Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Umi Maryam melangkah masuk ke dalam ndalem dengan wajah tegang dan memerah menahan amarah yang sudah diubun-ubun.
Di belakangnya, Laura berjalan dengan langkah yang sengaja dilemas-lemaskan, bergelayut manja pada lengan ibunya seolah kekuatannya telah habis.
Keluarga besar Laura menyusul di belakang mereka, membawa aura mengintimidasi yang langsung memenuhi ruangan.
Mata Umi Maryam langsung tertuju sinis pada Diaz yang duduk kaku di kursi kayu ukiran.
Sementara itu, dari balik air mata buatannya, Laura melempar pandangan benci yang terselubung tajam ke arah madunya tersebut.
Pintu jati ndalem ditutup rapat. Ruang tamu utama mendadak hening dan terasa begitu mencekam.
Di ruangan itu kini hanya tersisa Abah, Umi Maryam, Ganda, Diaz, serta Laura dan kedua orang tuanya.
Tok! Tok! Tok!
Abah mengetukkan jemarinya ke atas meja kayu jati dengan ritme yang teratur namun tegas, memecah keheningan sekaligus meminta kejelasan mutlak dari putra kandungnya.
"Ganda, jelaskan pada Abah. Bagaimana bisa terjadi dua akad nikah sekaligus dalam satu hari?"
Ganda menegakkan punggungnya. Ia menatap Abah dengan pandangan jantan, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
"Abah, Umi, dan Om-Tante sekalian," buka Ganda, suaranya terdengar berat dan berwibawa.
"Satu jam sebelum akad dimulai, posisi ratusan undangan sudah memenuhi Masjid Baiturrahman. Katering sudah siap, takmir sudah menunggu. Namun, Laura sama sekali tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati total."
Ganda melirik Laura sekilas sebelum kembali menatap Abah.
"Sebagai anak seorang kiai, Ganda memikul nama besar Pondok Pesantren Al Ikhlas di pundak Ganda. Jika pernikahan itu batal secara sepihak tanpa alasan yang jelas, hari ini juga nama baik pesantren kita akan hancur dan menjadi bahan gunjingan satu Jawa Timur. Ganda harus mengambil keputusan cepat demi kemaslahatan umat dan menyelamatkan harga diri keluarga dari aib. Di saat itulah, Ganda bertemu Diaz dan memintanya menjadi istri Ganda."
Mendengar penjelasan Ganda yang begitu menyudutkannya, Laura langsung terisak kencang.
Ia merosot dari kursinya, berlutut di dekat kaki Abah sambil menangis histeris demi menarik simpati sang kiai sepuh.
"Bukan begitu, Abah. Demi Allah, Laura tidak bermaksud kabur!" tangis Laura pecah, suaranya terdengar begitu merana dengan alasan klise yang sudah ia siapkan.
"Di perjalanan menuju masjid, dada Laura tiba-tiba sesak dan kepala Laura pusing hebat sampai hampir pingsan di pinggir jalan. Ponsel Laura lowbat karena panik, Abah. Laura sakit mendadak dan tidak tahu kalau keterlambatan Laura justru membuat Mas Ganda tega menggantikan posisi Laura dengan perempuan lain!"
Setelah tangisan Laura mereda menjadi sesenggukan kecil, Abah mengembuskan napas panjang.
Beliau mengalihkan pandangan tajam namun bijaksananya yang sarat akan pengalaman hidup kepada Diaz.
"Nduk," panggil Abah, suaranya tenang namun berwibawa.
"Sekarang Abah mau dengar darimu. Tolong bicara jujur, siapa kamu sebenarnya dan bagaimana asal-usulmu sampai bisa berada di masjid tadi?"
Diaz yang sejak tadi meremas ujung kausnya akhirnya mendongak.
Ia sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi pada nasibnya hari ini. Dengan helaan napas berat, ia membuka suara dengan jujur.
"Saya lari dari perjodohan paksa yang diatur oleh Mama saya, Abah. Pria itu egois dan saya merasa tercekik," aku Diaz, suaranya bergetar namun terdengar tegas.
