Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Pengakuan
Los Angeles, Amerika Serikat
Adit berjalan cepat menuju ke apartemen Salsa. Sejak menerima panggilan telepon dari Indonesia, Adit ingin meminta jawaban pada sang kakak. Namun karena Diyas masih berada di Indonesia, Adit memilih untuk bicara dengan Salsa.
Bel apartemen Salsa berbunyi berkali-kali. Membuat Salsa dan Putra yang ada di dalam menjadi heran.
"Siapa sih yang datang?" kesal Salsa.
Salsa berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Adit?" Mata Salsa membola.
Terlihat sebuah sorot kecewa dan marah di mata Adit.
"A-ada apa, sayang?" Salsa bertanya dengan suara lembut.
"Kenapa kalian melakukan semua ini padaku? Tega sekali kalian tidak memberitahuku!" bentak Adit.
Salsa memijat kepalanya. Ia tahu apa yang sedang dibicarakan Adit.
"Masuklah dulu!" Salsa mengajak Adit masuk lalu duduk di sofa.
Salsa duduk berdampingan dengan Putra. Sementara Adit duduk di depan mereka berdua.
"Apa yang kamu bicarakan? Katakan dengan jelas!" Salsa masih mencoba untuk tenang. Meski sebenarnya hatinya sudah menduga jika ini adalah ulah ibunya lagi.
"Apa benar papa dan mama akan bercerai? Kenapa kalian tidak mengatakan apapun padaku? Apa kepulangan kak Diyas karena hal ini?" Adit menatap Salsa kecewa.
Salsa memilih pindah posisi dan duduk di sebelah Adit.
"Sayang..." Salsa mengusap punggung Adit lembut.
"Apa kalian pikir aku adalah anak kecil? Begitu? Aku sudah 17 tahun, Tante!" Adit marah. Dia kecewa dan sedih.
"Sayang, tante tidak bisa mengatakan apapun. Biar mama kamu saja yang jelaskan semuanya. Dan tante mohon, jangan membenci kedua orang tuamu. Mereka pasti punya alasan mereka sendiri. Sekarang yang penting, kamu fokus dengan sekolahmu. Mengerti?"
Adit mengangguk. Meski hatinya merasa terkhianati, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berdoa untuk kebaikan kedua orang tuanya.
Merasa tak tega dengan kondisi Adit, Salsa memutuskan menginap di apartemen Adit bersama Putra. Salsa tidak ingin Adit melakukan hal nekat jika tidak diawasi.
"Bagaimana? Apa Adit sudah tidur?" tanya Salsa ketika melihat Putra keluar dari kamar Adit.
Apa yang dilakukan Putra layaknya seorang ayah yang meninabobokan bayinya. Ia memastikan hingga Adit benar-benar bisa tenang dan beristirahat.
Putra mengangguk seraya menghampiri Salsa. "Kau sebaiknya istirahat juga. Ini semua cukup berat untuk dilalui."
Salsa mengangguk. Karena hari ini juga telah malam, Salsa melangkah menuju kamar Diyas untuk menumpang tidur.
Baru tiba di depan pintu, ponsel Salsa bergetar. Sebuah pesan masuk disana. Salsa segera membukanya.
Kakinya terasa lemas, tubuhnya ambruk terjatuh ke lantai.
"Salsa!" Putra yang kaget langsung menghampiri kekasihnya.
"Ada apa?" tanya Putra.
Air mata Salsa luruh begitu saja tanpa diminta.
"Aku harus segera pulang ke Indonesia, Put." Salsa berucap dengan suara bergetar.
...***...
Waktu Diyas untuk masa liburnya telah usai. Kini saatnya Diyas kembali ke LA untuk melanjutkan studinya.
Tak ketinggalan Aidil dan Salma mengantarkan Diyas menuju bandara. Diyas merasa heran dengan kondisi orang tuanya yang terlihat baik-baik saja dimatanya.
Jujur saja Diyas tidak mendapatkan jawaban pasti kenapa orang tuanya berpisah. Salma menutupi kesalahan Aidil karena tak ingin imej Aidil menjadi buruk di mata sang putra.
Tiba di bandara, Salma dan Aidil bergantian memeluk Diyas.
"Apapun keputusan kalian, aku yakin itu adalah yang terbaik. Entah itu terbaik untuk kalian sendiri atau untuk semua orang." Pernyataan Diyas membuat hati Salma dan Aidil tertohok.
"Belajar saja yang rajin! Papa tetap akan membiayai seluruh kebutuhan hidupmu dan Adit hingga kalian lulus," timpal Aidil. Diyas pun mengangguk.
Sepeninggal Diyas, Salma dan Aidil kembali pulang dengan menaiki satu mobil. Salma tidak keberatan dengan hal itu.
"Sayang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau bersedia?" tanya Aidil.
"Kemana, Mas?" jawab Salma santai.
"Ikut saja!"
