Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Delvin dan Moly akhirnya digiring keluar dari mansion oleh para pengawal. Wajah Delvin dipenuhi amarah, sedangkan Moly beberapa kali menoleh ke arah Viona sebelum akhirnya keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan mansion.
***
Beberapa saat setelah selesai mengganti perban, Dokter Fang menutup kotak peralatannya.
“Nona Viona, istirahatlah. Saya ingin berbicara sebentar dengan Tuan Dylan.”
“Baik, Dokter,” jawab Viona.
Dylan mengikuti Dokter Fang keluar menuju koridor.
Dokter Fang baru berhenti setelah memastikan Viona tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.
“Dylan, kondisi fisiknya tidak ada masalah serius. Namun, yang lebih mengkhawatirkanku adalah kondisi mentalnya.”
Dylan mengernyit.
“Maksudmu?”
“Tadi dia berani mengancam bunuh diri demi menghindari keluarga Jiang. Orang yang sudah berpikir menggunakan kematian sebagai jalan keluar biasanya menyimpan trauma yang sangat dalam.”
Dokter Fang menghela napas pelan.
“Aku sarankan setelah kondisi fisiknya stabil, bawalah dia menemui dokter spesialis kejiwaan. Dia membutuhkan terapi, bukan hanya pengobatan fisik.”
Dylan terdiam beberapa saat.
“Aku mengerti.”
“Untuk sementara, jangan biarkan dia sendirian terlalu lama dan usahakan jangan ada lagi kejadian yang memicu traumanya.”
“Aku akan menjaganya,” jawab Dylan singkat.
Setelah Dokter Fang pergi, Jay menghampiri Dylan yang masih berdiri di koridor.
“Tuan, apakah ada perintah?” tanya Jay.
“Serang Grup Jiang.”
Jay terkejut.
“Tuan... Grup Jiang adalah perusahaan keluarga Anda.”
Dylan tersenyum dingin.
“Bukan keluargaku. Perusahaan itu sudah lama menjadi milik Delvin. Aku ingin menggulingkannya dari kursi direktur.”
Jay mulai memahami maksud atasannya.
“Tuan ingin menjatuhkan harga saham mereka?”
“Benar.”
“Lalu membantu mereka secara diam-diam?”
Dylan mengangguk.
“Buat mereka percaya masih ada harapan.”
“Jadi... Tuan ingin membeli saham mereka saat nilainya anjlok, kemudian menguasai perusahaan itu sepenuhnya?” tanya Jay.
“Tepat. Pastikan Delvin tidak pernah tahu siapa pembeli saham-saham itu..Pada saat perusahaan berada di ujung tanduk, dia tidak akan punya pilihan selain menjual sahamnya dengan harga murah.”
Jay menerima sebuah flashdisk yang disodorkan Dylan.
“Tuan... Anda yakin ingin menggunakan ini?”
“Sudah waktunya. Aku menunggu hari ini selama belasan tahun.Delvin sudah keterlaluan. Di saat perusahaan sedang terlilit utang, Sanny membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, ditambah tuntutan hukum dari Viona.”
Dylan tersenyum tipis.
“Dalam waktu yang bersamaan, aku akan membuat Grup Jiang kehilangan kepercayaan para investor.”
Jay menggenggam flashdisk itu erat. “Saya mengerti, Tuan.”
Dylan menatapnya dengan dingin.
“Mulai malam ini, aku ingin Delvin merasakan bagaimana rasanya kehilangan semua yang selama ini dia banggakan.”
“Baik, Tuan. Saya akan memastikan rencana ini berjalan tanpa meninggalkan jejak.”
“Ma, sudah saatnya aku menagih semua utang Delvin kepada kita,” gumam Dylan dengan tatapan dingin.
Ia menatap Jay yang berdiri di depannya.
“Pantau semua rumah sakit. Jika ada informasi tentang pendonor hati yang cocok untuk Sanny, pastikan rencana mereka gagal.”
Jay sedikit terkejut.
“Tuan, maksud Anda...”
“Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki jalan keluar,” jawab Dylan dingin. “Buat mereka kehilangan semua harapan.”
“Baik, Tuan,” jawab Jay.
Rumah sakit.
Delvin dan Moly memasuki ruang perawatan Sanny.
“Pa, Ma!” seru Sanny yang duduk bersandar di ranjang.
Moly segera menghampiri putrinya.
“Sanny, bagaimana kondisimu? Apakah masih merasa sakit?”
“Aku masih lemas, Ma,” jawab Sanny. “Tapi aku ingin tahu... apakah aku benar-benar membutuhkan pendonor? Dan apakah sudah ditemukan?”
Delvin yang duduk di sofa terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Pendonor yang paling cocok adalah Viona.”
Sanny langsung terdiam.
“Dia?”
“Benar,” jawab Delvin. “Tapi sekarang dia berada di sisi Dylan, jadi rencana kita tidak berjalan mudah.”
Wajah Sanny berubah cemas.
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau mati muda. Aku belum menikah, belum menikmati kehidupan yang aku inginkan,” ucap Sanny dengan gelisah.
Moly segera menggenggam tangannya.
“Sanny, kau adalah putri kami. Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menderita?”
Sanny mengepalkan tangannya.
“Aku tidak peduli caranya. Walau harus menculiknya, lakukan. Dia tidak berhak menolak membantu keluarga ini.”
“Sanny, Dylan bersikeras membela Viona. Kalau kita memaksanya kembali, mama dan papa bisa dituntut. Selain itu, kita juga harus membayar delapan juta yuan sebagai ganti rugi untuk Viona,” kata Moly.
“Kenapa harus memberinya uang?” tanya Sanny dengan tidak percaya.
“Karena selama ini kita tidak pernah memberinya gaji. Dylan tidak bercanda, dia benar-benar akan menggunakan pengacara untuk membawa masalah ini ke pengadilan,” jawab Moly.
Sanny mengepalkan tangannya.
“Apakah Kak Dylan jatuh cinta padanya? Apa yang baik dari dia? Dia hanya seorang pembantu lemah yang bahkan tidak diinginkan oleh keluarga kandungnya sendiri. Aku tidak peduli. Aku harus mendapatkan hatinya. Aku tidak mau hidup dengan penyakit ini dan terus menderita.”
Delvin yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Papa akan memikirkan cara lain. Selama Viona masih berada di sisi Dylan, kita tidak memiliki kesempatan.”
Tiba-tiba ponsel Delvin berdering.
Ia melihat nomor yang tidak dikenal lalu mengangkatnya.
“Hallo, siapa?”
“Apakah ini Tuan Delvin Jiang?” suara seorang pria terdengar dari seberang.
“Benar. Dengan siapa saya berbicara?”
“Saya adalah kuasa hukum Nona Viona Lin.”
Wajah Delvin langsung berubah.
“Saya menghubungi Anda untuk menyampaikan bahwa waktu yang diberikan kepada keluarga Jiang untuk membayar ganti rugi kepada Nona Lin hanya tersisa lima menit.”
“Apa?”
“Jika dalam waktu tersebut pembayaran tidak dilakukan, kami akan segera mengajukan tuntutan resmi ke pengadilan.”
Panggilan langsung terputus.
Delvin menatap layar ponselnya dengan wajah kaku.