permukaan cangkang telur, seperti sedang disirami cat putih cair.
Tup tup tup!
Semut-semut yang terkena sinar putih langsung meletup seperti jagung yang jadi berondong di dalam panggangan.
“Hahaha!” tawa Purwasaga merasa puas.
Setelah dia yakin semua semut di telur telah dibantai, Purwasaga kembali mencoba mengangkat telur besar tersebut. Karena sudah mengerahkan tenaga dalam, telur pun terangkat dari tanah.
Pemuda itu lalu berbalik dan pergi menuju ke luar. Di luar, ia meletakkan telur besar yang terlihat mengagumkan tersebut. Cahaya matahari membuat telur terlihat lebih indah.
Purwasaga sejenak memerhatikan kejelasan kondisi telur lolot tersebut. Setelahnya dia kian bersemangat masuk ke gua lagi dengan berlari. Sementara ini dia tidak mengindahkan rasa denyut di jarinya yang tadi digigit oleh semut seramah-ramah.
Purwasaga terus berjalan masuk melewati titik dia tadi menemukan telur lolot.
Srokr!
“Aaak!” jerit Purwasaga saat tiba-tiba tubuhnya terperosok jatuh.
Namun, jatuhnya Purwasaga tidak bersih karena dia jatuh setelah tanah yang dipijaknya jebol sebab tekanan. Jadi, tubuh si pemuda menjebol lapisan tanah dan sejenak jatuh di ruang kosong.
Cprak!
Detik berikutnya, Purwasaga merasakan tubuhnya masuk ke dalam cairan. Bukan air biasa karena dia bisa merasakan kekentalannya yang lengket.
Tidak lama karena Purwasaga merasakan tubuhnya berhenti meluncur dan telah keluar dari alam cair yang menyelimuti tubuhnya.
Ia membuka sepasang matanya yang terasa basah dan lengket.
Terbeliak Purwasaga melihat pemandangan yang dilihatnya. Ia melihat tumpukan telur lolot yang warna-warni sehingga indah di mata. Besar telur-telur itu serupa dengan yang telah diambil oleh Purwasaga.
Purwasaga juga melihat ke sekitar. Ternyata dia baru saja meluncur jatuh dari sebuah lubang yang digelayuti lendir warna hijau muda, tetapi tidak mengalirkan lendir. Pada sisi bawah tebing memang ada kumpulan lendiri warna hijau muda.
Lubang semisal tempat Purwasaga keluar tidak hanya ada satu, tetapi tersebar di dinding yang mengelilingi ruangan luas itu. Tempat itu terang oleh cahaya bebatuan warna kuning yang tersebar di dinding dan langit-langit yang tertutup.
Sisi bawah tempat itu dipenuhi oleh telur lolot yang beraneka warna, bahkan ada yang memiliki corak tertentu seperti batik dan lain-lain. Saking banyaknya telur lolot, tumpukan telur sampai membentuk bukit kecil.
Di tebing pada ketinggian yang lebih tinggi, ada sebaran mulut-mulut gua seperti ruangan perut bukit yang lain. Untuk yang itu tidak ada jejak lendirnya.
“Wow! Dihukum mengambil seratus pun akan gampang,” ucap Purwasaga kepada dirinya sendiri dengan tatapan yang takjub.
Ia lalu mengusap keningnya. Ia baru tersadar bahwa tubuh dan pakaiannya sangat berlendir. Dan ternyata, bau asing yang tercium sejak memasuki gua bukit merupakan bau dari cairan lendir itu.
“Air apa ini? Jangan-jangan ini air kencing lolot,” batin Purwasaga dengan wajah mengerenyit.
Purwasaga tidak tahu bahwa lendir itu meupakan kumpulan air ketuban lolot yang sedang bertelur.
Purwasaga lalu bergerak mendaki menaiki telur-telur tersebut. Kekerasan cangkang telur lolot membuatnya tidak masalah diinjak-injak oleh seorang manusia dewasa seperti Purwasaga.
Akhirnya, Purwasaga sampai di puncak, tetapi itu bukan puncak tertinggi. Setelah puncak itu, susunan telur menurun, lalu naik lagi, lalu turun lagi, demikian seterusnya hingga mendaki lagi ke puncak tertinggi.
