NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Menelan Pil Pahit

Perjalanan pulang ke apartemen mewah terasa begitu sunyi di dalam mobil Rolls-Royce milik Arkan. Doni, sang supir pribadi, mengemudikan kendaraan dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah-olah dia sudah sangat paham bahwa penumpangnya malam ini sedang tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Viona menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin, menatap kosong ke arah lampu-lampu jalanan ibu kota yang buram oleh sisa-sisa air hujan.

Genggaman tangannya pada kunci akses digital berwarna emas pemberian Arkan mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Kunci itu terasa sangat berat, seolah-olah menjadi rantai tak kasat mata yang mengunci kebebasannya untuk selamanya. Di dalam benaknya, bayangan wajah cantik Clarissa, tunangan resmi Arkan, terus berputar layaknya mimpi buruk.

Wanita simpanan.Satu kata itu terus berdengung di telinga Viona, mengiris-iris harga dirinya yang sudah hancur. Dia tahu sejak awal bahwa hubungan ini didasari oleh kontrak materi, namun kenyataan bahwa dia harus bersembunyi di balik pintu rahasia saat wanita lain datang mencari pasangannya telah menorehkan luka baru yang begitu perih di hatinya.

"Kita sudah sampai, Nona Viona," suara lembut Doni membuyarkan lamunan Viona.

Viona tersentak pelan, lalu mengangguk lemah. "Terima kasih, Pak Doni."

Dengan langkah gulai, Viona turun dari mobil dan melangkah memasuki gedung penthouse megah itu. Begitu pintu lift pribadi terbuka di lantai teratas, keheningan yang mencekam langsung menyambutnya. Apartemen luas bernuansa monokrom itu terasa begitu asing dan menakutkan bagi Viona. Tidak ada kehangatan sebuah rumah di sini; tempat ini hanyalah sangkar emas yang dibangun oleh Arkan untuk mengurungnya.

Viona berjalan ke arah kamar mandi, membersihkan sisa-sisa keringat dingin dan ketakutan yang dialaminya di kantor tadi. Setelah itu, dia berdiri di depan lemari pakaian besar yang dipenuhi oleh berbagai macam busana tidur mewah berbahan sutra dan renda tipis. Mengingat perintah mutlak Arkan sebelum berpisah tadi, jemari Viona bergetar saat meraih sebuah gaun tidur slip dress sutra berwarna hitam malam dengan potongan dada yang rendah dan belahan tinggi di bagian paha.

Saat mengenakannya di depan cermin, Viona merasa asing dengan pantulan dirinya sendiri. Gaun itu begitu melekat erat pada tubuhnya, memperlihatkan lekuk dada, pinggang yang ramping, serta kulit putihnya yang kontras dengan warna hitam gaun tersebut.

"Apakah ini yang kamu inginkan, Tuan Mahendra? Seorang boneka yang siap melayanimu?" gumam Viona dengan senyuman miris yang menghiasi bibirnya.

Jam di dinding terus berdetak, menunjukkan pukul sembilan malam, lalu bergeser ke pukul sepuluh, dan akhirnya pukul sebelas malam. Arkan belum juga kembali. Viona duduk meringkuk di atas sofa ruang tengah yang luas, memeluk sebuah bantal sofa untuk mengusir rasa sepi dan dingin yang kian menggigit. Karena bosan dan cemas, dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca.

Viona membuka aplikasi media sosial secara tidak sengaja, dan sebuah unggahan berita dari akun gosip bisnis terkemuka langsung muncul di baris teratas garis masanya.

"CEO Mahendra Group, Arkan Mahendra, Terlihat Menghadiri Jamuan Makan Malam Mewah Bersama Sang Tunangan, Clarissa, di Hotel Bintang Lima."

Di bawah tajuk berita itu, terpampang sebuah foto beresolusi tinggi. Arkan tampak sangat tampan dan gagah mengenakan setelan tuksedo hitam, berdiri berdampingan dengan Clarissa yang anggun mengenakan gaun malam bertahtahkan payet mewah. Tangan Clarissa menggelayut mesra di lengan kekar Arkan, dan keduanya tampak seperti pasangan sempurna dari kalangan kelas atas yang sangat serasi.

Dada Viona mendadak terasa sesak, seolah-olah seluruh pasokan udara di ruangan itu ditarik paksa keluar. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya kembali mengalir membasahi pipinya. Rasa sakit ini begitu aneh dan tidak masuk akal bagi Viona. Kenapa dia harus merasa cemburu? Bukankah dia tidak berhak memiliki perasaan apa pun pada Arkan? Kontrak dengan jelas melarangnya untuk jatuh cinta. Namun, mengapa melihat pria itu tersenyum tipis di samping wanita lain membuat hatinya terasa seperti diremas dengan kuat?