"Saya kabur bawa motor subuh-subuh tanpa arah yang jelas. Dan tujuan awal saya sebenarnya mau ke Gunung Kawi."
Mendengar kata 'Gunung Kawi' meluncur bebas dari bibir Diaz, petir seolah menyambar ruang tamu ndalem. Umi Maryam dan keluarga besar Laura langsung tersentak, wajah mereka memucat sebelum akhirnya beristighfar dengan sangat heboh.
"Astaghfirullahaladzim! Gunung Kawi?!" tuduh Umi Maryam dengan nada menghina yang kentara, tangannya mengibas-ngibaskan udara seolah-olah Diaz membawa sial.
"Kamu mau pesugihan, ya?! Kamu mau menumbalkan anakku, Ganda?!"
Mama Laura ikut menimpali dengan sinis, "Ya Allah, Ganda! Kamu menikahi perempuan pemuja dukun!"
Diaz menggelengkan kepalanya cepat. Rasa jengkel bercampur geli membuat ekspresi wajahnya terlihat sangat polos di tengah kepanikan orang-orang kaya di depannya.
"Bukan, Umi! Saya tidak tahu-menahu soal pesugihan. Saya cuma mau naik ke gunungnya untuk hiking, mencari ketenangan biar tidak stres. Saya tidak tahu kalau tempat itu dipakai untuk ritual yang aneh-aneh!"
Di luar dugaan semua orang di dalam ruangan, keheningan mencekam itu tiba-tiba pecah.
“Haahaha... Hahaha!”
Abah justru tertawa terbahak-bahak. Bahu sepuh beliau berguncang hebat mendengar kepolosan Diaz yang mengira Gunung Kawi hanyalah sekadar tempat wisata alam murni untuk menenangkan pikiran dari penatnya dunia.
Tawa renyah Abah seketika meredakan ketegangan yang sempat memuncak, sekaligus membuat Umi Maryam, Laura, dan ibunya sukses gigit jari karena rencana mereka untuk menyudutkan Diaz gagal total akibat reaksi tak terduga sang kiai sepuh.
Setelah tawanya berangsur reda, Abah menyeka ujung matanya yang berair karena tertawa, lalu menatap Diaz dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Nduk, mencari ketenangan itu lebih baik lewat salat dan zikir di sajadah, bukan dengan lari naik ke gunung," nasihat Abah lembut, layaknya seorang ayah kepada anaknya.
Beliau terdiam sejenak, lalu melontarkan sebuah pertanyaan menohok yang langsung menusuk ke dalam ulu hati Diaz.
"Kamu sendiri, rajin salat?"
Mendengar pertanyaan itu, Diaz mendadak bungkam.
Ia menunduk dalam-dalam, menatap jemarinya yang saling bertautan.
Matanya yang jernih perlahan berkaca-kaca saat sebuah luka lama yang sengaja ia kubur rapat-rapat mendadak mencuat ke permukaan.
Dalam keheningan itu, Diaz memberikan jawaban jujur yang menjadi plot twist emosional bagi semua orang di sana.
"Sejak almarhum ayah saya meninggal dunia, saya tidak pernah salat lagi, Abah," bisik Diaz, suaranya parau menahan tangis yang mendesak keluar.
Ia mendongak, menatap Abah dengan tatapan penuh luka dan pemberontakan.
"Buat apa saya salat? Buat apa saya menyembah-Nya, kalau satu-satunya orang yang paling saya cintai dan paling melindungi saya justru diambil begitu saja oleh Allah?"
Ruangan itu kembali senyap seketika. Bahkan isakan manja Laura langsung terhenti.
Pengakuan jujur yang terdengar sarkas namun sarat akan rasa sakit mendalam dari seorang anak yang kehilangan figur ayah itu sukses membuat Abah terenyak, membungkam seluruh ruangan dalam rasa bersalah yang tak terucap.
Umi Maryam langsung memanfaatkan momentum emas itu untuk menyudutkan Diaz.