Jadi tumpukan atau susunan telur-telur yang jumlahnya mungkin ada ribuan butir tersebut, memiliki pola lingkaran obat nyamuk bakar yang berujung pada titik tengah yang membentuk tumpukan tertinggi.
Nah, di puncak tertinggi itulah ada sebutir telur yang berwarna emas agak bercahaya. Puncak itu terlihat sangat jelas oleh Purwasaga yang masih jauh dari pusat dan terlihat indah.
“Waaah, indahnya. Itu pasti telur emas yang Lintha maksud. Katanya, jika aku mengambilnya, penjaga makam terlarang tidak akan tahu bahwa pengaman pertama segel makam telah terbuka,” pikir Purwasaga. “Lebih baik aku mengambil tiga telur lolot biasa dan satu telur emas. Nanti telur emas akan aku sembunyikan.”
Purwasaga diam berdiri dengan pandangan memerhatikan gua-gua di atas. Dia sedang mencari jalan mudah untuk naik.
“Ah di sana,” ucap Purwasaga dengan tatapan terpaku pada satu mulut gua yang memiliki akses turun lebih mudah dibandingkan yang lain.
Baru saja Purwasaga membungkuk hendak meraih sebutir telur berwarna merah terang, dia terkejut. Pasalnya dia melihat sudah ada banyak semut merah gelap merayap di area kaki dan celananya yang diliputi lendir.
Duk duk duk!
Buru-buru Purwasaga menghentak-hentakkan kedua kakinya bergantian untuk menghempaskan para semut itu dari kaki dan celananya. Ia juga menebas-nebas celananya dengan tangan.
“Ak! Akk! Akk!” pekik Purwasaga tertahan, lalu berlanjut dengan pekikan kedua dan ketiga. Sepertinya akan ada pekikan keempat. “Akk!”
Purwasaga menjerit karena merasakan sengatan yang menyakitkan di kejantanannya dan di sekitarnya.
Sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya di atas cangkang telur, Purwasaga buru-buru melorotkan celananya dari atas ke bawah, bukan sebaliknya. Ia tidak sungkan lagi karena memang tidak ada manusia lain atau seorang pun Bangsa Panjaga Biru di tempat tersebut.
Purwasaga segera bergeser tempat demi menghindari pasukan semut seramah-remah yang tahu-tahu sudah menaklukkan benteng vitalnya.
Buru-buru Purwasaga memeriksa piaraannya tanpa ragu. Semut yang dipergokinya masih terlena dalam menggigit langsung dia tangkap dan memaksanya lepas. Upaya penyisiran ini tidak perlu diceritakan secara lengkap karena sudah bisa dibayangkan seperti apa sengitnya.
Singkat cerita. Purwasaga akhirnya berhasil terbebas dari semut seramah-ramah yang tidak ramah. Ia telah kembali mengenakan celananya dengan rapi. Namun, Purwasaga harus menahan derita.
Denyutan sakit akibat gigitan semut seramah-ramah tidak hanya di tiga titik anggota tubuh piaraan Purwasaga, tetapi juga di paha, lutut, betis dan jari-jari kaki.
Sekarang, Purwasaga sangat memerhatikan area bawah karena para semut seramah-ramah yang marah-marah itu datangnya dari area bawah.
“Aku tidak boleh berhenti bergerak agar semut itu tidak merayap ke kakiku. Aduh, kejantananku bengkak besar,” kata Purwasaga di dalam hati. Ia yang terus penasaran dengan kondisi keluarga terdekatnya itu kembali melongok ke dalam celana.
Purwasaga hanya bisa meringis. Tidak ada jalan lain selain bergerak sambil menahan derita di area bawahnya.
“Hup!”
Purwasaga lalu mengangkat satu telur dengan pengerahan sedikit tenaga dalam. Ia kemudian berlari di atas hamparan telur-telur dengan membawa satu telur di dalam pelukan. Ia pergi menuju jalan yang sudah ia nilai akan mudah didaki untuk naik ke lubang gua. (RH)
hahhhh