NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjaga Sang Permata Hati

Kabar bahagia tentang kehamilan Fatimah membawa atmosfer yang jauh lebih hangat di dalam istana kecil mereka.

Rayhan benar-benar membuktikan ucapannya. Pria tiga puluh delapan tahun itu menjelma menjadi sosok suami yang luar biasa protektif.

Sejak garis dua itu muncul, Rayhan melarang keras Fatimah untuk menyentuh pekerjaan dapur, bahkan sekadar untuk memotong sayuran.

Siang itu, hawa sejuk perbukitan berembun samar masuk melalui jendela ruang tengah.

Fatimah duduk bersandar di sofa empuk dengan sebuah bantal besar menopang punggungnya.

Gaun rumah anggun yang berwarna hijau pupus yang longgar membungkus tubuhnya yang kini tampak sedikit lebih berisi.

Di sampingnya, Rayhan sedang telaten mengupas buah mangga muda yang tadi pagi-pagi sekali ia cari di pasar tradisional atas permintaan istrinya.

"Mas Ray... masih mual."

Keluh Fatimah dengan suara yang sengaja dibuat serak, wajahnya berkerut manja menatap piring buah di tangan suaminya.

Rayhan meletakkan pisau kecilnya, lalu bergeser mendekat hingga bahu mereka menempel.

Ia menyuapkan sepotong kecil mangga dengan garpu ke bibir Fatimah.

"Coba makan ini sedikit-sedikit, Sayang."

"Kata dokter, mangga muda bisa membantu mengurangi rasa mual di trimester pertama."

Fatimah menerima suapan itu, mengunyahnya pelan dengan mata yang terpejam menikmati rasa masam yang segar.

"Enak, Mas Ray. Tapi... Ima masih lemas."

"Tidak mau ditinggal ke kantor."

Rayhan tertawa kecil, mengusap lembut pipi Fatimah yang kini mulai kembali merona alami.

"Mas sudah bilang pada sekretaris, selama satu bulan ke depan, Mas akan mengendalikan perusahaan dari rumah saja."

"Mas tidak akan membiarkan ratu Mas ini sendirian dalam kondisi lemas seperti ini."

"Benaran, Mas Ray?" tanya Fatimah, sepasang mata jernihnya seketika berbinar cerah.

Ia langsung melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Rayhan, menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami dengan begitu erat.

"Ima senang sekali. Anak kita juga pasti senang karena Ayahnya selalu ada di dekatnya."

Mendengar kata 'Ayah' yang diucapkan Fatimah, dada Rayhan seketika bergemuruh oleh rasa haru yang teramat dalam.

Perlahan, tangan besarnya turun menyentuh perut rata Fatimah, mengusapnya dengan kelembutan yang luar biasa seolah takut melukai janin yang ada di dalam sana.

"Mas masih merasa seperti bermimpi, Ima," bisik Rayhan, suaranya melembut dengan tatapan mata yang sarat akan takzim.

"Allah begitu baik. Dititipkan-Nya seorang istri yang saleha, dan sekarang... ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimmu."

Fatimah mendongak, menatap profil samping suaminya yang tampak begitu berwibawa namun penuh kasih.

"Ini semua karena doa-doa di sepertiga malam kita, Mas Ray. Allah mengabulkannya di waktu yang paling tepat."

"Iya, Sayang. Pilihan almarhum Ayahmu benar-benar membawa berkah yang tidak ada putusnya untuk kehidupan Mas." sahut Rayhan, mengecup puncak kepala Fatimah dengan penuh perasaan.

"Oh ya, besok jadwal kita kontrol pertama ke dokter kandungan. Mas sudah menyiapkan daftar pertanyaan untuk dokter nanti."

Fatimah membelalakkan matanya kecil, merasa gemas dengan tingkat kepedulian suaminya.

"Daftar pertanyaan? Mas Ray mencatatnya di mana?"

Rayhan dengan bangga mengeluarkan ponselnya, menunjukkan deretan catatan digital berisi belasan poin tentang makanan yang dilarang, vitamin tambahan, hingga posisi tidur yang baik untuk ibu hamil.

"Tentu saja dicatat, Ima. Urusan perusahaan saja Mas cek dengan teliti, apalagi urusan kesehatanmu dan calon anak kita. Ini prioritas nomor satu bagi Mas."

Tawa renyah Fatimah pecah, memecah keheningan ruang tengah.

Rasa mual yang menderanya sejak pagi seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa bahagia yang membuncah.

Di balik kedewasaan usia Rayhan yang terpaut jauh, pria itu tidak pernah membuatnya merasa kecil; ia justru selalu dimuliakan, dijaga layaknya sebuah permata yang paling berharga di dunia karena Allah.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!