Aidil segera menginjak pedal gas lebih dalam. Berharap untuk segera sampai di tempat yang ingin ditujunya bersama Salma. Sebuah tempat yang akan mengingatkan mereka berdua dengan masa lalu.
Tiba di sebuah tempat, Aidil meminta Salma untuk turun. Salma tertegun sejenak karena Aidil membawanya ke tempat bulan madu mereka setelah menikah dulu.
"Pantainya masih sama seperti dulu," ucap Salma menatap gulungan ombak yang saling berkejaran.
"Kau suka?" tanya Aidil.
Salma mengangguk. "Kenapa membawaku kemari?"
Aidil menghela napas. "Besok ... Persidangan akan dimulai. Aku ingin mengakhirinya dengan indah bersamamu. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan, dan tidak sempat untuk menghabiskan waktu denganmu."
Salma menatap datar ke arah pria yang dinikahinya 20 tahun lalu. Sepertinya Aidil mulai menyadari sesuatu, begitulah pikir Salma. Tapi Salma tidak akan terpengaruh untuk mengubah keputusannya.
Saat mereka masih menatap indahnya pemandangan ombak di laut, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Salma dan Aidil berlari ke arah mobil.
Hujannya sangat deras hingga membuat Aidil membawa Salma menuju hotel dimana dulu mereka menginap.
"Sepertinya terjadi hujan badai. Bagaimana jika kita menginap satu malam disini? Kita tunggu situasi aman baru setelah itu kita pulang." Aidil mencoba memberi solusi.
"Terserah kau saja, Mas." Salma menerima usulan Aidil dengan terpaksa.
Aidil memesan satu kamar hotel untuk mereka berdua. Salma menatap guyuran air hujan dari jendela kamar hotel.
"Aku memesan makanan untuk kita. Kau pasti lapar. Ini sudah malam dan kita belum makan sejak siang tadi." Aidil menghampiri Salma.
"Hmm, baiklah. Sudah lama kita tidak makan bersama."
Salma dan Aidil menikmati makan siang mereka yang terlambat. Lebih tepatnya sudah masuk ke makan malam.
Belum ada perbincangan lagi setelah makan malam berakhir. Salma dan Aidil sama-sama memilih duduk di lantai beralaskan karpet. Punggung mereka menyandar ke sofa.
"Rasanya ini sangat aneh sekali, Mas. Besok kita akan menghadapi persidangan cerai kita, tapi sekarang kita malah terjebak disini." Salma berucap sambil duduk memegangi kedua lututnya.
Aidil menatap Salma yang duduk disampingnya. Ia memegangi kepala Salma dan menyandarkan ke bahunya.
"Mas, apa aku boleh bertanya?"
"Soal apa?"
"Sebenarnya apa yang kau dan wanita itu lakukan di dalam kamar hotel? Kalian sama-sama mengaku tidak melakukan apapun. Tapi aku tetap tidak bisa mempercayainya." Hingga detik ini Salma enggan menyebut nama Jihan.
Aidil menghela napas panjang. "Sungguh kau ingin tahu? Bukankah apapun yang kukatakan kau tidak akan pernah mempercayainya?"
Salma mengangguk. "Benar juga. Tapi ... Untuk yang terakhir kali, aku ingin percaya padamu, Mas. Selama ini aku juga percaya padamu."
"Awalnya kami hanya membahas soal pekerjaan. Dia memiliki banyak ide tentang apa yang harus kulakukan dengan perusahaan. Dia juga memiliki tema untuk sinetron yang ingin dia buat skenarionya."
Salma terdiam mendengar cerita Aidil. Untuk saat ini ia mencoba untuk percaya pada Aidil.
"Lalu lambat laun, dia mengungkapkan jika dia mengagumiku. Aku juga menyukainya yang selalu ceria. Kepribadiannya juga sangat menarik. Tapi sungguh, aku tidak pernah bermaksud mendua. Kami sepakat untuk menghargai pernikahanku. Kami hanya bertemu untuk sekedar berbincang. Aku suka saat dia bercerita."
Aidil menghentikan ceritanya karena Salma tak kunjung merespon.
"Salma!" panggil Aidil.
"Aidil!" balas Salma.
"Hmm? Apa kau bilang?"
"Aidil! Aidil Pramudya!" seru Salma.
"Salma Khairunnisa!" balas Aidil.
Salma terkekeh sendiri dengan apa yang dirinya lakukan.
"Benar! Namaku Salma dan namamu Aidil."
Aidil mengusap wajah Salma. "Salma, maafkan aku."
"Tidak apa. Ini semua juga salahku. Kita sendiri yang menghancurkan pernikahan ini. Maka dari itu, kita harus hidup lebih baik setelah ini."
Aidil mengangguk setuju. "Aku menyukaimu, Salma Khairunnisa."
"Aku juga menyukaimu, Aidil Pramudya."
Malam itu Salma menikmati kebersamaannya dengan Aidil. Setelah 20 tahun, akhirnya Salma menemukan kedamaian. Meski kedamaian itu tercipta dengan sebuah kata ... Perceraian.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat