Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Jamuan di Sarang Singa
Pesawat jet pribadi milik Reynald Group mendarat dengan mulus di Bandara Changi, Singapura. Chelsea melangkah turun dari tangga pesawat, mengenakan kacamata hitam dan setelan power suit berwarna putih tulang yang memancarkan aura otoritas. Di sampingnya, Reynald berjalan dengan langkah tegap, tangannya sesekali menyentuh punggung Chelsea secara protektif.
"Selamat datang di Singapura, Nona Chelsea," sapa seorang pria berseragam yang sudah menunggu di samping mobil Rolls-Royce hitam.
"Terima kasih. Kita langsung menuju Hotel Marina Bay Sands. Aku tidak ingin terlambat untuk jamuan pembukaan tender," ucap Chelsea dengan nada dingin dan taktis.
Di dalam mobil, Reynald menggenggam tangan Chelsea. "Arthur Chen akan ada di sana. Dia bukan tipe pria yang menyerang dengan senjata, dia menyerang dengan kata-kata. Dia akan mencoba memancingmu."
Chelsea menatap Reynald, matanya berkilat. "Biarkan dia memancing. Dia akan terkejut melihat apa yang ia dapatkan di ujung kailnya."
Jamuan makan malam itu diadakan di sebuah ruangan privat mewah yang menghadap langsung ke arah pelabuhan Singapura yang sibuk. Lampu-lampu kapal di kejauhan tampak seperti permata yang terapung di atas air hitam. Saat Chelsea dan Reynald masuk, suasana ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi.
Di ujung meja panjang, seorang pria paruh baya dengan rambut yang disisir rapi dan tatapan mata yang setajam silet berdiri. Arthur Chen.
"Tuan Reynald, suatu kehormatan. Dan... Nona Chelsea Latief," Arthur mengulurkan tangannya. Senyumannya tampak ramah, namun matanya tidak tersenyum. "Kudengar Anda adalah keajaiban medis yang baru saja 'bangkit' untuk menguncang dunia bisnis."
"Hanya seorang wanita yang tidak suka barang miliknya dicuri, Tuan Chen," jawab Chelsea sembari menyambut jabat tangan itu. Ia merasakan tekanan yang kuat, sebuah tes kekuatan yang halus.
Makan malam berlangsung dengan percakapan bisnis yang berat. Namun, di tengah hidangan utama, Arthur tiba-tiba meletakkan garpunya.
"Nona Chelsea, proyek pelabuhan yang Anda ajukan... skema efisiensi logistiknya sangat mirip dengan algoritma yang pernah dikembangkan oleh mendiang Nadia Kirana. Bahkan, ada satu detail kecil tentang 'Distribusi Variabel X' yang hanya diketahui oleh Nadia. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"
Pertanyaan itu seperti bom atom di tengah ruangan. Seluruh direktur di sana menahan napas. Ini adalah serangan langsung Arthur untuk membongkar identitas Chelsea.
Chelsea tidak goyah. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang, lalu menatap Arthur. "Tuan Chen, jika Anda ingin memenangkan tender, Anda harus belajar membaca arsip. Nadia Kirana mungkin sudah mati, tapi catatan dan risetnya adalah properti intelektual yang sekarang menjadi milik perusahanku. Hanya orang bodoh yang tidak memanfaatkan harta karun seperti itu."
Arthur terkekeh, namun sorot matanya semakin dingin. "Jawaban yang cerdas. Tapi Anda tahu, Nadia Kirana punya satu kebiasaan... dia selalu menambahkan tanda tangan kecil di setiap kodenya. Apakah Anda juga melakukannya?"
Sebelum Chelsea menjawab, ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama dengan pengirim syal biru:
"Hati-hati dengan anggurmu, Kirana. Arthur tahu kau tidak bisa minum alkohol jenis Merlot."
Chelsea melirik gelas di depannya. Benar saja, Arthur baru saja memerintahkan pelayan untuk menuangkan Merlot ke gelasnya. Nadia Kirana alergi terhadap jenis anggur itu. Jika ia meminumnya, identitasnya akan terancam. Jika ia menolaknya dengan alasan yang salah, Arthur akan semakin curiga.
"Nona Chelsea? Mengapa tidak dicicipi? Ini Merlot terbaik dari perkebunan pribandiku," ucap Arthur dengan nada menantang.
Chelsea tersenyum manis, ia mengangkat gelasnya, namun bukannya meminumnya, ia justru menuangkan sedikit anggur itu ke atas dagingnya. "Anggur sebagus ini lebih cocok untuk memperkaya rasa hidangan daripada sekadar diminum. Bukankah begitu, Tuan Chen?"
Reynald yang menyadari ketegangan itu langsung menaruh tangannya di atas tangan Chelsea. "Tunanganku sedang dalam program detoksifikasi atas saran dokter pribadinya. Aku harap Anda tidak keberatan, Tuan Chen."
Arthur menyipitkan mata, merasa permainannya digagalkan. "Tentu saja tidak. Kesehatan adalah aset yang paling berharga."
Jamuan berakhir dengan rasa cemas yang menggantung. Saat mereka kembali ke kamar hotel, Chelsea menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia membuka pesan misterius itu lagi.
"Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dia membantuku, tapi juga seolah-olah sedang mengawasiku?" bisik Chelsea.
Reynald mendekatinya, berlutut di depannya. "Kita akan mencari tahu. Tapi untuk sekarang, Arthur Chen secara resmi telah menandaimu sebagai target utamanya. Perang di Singapura baru saja dimulai."