NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Hati Tambah Satu

Tiga bulan kemudian...

Anisa berjalan menyusuri lorong-lorong kampus tempatnya menimba ilmu. Sudah tiga bulan berlalu sejak insiden bersama Reinhart di klinik, Anisa tidak pernah lagi melihat sosok Reinhart di kampus. Anisa merasa lega karena Reinhart mau menuruti keinginannya.

Namun, di sisi lain hatinya, Anisa merasa kehilangan perhatian Reinhart yang selalu memberinya sebotol jus di pagi hari. Ada rasa yang tak biasa dalam hati Anisa saat tidak melihat sosok Reinhart dimanapun. Bahkan Rhea yang penggemar Reinhart pun tidak tahu kemana pria itu menghilang.

Anisa sayup-sayup selalu mendengarkan obrolan Rhea bersama teman-teman satu grup chat penggemar Reinhart.

"Huft..." Helaan napas terdengar dari bibir Rhea.

"Kenapa, Rhe?" tanya Anisa. Saat ini mereka ada di kantin dan Rhea sibuk mengotak-atik ponselnya.

"Gak ada yang tahu kemana dokter Reinhart pergi. Admin grup juga gak tahu. Pernah nanya sama pak Riyan, tapi dia jawab juga gak tau."

Anisa hanya diam dan tak berkomentar. Benarkah Reinhart menghilang karena dirinya?

Saat sedang memikirkan tentang menghilangnya Reinhart, ponsel Anisa bergetar. Sebuah pesan masuk dari dokter Ridha.

[ Jangan lupa hari ini pemeriksaan kandungan kamu. Semoga saja jenis kelaminnya sudah bisa diketahui ]

Anisa memejamkan matanya seraya merapal doa dalam hati.

"Semoga saja jenis kelamin bayi ini adalah laki-laki dan perempuan seperti ayah dan tante Reni," harap Anisa dalam hati.

Sementara itu, Reinhart baru akan berangkat ke kampus saat Riyan datang ke apartemennya. Riyan juga merindukan sahabat baiknya ini setelah tiga bulan lalu sempat beradu argumen mengenai Anisa.

Bahkan Reinhart memberi beberapa pukulan pada wajah Riyan karena kesal pada Riyan yang sudah mencampuri urusannya dan Anisa.

Namun, pertikaian itu telah berakhir dan kini mereka kembali akur.

"Lo mau jemput gue?" tanya Reinhart dengan alis menukik.

Riyan menggaruk tengkuknya. "Udah tiga bulan lo gak ke klinik kampus. Banyak yang kangen sama lo."

Reinhart mencebikkan bibir. "Lo juga kangen kan sama gue?"

Riyan meringis menunjukkan sederatan giginya. "Ya pastilah gue kangen banget banget sama lo. Apalagi fans setia lo tuh. Tiap hari nanyain kemana lo pergi."

Reinhart tersenyum tipis. Dalam hati ia juga merindukan suasana klinik kampus dan juga ... seseorang yang sudah memberinya tamparan manis padanya.

"Eh gimana? Lo jadi ambil spesialis?"

Reinhart mengangguk. "Jadi. Gue ambil di kampus Avicenna. Disana kan jurusan obgyn-nya paling bagus."

"Hmmm, tiba-tiba banget lo ambil spesialis kandungan. Tapi, ya udahlah. Gue doain yang terbaik buat lo. Yuk berangkat!" Riyan merangkul bahu Reinhart.

"Gue bawa mobil sendiri."

"Oke oke, asalkan nyampenya ke kampus ya, jangan ke tempat lain."

"Sialan lo!"

*****

Suasana kampus dihebohkan dengan kabar jika Reinhart akan kembali ke klinik kampus hari ini. Para penggemar Reinhart sudah bersiap menanti kedatangan dokter tampan itu.

"Yuk, Nis. Ikut kesana!" Rhea menarik lengan Anisa.

"Tapi, Rhe. Aku disini aja deh."

"Duh, ayolah, Nis. Aku tuh heran sama kamu. Sebenarnya tipe cowok seperti apa yang kamu suka. Gak mungkin cowok setampan dokter Reinhart kamu gak suka."

Anisa meringis kecil. Tidak mungkin ia mengakui jika ia juga kagum pada Reinhart. Namun, kejadian tiga bulan lalu masih membekas di hati Anisa. Bagaimana kata-kata Riyan sangat menyakiti hatinya. Dan juga dirinya yang akhirnya menampar pipi Reinhart. Tentu saja Anisa takut jika Reinhart berbalik membencinya.

Dua mobil sport memasuki area parkiran kampus. Yang satu adalah mobil Reinhart, lalu yang satunya bukan mobil Riyan. Mobil Riyan tertinggal di belakang karena ia mampir ke tempat pengisian bahan bakar lebih dulu.

"Mobil yang merah itu punya siapa?" Para mahasiswi mulai bertanya-tanya.

Tak lama sosok Reinhart muncul dari mobil sport hitam. Teriakan heboh langsung memenuhi area parkir. Namun, semua teriakan itu mulai menghilang seiring dengan turunnya seorang gadis cantik dari mobil sport merah.

"Kak Rein!" Si gadis cantik itu mengenali Reinhart.

Rambut panjangnya bergerak indah seiring dengan langkahnya yang mendekati Reinhart.