"Sadar, Viona... kamu bukan siapa-siapa baginya. Kamu hanya wanita yang dibeli," bisik Viona pada dirinya sendiri di tengah isak tangisnya yang sunyi.

Tepat pada tengah malam, terdengar suara bip digital dari pintu masuk utama, disusul oleh suara pintu yang terbuka. Viona tersentak panik, segera menghapus air matanya dengan tergesa-gesa dan berdiri dari sofa.

Arkan melangkah masuk ke dalam apartemen. Jas tuksedonya sudah dilepas dan disampirkan di lengan kirinya, sementara dua kancing teratas kemeja putihnya sudah terbuka. Aroma alkohol yang samar bercampur dengan parfum maskulin mahal langsung memenuhi ruangan. Tatapan mata Arkan tampak sedikit lelah, namun begitu pandangannya jatuh pada sosok Viona yang berdiri menantinya dengan gaun tidur sutra hitam tersebut, matanya seketika menggelap. Kilatan gairah yang intens langsung tersorot dari manik mata hitam kelam sang CEO.

Arkan melemparkan jasnya ke sembarang tempat dan berjalan mendekati Viona dengan langkah yang lambat namun penuh tekanan dominasi.

"Kamu belum tidur?" suara bariton Arkan terdengar lebih berat dan serak dari biasanya.

"S-Saya... menanti Anda kembali, Tuan," jawab Viona dengan suara bergetar, tidak berani menatap langsung ke dalam mata Arkan yang seolah bisa menguliti jiwanya.

Arkan berhenti tepat di depan Viona. Jarak mereka begitu dekat hingga Viona bisa merasakan embusan napas hangat Arkan yang berbau alkohol manis. Tangan besar Arkan terangkat, menyentuh helai rambut panjang Viona yang terurai, lalu jemarinya bergerak turun membelai pundak polos gadis itu yang terbuka. Sentuhan kasar namun sensual itu membuat tubuh Viona meremang hebat.

"Pilihan gaun yang bagus. Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Viona," bisik Arkan tepat di depan bibir Viona.

Namun, pandangan tajam Arkan mendadak terpaku pada sudut mata Viona yang masih sedikit basah dan kemerahan. Rahang pria itu mengeras seketika. "Kamu menangis lagi? Kenapa? Karena melihat berita makan malamku dengan Clarissa?"

Viona terkejut dan mencoba memalingkan wajahnya, namun Arkan dengan cepat mencengkeram dagu gadis itu, memaksanya untuk terus menatap matanya yang mengintimidasi.

"Jawab aku, Viona. Apakah kamu berani melanggar poin nomor empat di kontrak kita? Apakah kamu mulai cemburu dan jatuh cinta padaku?" tanya Arkan dengan nada suara yang merendah namun sarat akan ancaman berbahaya.

Viona menelan ludah yang terasa getir. Meskipun hatinya hancur, dia tahu dia harus mempertahankan sisa harga dirinya di depan pria kejam ini. "Tidak, Tuan Mahendra... Saya tahu posisi saya. Saya tidak akan pernah melanggar kontrak itu. Saya menangis hanya karena... karena mengkhawatirkan keadaan Ibu saya di rumah sakit."

Arkan menatap Viona dalam-dalam selama beberapa detik, mencoba mencari kebohongan di mata bulat yang indah itu. Sebuah senyuman dingin kembali terukir di bibir Arkan. Dia melepaskan cengkeramannya pada dagu Viona, lalu dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya merengkuh pinggang ramping Viona dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya.

"Bagus jika kamu sadar diri, Viona. Karena apa pun yang terjadi, pernikahan itu akan tetap dilaksanakan bulan depan," bisik Arkan dengan kejam di telinga Viona, mengabaikan fakta bahwa kata-katanya baru saja menancapkan belati sedalam-dalamnya di hati gadis itu. "Tapi malam ini, singkirkan semua pikiran tentang ibumu atau Clarissa. Karena di dalam rumah ini, kamu hanya milikku."

Sebelum Viona sempat mengeluarkan suara, Arkan sudah membungkuk dan meraup bibir Viona dalam sebuah ciuman yang sangat menuntut, penuh dengan gairah yang membara dan keposesifan yang tak terbantahkan, menenggelamkan Viona ke dalam malam panjang yang dipenuhi air mata dan gairah terlarang.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!