Beliau menoleh pada putranya dengan raut wajah cemas yang dibuat-buat, penuh dengan ketidaksetujuan yang nyata.
"Ganda, kamu dengar sendiri, kan?!" seru Umi Maryam, suaranya naik satu oktav.
"Dia bahkan tidak salat dan berani protes pada takdir Allah! Kamu ini anak kiai, selebgram agamis, panutan para santri. Kamu yakin mau mempertahankan wanita yang seperti ini untuk jadi istri pertamamu? Mau ditaruh di mana muka keluarga kita, Ganda?!"
Ganda terdiam. Ia menatap Diaz yang saat ini sedang menunduk dalam, bahunya bergetar halus menahan tangis dan luka lama yang membuncah.
Alih-alih mundur atau merasa malu seperti yang diharapkan Umi Maryam dan Laura, Ganda justru menggeser posisi duduknya.
Di depan semua orang yang sedang menghakimi, Ganda meraih jemari Diaz yang dingin, lalu menggenggamnya dengan sangat erat dan protektif.
Ia mendongak, menatap Umi dan Abah dengan tatapan paling mantap yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
"Insyaallah, Umi, Abah. Saya sangat yakin," ucap Ganda, suaranya bergema tenang namun tegas tanpa keraguan.
"Justru karena Diaz seperti ini, ini adalah tugas saya sebagai suaminya. Jika dia belum salat, maka saya yang akan menggelar sajadahnya. Saya yang akan membimbing istri saya sendiri untuk kembali ke jalan-Nya."
Mendengar kalimat mutlak itu, Laura mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik gaun pengantin premiumnya.
Kukunya sampai memutih menahan gejolak amarah.
Ia menyadari satu hal yang mengerikan: posisi Diaz di hati Ganda ternyata tidak seringkih yang ia duga.
Abah yang sejak tadi menyimak, tersenyum tipis. Beliau mengetuk meja sekali lagi, menandai keputusan akhir.
"Sudah. Keputusan Ganda sudah bulat dan pernikahan ini sah secara agama maupun kesiapan Ganda. Sekarang, bubar semua.
Tamu-tamu di luar sudah menunggu kelanjutan acara. Ganda, bersiap-siaplah untuk resepsi sesi kedua."
Setelah ruangan dibubarkan, Ganda menarik Diaz menuju kamarnya yang terletak di lantai bawah ndalem—kamar utama yang paling luas.
Namun, baru saja pintu kamar dibuka, Laura langsung menyelinap masuk mengekor di belakang mereka dengan wajah tanpa dosa.
"Wah, kamarnya luas ya, Mas," ucap Laura, langsung berniat duduk di tepi ranjang besar berseprai putih tersebut.
Ganda langsung berdiri menghadang. Tatapannya mendadak sedingin es.
"Laura, keluar dari kamarku. Ini kamarku dengan Diaz."
Laura tersentak, wajahnya berubah masam seketika.
"Tapi, Mas?! Aku kan juga istri kamu! Masa di hari pertama nikah aku diusir?"
"Kamarmu di lantai atas, sudah disiapkan oleh santri," jawab Ganda datar, tidak terbujuk oleh rengekan Laura.
"Sekarang, lekas naik ke atas, ganti pakaianmu dengan baju resepsi kedua, dan sambut para tamu yang sudah datang jauh-jauh. Jangan bikin malu lagi."
Hentakan kaki Laura terdengar kesal saat ia terpaksa berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu dengan cukup keras.
Begitu keadaan kembali sunyi, Ganda menoleh ke arah Diaz yang masih berdiri canggung di dekat lemari.
Ganda berjalan ke arah pintu, membukanya sedikit, lalu memanggil salah satu panitia dari pihak Wedding Organizer (WO) yang berjaga di koridor ndalem.
"Mbak, tolong bawa tim tata rias terbaik ke kamar saya sekarang," perintah Ganda tegas.
"Dandani istri saya, Diaz. Buat dia menjadi pengantin wanita paling cantik hari ini." ucap Ganda.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