Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bayi kecil.
Bang Riegan masih tetap waspada berjaga, pasalnya raut wajah Phia masih menujukan bahwa gadis itu benar-benar sedih.
"Ibu tidak apa-apa? Sejak tadi ibu menangis, bahkan sempat pingsan juga." Tanya ibu panti ikut cemas.
Melihat keadaan Phia tak juga stabil, Bang Riegan mengambil alih situasi.
"Mohon maaf, ibu. Istri saya sedang hamil muda. Jadii.. Perasaannya sedikit lebih sensitif." Jawab Bang Riegan.
"Oohh.. Ibu sedang hamil. Selamat ya, Bu. Semoga selalu sehat ibu dan bayinya sampai nanti saatnya persalinan." Kata Ibu panti.
Phia tersenyum tipis di balik rasa sedihnya. Jemarinya menyentuh seorang bayi laki-laki, yang paling kecil di antara semua anak panti. Keadaannya juga begitu memprihatinkan, banyak luka di tubuhnya.
"Bayi ini kenapa, Bu?"
"Dia di buang orang tuanya, di sekitar aliran sungai beberapa hari yang lalu beserta ari-arinya. Mungkin orang tuanya tidak menginginkan anak ini." Bu panti ikut mengusap bayi kecil tersebut.
Hati Phia semakin sedih, semakin trenyuh melihatnya.
Jemari halus dan lentik milik Phia terus menyentuh lembut pipi dan telapak tangan mungil bayi itu, matanya kembali berkaca-kaca. Rasanya perih melihat tubuh kecil itu penuh bekas luka. Pria kecil itu bahkan belum sempat merasakan kehangatan kasih sayang, namun sudah dihadapkan pada penolakan keras.
'Di buang?? Bayi ini di buang??'
Dada Phia terasa sesak dan sedih melihat semua ini. "Di dunia ini masih banyak orang tua yang tega melakukannya. Padahal dia datang ke dunia ini tanpa meminta, hanya butuh tempat pulang dan pelukan hangat yang tidak ia pahami."
Bang Riegan bergeser duduk lebih mendekat pada Phia. Ia takut istrinya itu semakin sedih dan kembali pingsan.
"Dunia ini memang kejam bagi sebagian orang, tapi justru di situlah kita diajarkan untuk saling membuka hati. Kalau kita yang sedikit lebih beruntung dan bahagia, tidak ada salahnya berbagi sebagian rasa itu pada mereka yang belum mendapatkannya. Menurutmu cukup adil?"
Phia kembali lemas, tapi kini dirinya bersandar pada dada bidang Bang Riegan atas kesadarannya sendiri. "Apa Tuhan mau memaafkan Phia?? Phia sempat ingin menggugurkan anak ini. Kenapa Phia jadi ibu yang jahat. Masih bisakah Phia di maafkan??"
Tangisan Phia terdengar sesenggukan, ia histeris, marah dan menyambar tas kecilnya kemudian membuangnya. "Bang Reigar juga tidak pernah menginginkan anak ini, dia selalu memaksa Phia meminum obat.. Tapi sekarang, Phia menginginkannya."
Ibu panti mengambil tas Phia dan memungut isinya yang berserakan. Ia melihat ada obat dalam botol kecil. "Pak Riegan, Bu Phia.. Maaf kalau saya menyela. Saya tidak berhak dan tidak bermaksud ikut campur, tapi.. Obat ini bukan obat penggugur kandungan. Obat ini malah obat penguat kandungan terbaik."
Seketika Bang Riegan langsung memeluk Phia usai mendengarnya. Kini matanya yang memerah basah. Ia mengusap puncak kepala Phia dengan lembut.
"Alhamdulillah, Ya Allah." Bisiknya lirih.
"Bang.. Bolehkah Phia menggendongnya?" Tanya Phia.
"Boleh. Hati-hati ya..!!"
"Tolong ya, Bu..!!" Bang Riegan meminta Ibu panti untuk membantu Phia karena dirinya tidak seberapa berani untuk menggendong bayi kecil itu.
Phia menerima tubuh bayi itu dengan sangat hati-hati, mendekapkannya ke dadanya. Begitu kulit mereka bersentuhan, bayi yang tadinya rewel perlahan terdiam, bahkan seolah merapatkan tubuhnya mencari kehangatan. Sesaat itu juga, air mata Phia kembali menetes, bukan lagi karena rasa bersalah, tapi karena rasa syukur yang meluap dan rasa sayang yang tumbuh begitu cepat.
"Owhh.. Sayaang..!! Kamu lapar, ya?" Tak kalah lembut Phia menimang bayi tersebut.
"Bu.. Bayi ini seperti bukan pribumi sini, ya?" Tanya Bang Riegan saat melihat paras bayi tersebut.
"Benar, Pak. Orang tuanya meninggalkan bayi ini bersama sebuah catatan dan kalung yang masih melingkar di leher." Jawab Ibu panti.
"Boleh saya lihat kalungnya, Bu?"
"Baik, Pak. Sebentar saya ambilkan." Ibu panti segera masuk ke dalam sebuah ruangan lalu kembali lagi dengan sebuah kotak berukuran sedang.
Bang Riegan terus memperhatikan benda-benda di dalam kotak tersebut kemudian matanya memicing, tertuju pada sebuah kalung dengan lempeng dari bahan perak dengan tali merica dari bahan perak pula.
"Bang.. Kasihan sekali anak ini." Kata Phia membuyarkan pikiran Bang Riegan.
Bang Riegan menoleh senyumnya tersungging tipis, ia lalu mengusap kening sang istri.
"Bolehkah kita merawatnya?" Tanya Phia.
"Boleh. Tapi kita tidak bisa membawanya sekarang." Jawab Bang Riegan.
"Kenapa? Bukankah kalau pasangan suami istri sudah boleh mengangkat anak dari panti?"
"Kamu benar. Tapi harus ada berkas dan prosedur hukum untuk perwalian yang sah, tidak boleh sembarang ambil anak. Semua untuk melindungi keluarga kita juga untuk melindungi hal hidup anak ini." Ujar Bang Riegan.
Phia menoleh melihat nama di kalung tersebut.
"Namanya.. Ujay Priya????? Nama yang aneh." Gumam Phia.
"Nama anak, tergantung orang tua yang memberinya. Kenapa kamu sibuk sekali." Tegur Bang Riegan.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