"Renata? Kamu ngapain disini?" tanya Reinhart.

"Mulai hari ini aku kuliah disini." Gadis bernama Renata ini langsung memeluk lengan Reinhart dan bergelayut manja disana.

Sontak saja semua fans Reinhart terlihat tak suka dan terus bergosip tentang gadis itu.

"Siapa sih dia? Datang-datang langsung gelayutan manja gitu sama dokter Reinhart."

Saat semua orang bertanya-tanya tentang siapa Renata, Reinhart dengan santainya berjalan melewati kerumunan yang sedari tadi menunggunya. Tatapan mata Reinhart sempat bertemu dengan tatapan mata Anisa. Namun, Reinhart segera memutus kontak dan fokus pada Renata yang masih memegangi lengannya.

"Huh, udah ngilang tiga bulan. Pulang-pulang kok bawa pacar. Ih kesal deh!" Rhea menggerutu di samping Anisa.

"Pacar? Benarkah gadis itu kekasih dokter Reinhart?" Ada rasa tak rela di hati Anisa saat melihat keakraban Reinhart dengan Renata.

*****

Rhea menyuapkan bakso ke dalam mulutnya sambil tangannya terus menggulir ponsel. Ternyata para fans Reinhart mencari tahu tentang siapa Renata yang sudah berani mengambil Reinhart mereka.

Oops, Reinhart itu bukan barang ya girls. Tidak sembarang orang bisa mengambil hatinya.

"Namanya Renata Avicenna. Dia itu putri bungsunya dokter Boy Avicenna pemilik rumah sakit Avicenna," gumam Rhea dengan mulut masih penuh makanan.

"Astaghfirullah. Kalau mau ngomong ditelan dulu dong baksonya, Rhe," peringat Anisa.

"Abisnya ... ni cewek tiba-tiba muncul trus kelihatan dekat banget sama dokter Reinhart. Bikin iri tahu gak!"

Anisa menggeleng pelan. "Kalian kan hanya penggemarnya. Sebaiknya jangan terlalu mencampuri urusan pribadinya."

"Urusan pribadi siapa?" Suara dari arah belakang Anisa membuat kedua gadis itu mematung seketika. Mereka mengenali suara itu.

"Dokter Reinhart?" Rhea sangat syok melihat Reinhart dan Renata ada di kantin juga seperti mereka.

"Halo, kalian. Kami boleh duduk disini kan? Soalnya semua kursi sudah penuh." Itu adalah suara Renata.

"Hah? Oh, bo-boleh kok." Rhea tergagap dan dengan cepat ia pindah tempat duduk ke samping Anisa.

Reinhart dan Renata duduk di depan mereka.

"Makasih ya. Kalian baik deh. Oh ya, kenalin. Aku Renata." Renata mengulurkan tangannya.

Rhea dan Anisa saling pandang sejenak. "Aku Anisa. Dan ini temanku, Rhea." Karena terlalu syok, Rhea bahkan tak bisa menjawab.

"Salam kenal ya. Aku mahasiswi baru disini. Pindahan. Jurusan kedokteran."

"Eh? Kalau gitu sama dengan kami," balas Anisa lagi.

"Wah kebetulan banget ya. Akhirnya aku punya teman juga. Iya kan, Kak?" Renata melirik Reinhart.

"Hmmm. Kamu mau makan apa?"

"Ummm, kayaknya bakso yang dimakan Rhea enak deh. Aku mau itu aja deh. Kalau Kakak?"

"Samain aja."

Anisa menundukkan wajah saat secara tak sengaja Reinhart melirik ke arahnya.

"Kalian lanjutkan saja makannya. Tidak perlu sungkan terhadap saya dan Renata," ujar Reinhart.

Rhea sungguh tak menyangka bisa makan satu meja dengan Reinhart. Sementara Anisa meneruskan meminum jus di gelasnya.

*****

"Bagaimana Dokter?" Anisa bertanya dengan antusias setelah Ridha melakukan pemeriksaan terhadapnya.

"Kamu tidak memberitahu Raisa mengenai pemeriksaan hari ini kan?"

Anisa menggeleng.

"Saya sengaja memisahkan jadwal kalian agar saya bisa mengetahui jenis kelamin janin kamu terlebih dulu."

"Jadi, bagaimana Dok? Apa jenis kelaminnya sudah bisa diketahui?" Sekali lagi Anisa bertanya.

Ridha mengangguk. Ia menarik tangan Anisa lembut dan menggenggamnya.

"Selamat ya. Semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kamu. Tuhan sangat baik padamu, Anisa."

"Ma-maksud Dokter?" Mata Anisa berkaca-kaca. Benarkah keinginannya memiliki satu bayi ini bisa terkabul?

"Bayi kamu laki-laki dan perempuan. Jadi, kamu bisa memiliki bayi perempuan ini."

Tangis Anisa pecah. Ia tak menyangka jika doanya diijabah oleh Allah.

Anisa memeluk Ridha dan mengucapkan banyak terima kasih pada dokter kandungan itu.

"Makasih banyak, Dokter. Makasih banyak."

Ridha mengusap lembut punggung Anisa. Ia tahu sudah menyalahi perjanjian dengan Raisa. Namun, ia juga tak tega melihat Anisa harus kehilangan bayinya. Biarlah bayi kembar ini akan jadi rahasianya dengan Anisa saja.

1
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!