Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 27
"Ughhh,"
Rosa menggeliat, ia melirik ke arah jam yang ada di atas nakas. Waktu masih menunjukkan pukul 01.00.
"Rasanya aku udah tidur lama, tapi ternyata masih jam segini," ucapnya. Bola mata Rosa memutar, melihat ke semua arah. Yang ada hanya cahaya remang-remang dari lampu kamar.
Ia juga melihat ke arah putranya, Al tertidur dengan begitu pulas nya dengan selimut tebal yang membungkus tubuh.
Meski ada pendingin ruangan, namun Rosa tidak menggunakannya. Pasalnya hawa di kamar sudah terasa dingin.
Sreeek
Rosa menyingkirkan selimutnya, dengan perlahan dia turun dari ranjang. Ia berjalan menuju ke jendela. Matanya membelalak ketika melihat seseorang duduk di bawah sana.
Rosa ingin berteriak, namun ia tak jadi melakukannya saat tahu siapa orang.
"Rosa," katanya. "Apa udah tidur? Ini udah malam, jadi nggak mungkin kalau kamu belum tidur," sambungnya.
"Kaelus," gumam Rosa lirih. Dia ingin pergi, namun ketika mendengar ucapan Kael selanjutnya, Rosa bertahan pada posisinya.
"Aku bener-bener menyesal, Rosa. Aku denger cerita dari Mami tentang kesulitan yang kamu alami setelah malam itu. Rosa, terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi malam itu adalah malam yang sama sekali tidak pernah aku inginkan juga. Apa yang aku lakukan ke kamu bukan keinginan yang muncul dari dalam hatiku."
Kael mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia menatap langit yang gelap malam ini, dimana tak ada satu bintang pun di sana.
"Malam itu, aku dijebak sama temenku. Dia mencampur obat dalam minumanku. Sungguh, aku bukannya sengaja melakukan itu, Ros. Bahkan setelah malam itu, dirimu yang menangis pilu selalu terbayang dalam ingatanku, seolah menempel di mataku," Kael melanjutkan perkataannya. Suaranya terdengar berat.
Degh!
Mata Rosa membulat sempurna, dadanya naik turun dan kaki nya mundur satu langkah. Dia menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan ucapan Kael.
"Bohong," ucapnya lirih.
Rosa membalikkan tubuhnya, dia bersiap untuk lari karena tak ingin mendengarkan ucapan Kael lebih panjang lagi.
"Mungkin kamu akan berkata kalau ucapan ku ini bohong, Ros. Tapi itulah yang sesungguhnya, aku tersiksa setiap malam karena selalu terbayang akan dirimu. Aku mencari mu. Selama empat tahun ini aku tak berhenti mencari mu. Maafkan aku Rosalina, aku sangat menyesal."
Langkah Rosa otomatis terhenti saat kembali mendengar ucapan Kael. Air matanya luruh, namun dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakan oleh hatinya.
Rosa menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia memeluk lututnya sendiri dan meredam suara tangisnya agar Al tak terbangun.
"Dia tersiksa? Dia mencari ku? Bohong, itu pasti bohong kan?"
Rosa menggelengkan kepalanya. Bayangan tentang masa lalu kembali muncul. Dan yang paling melekat dalam hatinya adalah rasa sakit saat Kael mengungkungnya.
Rosa bahkan sempat merasa jijik terhadap dirinya sendiri atas kejadian malam itu.
"Aku nggak minta kamu buat maafin aku, Ros. Aku hanya ingin selalu bersama mu sekarang. Bersama Al anak kita. Hanya itu. Bahkan jika kamu membenci ku seumur hidup mu, aku sama sekali tidak keberatan. Baiklah Ros, aku akan pergi. Semoga mimpi indah. Besok aku akan ke sini lagi."
Suara langkah terdengar semakin jauh, Rosa lalu beranjak dari duduknya untuk menuju ke jendela. Dia menyibakkan sedikit tirai untuk melihat Kael.
Langkah pria itu gontai, kepalanya menunduk ke belakang. Terlihat aura suram dari punggung tersebut.
Perasaan Rosa menjadi tidak karuan setelah mendengar banyak sekali kata yang Kael utarakan. Fakta yang selama ini tak pernah diketahuinya.
"Jadi, kita sama-sama sakit? Apa itu benar? dan selama ini, setiap malam, apa dia selalu datang ke sini?"
Kepala Rosa dipenuhi dengan pertanyaan. Air mata yang tadi mengalir, kini sudah tak ada lagi. Hati yang tadinya berat itu juga terasa lebih ringan.
Sedangkan Kael, dia masih tertunduk lesu hingga di depan kamarnya. Sampai-sampai ia tak sadar bahwa ada ibunya berdiri di sana.
"Dari sana lagi?"
"Mami?"
Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Griz saat melihat putranya yang berantakan. Wajah kusut, rambut acak-acakan, bahkan Kael juga tak mengenakan baju hangat padahal hari cuaca tengah sangat dingin.
"Sampai kapan kamu akan datengin Rosa diam-diam kayak gini, Kael?"
Kael tak menjawab, dia memilih membuka pintu kamarnya dan masuk. Griz mengikuti putranya. Dia berdiri di sisi pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dia masih takut kalau aku mendekat, Mam," ucap Kael sambil tersenyum kecut.
"Tapi nggak masalah, aku nggak masalah kayak gini dulu untuk sementara," imbuhnya.
Kael masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya. Rasanya terasa lebih segar.
Keluar dari kamar mandi, Kael kembali tersenyum ke arah ibunya. Tapi kali ini senyuman itu terasa lebih tulus dari sebelumnya.
"Aku senang Mami, Al sudah mau memanggilku ayah. Untuk Rosa, aku tak mau buru-buru. Biarlah dia memiliki waktu lebih banyak untuk bisa menerima aku. Mami tak perlu khawatir. Ah ya, besok aku harus berangkat ke perusahaan pagi-pagi betul karena ada rapat bulanan. Mami kembalilah ke kamar, aku juga akan istirahat."
Kael menepuk lembut bahu Griz. Dia juga melabuhkan kecupan hangat di pipi ibunya tersebut.
Griz menghela nafasnya, mengangguk lalu melenggang pergi.
Suara pintu di tutup dengan pelan, Griz menoleh sejenak lalu kembali berjalan.
"Aku harap situasi ini tak akan lama. Aku harap anak, cucu dan menantu ku bisa benar-benar hidup bersama dengan senyuman dan bukan ketakutan."
Pandangan Griz menerawang jauh. Ia mengeratkan baju hangat yang membalut tubuh dan menganggukkan kepalanya sendiri.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara